GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 112


__ADS_3

Malam ini Aurora menemani sang suami ke acara pesta ulang tahun pernikahan salah satu rekan bisnis sekaligus sahabat Papa mertuanya bernama pak Malik. Harun tak bisa menghadiri acara tersebut karena ia juga pergi bersama istrinya ke acara pernikahan anak dari salah satu kerabat dekat Harun. Jadilah Aurora dan Irsyan yang mewakilinya pergi ke acara pak Malik.


Aurora mengenakan dress berwarna hitam model a-line yang melebar ke bawah. Di bagian pinggang dress diberi aksen kerutan di pinggirannya, sementara di lengan dress dibuat dengan model balon yang pendek dengan kerutan di ujungnya.


Aurora juga menambah perhiasan seperti anting dan kalung, tak lupa hand bag dan flatshoes berwarna silver keluaran terbaru sekaligus limited edition dari brand chanel.


Setelah selesai, Aurora keluar dari kamar menuju ke ruang tengah karena sang suami menunggunya disana.


"Yuk Mas," ajak Aurora. Irsyan mendongak menatap sang istri, takjub dan terpesona? Tentu saja, Irsyan selalu kagum dan terpesona dengan kecantikan istrinya.


Irsyan pun tak kalah mempesona dengan penampilannya malam ini, ia menggunakan kemeja hitam dipadukan dengan jas biru dongker dan celana kain yang selaras dengan jasnya. Tak lupa jam tangan keluaran brand Bvlgari dan sepatu pantofel hitam keluaran brand Prada.


"Ayo sayang." Irsyan mengandeng tangan Aurora menuju keluar rumah.


Saat ini mereka berdua telah sampai di rumah mewah berlantai dua namun sangat luas. Acaranya dilaksanakan di halaman depan rumah pak Malik.


"Ayo kita samperin pak Malik dan istrinya," ajak Irsyan dan Aurora hanya mengangguk mengikuti sang suami.


"Selamat malam bapak Malik, ibu Vera," sapa Irsyan pada Malik dan istrinya sambil menjabat tangan mereka.


"Malam juga nak Irsyan, Bapak kira kau tidak akan datang kesini untuk mewakili Papa mu," balas Malik tersenyum seraya menepuk-nepuk bahu Irsyan.


"Tentu saja saya akan datang ke acara bersejarah dalam hidup anda Pak," pungkas Irsyan tersenyum.


"Ini istri kamu nak?" tanya Vera menatap Aurora.


"Iya bu, ini istri saya namanya Aurora," jawab Irsyan sambil merangkul pinggang Aurora.


"Malam pak Malik, bu Vera. Saya Aurora istri dari mas Irsyan." Aurora pun segera memperkenalkan dirinya pada Malik dan Vera sambil menjabat tangan mereka.


"Istrimu sangat cantik nak," ucap Vera membuat Aurora tersipu malu.


"Kau dan Harun memang pintar ya cari istri," goda Malik.


"Anda bisa saja Pak."


Cukup lama mengobrol dengan Malik dan istrinya, Irsyan pun mengajak istrinya untuk duduk di kursi dan meja yang telah disediakan.


"Mas mau nyapa rekan bisnis Papa yang lain bentar ya sayang?" izin Irsyan pada Aurora.


Aurora mengangguk, "Tapi cepetan ya Mas?"


"Iya sayang." Irsyan mengecup puncak kepala Aurora dan pergi menghampiri rekan bisnis sang Papa yang juga hadir di acara tersebut.


Di kejauhan tampak seseorang yang kesal dan emosi saat melihat Aurora dicium oleh Irsyan. Saking emosinya gelas minuman yang ada di genggamannya langsung pecah karena remasan yang sangat kuat.


"Sial! Berani-beraninya mereka bermesraan di depan umum seperti ini!" geram pria itu sampai giginya menggertak beradu.


"Anda tidak kenapa-napa, Tuan?" tanya waiters itu saat melihat tangan pria itu berdarah akibat terkena pecahan kaca dari gelas.


"Hem." Pria itu langsung pergi dan waiters itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


Aurora menuju ke meja tempat makanan berada. Ia mengambil beberapa kue dan buah yang ada disana.


"Kayaknya kue muffin dan pie enak."


Pukul setengah sepuluh malam, Irsyan dan Aurora pun berpamitan pada sang pemilik acara.


Saat Irsyan dan Aurora berada di sebuah jalanan yang sepi, tiba-tiba 5 buah motor yang berisikan 7 orang menghadang jalannya.


