
Dengan langkah yang semangat Aurora masuk ke dalam rumah sakit untuk segera menemui suaminya. Saat melewati sebuah ruang VIP, Aurora sayup-sayup mendengar suara seseorang yang sangat familiar di telinganya.
Aurora membuka sedikit pintu ruangan tersebut, matanya langsung membulat sempurna saat melihat sang suami sedang berciuman dengan seorang perempuan dan itu adalah pasiennya sendiri.
Hati Aurora seketika serasa dicabik-cabik, bernapas pun terasa susah. Matanya memanas tak terbendung lagi mengeluarkan air matanya. Aurora membuka pintu ruangan itu dengan sangat kencang membuat dua orang di dalam ruangan tersebut langsung terjengkit.
"Apa-apaan kalian!" teriak Aurora, kotak makanan yang ia bawa sampai terjatuh ke lantai. Aurora berjalan cepat menghampiri brankar Nina.
"Aurora!" ujar Irsyan yang syok melihat keberadaan istrinya.
PLAKKK!
Tanpa basa-basi lagi, Aurora menampar keras pipi Nina.
"Awww ssttt, siapa sih kamu? Berani-beraninya nampar aku hah?!" sentak Nina.
"Lo nanya siapa gue?!" sentak Aurora balik.
"Kalau lo penasaran siapa gue, tanya laki-laki yang lo cium tadi!" Aurora menatap Irsyan dengan tajam, Irsyan menelan kasar ludahnya dan sedari tadi tubuhnya gemetaran sampai berkeringat dingin takut akan kemurkaan istrinya.
"Dia istri saya, Nina!" jelas Irsyan dengan tegas, namun ada sedikit suara ketakutan disana.
"Apa dia istri kamu, Mas?" tanya Nina dengan terbata-bata menatap Irsyan minta penjelasan.
"Lo tuli apa gimana? Jelas-jelas tadi mas Irsyan, bilang kalau gue itu istrinya!" sungut Aurora kesal.
"Gue itu nanya sama pacar gue, bukan sama lo!" Aurora berdecak, bisa-bisanya wanita di depannya ini mengaku sebagai kekasih dari suaminya sendiri. Sepertinya wanita itu tengah berhalusinasi dan Aurora harus beri sedikit pelajaran.
"Apa lo bilang tadi? Pacar? Heh bangun, jangan mimpi terus. Dasar wanita murahan nggak tau diri!" sarkas Aurora.
"Sayang sudah," bisik Irsyan ditelinga Aurora.
"Diem kamu, Mas!" Irsyan langsung membungkam mulutnya, tak ingin menambah amarah istrinya. Ia tau jika Aurora sudah marah benar-benar sangat menakutkan.
"Lo bilang gue apa tadi hah?"
__ADS_1
"Kenapa lo nggak suka? Memang bener kan lo itu wanita murahan," ucap Aurora menatap nyalang Nina.
"Dia benar-benar istri kamu, Mas? Istri yang kamu bangga-banggakan? Dia nggak lebih dari kasar yang wanita haus belaian," balas Nina menatap remeh Aurora.
Aurora semakin geram, giginya sampai menggertak beradu. Tangannya terulur menarik rambut Nina dan menjambak nya dengan kuat, membuat Nina teriak kesakitan.
"Arrgghh lepasin sialan!"
"Sakit ya? Lebih sakit mana dengan suami orang yang lo cium hah? Dasar pelakor!" hardik Aurora. Irsyan langsung memeluk Aurora dari belakang dan mencoba melepaskan tangan Aurora dari rambut Nina.
"Please sayang sudah, ini di rumah sakit," lirih Irsyan menenangkan istrinya. Tarikan Aurora di rambut Nina mulai mengendor dan melepaskannya. Irsyan sedikit bernapas lega, setelah itu Aurora berjalan pergi menuju ke pintu. Dengan cepat Irsyan mengejar istrinya.
"Mau kemana sayang?" tanya Irsyan menahan tangan Aurora.
"Terserah aku mau kemana, bukan urusan kamu! Kamu urus aja sana pasien kesayangan kamu itu!" Seketika rahang Irsyan mengeras saat mendengar ucapan dari Aurora tadi.
"Kamu bilang apa tadi, bukan urusan aku? Aku ini suami kamu Aurora, jadi aku berhak tau kemanapun istriku pergi!" bentak Irsyan yang sudah tidak bisa menahan emosinya. Untung saja lorong ruangan VIP itu tengah sepi, jadi tidak ada yang mendengar dan melihat pertikaian mereka.
