
Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏
...Happy reading☘️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sinar matahari yang mula malu-malu kini tampak bersinar dengan percaya dirinya. Dua sejoli yang berada dalam balutan bed cover itu belum juga bangun dari tidurnya.
Suara gedoran pintu membuat Irsyan terusik dan membuka matanya perlahan.
"Eeughh siapa sih, ganggu aja," ucap Irsyan parau, ia beranjak dari ranjang menuju ke pintu kamar. Sebelum itu Irsyan mengenakan celana boxer nya terlebih dahulu tanpa atasan.
Irsyan membuka pintu kamar, ternyata mamanya lah yang mengetuk pintu tadi. Jihan yang akan memarahi Irsyan, namun segera ia urungkan ketika melihat tanda keganasan menantunya di leher serta dada sang putra.
"Kalian nggak sarapan dulu nak? Kasian loh istri kamu pasti kelaparan karena ulah kamu," ucap Jihan tersenyum sekaligus menggoda putranya itu.
"Kok ulah aku sih Ma?"
"Iya lah ulah kamu yang buat mantu Mama kelelahan sampai masih tidur hingga sekarang dan Mama yakin di tubuh istri kamu juga banyak tanda kayak punya kamu itu," ucap Jihan sambil menunjuk tanda merah keunguan di dada putranya itu menggunakan dagunya. Irsyan mengikuti arah pandangan mamanya, ia langsung tersipu malu dibuatnya.
"Mama kayak nggak tau aja kalau pengantin baru itu kayak gimana," balas Irsyan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Jihan geleng-geleng kepala.
"Ya sudah sekarang kamu bangunin istri kamu, terus aja makan di restoran bawah. Kasihan dia belum sarapan," titah Jihan.
"Iya Ma."
"Oh ya hari Mama sama Papa akan pergi ke kota S, biasalah mau temenin Papa meninjau perusahaan propertinya disana," ucap Jihan memberitahukan putranya.
"Berapa hari Ma?" tanya Irsyan.
"Mungkin tiga hari, nak." Irsyan hanya manggut-manggut mengerti, lalu Jihan pergi dari kamar hotel anak dan mantunya.
Irsyan menutup pintu kamar, lalu kembali menuju ke ranjang untuk membangunkan istrinya.
"Sayang." Irsyan mengelus rambut Aurora.
"Hem?"
"Bangun yuk, udah siang loh ini." Aurora mulai membuka matanya.
"Memangnya sekarang udah jam berapa Mas?" tanya Aurora parau.
"Sudah hampir jam 11 sayang," jawab Irsyan. Dengan perlahan Aurora bangun dari tidurnya.
"Mas udah mandi?"
"Belum, mau mandi bareng?" goda Irsyan menaik turunkan alisnya.
"Nggak! Aku aja yang mandi duluan," tolak Aurora beranjak dari ranjang, namun ia merasakan perih di bagian intinya.
"Akh!"
"Kenapa sayang?" tanya Irsyan khawatir.
"Ini semua karena ulah Mas," kesal Aurora.
"Kok ulah Mas sih?" tanya Irsyan polos.
__ADS_1
"Iya lah itu aku sakit karena perbuatan Mas tadi pagi," sungut Aurora yang greget dengan suaminya yang berlagak pura-pura tidak tau.
"Oh karena itu, ya udah Mas minta maaf. Ayo kita mandi, disuruh sarapan sama Mama tadi."
"Kita mandi?" tanya Aurora ulang.
"Iya lah kita berdua, masa ajak pak Deden!"
Aurora memutar matanya. "Nggak lebih baik mandi sendiri." Aurora membalut tubuhnya dengan selimut, lalu berjalan tertatih-tatih menuju ke kamar.
"Mau aku bantu nggak, yang?"
"Nggak!" teriak Aurora menutup pintu kamar mandi dengan kencang, membuat Irsyan terperanjat.
"Bar-bar banget istri gue, untung cinta," gumamnya sambil mengelus dada.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Aurora tengah bercermin di kaca yang ada di depan wastafel kamar mandi sembari menunggu air di bathtub terisi penuh. Ia melihat di sekitaran leher dan dadanya banyak tanda keganasan dari suaminya yang diam-diam menghanyutkan di atas ranjang.
"Ya ampun banyak banget sih tanda ini." Monolog Aurora, bahkan bagian atas dari bibir sampai bawahnya terasa kebas dan perih akibat ulah suaminya.
"Mas Irsyan benar-benar menghanyutkan, gue kira polos masalah begituan eh ternyata sudah pro banget." Aurora menuju ke bathtub yang sudah penuh, lalu masuk dan berendam disana dengan ditambah aroma terapi lavender.
Cukup 10 menit untuk Aurora berendam, lalu membilas tubuh di shower setelah itu mengenakan handuk kimono dan keluar dari kamar mandi, terlihat di atas ranjang Irsyan tengah memainkan handphone dengan memasang raut wajah kesal. Aurora pun menghampiri suaminya.
"Ayo Mas mandi dulu." Irsyan hanya diam, ia merajuk karena tidak di ajak mandi oleh istrinya.
