
Saat ini Irsyan dan Aurora sedang di perjalanan menuju ke air terjun yang cukup dekat dengan Villa milik Harun, mungkin membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit untuk sampai kesana. Mereka berdua kesana menggunakan sepeda motor milik Gilang, anak dari paman Dadang dan Bibi Pina.
Rute perjalanan mereka ke air terjun mulus dan lancar, jalanan kesana cukup bagus mungkin karena masyarakat disana mengelolanya dengan baik bahkan tidak ada jalanan yang becek atau terjal seperti perjalanan ke air terjun biasanya.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di tempat tujuan. Aurora begitu terkesima melihat pemandangan air terjun yang begitu menyejukkan mata dan pikirannya, airnya sangatlah jernih apalagi disekelilingnya di tumbuhi pohon-pohon besar dan rindang. Di tepi air terjun juga di tumbuhi bunga-bunga yang sangat cantik.
Aurora turun dari motor dan segera mendekati pinggir air terjun tersebut dengan antusias, Irsyan yang melihat itu hanya bisa tersenyum.
"Masya Allah airnya dingin banget," ucap Aurora saat tangannya memegang air terjun tersebut.
"Kamu suka kesini sayang?" tanya Irsyan. Ia berdiri di belakang Aurora.
"Heum, aku suka banget Mas, makasih ya udah ajak aku kesini," jawab Aurora saking senangnya ia memeluk suaminya. Irsyan ikut senang melihat istrinya senang.
"Mau berendam disana sayang?" tawar Irsyan. Aurora melepaskan pelukannya lalu menggelengkan kepalanya.
"Nggak Mas."
"Kenapa sayang?"
"Nanti kalau ada ular disana, gimana?" tanya Aurora. Dia memang phobia dengan hewan reptil yang satu itu, jika ular milik Irsyan mungkin beda lagi. Heh!
"Disana nggak ada ular sayang," jawab Irsyan.
"Nggak usah deh Mas, aku main air di tepian aja," imbuh Aurora. Irsyan pun tidak bisa memaksa istrinya.
Sepertinya Irsyan akan berendam sendirian disana, ia mulai membuka baju dan celananya. Kini hanya menyisakan celana pendek saja yang ia kenakan tanpa atasan, kalau ada gadis atau emak-emak yang melihat penampilan Irsyan saat ini, pasti mereka akan menjerit keras apalagi ketika melihat susunan otot perut milik pria itu.
Irsyan turun ke dalam air terjun tersebut sedangkan Aurora duduk sambil merendamkan kakinya ke dalam air.
Irsyan terkekeh pelan menatap istrinya seperti anak kecil yang sedang bermain air. "Beneran kamu nggak mau ikut berendam sayang? Seger loh airnya."
"Nggak mau! Aku main air aja," tolak Aurora. Ide jahil terlintas di pikiran Irsyan. Ia mencipratkan air ke arah Aurora membuat sang empu mendelik tajam ke arah suaminya yang sedang memasang wajah senyum tanpa dosa.
"Mas ih! Kan baju aku jadi basah!" kesal Aurora.
Bukannya minta maaf, Irsyan malah tertawa, "Maaf sayangku."
Aurora mendengus kesal dan berdiri, ia lebih memilih memetik bunga-bunga yang ada disana.
Cukup puas berendam Irsyan pun naik ke pinggiran, ia berjalan mendekati Aurora yang sedang sibuk membuat sebuah bando yang ia buat dari bunga-bunga yang tadinya ia petik.
"Sayang lagi ngapain?" tanya Irsyan sambil duduk di samping Aurora.
__ADS_1
"Oh ini aku lagi buat bando, Mas udah selesai berendam?" tanya balik Aurora.
"Udah sayang, soalnya nggak tahan dingin banget."
"Mas pakai bajunya dulu sana, nanti yang ada Mas tambah kedinginan lagi," suruh Aurora.
Irsyan mengangguk menuruti perintah sang kanjeng ratu. Ia mengambil pakaiannya lalu memakaikannya, setelah itu Irsyan kembali duduk di samping istrinya.
"Gimana Mas, aku cantik nggak pakai ini?" tanya Aurora saat menggunakan bando bunga buatannya dan menaruhnya di kepala.
"Masya Allah sangat cantik, seperti peri bunga," puji Irsyan. Istrinya itu memang selalu cantik dimatanya, apalagi ketika hamil seperti sekarang menurutnya kecantikan Aurora makin bertambah-tambah. Lalu Irsyan mengambil handphonenya lalu mengarahkan kamera belakang ke arah Aurora.
"Hadap sini sayang, biar aku foto," suruh Irsyan. Aurora pun menghadap ke arah Irsyan lebih tepatnya pada kamera handphone suaminya.
CEKREK!
