
Sore harinya, seperti janji kemarin Aril, Caca, Naufal dan Dennis akan pergi kerja kelompok di rumah Lala. Kini mereka sudah berada disana, Naufal yang malas-malasan hanya sebagai pendengar saja terkadang sesekali ia memainkan handphone entah siapa yang temannya berbagi pesan.
"Naufal lo yang serius dong, jangan main hp terus!" sentak Lala kesal. Aril pun sampai menatap sahabatnya itu dengan tatapan horor.
"Ck, iya-iya!" Naufal menaruh handphonenya si atas meja dan kembali menyimak teman-temannya itu.
Caca menatap dalam Aril yang tengah menjelaskan itu, Aril menjadi sosok laki-laki idamannya bahkan para siswi di sekolah. Bagaimana tidak, laki-laki itu merupakan ketua tim basket, anggota ekstra kurikuler taekwondo, selalu menjadi rangking 1 di kelas dan sering mengikuti olimpiade matematika, itulah yang membuat Caca dan siswi lainnya mengidolakan Aril.
"Besok yang jadi moderator siapa?" tanya Dennis.
"Gue!" sahut Caca.
"Oke Caca yang jadi moderator nya," ucap Lala.
Pukul setengah tujuh malam barulah tugas mereka selesai, sebelum pulang mereka melaksanakan ibadah sholat magrib berjamaah di rumah Lala bersama dengan kedua orang tua Lala. Yang menjadi imam sholat adalah ayah dari Lala.
"Lo pulang dijemput pak Udin, Ca?" tanya Lala.
"Gue pulangnya bareng Aril, ya kan Ril?" ucap Caca sambil memeluk lengan Aril membuat ketiga temannya itu menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan menelisik.
"Kenapa?" tanya Aril bingung dengan tatapan aneh dari teman-temannya.
"Kalian pacaran ya?" tanya Naufal selidik.
"Menurut lo?" tanya balik Aril. Naufal langsung menggeleng cepat.
"Enggak, karena yang gue tau itu lo nggak pernah yang namanya mau pacaran," ucap Naufal polos.
"Nah itu lo tau."
"Oh berarti kalian ini terjebak friend zone nih!" celetuk Dennis sambil tertawa dan langsung mendapat tatapan horor dari keempat temannya itu, seketika laki-laki itu menghentikan tawanya dan mengangkat kedua jarinya yang berarti tanda damai.
"La, gue pulang dulu," pamit Aril pada Lala.
"Ya Ril, anterin sahabat gue sampai rumahnya tanpa lecet sedikit apapun!" perintah Lala.
"Hem."
Aril menaiki motornya dan diikuti oleh Caca di belakang, tak lupa gadis itu memasang helm di kepalanya, kini ia sudah bisa memasang helm sendiri dan itu merupakan salah satu pencapaian bagi Caca.
Aril melajukan dengan kecepatan sedang, hanya keheningan yang tercipta di atas motor, tapi keheningan itu tak berlangsung lama saat Aril melirik kaca spion motornya.
'Sial!' umpatnya dalam hati, Aril melihat sekitar 10 motor yang mengikutinya dari belakang, ia yakin mereka semua itu adalah musuhnya. Musuh yang tak terima dengan kekalahan saat bertanding bola basket melawan Aril dan timnya.
"Caca pegangan yang kuat!" teriak Aril agar Caca mendengarnya.
"Ini gue udah pegangan Ril," balas Caca yang memang sudah berpegangan pada perut Aril.
Aril mengeratkan tangan Caca pada perutnya, lalu kemudian ia menambah laju kendaraannya dengan kecepatan tinggi membuat Caca menjadi panik.
"Ril jangan ngebut-ngebut gitu!" peringat Caca.
Caca sempat melihat ke arah belakang dan matanya langsung membulat sempurna karena banyaknya motor yang sedang mengikuti mereka.
__ADS_1
"Ril, mereka itu ngikutin kita ya?" pekik Caca ketakutan.
"Udah lo tenang aja Ca," ucap Aril mencoba menenangkan Caca.
Motor Aril terus melaju ke arah jalanan yang sepi, ia akan menuntaskan para sampah itu. Aril bahkan bisa melawan 15 orang sendirian, apalagi itu hanya 10 orang? Ia anggap mereka hanya seekor semut yang siap di injak sampai mati. Aril memang sebelas dua belas dengan sang kakak, Aurora.
Motor Aril kini sudah terkepung oleh 10 motor sekaligus 10 orang tadi, Aril hanya tersenyum sinis ke arah mereka. Ia turun diikuti Caca yang sudah panik sedari tadi.
