
Karena merasa tidak kondusif lagi Wawan mengajak Nina pulang dari cafe dan langsung mengantarkan Nina pulang. Bahkan di dalam mobil Wawan yang biasanya banyak bicara, hanya terdiam membuat Nina menjadi takut, apalagi saat melihat ada gurat kecewa dan marah di wajah Wawan.
"Mas ..." panggil Nina membuka pembicaraan.
"Sudah sampai," ucap Wawan dingin memberhentikan mobilnya di depan gerbang rumah Nina.
"Mas, maafin aku," ucap Nina lirih, air mata yang ia tahan sedari tadi turun dengan derasnya. Nina sangat menyesali perbuatannya, karena dibutakan oleh cinta membuat ia melakukan tindakan seperti itu.
Wawan terdiam sebentar, lalu berkata, "Aku kecewa sama kamu, Nin. Aku nggak percaya kamu melakukan hal yang tidak senonoh seperti itu, apalagi kepada sahabatku sendiri."
"Maafin aku Mas, aku menyesal," lirih Nina.
"Jangan minta maaf sama aku, minta maaf sama Aurora karena kamu salahnya itu di dia," balas Wawan dengan pandangan mata lurus ke depan tanpa menatap Nina.
"Baik Mas, secepatnya aku akan minta maaf sama Aurora."
Nina memegang tangan Wawan membuat sang empu menatap ke arahnya. "Maafin aku ya Mas?" Nina menatap Wawan dengan tatapan memelas. Wawan menghela napas panjang, lalu tangannya terulur mengelus kepala Nina tanpa menanggapi ucapan maaf Nina.
"Aku pulang dulu ya?" Nina tersenyum getir, Wawan belum memaafkannya dan ia hanya bisa memaklumi itu sebab kesalahannya cukup besar, apalagi Nina telah menyakiti salah satu orang yang sangat berarti bagi Wawan.
"Iya, Mas hati-hati di jalan." Wawan hanya mengangguk, Nina keluar dari mobil Wawan. Setelah itu Wawan pun pergi dari rumah Nina. Nina hanya bisa menatap sendu kepergian Wawan.
Setelah selesai mandi, Aurora menuju ke nakas samping ranjang untuk mengambil handphone dan ia lupa jika semalam dirinya telah menonaktifkan ponselnya. Aurora mengaktifkan kembali ponselnya, belum dua menit rentetan pesan dan panggilan tak terjawab dari suami, ibu dan para sahabatnya, Aurora merasa bersalah kepada mereka semua terutama pada suaminya.
Tapi yang jadi perhatian disini adalah salah satu chat dari nomor baru dan tak dikenal oleh Aurora, saat ia membuka pesan tersebut membuat mata Aurora seketika terbelalak,
'Aurora, gue Nina. Apa lo ada waktu? Gue mau ajak lo ketemu, gue mau minta maaf secara langsung sama lo, gue nyesel banget udah hampir merusak rumah tangga lo dengan mas Irsyan.'
Begitulah kurang lebih isi dari pesan yang Nina kirim, Aurora yakin yang menyuruh Nina untuk meminta maaf kepadanya itu adalah Wawan. Tapi Aurora tidak segampang itu memaafkan orang seperti Nina, apalagi ia berniat untuk menghancurkan rumah tangganya dengan Irsyan.
Saat Aurora hendak menaruh handphonenya, tiba-tiba saja handphonenya berdering dan nama sang suami yang tertera disana.
"Assalamualaikum sayang. Alhamdulillah akhirnya handphone kamu aktif juga," ucap Irsyan senang bercampur lega ketika teleponnya terlah tersambung.
"Waalaikumsalam Mas, maaf ya semalam aku matikan handphone," sesal Aurora.
"Gapapa sayang, Mas ngerti. Lain kali jangan diulangi lagi, bikin Mas jadi khawatir, rasanya semalam Mas pengen pulang aja."
"Iya maaf Mas." Aurora semakin bersalah pada suaminya.
"Iya Mas maafkan, sekarang kamu lagi ngapain sayang?" tanya Irsyan.
__ADS_1
"Aku baru selesai mandi dan mau pakai baju terus berangkat kerja," jelas Aurora. Aurora menyalakan loud speaker handphonenya dan ditaruh di atas meja, lalu ia pergi ke walk in closet untuk mengambil pakaian kerjanya.
"Pergi ke kantornya di antar sama pak Maman kan? Jangan sampai kamu naik motor!"
"Iya Mas, aku diantar kok sama pak Maman. Mas sudah mandi?" tanya Aurora.
"Sudah sayang, Mas selesai mandinya dari jam enam tadi."
"Bagus lah. Mas sarapan dulu sana," suruh Aurora.
"Iya ini sayang. Kamu juga sarapan dan jangan lupa minum vitamin!" titah Irsyan.
"Iya siap suamiku, kalau gitu aku tutup ya telponnya?"
"Iya sayang, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah selesai berpakaian, Aurora melanjutkan untuk merias wajahnya. Cukup make up yang tipis pada wajahnya, Aurora lanjut mencatok rambutnya, lalu mengeritingkan rambut bagian bawahnya.
"Oke selesai!" Setelah memakai sepatu pantofel nya, Aurora keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan.
