GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 169


__ADS_3

Irsyan bertemu dengan kliennya di dalam ruang rapat dan kliennya tersebut membawa putrinya. Sedari tadi putri dari kliennya tersebut selalu mencuri pandang ke arahnya membuat Irsyan risih dengan wanita itu. Tapi ia harus profesional dalam kerja dan menyampingkan urusan lain.


Pesona dari bapak beranak dua itu memang tidak diragukan lagi. Walaupun umurnya sudah 37 tahun, tapi karisma dalam dirinya semakin memancar apalagi perusahaan yang ia kendalikan sekarang semakin maju dan sukses. Tak heran jika banyak bibit-bibit pelakor yang datang ke hubungannya dengan Aurora.


Untung saja Irsyan memiliki iman yang kuat dan tidak mudah goyah untuk berpaling ke wanita lain.


"Maaf pak Irsyan. Saya ada urusan mendadak dan urusan ini akan saya serahkan kepada putri saya," ucap Gibran.


"Tidak apa-apa, Pak. Radit, tolong antarkan pak Gibran." perintah Irsyan kepada asisten pribadinya. Radit merupakan anak dari Aris, ia menggantikan sang ayah yang sudah pensiun.


"Baik Pak."


Radit keluar dari ruang rapat untuk mengantarkan Gibran. Kini hanya Irsyan dan putri dari kliennya yang bernama Ghea.


Ghea tersenyum kemenangan saat papanya sangat pengertian jika dirinya ingin berduaan dengan Irsyan.


"Anda mengerti, Nona?" tanya Irsyan. Sedangkan Ghea hanya diam dan terus menatap ke arah Irsyan. Irsyan yang sedikit kesal karena dihiraukan oleh Ghea itu langsung menaikan satu oktaf suaranya.


"Nona Ghea!"


"Ah iya pak!" ucap Ghea tersentak.


"Anda mengerti kan yang tadi saya jelaskan?" tanya Irsyan.


"Iya saya mengerti pak. Maaf tadi saya sedikit melamun," ucap Ghea dengan tersenyum menggoda ke arah Irsyan.


Irsyan menghela napas pendek, lalu kemudian ia kembali menjelaskan tentang kerja sama mereka.


Di lantai paling bawah HC PROPERTIE'S, Aurora datang bersama Alina. Wanita itu datang sambil membawakan makan siang untuk sang suami.


Banyak karyawan yang menyapa mereka setiap kali berpapasan. Dua orang terpenting di hidup Irsyan itu berjalan ke arah lift dan memencet nomor lift yang menuju ke lantai tempat ruangan Irsyan.


"Siang Bu Aurora. Siang Alina," sapa Sara sopan. Wanita berhijab itu merupakan sekretaris dari Irsyan. Ia tengah menjalin kasih dengan Radit dan sebentar lagi akan menuju ke jenjang pernikahan.


"Siang Sara. Suami saya ada di ruangannya?" tanya Aurora.


"Bapak sedang rapat, Bu. Sebentar lagi beliau akan selesai," jawab Sara.


Aurora mengangguk, "Kalau begitu, saya tunggu di ruangannya saja."


"Baik, Silahkan Bu."


Aurora melangkah ke arah pintu ruangan Irsyan. Sebelum masuk, telinganya mendengar suara sang suami memanggil dirinya dan Alina.


Lantas ia melihat ke sumber suara. Aurora tersenyum, tapi matanya juga melihat ke arah wanita berpakaian ketat yang berjalan di samping suaminya.


"Papa!" Alina berlari ke arah Irsyan. Dengan sigap

__ADS_1


"Kok nggak kasi tau Papa kalau mau kesini, hem? Terus Abang Hans nggak ikut?" tanya Irsyan seraya mencium pipi sang putri.


"Abang sibuk dengan buku-bukunya!" jawab Alina dengan nada kesal. Irsyan hanya tersenyum mendengarnya. Putranya itu memang sangat senang membaca. Karena itu hampir setiap hari setelah pulang bekerja, Irsyan selalu menyempatkan diri untuk membelikan buku untuk Hansel.


Tak heran jika Hansel menjadi anak terpintar dan selalu mendapatkan ranking di kelas, bahkan ia sering mengikuti lomba cerdas cermat yang diselenggarakan entah itu di sekolahnya atau sekolah lain.


Ghea menatap Aurora dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan, apalagi saat melihat Aurora menggunakan hijab. Ia mengira jika istri dari Irsyan lebih cantik, seksi dan modis darinya.


'Cih, cantikan dan seksian aku kemana-mana!' batin Ghea.


Aurora pun merasa risih dengan tatapan Ghea.


"Oh ya sayang. Kenalkan dia klien Mas," ucap Irsyan.


"Saya Ghea." Ghea mengulurkan tangannya pada Aurora dan di balas oleh Aurora.


"Saya Aurora. ISTRI DARI IRSYAN!" balas Aurora sambil menekankan kata-katanya. Ia mengetahui jika wanita yang ada dihadapannya ini memiliki perasaan kepada suaminya.


'Sebentar lagi aku akan membuat Irsyan menceraikan mu dan menggantikan mu menjadi Nyonya Chandra.' Ghea langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Irsyan. Menurutnya Irsyan merupakan tipe pria idealnya, tampan, berkarisma, kaya dan sukses.


