
"Habis ini mau kemana?" tanya Aril seraya memberikan helm kepada Caca.
Caca berpikir sejenak, "Mau ke supermarket. Beli keperluan untuk dibawa ke puncak nanti."
"Kamu nggak perlu bawa apa-apa. Bawa pakaian dan yang penting-penting aja," ucap Aril.
Caca menolak, ia tetap harus berbelanja. Caca berniat membelikan makanan-makanan kecil untuk keponakan Aril yang tak lain adalah Hansel dan Alina. Rasanya Caca sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka.
Aril pun akhirnya menyetujui. Belum sempat Caca naik ke atas motor, seorang wanita menghampiri Aril.
"Aril!"
Aril melihat ke sumber suara. "Sasha!"
Wanita yang bernama Sasha itu tersenyum, berjalan lebih dekat dengan Aril. Aril yang tadi akan menyalakan motor, langsung ia urungkan dan turun dari motor.
"Kamu apa kabar, Ril? Udah lama banget kita nggak ketemu," tanya Sasha.
"Aku baik. Kamu apa kabar, Sha?" tanya balik Aril.
"Aku baik juga. Dia pacar kamu, Ril?" Wanita berambut merah kecoklatan itu menatap Caca.
"Bukan. Dia atasanku di kantor," jawab Aril. Entah kenapa hati Caca seketika mencelos mendengar jawaban Aril. Seharusnya dirinya tidak boleh sakit hati, karena faktanya memang dia merupakan atasan Aril di kantor.
Caca mengingat bahwa wanita di hadapannya ini adalah wanita yang pernah berfoto dengan Aril dan di posting Sasha melalui laman pribadi wanita itu lalu menandai Aril. Sasha lah yang Caca pikir merupakan kekasih Aril.
"Wah kamu hebat banget sih bisa jalan sama atasan mu sendiri!"
Aril tersenyum, "Aku hanya menemaninya saja."
Caca tidak suka Aril tersenyum pada wanita lain. Caca cemburu? Entahlah. Hatinya begitu panas melihatnya. Pada dirinya, Aril begitu jarang menunjukkan ekspresi seperti itu dan kepada Sasha, dengan begitu gampangnya Aril untuk tersenyum lepas. Bahkan pria itu menggunakan cara bicara dengan intonasi yang begitu lembut di telinga Caca.
Sasha ber-oh ria sambil manggut-manggut. "Kapan-kapan kita--"
"Aku mau pulang," sela Caca memotong ucapan Sasha.
Aril menatap ke arah Caca, lalu kembali menatap Sasha. "Sha. Aku mau antar atasannya ku pulang dulu."
"Nggak usah. Aku pulang pakai taksi aja," tolak Caca.
"Jangan! Kamu pergi sama aku dan pulangnya juga sama aku! Aku nggak mau nanti tuan Ibrahim memarahiku karena tidak mengantarkan pulang cucunya!" kekeuh Aril.
"Terserah!" ketus Caca. Aril bingung dengan sikap Caca yang tiba-tiba berubah. Apa Caca marah pada dirinya? Tapi apa yang membuat wanita itu marah, sedangkan ia tidak pernah melakukan hal-hal yang membuat Caca marah.
Sementara Sasha hanya tersenyum dalam hatinya ia mengetahui jika Caca sedang dilanda kecemburuan. Sasha begitu yakin, bila Aril dan Caca bukan hanya sekedar atasan dan bawahan saja. Tapi ada perasaan lebih di antara mereka berdua.
"Oke, Ril. Aku duluan, sampai ketemu," ucap Sasha tanpa berpamitan kepada Caca.
"Iya, Sha."
__ADS_1
Sasha meninggalkan Aril dan Caca, masuk ke dalam restoran.
Aril kembali naik ke atas motor, diikuti Caca.
Semenjak kejadian semalam, Caca terus mendiami dan mengacuhkan Aril hingga sekarang, sampai mereka sudah berada di kantor sikap Caca tetap sama.
"Anda marah dengan saya, Nona?" tanya Aril dengan bahasa yang kembali formal.
"Nggak! Ngapain saya harus marah sama kamu!" Caca yang biasanya memakai bahasa santai dengan Aril walaupun berada di kantor, berubah menjadi formal.
Aril mengangguk-anggukkan kepalanya, "Jika saya ada kesalahan yang membuat Nona marah, saya minta maaf."
Caca berdecak, "Sudah saya katakan, saya tidak marah. Ngapain saya marah sama kamu? Nggak guna banget! Kamu itu hanya asisten saya, jadi jangan terlalu ikut campur dengan urusan saya!"
