
Setelah mengobati lukanya, Mila diantarkan pulang oleh Satria. Di perjalanan hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil, tenggorokan Mila seperti tercekat saat ingin mengeluarkan suaranya.
"Rumah lo disebelah mana?" tanya Satria memecahkan keheningan itu.
"Yang gerbangnya bercat cokelat," jawab Mila sambil menunjuk sebuah rumah minimalis yang gerbangnya bercat cokelat.
"Oh oke."
Tak lama, mobil Satria pun sampai di depan gerbang rumah Mila.
"Makasih ya Mas udah nganterin gue berobat ke rumah sakit dan nganterin gue pulang," ucap Mila.
"Sama-sama dan maaf karena gue lo jadi terluka," balas Satria yang merasa bersalah atas kejadian tadi.
"Gapapa Mas, tapi yang bermasalah itu mental gue," ujar Mila jujur. Ia mengingat kembali kejadian di masa lalu yang hampir merenggut nyawa sahabatnya itu karena menolong dirinya.
"Maksud lo apa, Mil?" tanya Satria bingung.
Mila mencoba untuk memberanikan dirinya untuk bercerita, padahal ia mencoba melupakan kejadian itu. Saat Mila bercerita, raut wajah Satria langsung berubah menjadi serius, wajah pria itu seperti marah, emosi dan kagum saat mendengar jika Aurora yang menolong Mila sekaligus menjadi korban, bahkan ekspresi Satria menjadi sedih saat mendengar nyawa Aurora berada di ujung tanduk, jika tidak cepat di bawa ke rumah sakit waktu itu.
'Gue semakin salut dan kagum sama lo, Ra. Demi menolong sahabat lo, lo hampir kehilangan nyawa,' ucap Satria lirih di dalam hatinya.
"Begitulah ceritanya Mas, sampai sekarang aku merasa berhutang budi sama Aurora dan gue masih trauma karena itu sampai sekarang," ucap Mila lirih.
"Lo sangat beruntung memiliki sahabat seperti Aurora."
"Iya Mas, gue sangat berterima kasih kepada Allah karena telah mempertemukan gue dan Aurora dulu," ujar Mila. Satria tersenyum tipis mendengarnya.
"Kalau mau ngilangin rasa trauma lo, lo bisa pergi periksa ke psikolog aja," usul Satria.
"Iya insya Allah Mas, kalau aku ada waktu," balas Mila tersenyum. Mila turun dari mobil dan Satria berpamitan untuk kembali ke kantornya.
Suara ketukan pintu mess membuat Aji harus pergi membukanya. Saat Aji membuka pintu terlihat disana seorang gadis cantik mengenakan dress selutut dengan aksen bunga-bunga tengah membawa rantang susun yang pastinya berisi nasi dan lauk pauknya.
"Eh neng Sari, ada apa ya malam-malam kesini?" tanya Aji dengan ramah.
Sari ini termasuk kembang desa di desa U, banyak lelaki yang kepincut dengan kecantikan bahkan ada dari mereka yang datang melamarnya, tapi Sari menolak mereka secara mentah-mentah.
"Saya bawakan makan malam untuk mas Aji dengan yang lain," ucap Sari menyodorkan rantang tersebut pada Aji, dengan senang hati Aji menerimanya.
__ADS_1
"Wah terima kasih Sari."
"Iya sama-sama Mas," balas Sari. Namun matanya tengah mencari seseorang.
"Kenapa? Kau cari siapa, Sari?" tanya Aji yang melihat gerak-gerik Sari.
"Hem, mas Irsyan mana ya Mas?" tanya Sari dengan malu-malu. Benar saja yang Aji pikirkan, ternyata gadis di depannya ini menyukai Irsyan, memang selama mereka disini Sari selalu mencari perhatian pada Irsyan.
"Irsyan sudah tidur Sar," jawab Aji seadanya, padahal Irsyan tengah makan bersama teman-temannya. Hei, tentu ia tidak akan membiarkan calon-calon pelakor masuk ke dalam rumah tangga sahabatnya.
"Oh gitu, kalau gitu saya permisi pulang dulu, Mas. Titip salam ke mas Irsyan ya?" pamit Sari. Aji hanya mengangguk mengiyakan ucapan Sari, kalau saja gadis itu bukan anak kepala desa disini mungkin Aji bakal tidak menerima makanan darinya bahkan akan memarahinya untuk tidak mendekati dan mencari perhatian pada Irsyan.
