
Kiran terusik dari tidurnya karena merasakan perutnya seperti sedang dielus, perlahan ia mulai membuka matanya. Sinar lampu yang terang langsung menusuk ke dalam indra penglihatannya.
"Eeuugghh." Kiran merenggangkan otot-otot tangannya dengan brutal.
Bugh!
"Awwwshh," ringis korban dari kebrutalan Kiran.
Kiran yang kaget langsung membuka matanya lebar-lebar, ia menoleh kesamping dimana suara tadi berasal.
"Andre! Lo gapapa?" pekik Kiran hingga suaranya menggema di ruang rawat Andre itu.
Wanita itu hendak mendudukkan dirinya, Nina tangan kekar dari Andre menahannya. Hati Kiran merasa lega, melihat suaminya sudah sadar.
"Aku nggak apa-apa, kayak gini aja dulu sayang," ucap Andre lalu mendekatkan wajahnya pada ceruk leher Kiran dan melingkarkan tangannya pada perut Kiran yang masih datar itu.
Kiran menjadi kaku, ia tak bergerak seperti patung. Tatapannya kosong sambil menatap langit-langit ruangan rumah sakit.
Tangan Andre diturunkan oleh Kiran dari perutnya.
Terdengar helaan napas berat dari pria itu sampai menerpa kulit leher Kiran, "Aku belum dimaafin ya?" tanya Andre dengan nada seperti akan menangis.
Kiran sedang berpikir, semalam bukannya dia tidur di pelukan papinya? Lalu kenapa bisa dia berada di atas ranjang rawat bersama Andre disampingnya? Terus sekarang dimana semua orang yang menunggu di ruangan tadi? Apa ini hanya mimpi?
"Ki?"
"Kiran?"
Andre terus memanggil nama wanita itu, namun masih tak ada jawaban. Andre mengulum bibirnya, tak terasa setetes air mata jatuh, ternyata Kiran masih marah dan membencinya.
"Eh?" Kiran tersadar dari lamunannya ketika merasakan kulit lehernya yang terasa basah. Ia memiringkan badannya menghadap Andre.
"Lo kenapa nangis?" tanya Kiran heran.
Andre tak berani menjawab, ia sedikit menjauhkan tubuhnya memberi jarak agar tidak bersentuhan dengan Kiran.
"Maaf udah lancang nyentuh kamu, aku nggak akan nyentuh kamu lagi. Tapi kamu jangan tambah benci sama aku." Andre berusaha menahan mati-matian isakan nya.
"Kalau kamu nggak mau dekat-dekat sama aku, aku bisa turun dari sini sekarang," sambungnya hendak turun dari ranjang rawatnya namun suara Kiran menghentikannya.
"Kenapa mau turun? Lo yang sakit bukan gue!" sentak Kiran hingga Andre kembali menidurkan tubuhnya dengan bibir yang melengkung ke bawah.
"Nggak usah nangis, cengeng banget sih jadi cowok!" ucap Kiran memarahi Andre yang sudah terisak.
"Iya, tapi jangan dimarahin." Andre berusaha menghentikan tangisannya.
"Baru digituin doang udah nangis, gimana kalau cerai beneran, lo laki bukan sih!" sarkas Kiran lalu bangun dari tidurnya, ia mendudukkan dirinya dan menatap Andre dibawahnya yang tubuhnya kini bergetar hebat karena menahan isakan.
"Kiran beneran mau cerai beneran?" lirih Andre tak berani menatap Kiran.
"IYA!" Kiran meninggikan suaranya hingga Andre terjengkit kaget.
"Hiks, hiks, maaf." Andre semakin sesenggukan, tak bisa menahan tangisannya lagi.
"Bosen gue dengernya nggak ada kata-kata lain kah selain kata maaf, maaf dan maaf!" sindir Kiran menatap tajam suaminya.
Andre diam, tak berani menjawab.
__ADS_1
"JAWAB!" teriak Kiran hingga Andre kembali tersentak kaget, jantung pria itu mungkin sudah bertukar tempat dengan ginjalnya.
