
Makan pun telah selesai, mereka berlima kini berada di jalan pulang. Terlihat rona bahagia terpancar dari wajah ketiga bocah itu. Mata Aurora tak sengaja melihat ke pedagang es teler yang ada di seberang jalan dan ia menginginkannya. Apa yang terlihat menarik di matanya, pasti Aurora akan membelinya.
Mata Vania mengikuti ke arah tatapan Aurora, "Lo pengen es teler?" Aurora langsung mengangguk.
"Ya sudah gue pergi beliin lo ya?" tawar Vania.
"Nggak usah Van, biar gue aja yang pergi beli. Kalian mau juga?" tanya Aurora ke empat orang yang bersama dengannya itu. Mereka menggeleng, karena merasa sangat kenyang.
Saat Aurora hendak menyebrang dari arah kanan seorang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi.
"Aurora awas!" teriak Vania berlari kencang menuju ke arah Aurora dan Vania segera menarik tangan Aurora.
"Ya Allah." Aurora beristighfar sambil memegang dadanya yang naik turun, jantungnya terasa akan keluar dari tempatnya.
"Lo gapapa kan, Ra?" tanya Vania khawatir, apalagi kakak iparnya itu tengah hamil, ia tak ingin terjadi sesuatu pada Aurora dan calon keponakannya. Pasti Vania juga bakal diomeli Irsyan jika Aurora kenapa-napa nantinya.
"Alhamdulillah gue gapapa, makasih ya Van," ucap Aurora.
"Iya Ra. Kalau gue tau orang itu, gue udah tuntut dia!" geram Vania. Ketiga bocah itu berlari menuju ke Aurora dan Vania, mereka juga khawatir dengan Aurora.
"Kak Aurora gapapa kan?" tanya Haikal. Aurora tersenyum, tangannya terulur mengelus kepala Haikal.
"Kakak gapapa kok, sekarang kita pulang aja ya?" ajak Aurora yang merasa kondisinya mulai sudah tidak kondusif lagi. Mereka semua mengangguk menyetujui ajakan Aurora untuk pulang.
"Sial malah nggak ketabrak lagi!" kesal orang yang sedari tadi mengikuti Aurora dan lainnya.
"Sari kamu ngapain disini?" tanya seorang ibu-ibu. Ya, orang yang mengikuti dan hampir membuat Aurora terluka itu adalah Sari. Gadis itu membayar seseorang untuk menabrak Aurora.
"Ah nggak ada kok bu Susan ini saya mau pulang, mari Bu," pamit Sari, lalu pergi. Bu Susan yang melihat sikap aneh dari Sari itu hanya bisa mengangkat kedua bahunya acuh.
Sesampainya di mess Aurora langsung masuk ke dalam kamar dan berbaring , ia merasa tubuhnya sangat lelah. Baru saja Aurora akan memejamkan mata, tiba-tiba Irsyan datang membuka pintu kamar dengan keras membuat Aurora terjengkit kaget dan terbangun.
"Kamu gapapa kan sayang?" tanya Irsyan duduk di pinggir ranjang dengan napas yang ngos-ngosan sepertinya dia baru saja berlari.
"Mas kok pulang?" Bukannya menjawab, tapi Aurora malah balik bertanya pada suaminya.
"Mas pulang karena Vania bilang kalau kamu hampir tertabrak motor, itu yang membuat Mas tadi sempat nggak mengizinkan kamu untuk pergi, Mas takut kamu kenapa-napa sayang," ucap Irsyan raut wajahnya masih terlihat khawatir.
"Aku gapapa Mas, mungkin hanya syok aja," jelas Aurora mencoba menenangkan suaminya. Irsyan sedikit bernapas lega
"Anak Papa nggak kenapa-napa kan?" Irsyan mengajak jabang bayinya berbicara sambil mengelus perut Aurora.
"Iya Papa, aku baik-baik aja. Papa jangan khawatir," balas Aurora seperti biasa ia menggunakan suara anak kecil. Irsyan terkekeh kecil dan membawa Aurora ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Hah... Kamu hampir membuat jantung Mas keluar dari tempatnya."
"Maafkan aku Mas," ucap Aurora mendongak dan mencium rahang Irsyan.
"Besok kamu pulang aja ya sayang?" Aurora melepaskan pelukan Irsyan dan menatap suaminya itu dengan tatapan tak terima.
"Nggak! Aku masih pengen disini, Mas!"
"Tapi disini nggak--" Ucapan Irsyan langsung disela oleh Aurora.
"Nggak pokoknya aku masih mau disini, memang kenapa sih Mas suruh aku pulang? Jangan-jangan ada sesuatu ya yang Mas sembunyikan?" tuduh Aurora menatap tajam Irsyan.