"Kamu bentak aku, Mas?" tanya Aurora lirih dengan mata yang berkaca-kaca. Ini pertama kalinya Irsyan membentak dirinya.
Irsyan merutuki dirinya, "Maaf sayang, Mas nggak bermaksud membentak kamu," sesalnya mencoba memeluk Aurora, namun istrinya itu segera menghindar.
"Please jangan nangis, air mata kamu buat aku susah untuk bernafas, sayang." Irsyan mendekati Aurora ingin menghapus air mata istrinya.
"Jangan dekat-dekat! Aku nggak mau bicara dengan kamu saat ini!" ucap Aurora. Irsyan tersentak saat Aurora menyebut dirinya dengan sebutan 'kamu' bukan 'Mas'. Aurora berlari meninggalkan Irsyan.
"Sayang tunggu aku!" Irsyan mengejar Aurora, karena takut istrinya kenapa-napa apalagi dalam keadaan menangis.
Banyak orang yang menatap aneh mereka berdua, lebih lagi saat melihat Aurora yang berlari sambil menangis. Irsyan lagi-lagi menahan tangan Aurora, kini mereka berdua sedang berada di parkiran rumah sakit.
"Tunggu sayang, kamu mau kemana?"
"Kan udah aku bilang, terserah aku mau kemana!" jawab Aurora menepis tangan Irsyan. Kemudian Aurora segera naik ke atas motor dan melajukan motornya entah kemana.
"Haish sial!" teriak Irsyan frustrasi. Irsyan sangat ingin mengejar istrinya, tapi pekerjaannya saat ini sangat membutuhkan dirinya.
__ADS_1
Aurora menepikan motornya ke sebuah taman, sepertinya taman tersebut cocok untuk menenangkan diri.
"Baru beberapa minggu pernikahan saja udah ada benalu di hubungan kami," lirih Aurora.
"Bahkan mas Irsyan nggak kasi penjelasan apapun ke aku. Siapa sebenarnya wanita itu?" sambungnya lagi. Sudah 2 perempuan yang Aurora temui dan mereka berdua itu sangat terobsesi pada suaminya. Mungkin itu memang takdir Aurora karena menikah dengan orang tampan dan kaya raya seperti Irsyan.
"Aurora," panggil seseorang. Aurora menatap ke arah yang memanggilnya.
"Mas Rian?" Aurora kaget melihat keberadaan Rian, mantan rekan kerjanya.
"Kamu ngapain disini?" tanya Rian yang tidak sengaja melintas di jalan sekitar taman dan melihat Aurora disana.
"Nggak ada kok Mas, cuma cari angin saja disini," jawab Aurora sedikit berbohong, tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya kepada Rian, karena ini adalah masalah rumah tangga yang bersifat pribadi. Rian hanya manggut-manggut mengerti, walaupun hatinya merasa mengganjal karena melihat mata Aurora yang memerah. Rian paham jika Aurora tengah ada masalah, tapi ia tak ingin terlalu ikut campur.
"Oh ya, selamat ya atas pernikahan kamu dengan suamimu. Maaf kemarin aku nggak bisa datang ke resepsi pernikahan kalian, soalnya waktu itu aku sedang berada diluar kota," jelas Rian. Padahal faktanya dia memang tidak ingin pergi ke acara resepsi pernikahan Aurora dan Irsyan karena hatinya benar-benar tak akan kuat melihat orang yang dia cintai harus bersanding dengan laki-laki lain.
"Makasih Mas," ucap Aurora tersenyum tipis.
"Sama-sama."
"Oh ya, kok mas Rian nggak ke kantor?" tanya Aurora. Rian tersenyum, perhatian kecil seperti ini yang membuat dirinya merindukan Aurora.
"Aku kan bos, jadi terserah aku mau datang kapan aja," jawabnya santai.
"Iya deh yang sudah jadi bos," sindir Aurora.
Rian terkekeh, "Kalau kamu mau, kamu bisa kerja di kantor aku."
"Hehe nggak deh Mas, aku masih betah jadi PNS," tolak Aurora.
"Beneran? Nanti aku bakal gaji kamu 2 kali lipat dari gaji seorang PNS loh," tawar Rian lagi.
"Nggak ah, gajiku sebagai PNS itu sudah cukup kok. Apalagi ditambah dengan uang transferan dari suamiku," ujar Aurora sedikit terkekeh di akhir ucapannya. Rian memaksakan diri untuk tersenyum, padahal didalam hatinya sangat sakit dan sesak.
'Aku akan mendapatkan kamu bagaimanapun caranya,' batin Rian.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.