GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 76


__ADS_3

Matahari muncul dari ufuk timur, membuat Irsyan terbangun dari tidurnya karena terkena silau matahari yang masuk dari celah-celah jendela. Irsyan menatap Aurora yang berada di atas dadanya sambil memeluk dirinya.


"Aku sangat beruntung dipilih Aurora untuk menjadi suaminya dari sekian banyak laki-laki yang mendekatinya," ucap Irsyan lirih sambil mengelus surai panjang milik Aurora.


"Semoga saja secepatnya di rahim kamu cepat tumbuh buah cinta kita sayang." Irsyan tidak ingin menunda-nunda untuk memiliki momongan, bahkan dia berharap agar istrinya itu cepat hamil supaya keluarga kecilnya semakin lengkap.


"Sayang bangun yuk," bisik Irsyan membangunkan Aurora. Aurora mulai terusik dan membuka matanya dengan perlahan.


"Eeuugghh, udah pagi ya Mas?" tanya Aurora dengan suara seraknya.


"Iya sayang, bahkan ini udah mau jam 10 loh," jawab Irsyan sambil merapikan rambut Aurora yang sedikit berantakan.


"Tapi masih ngantuk Mas," rengek Aurora.


"Mau tidur lagi ya? Padahal aku mau ajak kamu ke Namsan tower sama Nami island loh." Aurora langsung bangun dan merubah posisinya menjadi duduk saat Irsyan mengatakan hal tadi.


"Beneran kita mau ke Namsan tower sama Nami island, Mas?" tanya Aurora dengan mata berbinar-binar. Sedari dulu dia sangat ingin ke tempat wisata yang sangat terkenal di Korea Selatan itu.


"Iya beneran sayang, masa Mas bohongi kamu," jawab Irsyan. Irsyan tersenyum melihat ke antusiasme istrinya tadi, berarti tak sia-sia dirinya mengajak Aurora kesini.


"Sekarang kita mandi yuk, terus kita sarapan," ajak Irsyan. Aurora hanya mengangguk menuruti perintah suaminya.


"Kita mandi barengan ya?" ajak Irsyan sambil menaik turunkan alisnya. Dengan cepat Aurora langsung menggelengkan kepalanya.


"Nggak! Kita mandinya sendiri-sendiri aja," tolak Aurora karena dia tau pasti ada niat terselubung di balik itu.


"Ayolah kita mandi barengan, kita kan nggak pernah mandi bareng lagi. Ya, ya please lah," rengek Irsyan seperti anak kecil sambil mengeluarkan puppy eyes andalannya. Dia dan Aurora memang sering mandi berdua, karena itu salah satu untuk memperkuat hubungan suami istri.


Aurora menghela napas, "Ya udah ayo kita mandi samaan." Aurora pun mengalah, ia tidak tega melihat Irsyan merengek seperti itu.


"Yes, ayo sayang." tanpa basa-basi lagi, Irsyan langsung membopong tubuh polos Aurora ala bridal style ke dalam kamar mandi. Entah apa yang mereka lakukan di dalam kamar mandi sana, hanya Tuhan dan mereka berdua lah yang tau.


Saat ini Aurora, Irsyan, Fani, Adit dan Alvaro tengah berada di Ikon Kota Seoul yakni Namsan Tower.


Di menara ini terdapat toko, museum dan restoran yang sangat rekomendasi untuk di kunjungi. Apalagi pada malam hari pemandangan menara Namsan ini sangatlah indah.


Kini mereka berlima tepat berada di tempat gembok cinta, sebelum itu mereka pergi membeli gembok terlebih dahulu di toko yang menjual gembok dan beberapa sovenir disana. Lalu Irsyan menulis nama dirinya dan Aurora di gembok yang tadi dibelinya.


Setelah selesai, Irsyan langsung memasang gembok tersebut. Konon katanya, jika sepasang kekasih atau sepasang suami-istri menggantungkan gembok cinta di tempat ini, maka cinta mereka akan abadi selamanya.


"Semoga cinta kita bisa langgeng dan abadi selamanya ya seperti gembok ini sayang?"


"Aamiin sayang," balas Aurora tersenyum mengaminkan ucapan suaminya.


"Mas fotoin aku dong," pinta Aurora kepada Irsyan untuk difoto kan di antara gembok-gembok cinta tersebut.


"Berdua sama aku dong," protes Irsyan.


"Nggak mau, aku mau foto sendirian aja," tolak Aurora.


"Yang honeymoon kan kita, sayang. Jadi fotonya juga kita, bukan kamu aja ya!" protes Irsyan lagi.

__ADS_1


"Ih, iya-iya. Bawel banget sih kamu," kesal Aurora. Irsyan pun langsung tersenyum puas.


"Kak," panggil Irsyan pada kakaknya yang sedang asyik mengabadikan foto sang buah hati dengan kameranya.


"Ya Syan?"


"Minta tolong fotoin kita dong," pinta Aurora.


"Oke." Dengan senang hati, Fani mengambil foto adik dan adiknya iparnya itu dengan berbagai gaya.


...****************...


Setelah puas berada di destinasi Namsan Tower, mereka berlima melanjutkan perjalanannya ke Nami Island. Nami island atau pulau Nami ini begitu terkenal karena deret pohon-pohonnya yang sangat khas dan indah.


Apalagi ketika musim semi seperti sekarang ini, semua pohon di Nami island akan dipenuhi semerbak bunga sakura yang bermekaran dengan indahnya.


