
"Kalian pergilah jalan-jalan, habiskan waktu lajang kalian sebelum menjadi suami-istri," suruh Ranti.
Aril dan Caca saling pandang, lalu Caca kembali menatap kedua orang tuanya yang duduk di hadapannya bersama dengan sang kakek.
"Nggak deh, Mom. Sepertinya Aril sibuk hari ini," ucap Caca.
"Beneran nak?" tanya Ranti ke Aril.
"Nggak kok, Mom."
"Tuh kan, Aril malah bilangnya nggak sibuk. Bilang aja kamu nya yang nggak mau di ajak jalan-jalan dan lebih milih rebahan sambil nonton drakor!" sungut Ranti.
"Mom, nggak gitu ih!" kesal Caca.
"Sudah-sudah. Aril, ajak cucuku jalan-jalan," lerai tuan Ibrahim.
"Baik, Tuan."
"Loh kok manggil aku masih Tuan sih? Kamu tadi manggil Ranti dan Wilson dengan sebutan Mommy sama Daddy. Kakek ngambek aja!" ucap tuan Ibrahim pura-pura kesal.
Aril tersenyum, "Maafkan saya, Kek."
"Nah gitu dong. Kan kakek senang dengarnya."
Aril dan Caca pamit keluar. Aril bertanya kepada Caca, tempat mana yang ingin wanita itu kunjungi dan Caca mengatakan jika dirinya akan mengikuti Aril kemana pria itu mengajaknya pergi.
"Kalau aku ajak ke hotel kamu mau?" tanya Aril.
"Mau ngapain ke hotel?" Caca mulai berpikiran yang tidak-tidak. Caca sudah dewasa, tentu saja ia mengerti hal yang seperti itu.
"Lah katanya tadi mau ikut kemanapun aku mengajakmu," ujar Aril dengan nada meledek.
"Ya tapi nggak ke hotel juga kali! Aku kan jadi over thinking!" protes Caca.
Aril terkekeh kecil, "Aku hanya bercanda. Mau ke pantai?" tawarnya.
"Mau! Aku udah lama banget nggak pergi ke pantai!"
"Oke."
Aril mulai mengendarai mobilnya menuju ke pantai yang cukup terkenal sangat indah di desa X. Letaknya cukup jauh dari hiruk-pikuk kota dan memakan waktu sekitar 2 jam lebih lamanya. Tapi kepenatan di jalan akan langsung menguap begitu saja saat melihat keindahan pantai disana. Aril sudah beberapa kali pergi kesana bersama keluarga dan sahabatnya.
"Ril, masih lama ya sampainya?"
"Lumayan. Kenapa?"
"Aku ngantuk banget," jawab Caca.
"Ya sudah kamu tidur aja. Nanti aku bangunin pas udah sampai."
Caca hanya mengangguk. Matanya terasa berat, tak lama ia pun tertidur. Aril melihat sekilas ke arah Caca dan tersenyum, wanita itu terlihat cantik dan polos ketika tertidur.
Setelah melewati jalan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan.
Aril menatap Caca yang masih tertidur, tangannya terangkat memegang pipi Caca dan menepuknya pelan.
__ADS_1
"Ca, bangun. Kita sudah sampai."
"Em ..." Caca mulai terusik, membuka mata dan menatap Aril. "Kita sudah sampai ya?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.
Aril mengangguk, "Ayok kita turun."
Mereka keluar dari mobil dan disuguhkan dengan pemandangan yang menyejukkan hati serta pikiran. Caca tersentak saat Aril memegang tangannya dan menariknya mendekati pantai.
Caca melepaskan genggaman Aril, berlari kecil menuju ke bibir pantai. Aril hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Caca yang seperti anak kecil itu.
Saat mereka sudah berada di bibir pantai, dengan jahilnya Caca mencipratkan air pantai ke wajah Aril membuat sang empu melotot protes kepadanya.
"Caca!"
"Apa? Kalau berani kejar aku!"
Caca kembali berlari, Aril tertawa kecil kemudian mengejar Caca. Mereka seperti pasangan yang sedang kasmaran. Kaki panjang Aril membuat Caca cepat tertangkap olehnya.
"Jahil banget sih kamu!" Aril menggelitiki pinggang Caca.
"Huwaaaa hahaha... tolong cukup Ril. Aku nggak kuat!" Caca tertawa terbahak-bahak, wajahnya memerah dan air matanya pun sampai keluar.
"Minta maaf nggak?"
