
Aurora tengah sedang berdandan, sedangkan Irsyan menunggunya di ruang tengah sambil mengecek beberapa email masuk ke dalam ponselnya. Tanpa sadar Aurora sudah berdiri di depannya.
"Ayo Mas, kita berangkat," ajak Aurora. Irsyan segera memasukkan handphonenya ke dalam saku jas tanpa menatap sang istri.
Pada saat mata Irsyan menatap ke arah Aurora, ia langsung terpana melihat penampilan istrinya yang mengenakan hijab.
"Masya Allah, ini bidadari dari mana? Cantik banget sih," ucap Irsyan melongo. Menurut Irsyan, kecantikan Aurora bertambah 360° saat mengenakan pakaian tertutup ditambah dengan hijab.
Pujian dari Irsyan membuat Aurora tersipu malu, "Ah, Mas bisa saja."
"Mas serius sayang. Alhamdulillah Mas senang melihat penampilanmu yang sekarang. Semoga istiqomah ya kamu pakai hijabnya sayang," ujar Irsyan berharap.
"Aamiin, semoga Mas. Ayo kita berangkat, nanti kita telat ke acaranya."
Irsyan mengangguk. Ia mengambil tangan Aurora untuk di gandeng keluar dari rumahnya.
Di dalam mobil, tangan Irsyan masih menggenggam tangan Aurora sesekali mengecupnya. Mereka sudah seperti pasangan anak muda yang sedang kasmaran, padahal kini usia mereka sudah berkepala tiga. Tapi rasa cinta dan sayang mereka tak pernah lekang oleh waktu.
"Sayang," panggil Irsyan.
"Kenapa, Mas?" Aurora menatap Irsyan yang tengah menyetir itu.
"Kamu beneran nggak mau punya anak lagi?"
Aurora menggeleng cepat, "Nggak Mas, dua anak cukup!"
Bahu Irsyan seketika kendor saat Aurora menolak memilik anak lagi, padahal ia sangat ingin memilik anak banyak.
...****************...
Dibelahan dunia lain, tepatnya di Istanbul, Turki. Seorang wanita cantik tengah merengek kepada orang tuanya untuk tidak menggantikan sang kakek di perusahaannya. Menurut wanita itu dirinya belum pantas menjadi petinggi disana. Dia takut jika dirinya nanti yang memimpin, bisa-bisa perusahaan sang kakek gulung tikar karenanya.
"Please Mom, Dad. Caca belum siap menggantikan kakek di YH Group, kan ada Arsal yang menggantikannya," rengek Caca. Arsal merupakan sepupu dari Caca, umur mereka hanya beda 1 tahun.
__ADS_1
Wilson menggeleng, "Kakek akan mewariskan sebagian besar perusahaannya pada cucu pertamanya dan itu kamu, Caca. Daddy tak ingin Arsal, ibunya atau siapapun mengambil alih perusahaan kakek. Apalagi Arsal dan Ibunya itu sangatlah licik seperti rubah," jelasnya membuat Caca terdiam.
Ranti memegang tangan sang putri seraya mengelusnya dengan lembut, "Mau ya sayang? Mommy dan Daddy hanya tak ingin perusahaan kakek jatuh ke tangan orang yang salah," bujuk Ranti.
Caca membuang napas panjang lalu mengangguk, benar juga yang dikatakan orang tuanya. Arsal dan Ibunya memang sangat licik dan ambisius ingin mendapatkan kerajaan YH GROUP. Caca heran, kenapa bisa ia memiliki keluarga yang serakah dan haus akan harta seperti mereka.
"Oke. Demi Mommy, Daddy dan Kakek, Caca mau," ucap Caca final.
Ranti dan Wilson tersenyum lega.
"Itu baru anak kesayangan Daddy. Besok pagi kamu sudah harus berangkat, nanti di bandara kamu akan di jemput oleh orang kepercayaan kakekmu dan dia akan menjadi asisten pribadi kamu," jelas Wilson dan Caca hanya manggut-manggut tanpa bertanya lagi.
Setelah selesai berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya, Caca langsung pergi menuju kamarnya. Ia mengambil ponselnya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Caca melihat foto-fotonya bersama pria yang 8 tahun ini ia rindukan.
