GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 135


__ADS_3

Santi sedari tadi mendelik jengah menatap tingkah anaknya yang seperti cacing kepanasan, merengek sambil menendang-nendang selimut rumah sakitnya.


"Cacingan kamu, Ndre?" tanya Santi dengan tampang ingin menjitak kepala putra sulungnya itu.


"Ish Mama!" pekik Andre membuat Santi terperanjat kaget.


"Pisau di tangan Mama belum melayang loh, Ndre," ancam Santi mengacungkan pisau yang dipakainya untuk memotong buah-buahan.


"Kiran mana sih!" decak nya emosi.


"Kasih istrimu untuk istirahat, Ndre. Semalam kan dia udah jagain kamu, sekarang giliran Mama. Kamu nggak usah ngomel-ngomel deh!" cetus Santi.


"Tapi aku pengen Kiran disini, Ma," rengek Andre makin menjadi-jadi.


Santi memejamkan matanya sejenak sebelum mengeluarkan semburan api dari mulutnya, "Makanya jadi suami itu jangan banyak tingkah, mau nyalahin siapa coba kalau seandainya Kiran pergi dari kamu."


"Aku nggak bakal izinin Kiran untuk pergi! Apalagi sama laki-laki lain," ujar Andre bersungguh-sungguh.


"Ma, minta tolong ambilin handphoneku dong," lanjutnya menunjuk benda pipih di atas meja sofa.


Santi berdiri mengambil handphone Andre dan memberikannya pada putranya itu.


"Mau ngapain?" tanya Santi.


"Mau telpon istri akulah Ma," jawab Andre enteng membuat Santi mendengus melihat putranya.


Ditempat lain, setelah membereskan apartemennya, Kiran duduk bersandar pada punggung sofa sambil memejamkan matanya, ibu hamil cantik itu terlihat kelelahan.


Jam menunjukkan pukul 8 malam belum sempat Kiran mengarungi dunia mimpi, bel apartemennya berbunyi tanda bahwa ada yang ingin bertamu.


Kiran sedikit terhuyung, kepalanya pening akibat secara tiba-tiba memaksa bangun. Ia berhenti melangkah sebentar, menggelengkan kepalanya agar rasa pening itu menghilang.


Kiran membuka pintu apartemennya dan mendapati sosok laki-laki yang kemarin siang bertemu dengannya di depan lift.


"Hai," sapa laki-laki itu dengan senyum merekah.


Kiran membalas senyuman laki-laki itu, "Eh Kak William. Ada apa ya?"


Yah, dia William, laki-laki yang dulu pernah menyatakan cintanya kepada Kiran tapi di tolak oleh wanita itu.


"Gue boleh datang bertamu?"


Ingin rasanya Kiran menolak kedatangan tamu, apalagi seorang laki-laki yang bukan mahramnya, tapi ia merasa tak enak hati.


"Oh tentu, ayo masuk." Kiran menggeser kan tubuhnya dan mempersilahkan William untuk masuk.

__ADS_1


Kiran juga mempersilahkan William untuk duduk di sofa ruang tengah apartemennya.


William memperhatikan ke sekeliling apartemen, "Apartemen lo lebih gede dari apartemen punya gue," ucapnya tiba-tiba.


Kiran yang baru saja dari dapur dengan membawa nampar berisi dua gelas jus jeruk hangat tersenyum.


"Ayo diminum dulu, kakak udah makan?" tanya Kiran sedikit meminum jus jeruk yang tadi dibawanya.


William mengangguk, "Udah kok tadi. Oh ya, ini gue bawain donat buat lo." William menyodorkan sekotak donat di hadapan Kiran, membuat mata wanita itu seketika berbinar. Sepertinya laki-laki itu tau ngidam Kiran malam ini.


Memang benar sedari tadi Kiran sangat ingin memakan donat, namun ia urungkan sebentar, Kiran berniat akan memesannya setelah menerima tamu. Ia tak menyangka William akan membawakan donat untuknya.


William terkekeh kecil memperhatikan raut bahagia wanita di hadapannya ini, ingin rasanya ia mencubit kedua pipi yang terlihat berisi itu.


"Makasih banget loh, kak. Gue pengen banget makan donat dari tadi," seru Kiran senang.


"Oh ya? Syukurlah kalau lo suka," ucap William dengan semangat.


Keduanya mulai berbincang banyak hal sampai William menyingung tentang mantan tunangannya yang kabur membawa uangnya.


"Ish kok gue kesel banget sama mantan tunangan kakak itu! Terus gimana, udah ketemu sama dia?" tanya Kiran dengan mulut penuh donat bahkan mulutnya sampai belepotan.