Ya, walau dia tahu jika Irsyan sudah memiliki istri dan anak, tapi Ghea tidak peduli akan hal itu. Apa yang ia inginkan harus ia dapatkan bagaimanapun caranya.


"Radit, antarkan Nona Ghea ke bawah," perintah Irsyan.


"Baik, Pak. Mari Nona saya antarkan," ucap Radit.


Irsyan melihat gerak-gerik dan raut wajah yang tidak mengenakan dari istrinya.


"Alina sayang, kamu main-main dulu ya di kamar sana?" ucap Irsyan menunjuk ke arah kamar pribadinya.


"Siap, Pa." Alina berlari menuju ke kamar meninggal sang Mama dan Papa berdua.


"Sayang." Irsyan duduk di samping Aurora. Tapi sayangnya, Aurora tidak membalas bahkan ia tidak menatap ke arah Irsyan.


"Kamu kenapa hem?" tanya Irsyan lembut sambil memeluk tubuh Aurora dari samping.


"Gapapa," jawab Aurora singkat. Irsyan tidak percaya dengan kata 'GAPAPA' dari bibir istrinya. Tangannya mengambil kedua pipi Aurora agar melihat ke arahnya.


"Tapi menurut Mas ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Kenapa sayang? Kamu jujur sama Mas."


"Apa kamu tau, Mas? Wanita tadi itu menyukai kamu!" ucap Aurora kesal.


"Hah? Mana mungkin sayang." Irsyan mengelak jika Ghea menyukainya.


"Menurut kamu iya. Tapi menurut aku sesama wanita dengan dia, pandangan dia ke kamu itu seperti tatapan memuja! Tatapannya sangat berbeda saat menatap kamu dan Radit!" ucap Aurora geram dengan ketidakpekaan suaminya.


Irsyan terdiam. Memang saat di ruang rapat tadi, Ghea selalu mencuri pandang dan mencoba mencari perhatian kepadanya. Oke mulai detik ini, Irsyan harus menjaga jarak dan lebih berhati-hati kepada wanita itu. Ia tak ingin membuat hubungannya dengan Aurora menjadi retak nantinya.

__ADS_1


"Maaf atas ketidakpekaan Mas, sayang. Mulai sekarang, Mas akan lebih menjaga jarak dan berhati-hati lagi. Tolong percaya dengan, Mas. Hari dan semua yang ada di Mas hanya milikmu," ucap Irsyan mencoba menyakinkan Aurora.


Hati Aurora yang tadinya berkobar api cemburu, kini sudah tersiram dengan air dingin dari perkataan suaminya tadi.


"Beneran ya, Mas? Jangan khianati aku," ucap Aurora dengan lirih di akhir ucapannya. Irsyan tersenyum dan membawa Aurora ke dalam dekapannya.


"Sampai matipun, Mas tidak akan pernah mengkhianati kamu. Jika Mas melakukan hal itu, berarti Mas orang paling bodoh di dunia ini." Irsyan mengecup puncak kepala Aurora yang terbalut oleh hijab itu.


"Aku sayang, Mas." Aurora mendongak menatap Irsyan.


"Mas lebih sayang dan cinta kepadamu." Irsyan memajukan wajah dan memiringkan kepalanya ke arah bibir Aurora. Saat bibir mereka akan bertemu, suara lengkingan Alina terdengar menggema dan membuat kegiatan suami-istri itu menjadi gagal total.


"Mama, Papa. Adek lapar!" teriak Alina. Aurora segera memundurkan wajahnya. Sementara Irsyan mendengus kesal. Anak-anaknya itu memang sering menganggu kegiatannya bersama sang istri.


"Sini sayang. Kita makan siang dulu," ucap Aurora. Alina berlari menuju ke sofa.


Aurora membuka satu-persatu kotak makanan yang ia bawa tadi.


"Wah pasti semua makanan buatan Mama enak banget," ujar Irsyan.


"Ya dong, Pa. Kan Mama bikinnya dengan cinta," balas Aurora. Irsyan terkekeh dan mencium pipi Aurora karena gemas.


"Papa!" teriak Alina.


"Kenapa sayang?" tanya Irsyan sedikit terkejut mendengar teriakan putrinya.


"Kok hanya Mama saja yang dicium. Adek juga kan mau!" ucap Alina cemberut. Aurora dan Irsyan terkekeh melihat raut wajah putrinya.


"Uluh uluh. Sini Papa cium Adek." Irsyan mengangkat dan menaruh Alina di atas pangkuan. Lalu ia mencium pipi putrinya dengan gemas.


Aurora tersenyum melihat keakraban ayah dan anak itu. Dengan telaten Aurora menyuapi Irsyan dan Alina secara bergantian. Ia berasa memiliki tiga anak dibuatnya.


"Sayang, nanti kita pergi ke toko buku ya? Semalam Abang Hans nitip komik detektif Conan ke Mas," kata Irsyan.


"Adek juga mau buku Cinderella, Pa!" timpal Alina.


"Iya. Nanti sekalian Papa belikan adek buku dongeng Cinderella."


"Horay! Terima kasih, Papa!" ucap Alina sambil mencium pipi Papanya.


"Mama juga nggak dicium nih?" Aurora pura-pura merajuk. Alina pun mendekatkan wajahnya dan mencium pipi sang Mama membuat senyum manis tersungging di bibir Aurora.


"Sudah, Ma."


"Uh, kamu gemes banget sih." Aurora mencubit gemas pipi sang putri.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2