Aril berbalik menghadap Caca, ia tau gadis itu sedang ketakutan. Ia memegang kedua bahu Caca dan berkata, "Relax Ca, jangan takut. Ada gue disini, mereka nggak bakal berani apa-apakan lo." Aril menenangkan Caca yang sudah berkaca-kaca.
"Gue takut Ril," cicit Caca.
"Lo harus percaya sama gue, oke?"
"Woy disini bukan tempat untuk tebar kemesraan!" teriak salah satu dari 10 orang itu.
Aril menurunkan kedua tangannya dari bahu Caca dan membawa Caca ke belakang tubuhnya untuk berlindung.
"Jangan di buka helmnya Ca!" perintah Aril. Ia hanya tak mau Caca menjadi sasaran. Aril membuka helm dan menaruh di atas tanki motornya.
"Lo pasti udah tau kan kalau kita mau apa sama lo sang Cheetah dari SMA 1 Harapan Bangsa?" tanya Viko tersenyum menyeringai. Cheetah adalah julukan untuk Aril, karena kelincahan dan kecepatannya dalam bermain basket sudah seperti hewan yang biasanya hidup di Padang Savana itu.
Aril hanya diam dengan wajah tenang dan datarnya.
"Oh jadi dia itu pacar lo? Akhirnya kita tau juga kelemahan lo." Viko menelisik gadis yang bersembunyi di belakang tubuh tegap Aril. Mereka semua adalah tim basket dari SMK 3 Jayawijaya sekaligus geng motor bernama The King.
"Cih! Mana ketua lo?" tanya Aril dengan wajah datarnya.
"Lo nggak perlu tau dan nggak usah banyak bacot, kita disini untuk menghabisi lo dan tentunya bermain dengan gadis yang di belakang lo itu, sepertinya cantik," ucap Viko mengejek Aril.
"Habisi dia!" teriak Viko memerintahkan kepada teman-temannya untuk menghabisi Aril.
Salah satu temannya maju dengan perasaan was-was karena dia tau jika Aril sangat jago dalam berkelahi. Setelah sampai di hadapan Aril, ia melayangkan pukulan namun dengan cepat Aril menangkis dan langsung menendang kuat perutnya, hingga sang empu terlempar ke belakang dan jatuh tersungkur ke tanah.
Aril tersenyum menyeringai, ia menyugar rambutnya ke belakang dan merenggangkan otot-ototnya siap membantai dan membasmi kuman-kuman di hadapannya ini. Aril maju dan memukul, menendang satu persatu anggota The King sampai tumbang.
Caca yang melihat perkelahian itu langsung terduduk lemas, ia lemah jika di hadapan dengan adegan perkelahian dan kekerasan seperti itu. Wajahnya ia tutup kuat dengan kedua telapak tangannya, air matanya luruh begitu deras saat melihat kejadian pemukulan ini. Kejadian ini membuat Caca mengingat pada kejadian yang menusuk hatinya, jantungnya berdebar kencang bayangan dulu kembali terbayang-bayang di pikirannya.
Caca memukul-mukul kepalanya yang sudah terlepas dari helm itu, ia ingin sekali bayangan masa lalu itu pergi dari pikirannya.
'Gimana kabar kak Lucas disana?' batin Caca menangis histeris.
Aril dengan sekuat tenaga melawan beberapa orang yang memukulnya dengan bertubi-tubi, mereka yang tadinya berjumlah 10 orang kini hanya 4 orang yang bertahan, membuat Aril bersemangat untuk membantai 4 orang itu termasuk Viko.
BUGH!
BUGH!
KREK!
Aril menarik tangan salah satu dari mereka yang bernama Mike, ia memelintir tangan lelaki itu sampai terdengar bunyi retakan tulang yang sangat jelas masuk ke indra pendengaran teman-temannya.
Ketiga lelaki yang tersisa melangkah mundur saat merasakan aura kematian dari Aril. Aril segera maju dan tidak akan memberi jalan pulang kepada orang-orang yang berani terhadapnya.
__ADS_1
Aril berlari dan lompat cukup tinggi lalu melayangkan tendangan kuatnya telat mengenai wajah Viko, hingga lelaki itu jatuh tersungkur ke tanah yang membuat hidungnya mengeluarkan darah segar.
Lagi-lagi Aril mengeluarkan senyum smirknya kepada anggota The King yang masih tersisa. Ya meski ia juga mendapatkan luka lebam di wajahnya namun ia anggap itu hal yang wajar.