"Heh kalian turun dari dalam mobil, kalau nggak saya pecahkan kaca mobil ini!" ucap salah satu preman sambil mengetuk kaca pintu mobil Irsyan.


"Bagaimana nih Mas?" tanya Aurora yang sedikit khawatir.


"Kamu tenang aja sayang, Mas akan melawan mereka. Kamu diem di dalam mobil ya? biar Mas yang keluar," ucap Irsyan.


"Nggak Mas, aku juga harus ikut melawan mereka. Mereka itu bertujuh sedangkan Mas sendirian!" Aurora sangat kukuh ingin membantu Irsyan melawan preman-preman tersebut.

__ADS_1


"Jangan sayang, bahaya! Apalagi kamu sedang hamil, Mas nggak mau nanti terjadi apa-apa dengan kalian!"


Aurora menghela napas panjang dan mengangguk, "Tapi Mas harus hati-hati ya? Takutnya mereka bawa senjata tajam," pesan Aurora pada suaminya itu.


"Iya pasti sayang, kamu doakan Mas aja, supaya Mas bisa melawan mereka semua."


"Pastinya Mas." Irsyan pun keluar dari dalam mobil.


"Apa mau kalian hah?" berang Irsyan.


"Kita mau kau pergi dari dunia ini!"


"Cih! Siapa yang suruh kalian melakukan hal bodoh seperti ini?"


"Kau tidak perlu tau siapa orang yang menyuruh kita untuk membunuh kamu!"


Irsyan berdecak, "Bos kalian memang pengecut hanya bisa menyuruh orang lain, kalau berani muncul dong dan lawan saya sendirian!"


Tujuh preman yang tidak suka atasannya disebut pengecut pun mulai menyerang Irsyan, satu lawan tujuh? Bagi Irsyan itu tak seberapa, melawan 10 orang sendirian pun ia bisa.


Di dalam mobil, Aurora gelisah melihat sang suami yang sudah kewalahan melawan 7 preman itu sendirian, apalagi melihat Irsyan kena pukul oleh salah satu dari preman itu.


Ingin membantu ia takut nanti terjadi sesuatu pada kandungan dan pasti Irsyan akan marah padanya. Aurora mencoba memikir keras agar ia bisa membuat ketujuh preman itu secepatnya pergi, menelpon polisi pasti akan lama datangnya.


AHA!


Akhirnya ide itu terlintas di otaknya, untungnya di dalam dashboard ada loud speaker kecil yang ia simpan disana. Lalu Aurora menyambungkan loud speaker tersebut pada Bluetooth ponselnya, kemudian menyalakan suara sirene polisi dari ponselnya.


Mendengar sirene polisi itu membuat preman-preman tersebut berlari tunggang langgang menuju ke motornya dan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.


Aurora bernapas lega, kemudian ia turun dari mobil dan menghampiri suaminya.


"Mas nggak kenapa-napa kan?" tanya Aurora khawatir.


"Mas gapapa kok sayang, cuma kena pukulan dikit tadi," jawab Irsyan sambil memegang ujung bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.


Setelah kepergian preman-preman itu lewat sebuah mobil yang cukup familiar di benak Aurora.


'Kayak kenal sama yang punya mobil, tapi siapa ya?' batin Aurora yang bertanya-tanya.


"Ayo kita masuk ke mobil sayang," ajak Irsyan.


"Iya Mas." Mereka pun masuk ke dalam mobil dan Irsyan kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah.


...****************...


Caca yang tengah mengobrol bersama Lala, mereka berdiri lumayan dekat dengan kolam renang rumah Bianca. Halaman belakang rumah Bianca sudah di sulap menjadi tempat pesta, sudah banyak tamu undangan yang datang, tak terkecuali Aril yang sedang mengobrol dengan kedua sahabatnya yang bernama Gino dan Naufal.


Tiba-tiba Bintang, sang ketua OSIS menghampiri Caca dan Lala.


"Hai Ca," sapa Bintang.


"Eh kak Bintang, ada apa ya?" tanya Caca.


"Lo mau nggak berdansa sama gue?" tawar Bintang membuat Caca dan Lala terkejut. Bintang sudah cukup lama menyukai Caca.


Caca bingung harus menjawab apa, ia menatap ke arah Aril dan yang di tatap langsung mengalihkan pandangannya.


"Ya udah gue--" belum selesai Caca bicara, ucapannya langsung disela oleh Bianca.