Aji menutup pintu, lalu pergi menuju ke arah dapur. Ia menaruh rantang nasi itu dengan cukup keras membuat teman-temannya yang sedang makan itu tersedak.
"Eh kambing congek, lo kenapa sih? Bikin gue tersedak tau nggak!" kesal Huda, tenggorokan sekaligus hidungnya terasa panas akibat teman laknatnya itu.
"Tuh di kasi nasi dan lauk pauknya sama si Sari," ucap Aji malas dan duduk di samping Irsyan.
"Terus kenapa muka lo ditekuk gitu? Nggak apa kalau liat Sari mata lo langsung hijau, Ji?" tanya Irsyan heran.
"Maaf-maaf nih ye, gue kagak demen sama cewek yang suka sama lakinya orang," jelas Aji membuat semua teman-temannya bingung.
Irsyan sudah memberitahukan ke Aurora siapa saja teman-temannya yang menjadi relawan agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya.
"Nggak ada kok Mia, imut, chubby kayak babi," jawab Aji membuat Mia langsung kesal dan melempar Aji dengan kerupuk. Yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala dan kembali melanjutkan makan.
Di keheningan malam, yang ada hanya suara jangkrik yang saling bersahutan, Aurora berada di belakang rumah mertuanya tengah di duduk pada pinggiran kolam sambil menenggelamkan kakinya disana.
"Mas Irsyan pulang tinggal seminggu lagi, tapi kok menurut gue lama banget," decak Aurora.
"DOR!!!" Suara Vania mengejutkan Aurora.
"Allahuakbar! Ya Allah, Vania lo mah bikin gue jantungan aja," kesal Aurora sambil mengelus dadanya. Untung saja dia tidak sampai tercebur ke kolam renang.
"Sorry Ra," ucap Vania cengengesan. Vania malam ini menginap di rumah pamannya, dengan alasan ingin menemani Aurora, tentu saja Jihan dan Harun langsung mengizinkannya. Aurora langsung mendengus.
"Lo kenapa Ra? Gue liat lo ngelamun," tanya Vania duduk di samping Aurora.
"Pasti lagi mikirin kak Irsyan ya?" tebak Vania.
__ADS_1
Aurora mengangguk. "Gue kangen sama dia Van, walaupun sudah telpon dan video call, tapi tetap aja terasa beda kalau nggak ketemu secara langsung, mungkin juga ini karena anak kami kangen sama Papanya," jelasnya sambil mengelus perutnya.
"Gimana kalau besok lusa kita samperin kak Irsyan kesana?" usul Vania membuat mata Aurora seketika berbinar.
"Lo seriusan?"
"Iya gue serius, Ra. Lo mau kan?"
"Mau banget lah," ucap Aurora senang. Saking senangnya ia langsung memeluk Vania.
"Tapi lo kan kerja Ra."
Aurora menguraikan pelukannya, "Tenang aja besok lusa gue udah berhenti bekerja," jelasnya.
"Hah lo berhenti bekerja? Kenapa? Padahal udah enak-enak jadi PNS."
"Ya karena dulu gue janji sama mas Irsyan kalau gue hamil, gue harus resign," papar Aurora menjelaskan perihal dirinya yang resign dari pekerjaannya.
"Oh gitu," balas Vania manggut-manggut.
"Gimana kalau kita kasih kak Irsyan kejutan aja, kita kesana secara diam-diam tanpa memberitahukannya," usul Vania lagi dan langsung disetujui oleh Aurora.
"Boleh tuh Van, pasti mas Irsyan terkejut banget melihat kedatangan kita secara tiba-tiba."
"Oke, lebih baik sekarang kita masuk tidur, apalagi lo lagi hamil nggak baik malam-malam diluar begini."
"Tapi gue nggak bisa tidur Van," ujar Aurora. Ia merasa kesepian semenjak kepergian suaminya.
"Lo kenapa lagi?" tanya Vania.
"Gue kalau dikamar itu kepikiran terus sama Mas Irsyan," jelas Aurora.
"Gimana kalau lo tidur sama gue, sekalian kita bercerita tentang masa lalu kita, biar kita lebih akrab lagi, gimana?" tawar Vania.
"Oke gue mau." Aurora menaikkan kakinya ke atas, lalu berdiri. Vania juga ikut berdiri dan mereka berdua masuk ke dalam rumah, jika dilihat mereka berdua bak adik-kakak yang saling menghibur satu sama lain.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1