
Malam harinya Aurora, Irsyan berserta lainnya melakukan acara barbeque-an di belakang Villa. Semua orang sibuk dengan tugas masing-masing. Para wanita bertugas menyiapkan bahan makanan sedangkan para pria bertugas memanggangnya.
"Kapan nih mau ngelamar Caca?" celetuk Adit.
"Perbedaan antara kami sangat jauh, kak. Antara langit dan bumi," jawab Aril sambil membolak-balikkan sosis. Tentu dia sangat minder jika harus menjalin hubungan dengan Caca, yang notabenenya merupakan atasannya sendiri. Apa kata orang nantinya?
"Padahal belum perang, udah menyerah aja kamu, Ril," sahut Irsyan datang menghampiri Aril dan Adit.
"Ya mau gimana lagi kak, dia itu kan atasanku di kantor. Apa kata orang kalau aku ngelamar dia? Bisa-bisa orang mengira aku itu orang yang nggak tau diri," ucap Aril merendah.
Irsyan menghela napas sedangkan Adit geleng-geleng kepala.
"Kakak yakin Caca juga menyukaimu, Ril."
Aril menaikan satu alisnya, ia tak percaya dengan ucapan kakak iparnya itu. Dulu saat SMA memang Caca suka dengannya bahkan terus-menerus mengejar dirinya. Tapi apa ya sekarang Caca masih menyukainya?
"Kamu nggak percaya?"
Aril menggeleng-gelengkan kepalanya, "Mana mungkin dia suka sama aku kak," ucapnya tersenyum kecut dan kembali membolak-balikkan daging dan sosis.
"Kakak liat dari cara dia mandang ke kamu, seperti berbeda dan dalam gitu. Kalau kamu suka sama Caca, tinggal ungkapkan. Jangan sampai Caca diambil duluan sama laki-laki lain," imbuh Irsyan menepuk-nepuk pundak Aril. Aril menghentikan kegiatannya dan terdiam memikirkan yang diucapkan kakak iparnya tadi.
"Benar yang di katakan Irsyan. Jangan sampai kamu menyesal, Ril," timpal Adit.
Makanan pun telah selesai di panggang dan dihidangkan di atas meja panjang. Mereka mulai makan, Caca duduk di samping kanan Aril. Sedangkan Alina duduk di samping kiri Caca. Bocah perempuan itu begitu lengket dengan Caca. Padahal ini pertama kalinya mereka bertemu.
"Alina mau makan apa? Biar Tante ambilkan," tawar Caca. Alina melihat semua makanan yang ada di atas meja satu persatu dan matanya terjatuh pada sosis dan daging ayam.
"Alina mau sosis sama ayam."
Caca mengangguk, lalu mengambilkan makanan yang di inginkan Alina tadi. Semuanya tersenyum melihat kedekatan Caca dan Alina, terutama Aril. Tapi senyuman pria itu begitu tipis sehingga tidak ada yang menyadarinya.
"Kamu sudah cocok memiliki anak, Ca!" celetuk Fani.
Caca langsung terdesak dan terbatuk-batuk mendengar ucapan Fani tadi. Dengan sigap Aril yang berada di sampingnya mengambilkan air dan menyodorkan kepada Caca.
"Makasih." Caca menegak air pemberian Aril tersebut.
Fani yang tak enak hati pun meminta maaf kepada Caca. "Maafkan ucapan kakak ya, Ca. Kamu jadi tersedak begitu."
"Gapapa kak," ucap Caca tersenyum.
Setelah selesai melakukan kewajibannya sebagai umat muslim, Aril keluar dari kamarnya menuju ke belakang Villa untuk menghirup udara pagi hari.
__ADS_1
Aril duduk di kursi panjang sambil melamun memikirkan ucapan Irsyan dan Adit semalam. Ucapan mereka membuat dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Aril juga tidak tau, apa sekarang Caca sedang single atau sudah memiliki kekasih. Apalagi mereka baru-baru ini kembali berhubungan setelah 5 tahun lost contact. Tidak mungkin wanita secantik dan desainer hebat seperti Caca tidak memiliki kekasih, pasti banyak pria yang mendekatinya.
"Pagi-pagi udah melamun aja!" ujar Caca tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Aril.
Aril tersentak melihat kedatangan Caca, "Caca!"
Caca tersenyum, "Kamu ngapain pagi-pagi disini? Terus mana ngelamun lagi."
"Oh itu. Biasalah mau hirup udara segar di pagi hari sekalian mau liat sunrise," jawab Aril tak sepenuhnya jujur.