"Ngapain mau dansa sama dia kak, lebih baik sama aku aja yuk," ajak Bianca dengan suara centilnya sambil bergelayut manja di lengan Bintang. Gadis itu memang menyukai Bintang karena menurutnya Bintang adalah laki-laki idamannya, yakni tampan, tegas, baik dan tentunya seorang ketua OSIS.


"Gue maunya dansa sama Caca, bukan sama lo Bi," tolak Bintang. Bianca menatap sinis Caca. Aril pun hanya bisa melihat dari kejauhan.


"Kenapa kakak milih dia sih?! Cantikan aku kemana-mana kali!" ketus Bianca.


"Memang lo jauh lebih cantik, tapi gue maunya dansa sama Caca! Ayo Ca," ajak Bintang sambil menarik tangan Caca, namun Bianca mencoba melepaskan tangan Bintang dari tangan Caca, kemudian Bianca mendorong tubuh Caca hingga Caca pun tercebur ke kolam renang membuat semua teriak menjerit.

__ADS_1


BYURRR!


"Caca!"


"Awas gue mau tolongin Caca!" Bintang mencoba melepas tangan Bianca, tapi Bianca mengeratkan genggamannya.


"Udah diemin aja, pasti ada yang bakal bantuin dia kok," ucap Bianca dengan santai. Lala langsung menatap tajam Bianca, sedetik kemudian ia kembali menatap Caca.


"Ya Allah, pengen tolongin Caca tapi gue nggak bisa renang," ucap Lala yang resah melihat sahabatnya yang kecebur ke kolam renang.


BYURRR!


Tiba-tiba saja seorang menceburkan diri ke kolam renang untuk membantu Caca.


"Aril!" gumam Lala. Ia langsung bernapas lega saat ada orang yang menyelamati sahabatnya.


Aril pun membawa tubuh Caca ke pinggiran kolam dan ia juga naik.


UHUK!


UHUK!


UHUK!


Caca memuntahkan air kolam yang masuk ke dalam mulutnya.


"Lo gapapa kan, Ca?" tanya Aril terdapat raut wajah khawatir disana. Caca hanya bisa menggeleng lemah.


"Caca!" pekik Lala menghampiri Caca. Hampir semua tamu disana pun ikut menghampiri Caca untuk melihat keadaannya.


"Lo nggak kenapa-napa kan, Ca?" Lala memutar tubuh Caca ke kanan-kiri.


"Gue gapapa, gue mau pulang," ucap Caca yang mulai melemah.


"Ya udah gue antar," sahut Bintang.


"Caca pulang sama gue," tukas Aril.


"Gue titip Caca sama lo ya Ril," ujar Lala. Aril hanya mengangguk, ketika melewati Bintang dan Bianca, ia langsung menatap tajam ke arah mereka, Bianca cukup merinding melihat tatapan maut dari laki-laki dingin itu.


Aril memapah tubuh Caca keluar dari rumah Bianca dan menuju ke motornya yang terparkir di halaman.


"Lo gapapa kan naik motor?" tanya Aril.


"Gapapa Ril," jawab Caca tersenyum tipis. Ia merasa kedinginan dan tubuhnya menggigil.


Aril yang kasihan melihat itu dengan cepat membuka jaketnya dan hanya menyisakan kaos putihnya saja, lalu memasangkan ke tubuh Caca.


"Pakai ini biar tubuh lo nggak semakin kedinginan."


"Thanks Ril." Dalam hati Caca sangat bahagia saat diperhatikan seperti itu oleh Aril, apa ia harus kecebur lagi, agar Aril memperhatikannya?


"Ayo naik," suruh Aril. Caca naik ke atas motor Aril dan langsung memeluk perut laki-laki itu, Aril yang biasanya marah kalau Caca memeluknya, kini ia membiarkannya.


Aril segera menyalakan mesin motor dan mulai melakukannya dengan kecepatan sedang.


'Astaga, mimpi apa gue semalem makanya Aril mau gue peluk,' jerit Caca dalam hatinya.


30 menit perjalanan, sampailah di depan gerbang rumah Caca. Caca pun turun dari motor Aril.


"Jaket lo gue cuci dulu ya? Baru gue kembalikan."


"Hem terserah lo, gue pulang dulu," pamit Aril.


"Iya Ril, sekali lagi thanks udah selamatkan gue dan makasih juga udah anterin gue pulang," ucap Caca dengan tulus. Aril hanya mengangguk dan meninggalkan rumah Caca, Caca pun hanya memaklumi sifat dingin dan cuek dari Aril.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2