Aurora menghela napas, lalu duduk di pinggir ranjang tepat di samping Irsyan.
"Kenapa sih Mas? Marah sama aku?" tanya Aurora memegang tangan Irsyan.
"Nggak!"
"Ish nggak peka banget!" kesal Irsyan. Lah Aurora nggak pekanya dimana coba? Benar-benar membingungkan suaminya ini.
"Ya udah aku minta maaf kalau aku ada salah." Walaupun nggak tau salah dimana, Aurora harus tetap meminta maaf.
"Memangnya tau salah kamu apa?"
"Nggak," jawab Aurora menggeleng.
Irsyan menghela napas. "Aku pengen mandi sama kamu, sayang."
"Ya tapi kan itu aku masih perih Mas," bela Aurora, tidak mungkin dihajar lagi ketika masih perih-perihnya, yang ada bisa nggak berjalan seminggu dibuatnya.
"Ya Allah, sayang... Mas itu cuma mau mandi aja sama kamu. Pikiran kamu ini negatif mulu." Irsyan menyentil kening Aurora.
"Aduh, sakit Mas! KDRT nih, padahal baru kemarin nikahnya!" kesal Aurora sambil meringis mengelus keningnya yang memerah akibat sentilan suaminya.
"Ya ampun maafin Mas, sayang. Mas nggak sengaja, sumpah," ucap Irsyan sedikit menyesal sambil mengelus bahkan meniup kening Aurora.
"Sudah gapapa kok Mas, ayo sana mandi dulu."
"Iya bentar, ada yang ingin Mas tanyakan ke kamu dari kemarin," ujar Irsyan dengan tatapan serius.
"Apa Mas?" tanya Aurora penasaran.
"Empat hari sebelum pernikahan kita kamu jalan sama siapa?" tanya Irsyan balik. Aurora coba mengingat-ingat kembali. Tiba-tiba terlintas di pikiran Aurora saat dirinya jalan bersama dengan kakak sepupunya.
__ADS_1
"Oh itu sepupu aku, Mas."
"Seriusan? Itu bukan selingkuhan kamu kan?" Rasanya Aurora ingin menangis mendengarnya.
"Ya Allah, bukan Mas. Itu kakak sepupu aku namanya Raka, anak dari om Ahyar, tapi kemarin waktu kita nikah dia nggak datang soalnya ada pekerjaan di luar kota yang nggak bisa di tinggalkannya," jelas Aurora. Irsyan pun bisa bernafas lega setelah Aurora menjawab pertanyaannya yang 4 hari sudah bersarang di pikirannya.
"Aku kira cowok itu selingkuhan kamu," ucap Irsyan. Aurora berdecak, lalu menangkup pipi Irsyan.
"Mana mungkin aku selingkuhi laki-laki yang aku cintai, jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh dan ragukan aku ya sayang?"
Irsyan serasa melayang ke langit ketujuh dibuatnya. Ia langsung memeluk Aurora.
"Maafin Mas sayang."
"Iya aku maafin Mas, ayo mandi dulu sana," titah Aurora ingin melepaskan pelukan, namun Irsyan malah mengeratkan pelukannya.
"Mau kayak gini dulu."
Aurora pun membiarkannya, namun tidak baik dengan keadaan perutnya yang sedari tadi minta diisi.
"Mas aku laper," ucap Aurora. Irsyan segera melepaskan pelukannya.
"Astaga aku sampai lupa, kalau kita belum sarapan," ujar Irsyan.
"Ini sih namanya makan siang Mas."
"Iya sih. Ya sudah Mas mau mandi dulu."
"Iya sana Mas." Irsyan segera berlari menuju ke kamar mandi.
Kini Aurora dan Irsyan berada di restoran yang ada di bawah hotel. Mereka telah memesan beberapa makanan
"Ayo di makan sayang," titah Irsyan.
"Iya Mas."
"Makan yang banyak, biar ada tenaga untuk nanti malam," ucap Irsyan tanpa beban.
"Maksud Mas apa?" tanya Aurora menatap tajam Irsyan.
"Ya kamu pasti tau lah, sayang." Irsyan menaik turunkan alisnya.
"Dasar mesum! Ini aja masih perih Mas, masa mau di masukin lagi," rengek Aurora.
"Mas bercanda kok sayang, nggak mungkin Mas paksa kamu pas itu kamu masih sakit. Ayo di makan, nggak enak kalau udah dingin."
Aurora mengangguk. "Iya Mas."
Diujung sana ada seorang laki-laki yang tengah emosi melihat Aurora dan Irsyan. Padahal ia sudah lama menyukai Aurora, namun malah Irsyan, laki-laki yang baru beberapa bulan Aurora kenal yang dipilih oleh gadis itu.
"Apa kurangnya aku, Ra? Padahal aku lebih tampan dan kaya dari laki-laki perawat itu," lirih laki-laki itu.
"Aku bakal buat hubungan kalian hancur dan Aurora harus menjadi milikku," gumam pria itu menatap Irsyan dengan tatapan kebencian.
...----------------...
To be continued
__ADS_1