Mereka berlima tengah berfoto di tengah jalan yang di samping-sampingnya terdapat pohon bunga sakura yang sedang bermekaran dengan bantuan salah satu pengunjung disana.


"Kak fotoin kita lagi ya?" pinta Irsyan pada kakaknya. Dia ingin foto berdua dengan istri tercintanya.


"Sini biar kak Adit yang foto kalian," sahut Adit yang mengambil alih kamera dari istrinya.


Irsyan mengambil posisi dibelakang Aurora lalu memeluk perut Aurora dengan mesra. Aurora hanya tersenyum diperlakukan manis oleh Irsyan.


"Satu.. Dua.. Tiga…" Irsyan langsung mencium pipi Aurora dari belakang. Dan itu berhasil diabadikan oleh Fani.


"Mas Irsyan ih, kebiasaan banget sih suka nyosor!" protes Aurora sambil memukul lengan Irsyan.


"Gapapa lah sayang, nanti kan kalau udah balik disini kita dapat banyak foto yang manis-manis dan kita bisa tunjukkan ke anak-anak kita nantinya," balas Irsyan, Aurora langsung mendengus kesal.


"Sekarang kita balik ke hotel dulu ya. Terus nanti malam kita pergi dinner, oke?" ujar Irsyan sambil mengusap rambut Aurora.


"Dinner kemana Mas?" tanya Aurora.


"Di restoran Pierre Gagnaire Seoul."


"Kita juga boleh ikut nggak?" sahut Fani tiba-tiba.


"Boleh dong kak, masa kakak nggak boleh ikut sih," balas Irsyan.


"Kak Fani, kak Irsyan!" panggil seorang gadis berambut panjang yang bewarna cokelat keemasan menghampiri mereka bertiga.


"Vania!" pekik Irsyan sambil melepas genggaman Aurora. Lalu Irsyan menghampiri gadis itu dan memeluknya. Hal itu membuat hati Aurora tiba-tiba terasa sangat sesak.


"Aku kangen tau sama kamu, Van," lirih Irsyan.


"Aku juga kangen banget sama kakak," balas gadis bernama Vania itu.


"Vania," panggil Fani. Irsyan dan Vania pun melepas pelukannya.


"Kak Fani, aku kangen banget sama kakak." Vania langsung beralih memeluk Fani. Entahlah siapa gadis ini membuat Aurora jadi semakin penasaran.

__ADS_1


"Kakak juga kangen banget sama kamu, dek. Udah lama nggak ketemu," ujar Fani sambil melepas pelukannya.


"Iya nih, terakhir kita ketemu waktu pas aku masih kelas 3 SMA."


"Kamu apa kabar Vania?" tanya Adit.


"Aku baik kak Adit. Ini Alvero kan?" tanya Vania menatap Alvero yang berada di gendongan Adit.


"Iya ini Alvero."


"Ya ampun sekarang Alvero udah besar aja," ucap Vania sambil mencubit gemas pipi Alvero.


"Kok kamu ada disini sekarang Van? Nggak apa kamu melanjutkan S2 di Aussie?" tanya Irsyan.


"Iya, aku disini cuma lagi liburan aja kok sama temen-temen. Sekolah sih tetap di Aussie," jelas Vania.


"Oh gitu." Irsyan hanya manggut-manggut mengerti.


'Ya Allah, hatiku sakit sekali saat melihat mas Irsyan dan kak Fani akrab dengan gadis itu' batin Aurora lirih melihat kedekatan Irsyan dan kakak iparnya dengan gadis yang bernama Vania itu.


"Kalian sendiri ngapain disini? Liburan ya?" tanya Vania.


"Ya bisa di bilang begitu, tapi tujuan utama sih lagi honeymoon," jawab Irsyan.


"What honeymoon?" pekik Vania terkejut. Irsyan mengangguk lalu menarik Aurora ke dalam dekapannya.


"Ini istri aku. Gimana cantik kan?" Vania menatap Aurora dari atas sampai bawah. Aurora merasa risih jika dilihat seperti itu, ia menatap tak suka ke arah gadis itu.


"Iya cantik kok," lirih Vania.


"Iya dong, aku gitu yang milih," ujar Irsyan dengan bangganya. Vania hanya tersenyum tipis.


"Kamu kapan main lagi ke Indonesia? Nggak kangen apa sama Mama sama Papa? Betah banget di negara orang." Pertanyaan Irsyan pada Vania membuat Aurora menatap suaminya.


"Aku-" ucapan Vania terputus karena ucapan Aurora.


"Aku capek mau pulang," sahut Aurora melepas rangkulan Irsyan lalu pergi meninggalkan mereka berlima.


"Tante Al ikut!" ucap Alvaro turun dari gendongan Adit dan berlari menghampiri Aurora.


"Yuk Al." Aurora menggandeng tangan Alvaro.


"Sayang, kamu mau kemana?" teriak Irsyan.


"Pulang!" Balas Aurora tanpa menoleh ke arah suaminya dan terus berjalan bersama Alvaro.


"Van, aku duluan ya? Aku tunggu kedatangan kamu di Indonesia secepatnya," ujar Irsyan lalu berlari mengejar istri dan keponakannya.


"Vania, kakak duluan juga ya?" ucap Fani dan diikuti oleh Adit.


"Iya kak, hati-hati," lirih Vania sambil menatap punggung mereka berlima dengan tatapan sulit di artikan.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2