
"Hiks, ternyata bener kamu udah punya cowok lain," isak Andre tertahan, ia meremas kuat dadanya yang terasa sesak.
"Kesalahan aku besar banget ya, Ki? Sampai kamu hukum aku kayak gini? Sakit Kiran, sakit banget." Seketika tangis Andre pecah di ruang rawatnya, ia tak membendung lagi sakit di hatinya.
Beberapa menit berselang Andre tetap menangis kuat, untung saja ia berada di ruang VIP dan ruangan tersebut kedap suara jadi ia bebas meraung menangisi istrinya yang telah bahagia bersama pria lain.
Terdengar suara pintu ruangannya di buka dengan kasar, Andre segera mengusap cepat air mata yang membasahi seluruh wajahnya.
"Ma, aku kan udah bilang, aku mau sendirian dulu," ucap Andre dengan tubuh bergetar hebat.
Sebuah tangan terulur menyentuh lengan Andre, helaan napas kasar keluar dari mulutnya, "Ma, aku mohon, aku mau sendirian, nanti aku ma--"
"Andre balik sini!" titah dari seseorang yang baru saja masuk ke ruangannya itu.
Suara itu, suara yang Andre inginkan ada disini sekarang. Tapi sepertinya ia sedang berhalusinasi, "Mama nggak usah tiru suaranya Kiran deh, nggak lucu!" ucap Andre menyentak tangan yang tadi berada di lengannya.
"Ck!" Dengan kuat Kiran menarik lengan Andre hingga laki-laki itu kaget.
"Ma--"
"Diem!" bentak Kiran.
Andre tersentak menatap ibu hamil itu dengan mata berair nya. Kiran menekan tombol pada remote control hingga menaikkan sandaran kepala brankar sampai Andre dalam posisi duduk dengan punggung yang menempel pada sandaran kepala tersebut.
Kiran naik untuk duduk di tepi brankar, "Kenapa nangis sih!" decak nya sambil mengusap cairan bening yang mengalir disepanjang garis wajah Andre.
Andre hanya diam tak menjawab, dirinya masih syok dengan keberadaan Kiran di hadapannya.
Melihat Andre yang hanya diam, Kiran menarik napas sebentar kemudian dengan satu kali hentakan, Andre telah masuk ke dalam pelukannya. Rambut belakang milik pria itu di elus oleh jari-jemari lentiknya.
Andre membelalak kaget dengan apa yang dilakukan Kiran, namun sedetik kemudian ia menangis kencang seraya tangannya melingkar erat di pinggang bumil itu.
"Udah diem, kok malah makin kenceng nangisnya?" ucap Kiran sambil satu tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Andre.
"Kamu nggak akan ninggalin aku kan? Kamu nggak lagi deket sama cowok lain kan?" tanya Andre sesenggukan.
"Tadi rencananya mau gitu sih," jawab Kiran membuat Andre semakin melebarkan mulutnya untuk menangis.
"Astaga, udah kamu nggak usah nangis, kalau masih nangis aku tinggalin nih?" ancam Kiran. Tanpa sadar bumil itu mengganti panggilannya lagi menjadi aku-kamu.
Andre melipat bibirnya ke dalam, ia tak mau di tinggal. Tubuhnya bergetar sambil menduselkan wajahnya ke ceruk leher Kiran.
"Leher aku basah, Ndre," kesal Kiran hendak melepaskan pelukannya namun Andre menggeleng kuat menambah erat tubuhnya.
"Mau peluk kamu terus sampai besok dan besoknya lagi, pokoknya jangan dilepas, aku kangen pelukan kamu, Ki," lirih Andre.
Kiran langsung terdiam, jujur saja ia juga sangat rindu dengan dekapan Andre, sangat...
__ADS_1
"Iya lepas dulu, Ndre. Aku nggak bisa napas, kamu mau bunuh aku dan calon bayi kita?" omel Kiran karena pelukan Andre terlalu erat.
Andre yang mendengar kata bayi langsung melepaskan pelukannya dengan tatapan sayu nya, "Hiks.."
"Lah?" Kiran kaget mendengar Andre yang kembali terisak.
"Bayi kita kejepit... Hiks," isak Andre menggigit bibir bawahnya menatap bersalah perut Kiran yang masih datar itu.
Kiran tertawa keras, "Nggak kejepit kok, udah nggak usah nangis lagi. Kamu cengeng banget sih!"
"Maaf." Kali ini Andre beralih menatap mata Kiran.
"Mau mengulanginya lagi?" tanya Kiran jengah.
"Aku nggak akan mengulang kesalahan yang sama lagi, Ki. Aku janji," ucap Andre serius.
"Ck, nggak usah janji, nanti ujung-ujungnya ingkar lagi," balas Kiran sebal.
"Kali ini aku serius, Kiran."
