GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 137


__ADS_3

Di dalam ruang rawat VIP, Andre sejak tadi tak mau melepaskan pelukannya pada Kiran yang sudah jengah sedari tadi. Kerinduan pada wanita berbadan dua itu masih menumpuk tak tertampung lagi.


"Pulang sama aku ke rumah kita ya, sayang?" ajak Andre berharap.


Sambil tersenyum Kiran menggeleng samar, "Aku nggak bisa, Ndre. Kamu pasti tau kan alasannya? Nggak perlu aku jelasin lagi."


Andre melepaskan pelukannya lalu mengangguk pelan mengerti, rasa bersalah kembali menggerogoti relung hati dan pikirannya.


"Gimana kalau beli rumah baru dan rumah lama itu kita jual? Kita mulai bangun kembali kenangan indah yang udah aku rusak di rumah baru kita nanti."


Kiran berpikir sebentar, menatap Andre dengan ragu. Pria itu memasang wajah memelas nya seperti anak kucing yang minta di kasih makan.


"Hem," gumam Kiran sambil menghembuskan napas kasar.


"Kamu mau?" tanya Andre memastikan lagi.


"Iya mau, tapi sekarang aku tinggal di apartemen dulu, kalau kamu udah beli rumah baru baru deh kita pindah," jelas Kiran.


Andre menaikkan satu alisnya, "Sejak kapan kamu punya apartemen?" tanyanya menyelidik. Setahunya, Kiran tidak memiliki apartemen karena dari dulu papi mertuanya melarang istrinya itu untuk tinggal sendirian.


"Sejak 3 hari yang lalu, aku disana hanya menyewa aja kok, nggak beli."


"Kita tinggal di rumah Mama aja ya, sebelum kita beli rumah baru? Masa iya kita tinggal terpisah, bisa-bisa nanti orang tua kita marah, sayang," ujar Andre sambil mengelus jari-jemari lentik istrinya.


Lagi-lagi Kiran berpikir dan benar juga yang dikatakan oleh suaminya tadi.


"Ya udah deh aku mau ke apartemen dulu, mau beresin baju-baju aku," ucap Kiran pasrah.


"Aku ikut!"


"Nggak, kamu aja masih ngesot jalannya!" tolak Kiran mentah-mentah. Padahal kaki Andre tidak kenapa-napa, hanya saja sedikit pincang karena terkena pecahan beling waktu itu.


"Ngesot apaan? Dikira suster ngesot apa?" Ketika Andre mengatakan salah satu hantu di Indonesia itu, seketika tubuh Kiran merinding. Dia sebelas dua belas dengan Aurora, sangat takut dengan hal yang berbau gaib.


"Andre mulutnya ih! Kita sekarang lagi di rumah sakit kalau kamu lupa, entar didatangi susternya tau rasa kamu!" ucap Kiran bergidik ngeri.


Andre terkekeh sambil mengacak rambut Kiran gemas, "Liat kamu takut ginian bukannya aku ketularan takut, tapi akunya malah gemes."


Kiran berdecak sebal, "Pokoknya kamu nggak usah ikut, kamu tuh harus banyak-banyak istirahat, ini juga demi kebaikan dan kesembuhan kamu," perintah Kiran tak mau di tolak.


Andre hanya bisa mengulum bibirnya pasrah mengikuti apapun yang dikatakan istrinya itu. Mau dibantah takutnya langsung dilempari surat cerai lagi. Ia jadi trauma dengan kata perceraian.


"Kamu belum makan malam kan?" tanya Kiran pada Andre.


Andre menggeleng, "Belum, kamu udah makan?" tanya balik Andre.


"Aku tadi udah makan di apartemen," jawab Kiran jujur.

__ADS_1


Kiran mengambil piring makanan yang berada di atas nakas, menyendok kan nasi dan lauk lalu menyodorkan ke arah mulut Andre, "Aaaa ayo makan," suruhnya.


Andre mengangguk dan memakan makanan yang disuapi oleh istrinya, Kiran menyuapi Andre dengan telaten hingga makanan tersebut habis tak bersisa. Setelah selesai makan, Kiran kembali menyodorkan beberapa butir obat dan air minum untuk Andre.


"Makasih sayang," ucap Andre tulus.


"Sama-sama, sekarang kamu istirahat ya? Biar cepat pulih," suruh Kiran. Perhatian seperti inilah yang selalu membuat Andre semakin mencintai istrinya.


Andre menggeser sedikit posisinya dan menepuk-nepuk ranjang rawatnya, "Kamu juga harus tidur, nggak baik ibu hamil tidur kemalaman," balasnya.


"Tapi kamu bisa kesempitan, Ndre. Gapapa biar nanti aku tidur di sofa aja," tolak Kiran dengan halus.


Andre menggeleng, tak mungkin ia tega melihat istrinya tidur di sofa, "Gapapa kamu tidur sama aku aja disini, padahal aku kangen banget pengen peluk kamu," ucapnya pura-pura sedih seraya mengeluarkan puppy eyes andalannya.


Kiran menghela napas panjang lalu mengangguk membuat Andre mengembangkan senyum bahagianya.


