
Caca menggunakan dress panjang berwarna hitam tanpa lengan, dengan belahan tinggi hingga di atas pahanya. Bahkan lekuk tubuhnya terlihat jelas ketika ia menggunakan dress ini. Juga dengan heels stiletto menambah kesempurnaan penampilan Caca malam ini.
Lucas yang melihatnya pun terpesona sampai tidak mengalihkan pandangannya dari Caca. Sementara tuan Ibrahim hanya tersenyum, memang cucunya itu sangatlah cantik. Bahkan pernah dulu sahabatnya berencana menjodohkan cucunya dengan Caca, tapi dengan cara yang halus, tuan Ibrahim langsung menolaknya. Beliau memang lebih suka jika anak dan cucu-cucunya mencari cinta sejatinya sendiri daripada harus menjodohkan mereka.
Caca dan Lucas langsung pamit kepada tuan Ibrahim.
"Kamu cantik banget malam ini, Ca," puji Lucas.
Caca tersenyum, "Terima kasih, kak."
Lucas mulai melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah besar tuan Ibrahim menuju ke tempat acara.
Sesampainya di tempat acara, Lucas menyuruh Caca untuk menggandeng tangannya. Dengan sedikit ragu, Caca mengalungkan tangannya ke lengan Lucas. Lalu mereka jalan sambil bergandengan tangan.
Lucas membawa Caca menghampiri tuan acara. "Malam pak Zian. Selamat ulang tahun. Semoga anda bahagia dan sukses selalu," ucapnya sambil menjabat tangan Zian.
"Terima kasih sudah menyempatkan waktu ke acara sederhana saya ini, pak Lucas. Oh ya, panggil Zian saja, kita kan seumuran biar lebih akrab," ucap Zian.
Lucas terkekeh kecil dan menganggukkan kepalanya, "Baiklah Zian. Panggil saya Lucas saja juga kalau begitu. Tanpa embel-embel Bapak."
Mereka berdua langsung tertawa. Mata Zian menatap ke arah wanita cantik di samping Lucas. "Pacar atau istri kamu?" tanyanya penasaran.
"Oh bukan. Saya itu--"
"Dia calon istri saya, namanya Caira. Dia memang orangnya suka malu-malu mengungkapkan hubungan kami," ujar Lucas memotong ucapan Caca membuat sang empu mendelik tajam ke arahnya.
"Owalah calon istri toh. Terus kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius?"
"Secepatnya. Doakan saja."
Rasanya Caca ingin sekali marah dengan Lucas. Tapi ia harus menjaga image nya dan tidak ingin merusak pesta orang. Lain halnya dengan pria yang melihat serta mendengar ucapan Lucas tadi, entah kenapa ia begitu emosi dan ingin sekali memukul wajah belagu dari Lucas.
Caca dan Lucas pulang dari pesta sekitar jam 9 malam. Lucas mengajak Caca untuk berjalan-jalan sebentar ke taman dan Caca menyetujuinya. Lucas membuka jasnya dan memasangkan ke bahu Caca yang terbuka.
"Eh kok jas kakak dikasi ke aku?" tanya Caca bingung.
"Gapapa kamu pakai aja. Kamu pasti kedinginan karena dress itu."
Caca membernarkan ucapan Lucas, ia memang cukup kedinginan dan membiarkan jas pria itu terlampir di bahunya.
Lucas mengajak Caca duduk di kursi panjang yang ada di taman tersebut. Mereka mengobrol ringan dan terkadang merambat ke masa lalu mereka.
"Aku masih trauma dengan penculikan itu sampai sekarang," lirih Caca.
Lucas menatap Caca dan mengelus rambutnya, kebiasaan dulu yang sering ia lakukan ketika Caca sedang berada di dekatnya. "Kakak yakin masa lalu yang kelam itu bisa kamu lupakan dengan perlahan."
Caca tersenyum dan mengangguk. Lucas mendekati wajah Caca dan entah setan apa yang merasuki Caca, mungkin karena terbawa suasana wanita itu malah memejamkan matanya.
__ADS_1
Belum sempat bibir Lucas menyentuh bibir Caca, seseorang datang mencengkram erat baju Lucas dan memukul wajah Lucas dengan kerasnya, sehingga membuat Lucas terjatuh ke tahan dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Apa-apaan kamu! Datang-datang malah memukul ku, hah?!"
"Anda yang apa-apaan! Kenapa anda ingin melecehkan nona Caira?!" teriak Aril tak kalah emosi.
Yah, orang tersebut adalah Aril. Aril datang ke acara ulang tahun Zian, mewakilkan Irsyan yang tidak bisa datang karena Aurora sedang tidak enak badan. Aril pun menyetujuinya.
Saat di pesta tadi Aril begitu emosi mendengar ucapan Lucas yang mengatakan jika Caca merupakan calon istrinya. Tapi Aril mencoba menahannya.
Saat Caca dan Lucas izin untuk pamit pulang, Aril mengikuti mereka dari belakang. Tadi, ia melihat sesuatu yang membuatnya semakin naik pitam dan membuat dirinya harus menghampiri Caca dan Lucas bahkan Aril sampai memukul wajah Lucas.
"Kak Lucas nggak melecehkan aku, Ril!" bela Caca.
