
Setelah balik dari Cafe, Caca memutuskan untuk langsung pulang karena takut kakeknya akan mencarinya. Ia melihat jam ke arah tangannya ternyata sudah pukul 10 malam, Caca tidak menyangka jika dirinya sudah lama mengobrol dengan Lala.
Caca menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia melihat ponselnya yang sedari tadi ia tidak buka karena keasikan ngobrol dengan Lala. Di room chat paling atas ada satu pesan Aril.
"Kamu sudah tidur?"
Caca tersenyum melihat pesan dari Aril dengan cepat ia membalas pesan tersebut.
"Belum, Ril."
Pesan Caca tadi langsung centang biru, sangat cepat dibaca oleh Aril. Tak lama ponsel Caca berdering dan Aril lah yang meneleponnya. Entah kenapa Caca jadi deg-degan saat akan mengangkat telpon dari Aril.
"Iya, Ril?"
"Kenapa belum tidur?" tanya Aril.
"Iya soalnya aku baru pulang."
"Memangnya udah dari mana? Kenapa malam sekali pulangnya?" Aril sudah seperti seorang suami yang sedang mengintrogasi istrinya. Eh sebentar lagi mereka memang akan menjadi suami-istri sih.
"Aku tadi ketemu sama Lala. Terus nggak liat waktu," jelas Caca.
"Lala?"
"Iya Lala. Teman sekolah kita dulu. Masa iya kamu lupa?"
"Oh iya aku mengingatnya. Sahabatmu waktu SMA dulu itu kan?"
"Iya, Ril. Ternyata dia juga bekerja di YH GROUP jadi karyawan magang di bagian desain dan bodohnya aku nggak mengetahui itu. Padahal aku sudah cukup lama di perusahaan," sesal Caca. Padahal ia sangat ingin bertemu dengan sahabatnya itu.
"Kamu nggak boleh bicara seperti itu!"
"Iya maaf, Ril."
Mereka berdua terdiam sejenak tanpa ada satupun yang mengeluarkan suara entah apa yang mereka pikirkan.
"Tadi aku bicara dengan orang tua dan kakakku," kata Aril tiba-tiba. Caca langsung merubah posisinya menjadi duduk, ia bersemangat untuk mendengarkan cerita Aril.
"Oh ya? Terus mereka bilang apa?"
"Mereka merestui hubungan kita," jawab Aril membuat Caca bernapas lega.
"Alhamdulillah ya Allah. Seneng banget aku dengernya."
"Ya walaupun tadi mereka sempat tidak merestui hubungan kita karena perbedaan kasta keluarga kita."
"Kan aku sudah bilang kalau aku dan keluargaku tidak--"
"Iya aku tau. Aku sudah memberitahu mereka dan akhirnya mereka langsung merestui hubungan kita," sela Aril.
__ADS_1
"Ril... Kamu tidak terpaksa kan menikahi ku?" tanya Caca dengan hati-hati takut jika Aril tersinggung nantinya. Terdengar helaan napas panjang diseberang sana.
"Memangnya aku pernah bilang kalau aku terpaksa?" tanya Aril tak suka.
"Nggak pernah sih, tapi kan--"
"Caca... jangan bicarakan hal itu lagi, aku nggak suka," tekan Aril.
"Iya maaf."
"Sekarang kamu tidur, karena besok pagi kita akan menjemput orang tuamu di Bandara," suruh Aril.
"Tapi jangan marah sama aku," lirih Caca seperti akan menangis. Kenapa inner child nya keluar saat bersama Aril? Wah tidak beres.
"Aku nggak marah sama kamu."
"Beneran?"
"Hem... Sana kamu tidur, nggak baik juga perempuan tidur malam-malam."
"Oke. Kamu juga tidur." Caca balik menyuruh Aril.
"Iya. Selamat malam Nona Caira..."
"Aril! Udah dibilangin jangan panggil aku Nona lagi!" kesal Caca.
Setelah mengucapkan selamat malam dan tidur. Telepon tersebut pun terputus. Caca memekik tertahan sambil menenggelamkan wajahnya di bantal saat untuk pertama kalinya Aril mengucapkannya seperti itu.
Paginya Aril menjemput Caca di rumah tuan Ibrahim sekaligus hari ini mereka akan menjemput orang tua Caca di bandara.
Di dalam mobil, Caca terus tersenyum. Sepertinya suasana hatinya pagi ini sangat baik, apalagi ia akan bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah beberapa bulan belakangan ini ia tidak temui.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Caca.