"Ya Allah, nggak lah sayang. Mas menyuruh kamu untuk pulang itu karena kamu disana lebih aman banyak yang menjaga kamu," jelas Irsyan mencubit gemas hidung Aurora.
"Disini kan ada Mas yang jaga aku," tandas Aurora yang keras kepala.
"Ya Mas tau, tapi nggak bisa menjaga kamu selama 24 jam disini sedangkan Mas berada di posko sampai sore hari," sanggah Irsyan.
"Mas nggak mau kamu dan calon anak kita kenapa-kenapa sayang, kalau Mama dan Papa tau kejadian ini pasti mereka bakalan marah besar pada Mas dan Vania karena tidak becus menjaga kamu," sambung Irsyan. Aurora langsung terdiam, ia membenarkan ucapan suaminya tadi. Ia juga tak ingin menjadi beban untuk suaminya disini.
"Ya udah besok aku dan Vania pulang ke kota," lontar Aurora membuat Irsyan tersenyum lega.
"Bukannya Mas nggak suka kamu disini, Mas hanya tidak ingin kamu kenapa-napa apalagi saat tidak ada Mas di samping kamu," imbuh Irsyan sambil mengelus punggung tangan Aurora.
Merasa badannya cukup membaik, Aurora memutuskan untuk pergi ke posko relawan tempat suaminya berada karena Vania juga berada di sana.
"Vania!" panggil Aurora.
"Loh Aurora kok lo kesini? Seharusnya lo kan istirahat di mess?"
"Gue udah merasa baikan kok," ucap Aurora.
"Beneran?" tanya Vania meyakinkan.
"Iya Vania cantik..."
"Ya sudah, gue mau bagikan makanan untuk orang-orang di pengungsian nih, lo mau ikut?" ajak Vania.
"Mau!" jawab Aurora, jiwa sosialnya mulai menggebu.
"Tapi kalau kamu capek langsung istirahat ya?" pesan Vania.
"Iya kamu tenang aja."
__ADS_1
Paginya, seperti janji Aurora kemarin hari ini ia dan Vania akan pulang ke kota M, demi kebaikan bersama dan mereka di jemput oleh pak Maman.
"Hati-hati dijalan ya sayang, ingat kalau sudah sampai langsung hubungi Mas," pesan Irsyan. Aurora yang berada di pelukan Irsyan itu hanya mengangguk, ia tengah mencium aroma tubuh dari suaminya, agar nanti saat sampai di rumah Aurora tidak terlalu merindukan suaminya.
"Hati-hati dijalan ya Van? Tunggu aku di sana untuk datang melamar kamu," tutur Aji sambil memegang kedua tangan Vania.
"Iya kak, aku akan nungguin kakak," balas Vania dengan senyuman manisnya. Ah, rasanya Aji ingin memeluk Vania, tapi ia takut di amuk oleh pawang gadis itu, siapa lagi kalau bukan Irsyan.
"Mas." Aurora melepas pelukannya, Irsyan menunduk menatap istrinya.
"Kenapa sayang?" tanya Irsyan.
"Aku titip ini untuk Aca, Haikal dan Firman ya?" Aurora memberikan paper bag pada Irsyan, paper bag tersebut berisi snack, cokelat dan permen. Aurora mendapatkan itu dari pak Maman yang sebelum itu Aurora memang sempat menyuruh pak Maman untuk membelinya di kota.
"Isinya apa sayang?"
"Isinya snack, cokelat dan permen," jelas Aurora.
"Kalian deket banget ya sama tiga bocah itu," celetuk Aji.
"Iya kak, kita udah anggap mereka bertiga itu kayak saudara sendiri. Ah, bakal rindu deh sama bocah-bocah menggemaskan nan lucu itu," ujar Vania. Aji yang gemas melihat Vania itu langsung mengacak rambutnya.
Dengan rasa tak rela Aurora dan Vania pun masuk ke dalam mobil, tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh pak Maman itu mulai melaju.
"Hah ..." Irsyan menghembuskan napas kasar.
"Kenapa lo?" sembur Aji.
"Gue bakal kangen lagi sama istri gue," ucap Irsyan dengan lesu.
"Elah tinggal 4 hari lagi kok kita disini jadi lo sabar aja," pungkas Aji. Irsyan hanya mengangguk.
"Oh ya besok kalau pulang anterin gue beli jas untuk gue lamaran ya?" ajak Aji.
"Kalau gue anterin lo, ada bayarannya nggak?" tanya Irsyan yang sebenarnya hanya bercanda, karena tak mungkin ia meminta bayaran kepada sahabatnya sendiri.
"Ya elah lo sama sahabat sendiri perhitungan banget!" sungut Aji membuat Irsyan tertawa kecil.
"Gue bercanda kali. Ya gue anterin lo," balas Irsyan sambil merangkul pundak sahabatnya itu.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1