Alamat ia harus menginap di rumah kakaknya malam ini, kalau pulang ke rumah bisa-bisa sang ibu bisa menceramahi dirinya dua kali dua puluh empat jam lamanya, saat nanti sang ibu melihat wajah Aril yang penuh dengan luka.
Telunjuk Aril mengambang di udara menunjuk mereka berdua secara bergantian untuk maju melawannya, seperti tak ada lelahnya Aril malah tambah bersemangat membantai habis mereka. Inilah akibat mengganggu ketenangan seorang Aril, apapun ia tuntaskan sampai musuh benar-benar tunduk dan habis di tangannya.
"Ayo maju kalian, jangan jadi pengecut!"
Kedua orang itu seketika ketakutan tanpa aba-aba mereka langsung berlutut di hadapan Aril lalu meminta ampun dan memohon agar Aril melepaskan mereka.
Aril tersenyum miring, "Nggak ada kata ampun untuk kalian, kalau sudah mencari masalah, kalian hanya bisa memilih rumah sakit atau kuburan?" ucapnya dengan wajah yang kembali datar.
Aril terlihat manja dan cerewet di depan keluarganya, di depan teman-temannya terutama di sekolah ia terlihat cuek dan dingin, sedangkan di depan para musuhnya Aril terlihat sangat menakutkan seperti malaikat maut yang akan segera merenggut nyawa mereka.
Kedua anggota The King yang masih tersisa itu hanya bisa menelan salivanya susah payah dengan keadaan tubuh yang bergetar hebat, jantung mereka seperti akan keluar dari tempatnya saat mendengar penuturan dari Aril tadi.
Aril maju ingin melayangkan pukulannya ke salah satu dari dua orang itu, tapi di hentikan oleh suara lirih dan gemetar dari gadis yang ada di belakangnya.
"Aril sudah!"
Keadaan Caca masih lemas dengan kaki yang gemetar menopang tubuhnya yang sudah seperti tidak bertulang, tadi ia memaksakan diri untuk berdiri ketika Aril akan menghajar orang-orang itu lagi.
Aril segera berlari menghampiri Caca dan menahan tubuh gadis itu, lalu beralih menatap kedua anggota The King yang masih tersisa itu dengan tatapan tajam.
"Urusan kita belum selesai! Sampaikan salam gue kepada ketua kalian, jangan jadi pengecut yang hanya berani menyuruh anak buahnya untuk menyerang gue!"
Setelah mengatakan itu Aril memapah tubuh Caca ke motor dan mendudukkannya disana. Aril merapikan rambut Caca yang berantakan terlihat wajah gadis itu penuh bekas air mata gara-gara menangis tadi.
"Hei kok lo menangis? Yang berantem kan gue," tanya Aril heran. Caca kembali terisak sambil menunduk.
"Liat gue Ca!" suruh Aril. Caca menggeleng mencoba meredakan tangisannya, tapi tak bisa air matanya terus mengalir dengan deras seperti ada bubuk cabai di matanya.
Refleks Aril memeluk tubuh Caca untuk menenangkan gadis itu dan berbagai pertanyaan muncul dibenaknya, apa Caca menangis karena mengkhawatirkannya atau gadis itu takut melihat kekerasan? Dan lain sebagainya, banyak pertanyaan yang bersarang di otak Aril.
Mendapat pelukan dari Aril membuat Caca semakin terisak dan Aril pun sampai panik di buatnya.
"Lo kenapa Ca?" tanya Aril dengan lembut sambil memegang kedua bahu Caca. Caca cukup tertegun mendengar suara lembut dari Aril, ini pertama kalinya laki-laki itu berucap dengan nada lembut padanya.
"Gue cuma takut lo kenapa-kenapa Ril," jawab Caca yang tak sepenuhnya jujur.
"Gue gapapa Ca, lo nggak perlu khawatir," ucap Aril meyakinkan Caca.
"Tapi muka lo penuh luka lebam Ril," lirih Caca sambil memegang wajah Aril.
"Ini gapapa kok hanya luka lebam, 3 hari lagi pasti sembuh," balas Aril santai.
"Iya gue tau, ayo kita pulang nanti sampai dirumah gue, gue obati ya?"
"Nggak usah Ca, nanti gue bisa obati sendiri. Lebih baik kita pulang sekarang, takut nyokap lo nyariin," ucap Aril dan Caca hanya mengangguk. Aril memasangkan helm pada Caca kemudian pada dirinya juga. Setelah itu mereka kembali melajukan motornya menuju ke rumah Caca.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.