Kiran memutar matanya malas, "Iyain deh biar cepet."
"Kamu udah maafin aku?" tanya Andre berharap.
"Menurut kamu?"
"Kamu udah makan?" tanya Kiran.
Andre hanya menggeleng lemah. Kiran membuang napas berat, "Coba liat aku, Ndre."
Andre kembali menggeleng sambil terus memainkan jemarinya yang dibalut dengan kain kasa tipis.
Tangan Kiran bergerak menangkup rahang pria itu hingga mata mereka berdua bertemu, "Menurut kamu aku udah maafin kamu belum?" tanya Kiran dibalas gelengan oleh Andre.
"Alasannya?"
"Kesalahan aku terlalu fatal buat di maafin," jawab Andre dengan nada bergetar.
"Mau di ulangi lagi nggak?" Kiran menghapus air mata Andre yang kembali luruh.
Andre menggeleng tegas, "Nggak akan lagi, aku taubat."
"Mau percaya sama aku atau orang lain?"
"Sama kamu," jawab Andre dengan cepat.
"Bener? Yakin?"
__ADS_1
"Iya bener. Aku nggak akan ingkar lagi," balas Andre bersungguh-sungguh.
"Kalau di ulangi lagi, mau aku kasih hukuman apa?" tanya Kiran menaikan satu alisnya.
"Cium," jawab Andre tak tau malu.
"Dih, itu sih enaknya di kamu!" ucap Kiran sewot menghempaskan wajah Andre yang tadi di tangkup nya begitu saja.
"Terus kamu maunya apa?" tanya Andre.
"Cerai?"
"Nggak!" tangkas Andre tak mau.
"Lah terus maunya apa?"
"Gelut di ranjang aja deh kalau gitu," ucap Andre tanpa beban.
Kiran terdiam, rekaman kejadian dimana Andre menidurinya secara kasar teringat kembali olehnya. Andre yang melihat raut wajah Kiran yang berbuat takut, seketika menyadari kebodohan dari ucapannya.
"Jangan cerai, cukup marah aja sama aku. Atau kalau kamu mau, pukul aja aku sampai masuk rumah sakit nggak apa-apa kok, asalkan jangan sampai kita bercerai," kata Andre membuyarkan kediaman Kiran.
"Jangan lagi lakuin itu, Ndre. Aku takut," nada dari Kiran bergetar matanya sampai berkaca-kaca.
Andre menarik Kiran ke dalam dekapannya, "Nggak lagi, sayang. Nggak akan aku ulangi lagi, cukup sekali aku buat kesalahan fatal kayak gitu. Aku nggak mau kamu pergi ninggalin aku," ucap Andre berjanji sambil mengecup sayang puncak kepala istrinya.
Kiran membalas pelukan Andre. Semoga kedepannya semua akan baik-baik saja. Keduanya hanya ingin kehidupan bahagia bersama, membangun keluarga kecil tanpa adanya masalah besar mengintai mereka.
William mengepalkan kedua tangannya kuat, rahangnya sampai mengetat meyaksikan dua manusia yang saling berpelukan mesra di dalam ruangan putih itu.
Matanya sampai memerah menahan emosi yang menumpuk di otaknya, bagaimana tidak? Ia melihat perempuan incarannya berpelukan dengan laki-laki yang dikenalnya sebagai sahabat dari Kiran. Tapi kali ini William melihat mereka bukan seperti hubungan persahabatan melainkan lebih dari itu.
Tadi ketika Kiran pamit pergi karena ada urusan mendadak, karena penasaran William langsung mengikuti dari belakang.
Dan entah apa yang sedang dibicarakan oleh mereka di dalam, dia tidak bisa mendengar akibat ruangan itu kedap suara. Namun dapat William melihat Kiran memeluk sayang Andre, membuatnya mengeram emosi.
"Sebenarnya hubungan mereka seperti apa? Tidak mungkin hanya sebatas sahabat."
"Siapa ya?"
William tersentak, buru-buru ia menutupi kepalanya dengan topi dan menggunakan kacamata. Laki-laki itu berjalan melewati Santi begitu saja tanpa menoleh ataupun menjawab pertanyaan Santi tadi.
Santi menahan tangan William sambil meneliti wajah laki-laki itu. William segera menarik tangannya dengan kuat dan berlari menghindari Santi yang terus memanggilnya.
"Itu temannya Andre, ya? Tapi kok kayak malu-malu gitu. Ah sudahlah lebih baik ke dalam aja, siapa tau Andre mencari ku." Monolog Sandra. Saat hendak membuka pintu ruang rawat putranya, langkahnya harus terhenti ketika melihat Kiran yang di peluk dan di cium oleh Andre. Tanpa sadar Santi tersenyum bahagia melihat sang anak kembali mengembangkan senyumnya dan sudah berbaikan dengan menantunya.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.