"Ih Kiran jangan teriak-teriak, akunya kaget," protes Andre merengek sambil mengelus dadanya
Kiran ingin meledakkan tawanya melihat Andre yang notabenenya seorang ketua geng motor ketakutan. Seru juga ternyata memarahi pria brengsek ini, pikir Kiran.
"Nggak usah cengeng deh, harusnya gue yang nangis bukan lo!"
"Maaf." lagi Andre meminta maaf.
Kiran berdecak kesal, "Ck, nggak ada kata lain apa, selain kata maaf!"
"I love you, Kiran," ucap Andre cepat.
Bibir Kiran berkedut ingin tersenyum, pipinya kini sudah memerah. 'Huh! Laki-laki brengsek ini memang nggak tau diri,' batinnya dengan jantung yang berdegup kencang.
"Dih sorry ya, lo terlambat entar pacar gue marah lo ngucapin kata itu buat gue." Tentu saja Kiran bercanda mengatakan itu, ia hanya ingin membuat Andre cemburu. Kiran beranjak turun dari ranjang rawat Andre.
Andre terpaku dengan pernyataan Kiran barusan. Namun ia tak berani bersuara untuk menanyakan apa maksud dari ucapan wanita itu.
Pria itu hanya menatap punggung Kiran yang keluar dari ruangannya. Andre menarik napas berat, "Secepatnya itu kah lo mendapatkan pengganti gue, Ki? Apa nggak ada kesempatan kedua buat gue?" Monolognya sambil mengatur posisi tidurnya menatap langit-langit kamar rumah sakit.
Andre mengusap air matanya yang kembali keluar, "Kenapa gue nggak mati aja? Kiran pasti tersiksa gara-gara gue. Apa gue harus ikhlas sekarang Kiran sama yang lain? Tapi gue nggak bisa, gue nggak rela Kiran sama yang lain," tanyanya kembali pada dirinya sendiri, dadanya kembali sesak bila Kiran bahagia bukan bersama dirinya.
Tak lama suara pintu yang di dorong dari luar terdengar hingga membuat Andre menengok. Mata pria itu hampir keluar dari tempatnya.
Disana Kiran berjalan ke arahnya sambil membawa nampan berisi makanan rumah sakit, wanita itu berjalan memasang wajah datar.
"Mami sama yang lain kemana?" tanya Kiran seraya menaruh nampan tadi di atas nakas samping ranjang rawat Andre.
"15 menit yang lalu sebelum kamu bangun mereka pamit pulang. Mami nggak tega bangunin kamu, akhirnya kamu di tiduri di atas brankar bareng aku," jelas Andre dan Kiran hanya ber-oh ria.
"Belum, masih kenyang," jawab Andre.
"Habis makan apa emang?" tanya Kiran lagi.
"Nggak makan apa-apa, cuman masih kenyang aja."
"Oh ya udah, rencananya tadi gue mau suapi lo, tapi lo-nya udah kenyang. Jadi kalau gitu gue balik dulu, lo cepet sembuh, nggak usah aneh-aneh kalau nanti kita udah pisah," ujar Kiran dengan santai. Ia berdiri dari duduknya namun Andre mencekal tangannya.
Kiran menatap tangan Andre yang menggenggam tangannya. Andre yang melihat Kiran yang risih langsung melepaskan genggamannya.
"Aku mau makan sekarang," ucap Andre menatap Kiran lekat.
"Tadi katanya udah kenyang?"
"Iya itu tadi, sekarang aku laper."
"Tuh makanannya udah gue ambilin, lo bisa makan sendiri kan?" tanya Kiran menaikkan sebelah alisnya.
Andre menggeleng lalu mengangkat kedua tangannya yang dibalut perban, "Nggak bisa," ucapnya pelan hampir seperti berbisik.
"Mau gue suapi?"
Andre secepat kilat menoleh ke arah Kiran sambil kepalanya naik turun mengangguk seperti anak kecil.
"Nggak usah masang wajah sok imut gitu, nggak ada imut-imutnya sama sekali!" ucap Kiran sinis kemudian duduk di kursi samping brankar Andre.
