
Disebuah kamar terdapat dua anak manusia yang saling berpelukan, ranjang yang luas tak berfungsi lagi. Mereka semakin merapatkan diri dan saling mengeratkan pelukan. Meski malam telah berganti pagi, mereka masih enggan untuk bangun dan melakukan aktifitas selanjutnya.
Aurora yang berada dalam pelukan Irsyan semakin menenggelamkan diri, mengusap wajahnya di dada bidang suaminya. Irsyan mengerjapkan mata, ia mulai terusik dengan tindakan Aurora, Irsyan tersenyum melihat istrinya itu masih nyaman dalam dekapannya.
Irsyan menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik Aurora.
"Cantik natural, itulah yang aku sukai dari kamu."
Irsyan mencuri ciuman di kening Aurora. Wangi mawar menyeruak di hidung Irsyan, Aurora kini sangat menyukai hal-hal yang berbau dengan bunga yang memiliki kelopak indah, namun juga mempunyai duri yang menyakitkan itu.
"Sayang bangun yuk, ini udah pagi loh."
Irsyan mengusap lembut pipi Aurora, bukannya bangun istrinya itu malah semakin mengeratkan diri pada tubuhnya.
"Ayo bangun dong sayang, memangnya kamu nggak kerja hari ini?" tanya Irsyan.
"Emmm aku masih ngantuk Mas," ucap Aurora serak dengan mata yang masih terpejam.
"5 menit lagi ya?" pinta Aurora.
"Beneran 5 menit ya? Nggak boleh lebih."
Aurora mengangguk pelan. Irsyan memilih mengalah dan membiarkan Aurora untuk tidur kembali. Nafas Aurora kembali teratur, lengan Irsyan yang menjadi bantal Aurora terasa keram sejak tadi, namun ia tidak tega untuk membangunkan istrinya.
Sudah lima menit berlalu, namun Aurora belum juga kunjung terbangun. Irsyan kembali mencoba membangunkan Aurora namun tak bergeming.
"Masih ngantuk hem?"
Aurora mengangguk, ia benar sangat mengantuk. Tapi Irsyan harus segera membangunkan Aurora karena dia dan istrinya itu harus pergi bekerja.
Akhirnya Irsyan membopong tubuh Aurora menuju ke kamar mandi, menggendongnya ala koala dan Aurora hanya mengeratkan pegangannya di leher sang suami, meletakkan kepalanya di ceruk leher Irsyan. Mereka pun akhirnya mandi berdua, karena benar-benar waktu sudah sangat mepet.
Lima belas menit pun berlalu, kedua insan itu baru saja keluar dari kamar mandi sehabis melakukan ritual mandi.
Setelah selesai berpakaian serta melakukan hal lain, Irsyan dan Aurora turun menuju ke ruang makan. Disana terlihat sepi, entah kemana Jihan dan Harun.
"Bibi!" panggil Irsyan. Bi Aci berjalan dengan langkah tergopoh-gopoh menghampiri Irsyan.
"Ya Tuan, ada yang bisa Bibi bantu?"
"Mama dan Papa kemana ya, Bi? Kok nggak sarapan?" tanya Irsyan pada bi Aci.
__ADS_1
"Pagi-pagi sekali Tuan besar pergi ke perusahan travel, karena ada pekerjaan penting disana dan Nyonya besar menemani beliau ke perusahaan," jelas bi Aci.
Irsyan manggut-manggut, "Kalau gitu Bibi bisa lanjutkan pekerjaan Bibi."
"Baik Tuan." Bi Aci kembali menuju ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya.
"Mau makan apa sayangku?" tanya Irsyan lembut pada Aurora.
Aurora menggeleng, "Aku nggak nafsu makan Mas, pasti nanti bakalan muntah."
Morning sickness ini sangat menganggu Aurora, tapi disisi lain ia sangat bersyukur bisa merasakan hal luar biasa seperti ini. Ia sangat yakin banyak ibu-ibu diluar sana juga yang ingin merasakan apa yang Aurora rasakan saat ini.
"Makan ya sayang? Kasihan anak kita, pasti dia lapar di dalam," bujuk Irsyan sambil mengelus perut Aurora.
"Tapi makannya di suapi Mas ya?" pinta Aurora. Irsyan tersenyum dan mengangguk, sepertinya ibu hamil itu ingin bermanja-manja dengannya.
"Dengan senang hati ratuku," balas Irsyan segera menyiapkan makanan untuk dirinya dan Aurora, mereka makan berdua di satu piring. Irsyan menyuapi Aurora sesekali menyuapi untuk dirinya sendiri.
"Aku udah kenyang Mas," tolak Aurora saat Irsyan kembali akan menyuapinya.
"Baru juga 3 sendok sayang, pasti anak kita masih lapar di dalam sana, lagi ya makannya?" bujuk Irsyan. Aurora tetap menggeleng.