...****************...
"Haish sial! Kenapa saat hamil dia makin cantik sih!" ucapnya dengan frustasi. Pria itu terdiam sejenak, memikirkan bagaimana cara agar Aurora bisa menjadi miliknya, terlintas lah ide jahat dipikirkannya.
"Gue harus cepat dapetin lo, Ra. Mungkin dengan cara menyingkirkan suami lo itu buat gue bisa miliki lo," ucap pria itu tersenyum miring. Suara bel apartemen membuyarkan pikiran pria itu, dia pun berjalan ke arah pintu lalu membukanya.
"Rian!" sentak wanita paruh baya pada putranya. Ya pria yang selalu mengirimkan bunga dan hadiah kepada Aurora itu adalah Rian. Pria itu sangat terobsesi pada istri dari Irsyan.
"Mami!" ucap Rian cukup terkejut dengan kedatangan Renata, sang ibu dan Dania. Mereka berdua menerobos masuk ke dalam apartemen Rian.
"Kamu ngapain bentak-bentak calon istri kamu di depan banyak orang hah?" Renata sangat marah pada putranya itu. Rian memutar matanya jengah, ia yakin Dania telah mengadu pada Maminya.
"Karena dia salah Mi!"
"Salah apa coba? Karena dia nggak menyambut tangan wanita yang kamu sukai dari dulu itu, iya?!" tanya Renata dengan sarkas. Rian mencoba menahan emosinya.
"Bukannya gitu Mi."
"Terus apa hah? Mami udah bilang ke kamu dari dulu, lupakan wanita itu! Dia sudah bersuami, Rian!" Renata tak habis pikir dengan jalan pikiran putranya, bisa-bisanya menyukai wanita yang telah bersuami.
__ADS_1
Renata dan suaminya yang mana adalah ayah dari Rian sudah menasehati Rian mungkin ribuan kali, tapi tetap saja Rian tidak ingin menghilangkan perasaannya pada Aurora. Bahkan Rian dijodohkan dengan Dania, tapi pria masih belum bisa menerima sekaligus mencintai Dania dan masih memikirkan Aurora.
"Tapi Rian cinta mati dengan Aurora, Mi!" balas Rian. Dania menangis mendengar ucapan tunangannya itu dan Renata langsung menenangkannya.
"Jangan gila kamu Rian, kamu itu sudah punya tunangan!" bentak Renata.
"Aku dan Dania bertunangan itu karena dijodohkan Mi, bukan saling cinta!" pungkas Rian.
"Aku bisa aja sekarang membatalkan pertunangan kami!" sambungnya membuat Renata semakin geram dan Dania semakin nangis sesenggukan.
"Kamu ini tidak bisa dibilang ya!" ucap Renata setelah melayangkan tamparannya ada wajah Rian.
"Terserah Mami aja, aku nggak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Aurora," ujar Rian dengan dingin.
Renata berdecak, "Apa bagusnya sih dari wanita itu? Liat Dania, dia cantik, pintar lulusan dari luar negeri yang terpenting dia dari keluarga yang setara dengan kita!" tutur Renata membanding-bandingkan Dania dengan Aurora.
"Perbedaan mereka sangat jauh Mi, Aurora bukan hanya cantik diluar, tapi hatinya juga. Sedangkan Dania, dia memang cantik dan berilmu tapi attitude sangat zonk! Dia itu nggak cocok jadi istri dan ibu dari anak-anakku aku nanti!" sarkas Rian berapi-api.
"Oh Mami tau, pasti wanita itu pakai susuk atau udah pelet kamu ya? Makanya kamu sangat tergila-gila padanya," tuduh Renata pada Aurora.
"Iya sepertinya begitu Mi, kalau bisa Mami labrak aja tu wanita biar jangan berani menampakkan diri lagi di depan Rian!" sahut Dania. Rian menatap mata Dania dengan tatapan mengintimidasi.
"Kalau Mami dan kamu berani sentuh Aurora seujung kuku, aku nggak akan segan-segan berbuat kasar pada kalian berdua, walaupun itu Mami aku sendiri!"
Setelah mengatakan itu, Rian mengambil jaket, dompet dan kunci motornya, lalu keluar dari apartemennya tanpa berbalik menatap Renata yang terus memanggilnya.
Rian sepertinya membutuhkan hiburan, ia pun pergi ke bar dan sebelumnya ia menelepon sahabat-sahabatnya untuk menemani dirinya.
"Woy bos!" sapa Vito dan diikuti Deo serta Evan.
"Tumben nih ngajak minum? Lagi galau ya?" tanya Deo.
"Ya begitulah," jawab Rian seadanya.
"Mau gue sewakan wanita disini buat hangatkan ranjang lo bos? Biar galau lo sedikit hilang bos," tawar Vito. Mereka berempat mempunyai kebiasaan yang tak jauh berbeda, mereka suka bergonta-ganti wanita.
"Nggak usah, gue lagi males!" tolak Rian sambil menyesap Vodka miliknya.
"Tumben banget lo nolak, biasanya paling cepet!" celetuk Evan.
"Entah gue lagi nggak nafsu aja malam ini," jelas Rian. Ketiga sahabatnya hanya bisa memakluminya.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.