
Seminggu pun berlalu hari ini adalah hari pernikahan Satria dan Aisha akan dilangsungkan. Aurora, Irsyan, Mila, orang tua Mila dan lainnya bersiap-siap untuk untuk datang ke acara tersebut.
Mila berusaha menampilkan senyum terbaiknya, walau hatinya sangat sedih dan sakit. Beginilah konsekuensi mencintai seseorang dalam diam, orang yang kita sukai tidak akan mengetahui bahwa kita menyukainya.
Mila keluar dari kamarnya untuk menemui kedua orang tuanya yang telah siap. Acara ijab kabul akan dilangsungkan pada pukul 4 sore.
Mereka bertiga pun berangkat menggunakan mobil, yang di sopiri langsung oleh Erwin, ayah Mila.
Sampailah mereka di depan kediaman orang tua Satria. Mila mengerutkan keningnya bingung, kenapa disini sangat sepi? Tak lama Aurora, Irsyan dan yang lainnya seperti Aji, Beni serta istri dan anaknya, tak lupa juga Rilen berserta istrinya juga baru datang.
"Eh kenapa sepi?" tanya Rahma sedikit bingung.
"Lah iya, kenapa sepi? Apa acaranya belum dimulai?" sahut Erwin juga ikut bingung.
"Coba kita keluar dulu dari mobil yuk!" ajak Mila yang diangguki oleh kedua orang tuanya.
Mereka bertiga pun keluar dari dalam mobil.Mila dan orang tuanya menghampiri ke tempat Aurora, Irsyan dan lainnya berada.
"Apa kawinannya nggak jadi ya?" tanya Aji sambil memperagakan gaya berpikir.
"Nikah dulu baru kawin, gila!" sahut Rilen memukul tangan Aji.
"Lebih baik kita tanya ke satpam aja," timpal Irsyan.
"Ya udah biar gue aja yang nanya," ucap Beni lalu menghampiri satpam yang berjaga di rumah orang tua Satria.
Selang beberapa menit, Beni kembali lagi dan memberitahu jika mereka langsung disuruh masuk saja. Mereka pun sampai di depan pintu rumah itu lalu mereka di sambut oleh dua pekerja di rumah itu.
Mila berinisiatif untuk bertanya ke salah satu pekerja itu, "Maaf boleh tanya Bi, kenapa sepi banget ya?"
"Saya juga kurang tau, Non."
"Oh gitu, terima kasih, Bi."
Mereka semua duduk lesehan di atas karpet yang sudah digelar di lantai lalu menunggu keluarga Satria serta keluarga calon mempelai wanita.
"Gue masih bingung kenapa hanya kita aja ya disini?" celetuk Aji.
"Mungkin kitanya yang kecepatan datang kali," sahut Rilen.
"Tapi nggak mungkin ini udah waktunya kok," timpal Aurora.
"Assalamualaikum, maaf menunggu lama," ucap Lena tersenyum. Disampingnya sudah ada suaminya, Satria, Inara beserta suami, dan Rifqi. Inara adalah anak kedua dari Lena dan Wildan.
"Waalaikumussalam," jawab semuanya.
"Maaf menunggu tadi ada masalah sedikit," ucap Lena tak enak.
"Tidak apa-apa Bu Lena. Maafkan kami juga karena main masuk aja ke rumah tanpa izin dari tuan rumah," balas Rahma tersenyum sopan.
"Baiklah, maaf sebelumnya karena kami lupa memberitahu kalian jika acara ijab kabul antara Satria dan Aisha dibatalkan," ucap Wildan, yang tentu saja membuat mereka terkejut bukan main.
"Apa? Kenapa bisa?"
"Ya baru saja pihak perempuan membatalkan pernikahan Satria dan Aisha. Entah saya tidak tau alasannya apa, tapi mungkin mereka berdua memang tidak berjodoh, jadi saya maklumi," jelas Lena menimpali.
"Tapi kenapa dekorasinya masih ada, Tan?" tanya Rilen menyahuti.
"Karena sangat mendadak, jadi dekorasinya belum sempat di bongkar dan hari ini baru akan di bongkar," jawab Lena.
__ADS_1
"Kenapa pernikahan ini bisa batal, bukannya mas Satria cinta sama Aisha?" tanya Mila sekali lagi.
Satria memiringkan kepalanya lalu menatap ke arah Mila, "Siapa bilang gue cinta sama Aisha, orang gue cintanya sama lo!"
DEG!