William tertawa pelan, lucu melihat Kiran seperti anak kecil, ia mengulurkan ibu jarinya lalu mengusap cream donat yang tertinggal di sudut bibir Kiran.


Aksi tiba-tiba dari laki-laki itu membuat tubuh Kiran membeku dan menghentikan kunyahannya. Ibu hamil itu segera mengambil tissue kemudian mengusap di area bibirnya, melihat itu William menggigit bibir bawahnya karena apa yang tadi ia lakukan salah.


"Sorry, Ki."


"Eh." Kiran mengibaskan tangannya ke udara.


"Kenapa minta maaf, gue tau kak William refleks kan?" lanjutnya.


'Gue nggak refleks, Kiran.' Tapi sayangnya, William hanya bisa mengatakan itu di dalam hatinya.


"Iya Ki, tadi itu gue hanya ref--" Belum selesai William berbicara tiba-tiba suara dering handphone Kiran membuat dirinya menghentikan ucapannya.


Kening Kiran mengernyit, ia menatap William sebentar sebelum berdiri dari duduknya, "Bentar ya Will, gue mau angkat telpon dulu," izin Kiran dan di balas anggukan dari William.


Kiran berdiri di balkon apartemennya untuk mengangkat panggilan tadi.


"KIRAN KAPAN DATENG KESINI???"


Kiran langsung menjauhkan handphonenya, gendang telinganya berdengung akibat teriakan kencang dari pria diseberang panggilan.


Kiran memutar matanya malas, "Ngapain gue harus datang? Kan udah ada Mama yang jagain lo."

__ADS_1


"Tapi aku maunya kamu," jawab Andre lirih.


"Gue nya tapi yang nggak mau!" balas Kiran sedikit sewot.


"Kalau kamu nggak dateng aku nggak akan makan!" ancam Andre.


"Heh! Mama tampol ya nanti kamu pakai pisau ini, Ndre!" suara Santi terdengar emosi.


"Ih Mama diem deh, syuuttt!" Andre menempelkan jari telunjuk tepat pada bibirnya menyuruh sang Mama untuk diam.


"Dih, pokoknya Kiran nggak usah dat--"


"Kalau Kiran nggak dateng, aku nggak bakal makan titik!" teriak Andre memotong ucapan Mamanya.


Lagi-lagi Kiran harus menjauhkan handphone dari telinganya. "Lo mau mati hah?"


"Iya aku mau mati aja kalau kamu nggak dateng," ucap Andre mulai terisak. Begitulah Andre jika sudah dengan Kiran, dia akan seperti anak kecil yang membutuhkan perhatian dari sang ibu.


Kiran membulatkan matanya karena suara tangisan dari ujung panggilan terdengar jelas, "Nggak usah nangis, kalau lo nangis gue nggak bakalan dateng!" sentak Kiran langsung membuat Andre mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Siapa Ki?" tanya William yang lama menunggu akhirnya pergi menyusul Kiran.


Kiran melebarkan matanya, ia melihat layar handphonenya yang masih tersambung dengan panggilan dari Andre.


Disana tempat lain, tepatnya di rumah sakit, Andre langsung terdiam, ia menggigit kecil bibir bawahnya dengan nada bergetar dan bertanya dengan nada berusaha kuat, "Kamu lagi sama siapa, Ki?"


Andre mendengar dengan jelas kalau itu suara laki-laki.


"Aku ganggu ya? Ya udah aku matiin telponnya, maaf kalau aku ganggu kamu, Ki," lirih Andre kemudian mengakhiri sambungan telepon secara sepihak.


Andre meletakkan handphonenya, lalu berbaring membelakangi Santi yang tertegun mendapati reaksi putranya yang berubah.


"Kamu kenapa, Ndre?" tanya Santi.


Andre menggeleng dalam tidurnya, "Aku nggak kenapa-kenapa kok, Ma. Aku cuma mau sendiri, boleh?" Sebenarnya Andre sedang menahan tangisnya, ia kembali emosional.


"Tapi kamu belum makan dari tadi, apel yang Mama kupas aja belum kamu sentuh," ucap Santi dengan lembut, ia tak tau apa yang membuat Andre berubah diam.


"Iya nanti aku makan Ma, sekarang aku pengen sendirian," balas Andre dengan nada bergetar.


Santi menghela napas panjang, lalu beranjak dari duduknya untuk keluar dari ruang rawat putranya dan membiarkan Andre sendirian di dalam.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2