"Iya-iya. Aku minta maaf. Maafkan saya yang mulia," ucap Caca. Aril segera menghentikan kegiatannya membuat Caca mengatur napasnya. Aril yang melihat wajah Caca yang mengeluarkan keringat, dengan sigap ia mengambil sapu tangan dari sakunya lalu mengusap keringat di wajah Caca.
'Tolong ya Allah... Kalau begini terus aku bisa terkena penyakit jantung, hiks,' batin Caca dalam hati. Tindakan kecil dari Aril memang suka membuat degupan jantungnya menjadi tidak baik-baik saja.
"Kamu haus?" tanya Aril.
"Iya aku haus banget," jawab Caca.
"Mau!"
"Oke, tunggu sebentar."
Aril pergi meninggalkan Caca sebentar menuju ke salah satu warung yang menjual kelapa muda.
Sementara itu Caca duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan disana sambil mengabadikan foto pemandangan dan pantai yang memiliki air berwarna biru serta memiliki hamparan pasir putih yang bersih.
Tiba-tiba 3 orang laki-laki menghampiri Caca, mereka berniat untuk berkenalan dengan Caca. Tapi Caca malah menolak mereka.
"Cih sombong banget sih mbak bule!" ucap salah satu laki-laki itu sambil mencolek dagu Caca. Caca langsung menghapus dagunya dengan perasaan jijik. 3 orang laki-laki itu menghampiri Caca karena terpana dengan kecantikan wanita blasteran itu.
"Jangan sentuh-sentuh saya! Nanti suami saya bisa marah!" sentak Caca.
Ketiga lelaki itu langsung tertawa mendengar ucapan Caca.
"Suami? Mbaknya lagi berhalusinasi ya? Kamu disini sendirian loh dari tadi!" timpal laki-laki lain.
Ketiga lelaki itu terus memaksa, bahkan sekarang mereka menarik tangan Caca membuat Caca bergetar ketakutan. Bayangan saat dirinya diculik oleh beberapa orang bertubuh tinggi dan besar waktu itu terlintas di benaknya.
"Lepaskan saya! Aril tolongin aku!" teriak Caca sambil terisak, memberontak dan memanggil Aril yang sedang membeli minuman yang tempatnya lumayan jauh darinya, berharap pria itu mendengar teriakannya.
"Jangan teriak-teriak seperti itu, mbak. Kami hanya ingin bersenang-senang denganmu!"
__ADS_1
Caca hanya menggeleng dan terus berteriak minta pertolongan.
Aril membeli 2 buah kelapa, segera membawanya ke Caca. Ia tak ingin wanita itu menunggunya lama. Sesampainya disana, air wajah Aril langsung berubah drastis. Rahangnya mengeras, dadanya bergemuruh dan giginya bergemelatuk melihat calon istrinya diseret paksa oleh 3 laki-laki yang tak dikenalnya. Wajah Aril seperti ingin menelan orang hidup-hidup.
Aril melempar dua buah kelapa tersebut, tak peduli walaupun ia begitu haus yang terpenting sekarang ia harus segera menolong Caca. Aril berlari cepat dan langsung menendang punggung salah satu laki-laki yang menyeret Caca, sehingga laki-laki itu tersungkur ke depan.
"Aril!" seru Caca bernapas lega.
"Apa-apaan ini?!" Marah teman laki-laki yang Aril tendang tadi.
"Kalian yang apa-apaan! Ngapain kalian mengganggu wanita itu! Lepaskan dia, sialan!" timpal Aril yang ikut emosi. Hati Caca tercubit mendengarnya, apa Aril tak menganggap dirinya sebagai calon istrinya?
"Wah, ada pahlawan yang kesiangan nih!" timpal laki-laki satunya lagi.
Laki-laki yang di tendang barusan berdiri dan langsung membalas memukul Aril karena tak terima dengan perbuatan calon suami Caca tadi. Terjadilah aksi baku hantam antara Aril dan ketiga laki-laki itu.
Caca mundur beberapa langkah, ingatkan jika dirinya paling tidak bisa melihat aksi kekerasan seperti sekarang ini. Serangan panik pun menyerangnya, Caca berjongkok sambil menutup mata dan kedua telinganya. Ia tak ingin menyaksikan peristiwa di depannya itu.
Bukannya tak ingin membantu Aril, tapi tubuhnya begitu lemas sampai ia susah untuk mengeluarkan suaranya. Bayang-bayang ketika ia dan Lucas disiksa oleh preman-preman yang menculiknya, hingga membuat mereka hampir sekarat dan meninggalkan trauma yang mendalam.