Jantung Mila seketika bergemuruh hebat mendengar ucapan Satria tadi, tapi dirinya belum terlalu percaya dengan perkataan laki-laki itu.
"Hahaha mas Satria bercandanya kebangetan," balas Mila tertawa renyah membuat semua orang disana kaget.
Satria tersenyum kecil, "Maaf Om, Tante, apa saya bisa bicara dengan Mila sebentar?" izin Satria pada kedua orang tua Mila.
"Tentu saja boleh nak," ucap Rahma mengizinkan mungkin ini waktunya sang putri jujur akan perasaannya terhadap Satria. Yah, Rahma dan Wildan sudah mengetahui tentang Mila yang menyukai Satria, darimana mereka mengetahui hal itu? Tentu saja Mila yang cerita sendiri. Bahkan mereka sangat iba terhadap putrinya itu pada saat Mila terpukul mengetahui jika Satria akan menikah.
"Ayo Mil, ikut gue ke taman belakang rumah heh," ajak Satria. Mila mengangguk lalu mengekori Satria dari belakang. Sampailah mereka di taman, kemudian mereka duduk berdampingan di bangku besi panjang yang ada di taman itu.
"Hem mas Satria sekali lagi yang sabar ya," ucap Mila membuka suara.
Satria hanya mengangguk.
"Mila," panggilnya.
"Kenapa Mas?"
"Apa aku boleh jujur ke kamu?" tanya Satria hati-hati. Mila kaget saat Satria mengubah cara panggilannya menjadi aku-kamu, tapi disisi lain juga ia merasa senang Satria mengubah panggilannya seperti itu.
Mila mengangguk ragu-ragu dan menunggu ucapan Satria.
"Sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak kita berada di kota Mekkah dulu," ucap Satria tegas tanpa terbata-bata.
Sementara itu Mila masih mencerna ucapan Satria tadi.
"Kamu budeg?"
"Isshhh, jadi Mas itu beneran apa nggak sih suka sama aku?"
"Apa aku perlu melakukan sesuatu untuk kamu, supaya kamu percaya?"
"Kalau gitu Mas mau nggak senyum lebar dan manis ke aku?" pinta Mila sambil terkekeh kecil.
"Jarang banget loh, bahkan kayaknya aku nggak pernah liat mas Satria tersenyum lebar," sambungnya.
"Jadi itu mau kamu?"
Mila hanya mengangguk. Lalu Satria tersenyum lebar. "Ayo liat aku tapi hanya beberapa detik saja ya?"
Mila pun menoleh dan ia melihat begitu tampannya jika Satria tersenyum, ah satu yang Mila belum ketahui bahwa Satria mempunyai lesung pipi yang membuatnya terlihat tampan dan manis menjadi satu. Tak lama Mila mengangguk dan menolehkan kepalanya kembali memandang lurus ke depan.
"Gimana?" tanya Satria memastikan.
"Apanya yang gimana?" tanya balik Mila.
"Yang tadi itu loh!"
"Mas terlihat sangat manis jika tersenyum seperti tadi," jawab Mila dengan jujur.
Satria tersenyum tipis, "Baguslah."
"Tapi ada banyak pertanyaan yang pengen aku tanyakan ke mas Satria."
__ADS_1
"Apa?"
"Ceritakan bagaimana awalnya mas Satria bisa suka sama aku?" pinta Mila menatap Satria.
"Kamu yakin akan mendengarkannya? Aku bakalan ngomong panjang loh, jadi jangan kaget ya?"
Mila tersenyum lalu mengangguk antusias.
"Pertama kali kita bertemu pada saat di Mekkah dulu, nggak munafik aku terpesona saat melihat kamu menggunakan hijab. Aku nggak bohong setelah itu aku selalu memikirkan mu. Bahkan malamnya aku sering kali bermimpi tentangmu, karena takut itu mimpi dari setan, aku pun melakukan sholat istikharah meminta petunjuk arti dari mimpiku itu dan Masya Allah setiap malam aku malah terus memimpikan kamu."
"Dan aku yakin itu bukan mimpi dari setan, melainkan mimpi dari Allah yang menunjukkan siapa sebenarnya yang menjadi jodohku dan dengan demikian, aku membicarakan tentang hal itu kepada Aisha, Aisha yang mengerti pun bisa menerimanya dan pada akhirnya dia meminta pada kedua orang tuanya untuk membatalkan pernikahan kami," jelas Satria panjang lebar.