Sudah hampir 5 tahun mereka lost contact. Akibat dari rasa cemburu Caca yang melihat foto pria itu bersama wanita lain, ia mengira pria itu sudah memiliki kekasih. Padahal Caca berharap pria itu bisa menjaga hatinya hanya untuk dirinya dan hal itu membuat Caca marah sampai memblokir nomor pria itu sampai sekarang.
"Lo apa kabar disana, Ril? Apa lo kangen juga seperti gue?" lirih Caca. Air matanya menetes jika sudah berhubungan dengan Aril.
Hingga saat ini, Aril lah yang ada di hatinya. Pernah sekali ia berpacaran, tapi herannya Caca tidak bisa mencintai laki-laki itu, padahal laki-laki itu begitu baik dan tulus mencintainya. Namun pada akhirnya ia harus memutuskan hubungannya dengan laki-laki itu. Daripada nanti Caca harus menyakiti hati laki-laki baik itu lebih lama lagi.
Caca tersenyum melihat foto Aril bersama kedua keponakannya. Rasanya Caca ingin sekali ikut foto di antara mereka, tapi apa bisa?
"Lucu banget sih kalian, jadi pengen banget ikut foto. Mereka itu pasti anak-anak dari kak Aurora dan kak Irsyan."
Puas melihat foto-foto di media sosial Aril, Caca tak ingin membuang waktu, ia mengambil koper di dalam walk in closet, lalu memasukkan pakaiannya.
Saat Caca mengambil pakaian, sebuah kalung cantik jatuh dari sela-sela pakaiannya.
"Ini kan kalung pemberian Aril," lirih Caca memegang kalung tersebut. Kalung pemberian Aril pada saat Caca akan pergi ke Turki waktu itu. Caca masih menyimpan kalung tersebut hingga 8 tahun lamanya.
Caca melangkahkan kakinya menuju ke depan cermin besar yang ada di kamarnya, ia memakai kalung tersebut.
"Kalungnya masih cantik sampai sekarang," ujar Caca tersenyum menatap dirinya di depan cermin.
__ADS_1
"Apa dia ingat tentang kalung pemberiannya ini?" Wajah Caca berubah sendu.
...****************...
Malam harinya, Aril di ajak kumpul di cafe milik Aurora oleh ketiga sahabatnya, tak lain adalah Naufal, Dennis dan Gino.
Naufal berkerja di YH GROUP, sama dengan Aril tapi bedanya Naufal disana bekerja sebagai ahli IT, pria itu sangat pintar di bidang cyber dan hacker. Dennis berprofesi sebagai TNI angkatan darat. Sedangkan Gino berprofesi sebagai guru olahraga di salah satu SMA di kota M.
"Nih gue kasi kalian undangan," ucap Gino memberikan undangan pernikahannya pada ketiga sahabatnya.
"Wah lo udah mau nikah aja nih!" ucap Dennis.
"Ya dong, emangnya jomblo terus kayak Aril sama Naufal," ejek Gino membuat dua korban ejekannya mendengus kesal.
Diantara mereka berempat memang Aril dan Naufal yang belum menikah bahkan tidak memiliki kekasih. Sementara Dennis sudah menikah dan memiliki satu anak.
"Ya gimana nggak jomblo, satunya belum move on dari si mantan dan satunya, lagi nungguin si do'i kembali ke Indonesia tapi nggak kembali-kembali sampai sekarang," timpal Dennis.
"Enak aja, gue udah move on ya dari Lala!" bela Naufal. Sementara Aril hanya diam karena ucapan Dennis tadi benar adanya.
Gino menatap ke arah Aril, "Lo belum mendapatkan kabar dari Caca sampai sekarang, ril?" tanyanya.
Aril menggeleng pelan, "Dia benar-benar hilang tanpa kabar. Entah apa salah gue sampai-sampai nomor gue dulu di blokir sama dia."
Aril yang dulu dingin dan kaku, kini mulai mencair, tapi itu hanya pada keluarga dan sahabat-sahabatnya saja.
Naufal menepuk-nepuk pundak Aril, "Lo yang sabar Ril, jodoh nggak akan kemana. Kenapa lo nggak deketin si Mika aja sih?"
Mika, rekan kerja Aril dan Naufal di YH GROUP. Wanita itu selalu berpakaian ketat dan bermake-up tebal membuat Aril bergidik ngeri jika Mika mendekatinya.
"Dih amit-amit Ya Allah, ogah banget gue sama orang bentukan kek ondel-ondel gitu!" ucap Aril membuat ketiga sahabatnya tertawa.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.