GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 42


__ADS_3

Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏


...Happy reading☘️...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kakak cantik, makasih ya udah nolongin Al. Kalau nggak ada kakak cantik mungkin Al udah di culik sama Paman jelek tadi." Aurora mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Ia melihat anak laki-laki yang tadi ia tolong berada di dekatnya. Aurora berjongkok di depan anak laki-laki itu.


"Iya sama-sama. Kok adek disini main sendirian? Bahaya tau, buktinya tadi kalau nggak ada kakak, kamu sudah di culik."


Alvaro langsung cemberut, "Tadi Al kabur dari mbak, soalnya Al nggak di kasi main-main kesini," jelasnya. Mbak yang Alvaro maksud yakni pengasuhnya.


"Nanti kalau di cari sama mama dan papanya gimana? Mama dan papa kamu pasti sekarang lagi khawatir cari kamu." ucap Aurora lembut.


"Iya maaf kakak cantik," ucap Alvaro menunduk. Aurora tersenyum kecil melihatnya.


"Adek ganteng tau dimana alamat rumahnya? Biar nanti kakak antar," tanya Aurora.


Alvaro menggeleng, "Al nggak tau kak," ucap bocah berumur lima tahun ini.


Dari kejauhan sepasang suami-istri, diikuti 2 orang bodyguard dan 1 wanita berpakaian seperti seorang pengasuh tengah berlari ke arah Aurora dan Alvaro.


"Alvaro!" Alvaro melihat ke arah sumber suara, ternyata sepasang suami-istri itu adalah orang tua dari bocah laki-laki yang ditolong oleh Aurora.


"Mami, Papi." Alvaro langsung berlari ke arah orang tuanya.


"Kamu kemana saja sih sayang? Mami dan Papi sangat khawatir sama kamu," ucap Fani, ibu dari Alvaro yang langsung menggendong dan memeluk erat tubuh putranya diikuti juga oleh suaminya yang bernama Adit.


"Maafin Al karena tadi udah kabur dari penjagaan mbak Ayu. Terus tadi Al mau di culik sama Paman jelek Mi," adu Alvaro. Sontak kedua orang tuanya terkejut mendengar ucapan Alvaro.


"Terus kamu nggak kenapa-napa kan nak?" tanya Adit khawatir.


"Al nggak kenapa-napa kok Pi, karena di tolong tadi sama kakak cantik itu," ucap Alvaro sambil menunjuk Aurora. Aurora langsung tersenyum ke arah orang tua bocah yang telah ia tolong itu.


"Terima kasih ya mbak, udah nolongin anak kami," ucap Fani tulus.


"Sama-sama Mbak, lain kali lebih hati-hati ya jaga anaknya. Soalnya sekarang lagi marak terjadi penculikan anak."


"Iya pasti, Mbak. Sekali lagi terima kasih," ucap Adit tulus. Aurora tersenyum dan mengangguk.


"Oh ya, nama Mbak siapa? Kenalin saya Fani dan ini suami saya namanya Adit," ucap Fani memperkenalkan diri dan suaminya.


"Saya Aurora, Mbak," jawab Aurora.

__ADS_1


"Nama kakak, Aurora?" tanya Alvaro.


"Iya dek," jawab Aurora lembut.


"Wah nama kakak sama dengan nama princess kesukaan temen aku!" seru Alvaro sambil bertepuk tangan. Aurora, Fani dan Adit langsung terkekeh mendengar ucapan Alvaro.


"Ya sudah Mbak, Mas. Saya mau pergi dulu," pamit Aurora pada Fani dan Adit. Sepasang suami-istri itu langsung mengangguk.


"Iya mbak Aurora, sekali lagi makasih udah nolongin anak saya," ucap Fani.


"Iya sama-sama Mbak, adek ganteng kakak mau pergi dulu ya?"


Alvaro mengangguk, "Iya kakak cantik, semoga kita nanti bisa ketemu lagi."


"Iya adek ganteng."


Aurora melangkahkan kakinya ke tempat motornya berada. Setelah itu ia kembali mengendarai motornya menuju rumah.


...****************...


Malam harinya, seperti janjinya kepada Irsyan kemarin, Aurora akan pergi menemani laki-laki itu ke pesta pernikahan sepupunya.


Aurora duduk di depan meja riasnya, ia tengah mengoleskan beberapa makeup di wajahnya.