"Kamu bertanya kepadaku?" tanya balik Aril.
Caca mendengus, "Iya lah, siapa lagi orang disini selain kita berdua!" ketusnya.
Aril terkekeh kecil. Caca yang dulu ia kenal cerewet dan ceria kembali lagi. Caca sempat tertegun melihat Aril yang tertawa kecil tadi. Sangat tampan... Caca berharap, ia bisa membuat Aril tertawa seperti tadi ketika nanti mereka telah bersama.
"Aku tadi udah sarapan. Kamu?"
"Aku juga udah. Tadi buat nasi goreng dan kakek begitu menyukainya, tapi tidak dengan Arsal dan tante Kalina... mereka malah mengira aku akan meracuni mereka karena nasi goreng buatan ku itu terlalu banyak minyak dan akan membuat mereka kolesterol nantinya. Padahal aku buatnya pakai olive oil," keluh Caca. Tadi ia sangat bersemangat membuatkan sarapan untuk keluarganya. Tapi ada saja yang membuat semangatnya itu langsung lenyap seketika.
Tangan Aril terulur mengusap kepala Caca, "Kamu yang sabar. Aku yakin kamu bisa melunakkan hati Arsal dan Ibunya," ucapnya menenangkan hati Caca.
Caca mengangguk dan tersenyum. Ini yang ia inginkan dari dulu. Ada seseorang yang bisa mendengar keluh kesahnya dan memberikan support kepadanya.
Kurang lebih 1 jam mereka akhirnya sampai di bandara. Masuk ke dalam bandara mereka sudah melihat Ranti dan Wilson melambaikan tangan kepada mereka berdua.
__ADS_1
"Mommy, Daddy!" Caca berlari kecil menghampiri kedua orang tuanya dan langsung memeluk mereka.
"I miss you so much."
"Mommy dan Daddy juga sangat merindukanmu," balas Ranti. Caca menguraikan pelukannya setelah ia rasa cukup melepaskan sedikit rindu terhadap kedua orang tuanya.
"Selamat datang Tuan, Nyonya," sapa Aril.
Ranti dan Wilson tersenyum serta menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Aril."
Aril membawakan koper milik kedua orang tua Caca, membawanya keluar lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Caca duduk bersama Ranti di jok belakang sedangkan Wilson duduk di sebelah Aril.
"Ril, gimana kabarmu dan keluargamu?" tanya Wilson.
"Alhamdulillah kami semua sehat, Tuan," jawab Aril.
"Tuan? Jangan panggil kami dengan panggilan tuan dan nyonya lagi. Ingat sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami, panggil saja Mommy dan Daddy seperti Caca memanggil kami," sahut Ranti.
"B-baik, Mom," balas Aril gugup. Ranti tersenyum mendengarnya.
"Kamu sudah memberitahukan kepada kedua orang tuamu tentang pernikahan ini?" tanya Wilson lagi.
Aril mengangguk, "Sudah, Dad."
"Gimana tanggapan mereka?"
"Alhamdulillah mereka merestui hubungan saya dan Caca," jawab Aril membuat kedua orang tua Caca bernapas lega.
Kemarin mereka bakal mengira jika Aril akan menolak permintaan tuan Ibrahim untuk menikahi Caca, ternyata dugaan mereka salah besar. Tapi itu yang membuat mereka senang dan tenang karena disini ada yang menjaga Caca ketika mereka berada jauh dari sisi putri semata wayang mereka itu.
"Mom berharap pernikahan kalian bisa di percepat," kata Ranti.
"Nggak sabaran banget sih, Mom!" balas Caca.
"Cih! Padahal kamu juga kan udah nggak sabaran jadi istrinya Aril. Biar kamu bisa berduaan terus... ngaku kamu?"
Pipi Caca langsung merah seperti kepiting rebus setelah mendengar penuturan Mommy-nya tadi. Tebakan ibunya itu memang sangat benar. Haish... ia jadi tersipu malu dibuatnya.
"Mom ih! Jangan bilang gitu aku malu!" ujar Caca sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ranti dan Wilson tertawa, sedangkan Aril hanya tersenyum melihat tingkah malu-malu calon istrinya itu. Cie... Calon istri...
"Kapan kami bisa bertemu dengan orang tuamu, Ril?" tanya Wilson mencoba mengalihkan topik.
"Secepatnya, Dad. Insyaallah, besok lusa saya akan membawa keluarga saya untuk bertemu dengan kalian."
"Baiklah, kami tunggu kedatangan kalian."
...----------------...
To be continued.
__ADS_1