Caca manggut-manggut. Ia memandang ke arah depan sambil menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Gerak-gerik Caca tadi tak luput dari pandangan Aril.
"Kenapa, Ril?" tanya Caca yang heran melihat Aril memandangnya seperti itu.
Aril langsung gelagapan dan mengalihkan pandangannya. "Nggak ada kok."
"Oh kirain ada apa."
"Kalung itu kamu masih simpan sampai sekarang?" tanya Aril. Caca melihat ke arah kalung yang ia kenakan dan memegangnya.
"Tentu saja aku masih simpan. Karena ini adalah pemberian orang yang spesial," jawab Caca dengan memelankan intonasi suaranya di akhir ucapannya.
Caca menggelengkan kepalanya, "Ah aku nggak bilang apa-apa kok."
Aril hanya manggut-manggut. "Pacar kamu nggak marah ikut berlibur kesini?"
"Kamu mengejekku?" kesal Caca menatap tajam Aril.
"Sejak kapan aku mengejek mu?" tanya Aril bingung.
"Tadi. Pas kamu tanya tentang pacar. Aku udah 2 tahun menjomblo tau!" sungut Caca. Aril terkekeh kecil mendengarnya.
"Tuh kan malam ketawa! Kamu nyebelin banget!" kesal Caca sambil memukul bahu Aril.
Aril tersenyum, ia mengambil dan memegang kedua tangan Caca. "Iya maafkan aku."
Tatapan Aril selalu saja membuat jantung Caca merasa tidak baik. Tanpa sadar mereka masih berpegang tangan hingga suara seseorang mengagetkan mereka.
"Ekhem! Belum mahram! Nikah dulu sana," ujar Alfian membuat Aril dan Caca tersentak lalu menjauhkan tubuh masing-masing.
"Iya benar kata pak Alfian. Segerakan lah untuk mengikat hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius. Agar tidak terjadi fitnah nantinya," sahut Harun. Dua orang pria lansia itu baru pulang jogging mengelilingi sekitaran Villa.
__ADS_1
Ucapan Harun sontak membuat Aril dan Caca kikuk. Aril menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia bingung harus menjawab apa.
"Kami tidak punya hubungan apa-apa kok, Om," ucap Aril.
"Oh ya? Padahal kalian begitu cocok loh. Tapi Om berharap agar kalian nanti berjodoh," ujar Harun. Aril dan Caca mengaminkan ucapan Harun tadi di dalam hati mereka.
Disisi lain, Aurora berlari menuju ke kamar mandi. Ia merasa perutnya seperti diaduk-aduk dan memuntahkan isi perutnya yang hanya cairan bening saja. Irsyan yang tadinya terlelap langsung terusik mendengar suara istrinya yang sedang muntah-muntah itu. Ia beranjak dari ranjang dan segera menghampiri Aurora di kamar mandi.
"Kamu gapapa, sayang?" tanya Irsyan khawatir sembari memijat tengkuk istrinya.
Aurora hanya mengangguk lemas, ia membasuh mulutnya dan berbalik memeluk Irsyan.
Irsyan membalas pelukan istrinya sambil mengelus-elus punggung Aurora. "Kenapa bisa muntah-muntah begini?"
"Aku nggak tau. Mungkin karena semalam aku salah makan."
"Ya sudah kamu istirahat lagi. Biar sarapan Mas bawakan ke kamar."
Aurora hanya mengangguk. Irsyan memapah Aurora ke ranjang. Ia keluar dari kamar menuju ke ruang makan. Disana semua sudah berkumpul untuk sarapan.
"Pagi semua!" sapa Irsyan.
"Pagi!"
"Istri kamu mana nak?" tanya Jihan tidak melihat menantu kesayangannya.
"Aurora masih tidur, Ma. Dia sedang nggak enak badan," jawab Irsyan duduk di kursi makan. Mendengar ucapan Irsyan membuat semuanya khawatir.
"Mama sakit, Pa?" tanya Hansel.
"Nggak kok, Bang. Mama hanya butuh istirahat," jelas Irsyan yang tidak ingin membuat mereka semua khawatir dan akan membuat liburan mereka semua jadi terganggu.
"Beneran, nak? Tidak perlu periksa ke Dokter?" sahut Alfian.
"Tidak perlu, Yah. Aurora juga pasti menolaknya kalau aku bawa ke Dokter."
Alfian mengangguk, "Ya sudah. Kalau ada apa-apa langsung aja bawa Aurora ke klinik."
"Baik, Yah."
...----------------...
To be continued.
__ADS_1