Mila tersenyum haru, ternyata doa di sepertiga yang selalu ia panjatkan kepada Allah SWT., pada akhirnya terkabulkan, walau harus melewati banyak rintangan dan ujian terlebih dulu.
"Kalau saja dari kemarin Mas bilang kalau suka sama aku, mungkin aku bakalan langsung menerimanya, hehe."
"Jadi kamu juga suka sama aku?" tanya Satria tak percaya.
"Ya gitu deh," jawab Mila malu-malu kucing.
"Eh tapi kenapa pas Mas ketemu dengan Aisha, mas Satria keliatan seneng banget bahkan nada bicara Mas jadi lembut beda banget kalau Mas bicara sama aku," ucap Mila penasaran.
"Kamu tau dulu pada saat aku masih remaja, aku terkenal sangat nakal dan sering membuat masalah ketika di sekolah, makanya Ayah dan Bunda memasukkan aku ke pesantren. Nah teman pertama aku disana itu adalah Aisha karena juga kebetulan yang menjadi pemilik pesantren itu adalah orang tua Aisha. Dia yang membantu serta membimbing aku supaya menjadi pribadi yang lebih baik, biarpun umur kita berbeda 2 tahunan, tapi sifat dia jauh lebih dewasa dari usianya mungkin karena didikan dari umi dan abi nya."
"Sempat dulu aku menyukainya tetapi setelah kami jarang bertemu dan dia belajar ke luar negeri, aku pun membuang perasaan itu jauh-jauh dan fokus melatih diri agar bisa masuk ke menjadi seorang polisi. Aisha begitu baik kepadaku, makanya aku membalas kebaikannya itu dengan berbicara lembut kepadanya," jelas Satria.
Milla manggut-manggut mengerti, "Terus kenapa mas Satria mengkhitbah Aisha? Kan Mas nggak cinta lagi sama dia?"
"Bunda dan Ayah ingin balas budi kepada keluarga Aisha, karena telah membantu aku menjadi orang yang baik daripada sebelumnya, jadilah aku dinikahkan dengan Aisha. Tapi mereka nggak maksa aku kok, akunya aja yang main terima. Padahal waktu itu perempuan yang aku sukai itu kamu, sempat aku merasa bimbang saat itu, tapi karena permintaan Bunda, jadi mau tak mau aku menerimanya."
"Oh jadi begitu ceritanya," ujar Mila manggut-manggut.
"Jadi pertanyaan kamu sudah selesai?"
"Belum, mas Satria ada niatan untuk menikahi aku juga nggak?" tanya Milla tanpa ada rasa malu.
"Bahkan aku mau nikahin kamu sekarang juga, Mila. Aku sudah lama memendam perasaan ini, tapi apa kamu mau jadi istriku?"
"Tentu saja aku mau, karena aku juga sudah lama suka sama mas Satria, ups!" Mila langsung menutup mulut saat mengatakan itu.
Satria tersenyum tipis dan menatap lekat Mila, "Sejak kapan kamu mulai menyukaiku?"
"Em... Sejak kapan ya? Aku pun nggak tau, perasaan itu tiba-tiba tumbuh begitu saja. Apalagi saat aku dalam keadaan genting atau bahaya dan pasti mas Satria datang menolong ku, dari itu perasaanku semakin besar kepada Mas. Apa sikap dan tingkah laku aku selama dekat dengan mas Satria tidak terlihat jika aku menyukai Mas?"
Satria menggeleng, "Aku memang orangnya tidak pekaan Mila," ucapnya.
Mila tersenyum kecut, "Ketika Mas mengkhitbah Aisha dan kalian akan menikah, betapa sedih dan terpuruknya aku pada saat itu," lanjut Mila bercerita sambil menunduk.
"Maafkan atas ketidaktahuan aku tentang perasaanmu kepada ku, Mil," sesal Satria.
"Gapapa Mas, aku ngerti kok."
"Aku ingin sekali memelukmu, tapi kita belum menjadi mahram. Kamu belum menjawab pertanyaan aku yang tadi, apa kamu mau jadi istriku?"
"Insya Allah Mas, tapi sebelum itu Mas memintaku kepada orang tuaku terlebih dahulu karena mereka orang-orang terpenting dalam hidupku," suruh Mila dan dibalas anggukan oleh Satria.
"Secepatnya aku akan melamar mu, Mila," ucap Satria serius. Mila tersenyum bahagia, ia berharap semoga ini bukanlah mimpi.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.