__ADS_1
"Duduk, baring mulu. Nggak ada tulang lo?" sewot Kiran.
Kiran ingin tertawa lagi saat Andre dengan cepat bangun, laki-laki itu ingin mengambil remote control untuk menaikkan sandaran kepala ranjang rawatnya.
"Mau ngapain?" tanya Kiran ketika Andre bergerak grasak-grusuk ingin mengambil remote tersebut di atas nakas.
"Mau naikin sandaran kepala," jawab Andre lalu kembali pada aktivitas sulitnya.
"Diem. Biar gue aja," ujar Kiran beranjak dari kursi lalu berjalan mengitari ranjang rawat untuk mengambil remote control di atas nakas samping kiri pria itu.
"Segi mana naikin nya?" tanya Kiran menekan tombol bagian atas pada remote tersebut.
"Udah segini aja."
Kiran menghentikan pergerakan jarinya saat dirasa Andre nyaman dengan posisi punggungnya yang bersandar pada ranjang rawatnya.
Ibu hamil itu kembali ke tempat semula, ia menyendok full nasi beserta lauknya kemudian mengarahkan sendok tersebut ke Andre.
Andre ingin memprotes karena nasinya kebanyakan, namun melihat wajah datar Kiran membuat nyalinya menciut, mau tak ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk memudahkan nasi tersebut masuk ke dalam mulutnya.
"Sebentar lagi pengacara gue datang bawakan surat cerai ke rumah lo," ucap Kiran sambil mengaduk makanan tanpa menatap wajah Andre.
"Uhuukk, uhuukk!" Andre terbatuk saat mendengar topik sensitif dari mulut ibu hamil itu.
Kiran seketika menoleh, tangannya meraih gelas air lalu memberikannya pada Andre, "Pelan-pelan makanya, gue nggak ambil makanan lo."
"Bukan itu, kamu bahas nya perceraian mulu. Aku nggak akan pernah tanda tangani surat cerai itu sampai kapanpun!" ucap Andre mulai kesal.
"Ya terserah, tapi gue tetap ingin kita bercerai."
"Anak kita aja belum lahir, kamu nggak mikir kalau kita udah cerai nanti, terus dia nggak punya orang tua lengkap. Gimana perasaan dia nantinya?"
"Ya gue nikah lagi lah, ya kali gue menjanda terus," sembur Kiran menatap remeh Andre.
"Ish nggak boleh," rengek Andre menahan kesalnya menghadapi pendirian ibu hamil di hadapannya ini.
"Apaan yang nggak boleh? Kan lo sama gue udah mau cerai, jadi suka-suka gue dong mau nikah lagi atau nggak!" balas Kiran sewot.
"Nggak, nggak, nggak boleh pokoknya! Nggak ada cerai-cerai, nggak ada pisah-pisah dan nggak ada nikah lagi, titik nggak pake koma!" final Andre.
Kiran memutar matanya jengah, "Boleh pake koma!" balasnya mengejek.
"Kiran aku nggak ma-- aammm ..." Andre melebarkan matanya saat satu sendok makanan disodorkan Kiran masuk sempurna ke dalam mulutnya hingga penuh. Ia mengunyahnya sampai kesusahan.
"Bacot deh!" sarkas Kiran. Ia menaruh piring makanan di pangkuan Andre membuat pria itu menatapnya bingung. Kiran berdiri dari kursi dan berjalan menuju ke pintu.
"Mau kemana?" tanya Andre takut Kiran meninggalkannya. Apa tadi dirinya salah bicara?
"Mau beli minum, tenggorokan gue kering ladenin bacotan lo!"
"Padahal dia yang sedari tadi ngebacot," ucap Andre pelan.
"Gue denger, Andre," ucap Kiran berbalik dan menatap garang Andre. Pria itu mendadak menutup mulutnya rapat-rapat.
Kiran keluar dari dalam ruang rawat Andre, ia tersenyum sebentar sebelum melangkahkan kakinya menuju ke kantin rumah sakit.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.