"Oke sudah," gumam Aurora, setelah merasa cukup dengan hasil make-upnya.


Penampilan Aurora malam ini sangat cantik dan anggun dengan dress panjang pemberian dari Irsyan. Rambutnya ia cepol ke atas, membuat lehernya terlihat jenjang. Tak lupa juga Aurora menambahkan aksesoris anting dan kalung emas agar penampilannya terlihat lebih sempurna lagi.


Seseorang mengetuk pintu kamar Aurora.


"Nak."


"Ya Ibu?"


"Ada nak Irsyan tuh di ruang tamu katanya mau jemput kamu," ucap Nuri.


"Oh iya Bu, sebentar lagi Rora kesana."


"Ya sudah, kamu cepetan kasian nak Irsyan nungguin," titah Nuri pada Aurora.


"Iya Ibu." Lalu Nuri pergi dari depan kamar putrinya.


Aurora terburu-buru mengambil tasnya dan langsung keluar dari kamar menuju ke ruang tamu. Irsyan yang tadinya tengah memainkan handphone langsung mengalihkan pandangannya ke arah depan ketika suara heels terdengar di telinganya. Laki-laki itu terpesona sampai melongo melihat penampilan Aurora malam ini yang jauh lebih cantik dari biasanya.

__ADS_1


Penampilan Irsyan malam ini pun tak kalah tampan, ia memakai kemeja berwarna navy senada dengan dress yang dikenakan oleh Aurora, dipadukan dengan celana kain berwarna hitam. Tak lupa juga ia mengenakan sepatu pantofel hitam yang mengkilap dan jam tangan merk rolex menghiasi pergelangan tangannya.


"Mas," panggil Aurora, Irsyan hanya diam saja namun mata laki-laki itu terus menatap Aurora.


"Mas Irsyan!" panggil Aurora sedikit keras, Irsyan langsung tersentak mendengar suara Aurora.


"Ah ya Dek, kenapa?" tanya Irsyan gelagapan.


"Kok Mas malah bengong sih aku panggil-panggil?!" tanya Aurora kesal.


Irsyan menggaruk tengkuknya, "Maaf Dek, soalnya Mas tadi saking terpesona melihat penampilan kamu malam ini, jadi bengong deh," ucapnya.


"Memangnya kenapa sama penampilan aku malam ini?" tanya Aurora bingung.


"Sangat cantik." Pipi Aurora yang memang sudah dipakaikan blush-on menjadi tambah merah karena mendengar ucapan dari Irsyan.


"Dih pasti Mas bohong nih."


"Ngapain Mas bohong coba? Malahan Mas pengen langsung bawa kamu ke KUA nih sekarang," goda Irsyan.


"Ih apaan sih Mas. Oh ya, kita kapan berangkatnya?" tanya Aurora mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin terus di goda oleh Irsyan, karena itu akan berpengaruh terhadap kesehatan jantungnya.


"Ayo sekarang kita berangkatnya."


"Iya Mas."


Sedari tadi Irsyan terus mencuri pandang ke arah Aurora.


"Mas fokus aja ke depan, jangan lirik-lirik kesini." Aurora menyindir laki-laki yang tengah mengendarai mobilnya itu.


"Siapa suruh cantik banget malam ini, mata Mas kan jadinya pengen mandang ke arah kamu terus," ucap Irsyan melirik sekilas ke arah Aurora.


"Ya tapikan bisa kecelakaan nantinya kalau Mas nggak fokus! Aku masih mau hidup loh Mas dan aku juga belum nikah," ucap Aurora kesal.


"Ya udah ayo malam ini kita nikahnya," ucap Irsyan dengan gampangnya.


"Mas Irsyan jangan bercanda ih!" ucap Aurora bertambah kesal, walaupun di hatinya sudah tidak karuan saat Irsyan berkata seperti itu.


"Udah jangan ngambek, nanti cantiknya hilang loh," goda Irsyan.


"Bodo amat, siapa suruh ngeselin!" ucap Aurora cemberut sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Irsyan terkekeh geli ketika melihat wajah Aurora yang tengah merajuk itu.


Jika saja mereka sudah menikah, mungkin Irsyan tak akan membiarkan Aurora berpenampilan seperti saat ini, karena takut akan banyak laki-laki yang memandang gadis pujaan hatinya itu dengan pandangan nafsu.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2