"Terus tadi apa? Dia ingin mencium mu, Caca!" sentak Aril. Dia sudah seperti laki-laki yang menangkap basah kekasihnya sedang berselingkuh.
"Terus memangnya kenapa? Apa urusannya sama kamu? Ingat kamu itu hanya asisten ku!" ucap Caca marah.
Hati Aril seketika menjadi begitu sesak mendengar ucapan Caca yang terakhir dan membuat dirinya tersadar jika ia bukan orang yang berarti bagi Caca.
"Maaf atas kelancangan saya, Nona. Kalau begitu saya permisi," ucap Aril dingin. Lalu pergi meninggalkan taman tersebut.
Caca menatap sendu kepergian Aril, ia merutuki diri karena telah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati Aril.
"Maafkan aku, Ril," gumam Caca.
...****************...
Mereka pulang ke Indonesia karena sangat rindu dengan keluarga, para sahabat dan tentunya suasana Indonesia. Setelah cukup beristirahat, mereka berniat mengunjungi rumah Irsyan dan Aurora. Sebelum itu mereka mengunjungi rumah orang tua Aji terlebih dahulu.
"Assalamualaikum," ucap Aji dan Vanilla secara bersamaan.
"Waalaikumussalam. Eh kalian, kok nggak kasih tau sih kalau kalian udah sampai!" ucap Aurora sambil cipika-cipiki dengan Vanilla.
"Iya kami cuma nggak pengen aja nyusahin lo sama Irsyan," balas Vanilla.
"Kalian ini kayak sama siapa aja. Kalian apa kabar?" tanya Aurora.
"Alhamdulillah kami baik. Lo, Irsyan sama anak-anak gimana?" tanya balik Aji.
"Alhamdulilah kami semua juga baik."
Aurora pun menyuruh mereka untuk duduk.
"Ya ampun Nando, kamu sekarang sudah besar aja sayang," ucap Aurora sambil mencubit gemas pipi Nando. Tubuh Nando memang sedikit berisi, apalagi pipinya. Itulah yang membuat Aurora begitu gemas.
"Sekarang kamu sudah masuk TK, nak?" tanya Aurora.
__ADS_1
"Sudah, Ma. Disana Nando punya banyak sekali teman," jawab Nando.
"Oh ya? Wah berarti seru dong!"
"Iya seru sekali, Ma."
Nando memanggil Aurora dan Irsyan dengan sebutan Mama dan Papa. Sama seperti Alina dan Hansel memanggil Aji dan Vanilla dengan sebutan Bunda dan Ayah. Itu merupakan perintah dari orang tua masing-masing.
"Oh ya, Irsyan mana ya?" tanya Aji.
"Hei what's up bro! Lo apa kabar?" ucap Irsyan tiba-tiba datang.
"Gue baik. Lo gimana? Tambah bagus aja tuh badan."
"Ya dong harus. Biar lebih kuat lagi main kuda-kudaan sama istri. Soalnya Aurora suka kurang kalau main sekali," ujar Irsyan. Wajah Aurora langsung memerah antara malu dan kesal mendengar ucapan suaminya.
"Kak Irsyan ih! Ada anak kecil disini!" kesal Vanilla sambil menutup telinga putranya. Ia tak mau otak Nando terkontaminasi oleh ucapan vulgar dari kakak sepupunya itu.
"Tau tuh kakak sepupumu itu dari dulu suka mesum!" sahut Aji memanas-manasi.
Aurora menatap tajam Irsyan, "Apa benar yang dikatakan sama Aji itu?"
"Ya nggak lah sayang. Dia hanya bercanda, mana mungkin aku begitu," kata Irsyan membela diri. "Tenang aja, aku mesumnya cuma hanya sama kamu kok," bisiknya di telinga Aurora membuat tubuh Aurora seketika merinding.
"Sudah-sudah jangan main bisik-bisikan lagi! Pantesan tubuh Aurora kelihatan gemuk, jangan bilang Aurora lagi hamil?" tebak Vanilla.
Aurora terdiam. Dari orang tua, mertua, kakak iparnya dan sekarang Vania pun mengatakan jika dirinya seperti orang yang tengah berbadan dua.
"Nggak lah, aku kan masih minum obat kontrasepsi, Van."
"Oh gitu." Vania manggut-manggut dan Irsyan hanya bisa meminta maaf kepada istrinya di dalam hati.
"Anak-anak kalian mana?" tanya Aji.
"Mereka ada di ruang tengah," jawab Irsyan.
Ia segera memanggil anak-anaknya. Alina dan Hansel yang sedang menonton TV itu langsung berjalan ke ruang tamu.
"Ya ampun anak-anak Bunda. Udah pada besar, ganteng dan cantik. Sini ke Bunda sayang," suruh Vanilla. Alina dan Hansel mengangguk. Lalu mereka berdua, duduk di samping Vanilla.
"Sekarang Abang udah kelas berapa?" tanya Aji.
"Abang sudah kelas 2, Yah," jawab Hansel.
"Rasanya baru kemarin ayah gendong kamu, sekarang udah besar aja."
"Abang, adek. Ajak Nando main-main di ruang tengah," suruh Irsyan dan di angguki oleh kedua anaknya. Mereka bertiga pergi ke ruang tengah meninggalkan para orang tua
__ADS_1
...----------------...
To be continued.