Tiba-tiba dua tangan kekar memeluk Caca dengan begitu hangat, sambil membisikkan kata-kata yang sedikit menenangkannya.
"Jangan takut, ada aku disini."
Caca mendongakkan kepalanya, "Aril," lirihnya.
"Maafkan aku. Lagi-lagi aku lengah menjagamu," ucap Aril merasa bersalah. Ia merasakan tubuh Caca yang bergetar hebat.
Caca menggelengkan kepalanya, tangannya terulur memegang pipi Aril. "Kamu nggak salah."
"Kalau saja mereka berani melecehkan mu, aku bersumpah akan menghabisi mereka!" geram Aril. Caca tersenyum, ia mengelus rahang Aril yang terlihat mengeras itu.
"Aku gapapa, Ril. Makasih, kamu udah selalu menyelamatkan aku disaat-saat genting seperti tadi dan maaf karena menyelamatkan aku, kamu selalu terluka," ucap Caca lirih. Jempolnya mengelus bibir Aril yang membiru dan sedikit mengeluarkan darah akibat perkelahiannya tadi.
"Luka ini nggak seberapa daripada harus melihatmu ketakutan seperti tadi."
Caca menatap lekat mata Aril, ia melihat mata hitam pekat itu memancarkan ketulusan dan kekhawatiran yang mendalam untuknya.
Kejadian di pantai tadi membuat Caca begitu letih, entah itu tubuh maupun pikirannya. Sambil memandang langit-langit kamar, ia mengingat jauh masa lalu yang membuat dirinya masih trauma hingga sekarang. Sudah banyak tempat Caca kunjungi untuk berobat, baik itu ke psikolog atau melakukan hipnoterapi. Tapi semuanya masih belum menyembuhkan rasa traumanya yang begitu mendalam hingga kejadian itu terkadang masih suka mampir ke dalam mimpinya.
Tubuhnya kembali bergetar jika mengingat kembali kejadian itu. Beruntungnya ia masih bisa menghirup udara segar hingga saat ini, jika sebaliknya terjadi, mungkin Caca tidak akan pernah bisa melihat wajah pria yang sebentar lagi akan menjadi calon suami suaminya itu. Mengingat hal itu membuat Caca menyunggingkan senyumannya. Ia percaya dengan kata-kata 'kalau jodoh, pasti tidak akan kemana.'
Saat Aril berada di ruang kerja kakeknya kemarin, Caca memanggil Naufal untuk bertanya tentang kehidupan Aril selama 8 tahun ia berada di Turki. Fakta mengejutkan yang Caca dengar dari Naufal adalah ternyata hingga detik ini Aril belum pernah berpacaran dan alasannya karena tengah menunggu dirinya. Jantung Caca berdesir dan terharu tentang kesetiaan seorang Aril.
Lamunan Caca langsung buyar ketika dering gawai pintarnya terdengar nyaring di telinganya. Salma menelponnya dan Caca begitu terkejut mendengar ucapan saat Salma mengatakan bahwa Lucas resign dari YH GROUP.
"Kenapa bisa pak Lucas resign dari perusahaan tiba-tiba begitu?"
"Maaf, Nona. Saya tidak mengetahui atas dasar apa pak Lucas resign dari perusahaan. Beliau hanya menitipkan surat pengunduran diri untuk anda, lalu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun," jelas Salma.
Caca menghela napas kasar. Ia begitu marah dan kecewa dengan Lucas yang mengundurkan diri dari perusahaan tanpa memberitahukannya terlebih dahulu. Menurutnya tindakan Lucas begitu kekanak-kanakan, karena pria itu resign secara tiba-tiba tanpa tahu sebab musababnya.
Caca masih membutuhkan Lucas untuk membantunya di perusahaan. Dedikasi pria itu sangatlah berpengaruh besar terhadap perkembangan YH GROUP. Tentu perusahaan tak ingin kehilangan karyawan emasnya begitu saja. Caca akan mencoba merayu Lucas agar menarik ucapannya untuk tidak resign dari YH GROUP. Jika tidak berhasil, ia akan menyuruh Bimo membantunya merayu Lucas.
"Baru saja aku melewati kejadian yang membuat trauma aku datang kembali, eh datang lagi berita kak Lucas resign dari kantor," gumam Caca lirih. Masalah hidupnya tak selesai-selesai, terus menghantam dirinya bertubi-tubi. Caca berharap bisa kuat menghadapinya. Ia pun mengistirahatkan tubuhnya sebentar sebelum malam nanti ia akan bertemu dengan keluarga Aril.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.