Irsyan mengambil beberapa foto istrinya dengan berbagai bentuk gaya.
"Sangat cantik," puji Irsyan melihat hasil-hasil foto Aurora.
"Coba aku liat Mas," pinta Aurora. Irsyan menyodorkan handphonenya ke Aurora dan melihat hasil jepretan suaminya.
"Wah fotonya bagus-bagus. Kirimkan aku ya foto-fotonya, Mas."
"Mas balik ke villa yuk!" ajak Aurora.
"Iya ayo sayang."
...****************...
Mila mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran mencari keberadaan Raka, entah apa yang akan dibicarakan oleh si Dugan alias duda ganteng sehingga mengajak dirinya dinner di restoran ini.
Saat melihat Raka berada di dekat jendela, Mila pun segera menghampirinya.
"Assalamualaikum, Ka," sapa Mila.
"Waalaikumsalam Mil," balas Raka tersenyum.
Penampilan pria itu malam ini cukup mempesona mengenakan kemeja biru langit di balut dengan jas berwarna hitam tanpa dasi serta celana kain senada dengan warna jas yang dikenakannya, cukup formal padahal Mila malam ini hanya menggunakan gamis panjang berwarna soft pink dan dipadukan hijab pashmina berwarna peach, menurut Mila penampilannya sangat sederhana berbeda jauh dengan penampilan Raka.
"Lo ajak gue kesini mau omongin apaan ya, Ka?" tanya Mila to the point.
"Gimana kalau kita makan dulu? Baru gue kasi tau apa yang akan gue katakan," usul Raka.
__ADS_1
Mila mengangguk setuju, ia juga cukup lapar saat ini.
Mereka berdua makan dengan khidmat tidak ada obrolan, sesekali Raka menatap Mila sedangkan yang ditatap tidak peduli dan hanya fokus pada makanannya.
"Ayo Ka, sebenernya lo mau ngomongin apaan sih!" tanya Mila penasaran.
Raka terkekeh kecil mendengar ucapan Mila yang tidak sabaran itu, ia menaruh garpu dan sendoknya di atas piring.
Raka mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah dari dalam saku jasnya lalu membukanya dan menyodorkan di depan Mila, Mila yang melihat kotak yang berisi cincin itu tersentak.
"Maksud lo apa, Ka?" tanya Mila sedikit terbata-bata.
"Gue mau lo jadi istri gue, Mil," jawab Raka tegas namun lembut sambil menatap Mila dengan tatapan penuh cinta.
Mila seketika terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Kejadian dulu saat ibu dari Raka menghinanya tiba-tiba terlintas di benaknya. Mila takut Indah, ibu dari Raka melakukan itu lagi padanya, bahkan rasa sakit hati itu masih bersarang di dirinya.
Disisi lain Mila sedang mencintai laki-laki lain, tapi laki-laki itu bahkan tidak tau menahu tentang perasaannya. Apa ia harus menjadi seperti Zulaikha yang mengungkapkan perasaannya kepada nabi Yusuf secara terang-terangan?
"Lo nggak mau ya, Mil?" tanya Raka yang melihat kediaman Mila.
"Bukannya begitu Ka, lo tau kan Mama lo itu nggak suka sama gue," jelas Mila.
Raka menghela napas kasar, "Gue bisa menyakinkan Mama gue buat suka sama lo, Mil. Apalagi Aqila sangat suka sama lo bahkan dia menganggap lo sebagai bundanya," ucapnya sambil memegang kedua tangan Mila. Namun segera dilepaskan oleh Mila.
"Sorry, Ka. Gue nggak bisa."
"Kenapa Mil? Apa ada cowok yang lo suka?" tanya Raka dan Mila langsung terdiam lagi.
"Bener ya Mil, kalau ada cowok yang lo suka?" tanya Raka lagi sambil tersenyum kecut.
"Astaga nggak Raka!" elak Mila.
"Terus gimana Mil? Gue masih cinta sama lo bahkan perasaan itu belum hilang sampai sekarang. Please Mil, gue udah nggak mau pacaran lagi, gue maunya langsung menikah dan itu sama lo," kata Raka menatap lekat mata Mila.
Mila terdiam sejenak memikirkan ucapan Raka tadi, lalu ia menghela napas panjang, "Beri gue waktu untuk menjawabnya, Ka."
"Sampai kapan, Mil? Gue butuh jawaban lo secepatnya," tanya Raka.
"Insya Allah secepatnya, Ka," jawab Mila. Yang ia butuhkan sekarang adalah petunjuk dari sang Pencipta dan nanti Mila akan melaksanakan sholat istikharah, meminta petunjuk siapa sebenarnya yang akan menjadi jodohnya.
"Oke gue tunggu, Mil. Gue berharap jawaban lo nanti nggak menyakiti hati gue," ucap Raka.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.