Irsyan menghela napas panjang, memang semenjak hamil nafsu makan istrinya itu sangatlah menurun.
"Ya sudah kalau gitu kamu minum susu aja ya?" Irsyan memberikan segelas susu khusus untuk ibu hamil pada Aurora. Aurora menerima dan langsung meminumnya dalam beberapa tenggak hingga habis. Aurora mengelus perutnya yang terasa kenyang, sementara Irsyan terkekeh lucu saat melihat istrinya itu.
"Sayang," panggil Irsyan melirik sekilas istrinya dan kembali fokus melihat ke depan, kini mereka berdua tengah berada di dalam mobil perjalanan menuju ke kantor Aurora.
"Ya Mas?" Aurora menatap Irsyan.
"Kamu ingatkan dengan perjanjian kita dulu?" tanya Irsyan membuat kening Aurora mengkerut.
"Perjanjian apa ya Mas?" tanya Aurora bingung.
"Kamu dulu berjanji saat kamu sudah hamil, kamu akan berhenti bekerja, kamu sudah mengingatnya sayang?" jelas Irsyan. Ah iya, Aurora pernah berjanji seperti itu, waktu awal-awal pernikahan mereka.
"Iya aku ingat Mas, tapi tunggu kehamilan ku memasuki usia 5 bulan ya, baru deh aku resign."
"Nggak sayang, lebih cepat lebih baik," ucap Irsyan yang tak mau diganggu gugat lagi.
"Nanti biar Mas yang mengurus surat pengunduran diri kamu dan Mas akan segera memberitahukan hal ini pada Om Ahyar," sambung Irsyan. Aurora menghela napas dan mengangguk.
__ADS_1
"Ya sudah terserah Mas aja," ujar Aurora pasrah.
...****************...
Irsyan dan beberapa perawat lainnya termasuk Aji, dipilih menjadi relawan di desa U yang sekarang tengah dilanda bencana alam banjir bandang dan longsor. Jarak kota M dan sesa U cukup jauh, memakan waktu sekitar 5 jam untuk sampai disana. Irsyan dan sekitar 7 perawat lainnya akan menjadi relawan selama dua minggu.
"Lo kenapa, Syan?"
"Gue lagi kepikiran sama Aurora, kalau nanti gue tinggalin ke desa U selama dua minggu," lirih Irsyan tengah dirundung kegalauan, ia tentu tidak bisa meninggalkan istrinya yang saat ini tengah hamil itu.
"Ya ampun bucin banget sih lo, cuma dua minggu jugaan pasti Aurora bakalan paham kok," timpal Aji mencibir sahabatnya yang sangat bucin terhadap istrinya itu. Dia bilang seperti itu karena Aji belum ngerasain gimana rasanya jauh dengan istri.
"Bukan begitu, Ji. Gue nggak mau ninggalin dia lama-lama, soalnya dia lagi hamil," pungkas Irsyan menjelaskan.
"Apa?! Aurora hamil, Syan?" ucap Aji terkejut.
Irsyan mengangguk, "Itu alasan gue kenapa nggak mau ninggalin dia lama-lama, apalagi selama dua mingguan," ucapnya sedih.
"Pantesan lo begitu, by the way selamat ya atas kehamilan istri lo. Nggak nyangka ternyata benih lo tokcer juga," ucap Aji sambil menepuk-nepuk pundak Irsyan.
"Ya dong gue gitu loh! Beberapa kali tembak langsung jadi, benih gue memang luar biasa," balas Irsyan bangga. Aji memutar matanya, dalam hatinya dia menyesal karena tadi telah memuji Irsyan.
"Ngomong-ngomong kandungan Aurora udah berapa minggu?" tanya Aji.
"Alhamdulillah udah berjalan 6 minggu, Ji."
Aji manggut-manggut, "Kalau lo nggak mau jadi relawan, lo tinggal kasi tau aja pak Gusti daripada nanti lo terus kepikiran sama Aurora." saran Aji. Irsyan memikirkan saran dari Aji tadi tapi jika menolak, kredibilitas dirinya sebagai perawat akan dipertanyakan.
"Oke, nanti gue kasi tau Aurora dulu, kalau doi nggak ngizinin gue, baru deh gue beritahu pak Gusti," ucap Irsyan.
"Nah gitu lebih baik. Paling lo juga nggak bisa ninggalin Aurora, karena takut nggak bakal dapat jatah kan?" sindir Aji.
"Nah itu lo tau!" ucap Irsyan membalas sindiran Aji.
Aji mendengus, "Inget istri lo lagi bunting, nggak usah terlalu banyak olahraga malam!"
"Iya gue tau!" balas Irsyan dengan malas. Irsyan berdiri, pergi arah lemari dan mengambil beberapa air infus untuk mengganti infus para pasiennya.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1