Kiran naik ke atas ranjang rawat Andre, membaringkan tubuhnya dengan perlahan sambil menarik selimut hingga menutupi setengah badannya dan Andre. Kiran tidur dengan membelakangi suaminya, dengan cepat tangan Andre melingkar di perut Kiran.


"Sehat-sehat ya anak Ayah di dalam sana, Ayah nggak sabar melihatmu terlahir ke dunia ini" ucap Andre mengajak calon bayinya berbicara sambil mengelus perut Kiran. Sedangkan Kiran hanya tersenyum tipis mendengarnya, tak lama mereka pun tertidur mengarungi kehidupan di alam mimpi.


...****************...


Sore sekitar pukul 5 sore lebih, Mila baru saja pulang dari pengajian yang dilangsungkan di masjid yang dekat dengan rumahnya. Ia hanya berjalan menuju ke masjid dan pulang pun ia harus jalan kaki lagi.


"Eh buset kayak kenal tu orang?" Mila melihat ke arah taman yang juga dekat dengan rumahnya, ia pun melihat orang itu lebih teliti lagi.


"Kek ada rasa bunyi krek di hati gue," gumam Mila. Ia pun mengedarkan pandangannya mencari sesuatu.


"Untuk mengembalikan mood gue, gue butuh yang seger-seger seperti es Boba. Eh tapi tu gerobak penjual deket banget sama tempat mereka," keluh Mila.


Mila pun berusaha untuk mengabaikan mereka dan berjalan penjual es Boba.


"Bang, pesan es Boba rasa brown sugar satu," pesan Mila.


"Oke mbak, tunggu sebentar."


Mila hanya mengangguk lalu sesekali ia menoleh untuk mengintip apa saja yang dilakukan oleh ketiga orang itu. Saat ia memandang kakinya, entah datang darimana sebuah bola berada di dekat kakinya.


Pelaku yang menendang bola itu langsung menghampiri Mila untuk meminta maaf dan mengambil bola tersebut.


"Maaf kak, aku tadi nggak sengaja," ucap Rifqi takut jika perempuan itu marah.


Mila pun terkejut saat mendengar suara Rifqi, "Eh gapapa kok."


Rifqi seakan mengenal dengan suara itu pun mendongak dan Mila lah orangnya.


"Loh kakak cantik!" ucap Rifqi terkejut dan senang sekaligus.

__ADS_1


Satria dan Aisha langsung menghampiri Rifqi. Satria sempat terkejut saat melihat Mila namun ia segera merubah raut wajahnya lagi menjadi biasa saja.


"Ini mbak, esnya," ucap si penjual itu dan menyerahkan es Boba pesanan Mila. Mila pun mengambil dan membayar setelah itu.


"Halo Rifqi," sapa Mila.


"Kakak cantik banget deh sama kayak kak Ais. Oh ya kakak habis darimana kok bawa Al-Qur'an?" tanya Rifqi penasaran.


"Oh itu kakak habis pulang dari pengajian dan terima kasih atas pujiannya, kalau Rifqi ngapain ada disini?" tanya balik Mila walau sebenarnya ia tau kalau anak itu sedang bermain tapi Mila hanya ingin berbasa-basi saja.


"Aku disini lagi main sama bang Satria dan kak Ais. Kakak mau ikut juga nggak?" ajak Rifqi.


"Eh nggak, nanti yang ada kakak malah ganggu kalian lagi."


"Tidak ganggu kok, Mila. Kalau mau ikut silahkan saja," ucap Aisha dengan suara lembutnya.


"Mila!" panggil seseorang. Mila yang di panggil langsung menolehkan kepalanya.


"Raka?"


Raka menghampiri Mila, lalu berdiri di sampingnya.


"Kakak ganteng ini siapa ya?" tanya Rifqi penasaran. Raka pun menatap Rifqi sambil tersenyum.


"Nama kakak Raka, calon suaminya kak Mila." Mila yang mendengar itu melotot karena tak terima.


"Hah, yang benar kak? Nggak apa kak Mila sama bang Satria?" tanya Rifqi bingung sambil menatap Satria. Raka langsung menatap Satria dengan tatapan tak suka.


"Kak Mila itu calon istrinya kak Raka, coba saja tanya kak Mila," suruh Raka.


Sedari tadi Satria mengepalkan tangannya dan berusaha diam saja.


"Laki-laki ini benar calon suami kamu, Mila?" tanya Aisha.


"Buk--" Ucapan Mila langsung disela oleh Raka.


"Iya benar dan sebentar lagi aku akan melamarnya."


"Dih!" Mila menatap tajam Raka, omongan pria itu semakin ngawur saja. Mila mengambil tas dan Al-Qur'an yang ia taruh di atas meja dan segera pergi dari sana tanpa berpamitan kepada mereka karena rasa kesalnya sudah berada di ubun-ubun.


"Mila, lo mau kemana?" teriak Raka memanggil Mila.


"Pulang!" balas Mila meneriaki Raka tanpa menoleh. Raka pun segera berlari mengejar Mila. Satria hanya bisa memandangi punggung Mila yang sudah menjauh itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2