Aril tersenyum kecut, hatinya sedikit teriris mendengar ucapan Caca. "Baik, Nona. Saya tidak akan terlalu ikut campur dengan urusan anda. Kalau begitu saya permisi."
Aril keluar dari ruangan Caca. Sementara itu, Caca merutuki dirinya, karena sudah marah-marah tidak jelas kepada Aril. Padahal pria itu sama sekali tidak mempunyai salah kepadanya.
"Gila kamu, Ca! Bisa-bisanya kamu marahin orang tanpa alasan!" ucap Caca.
Siang menjelang, jam makan siang pun telah tiba. Namun Aril masih berkutat dengan pekerjaannya, padahal pekerjaan tersebut masih bisa dikerjakan nanti atau bahkan esok hari. Tapi karena ada hal yang mengganggu pikirannya, Aril melampiaskan semuanya ke pekerjaannya.
Caca yang merasa bersalah, memesankan makanan untuk dirinya dan Aril. Caca berjalan ke ruangan Aril yang berada di samping ruangannya. Dilihatnya dari kaca jendela transparan, Aril begitu fokus pada layar komputer di depannya.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk!"
Caca masuk ke dalam ruangan Aril, tak lupa ia mengeluarkan senyumannya. "Hai, Ril."
"Nona Caira! Ada yang bisa saya bantu?"
Caca menggeleng, "Kamu nggak istirahat?"
"Nanti, Nona. Setelah pekerjaan saya selesai."
"Walaupun begitu, kalau sudah waktunya jam istirahat harus istirahat. Aku nggak mau pegawai ku sakit karena belum makan siang," ucap Caca kembali ke cara bicaranya yang asli. Caca berjalan ke sofa, duduk dan menaruh makanan yang dibawanya.
"Iya maafkan saya, Nona."
"Kalau mau aku maafkan, kamu harus temani aku makan," perintah Caca.
"Tapi--"
"Nggak ada tapi-tapian. Ini perintah dariku!" potong Caca.
Aril menghela napas panjang, berdiri dan menghampiri Caca di sofa. Caca segera meminta maaf kepada Aril karena tadi sempat membentaknya tanpa alasan, bahkan membuat pria itu sakit hati dengan perkataannya dan Aril pun memaafkannya.
Caca segera membuka makanan yang ia pesan tadi. "Tadi aku pesan mie gacoan dan rice bowl. Kamu mau makan yang mana?"
__ADS_1
"Rice bowl saja, Nona."
Caca memberikan rice bowl pada Aril. Mereka pun mulai makan. Aril menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Caca memakan mie gacoan itu penuh dengan peluh membasahi dahinya.
"Kalau udah nggak kuat, nggak usah di makan lagi. Nanti anda bisa sakit perut," ucap Aril menasehati Caca.
"Aku masih kuat kok."
Wanita itu masih saja keras kepala dari dulu. Aril segera memberikan minuman kepada Caca dan langsung diminum olehnya.
"Terima kasih, Ril."
"Apa perlu saya suruh OB membuatkan anda susu untuk menetralisir kan rasa pedas?" tawar Aril.
Caca menggeleng, "Nggak usah, Ril."
Aril hanya mengangguk, mengikuti kemauan Caca.
...****************...
Dari kemarin entah kenapa Aurora begitu cepat kelelahan, terkadang merasakan nyeri di bagian dada dan punggungnya. Aurora teringat sesuatu, ia juga pernah merasakan hal ini ketika hamil anaknya yang kedua. Ia merasa Dejavu!
"Nggak! Nggak mungkin. Aku kan minum obat kontrasepsi, mana mungkinlah aku hamil!" Monolog Aurora sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengenyahkan pikiran tadi dari otaknya.
"Kenapa geleng-geleng kepala seperti itu, sayang? Kepala mu sakit?" tanya Irsyan yang keluar dari ruangan wardrobe.
"Nggak kok, Mas."
"Terus kenapa?"
"Aku hanya melakukan peregangan aja, soalnya otot-otot ku sedikit pegal," jelas Aurora yang tidak sepenuhnya berbohong.
Irsyan duduk di pinggir ranjang, menyuruh Aurora untuk berbalik.
"Mau ngapain, Mas?" tanya Aurora bingung.
"Mas ingin memijat istrinya Mas," jawab Irsyan. Aurora pun berbalik mengikuti perintah suaminya.
Irsyan mulai memijat Aurora. Tangan nakalnya terkadang ke atas dan ke bawah memegang titik sensitif Aurora.
"Mas, tangannya diem-diem ih! Ini bukan salon pijat plus-plus!" protes Aurora.
Irsyan terkekeh, "Iya maaf, sayang."
Aurora berdecak, sifat mesum suaminya itu belum juga hilang.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1