
Caca keluar dari ruang meeting dengan wajah sumringah. Diikuti Aril, ia begitu bangga dengan cara Caca mengatasi omongan orang-orang yang terang-terangan tidak menyukainya tadi. Aril pikir dirinya tak perlu terlalu mengkhawatirkan Caca, ternyata wanita itu bisa mengatasinya sendiri.
Aril kembali melampirkan blazer yang ia bawa ke bahu Caca. Caca menatap ke arah Aril dan tersenyum. Mereka berjalan beriringan menuju ke ruang kerja Caca.
Lala tengah mencari letak ruang meeting, ia janjian akan bertemu dengan Lucas. Tapi saat matanya sibuk mencari tulisan meeting room, tak sengaja ia melihat orang yang sangat mirip dengan Caca.
"Eh, Ca--" Saat Lala akan memanggil Caca, tiba-tiba dari arah belakangnya, seseorang menutup mata Lala membuat wanita itu begitu kesal.
"Siapa sih? Berani banget nutup mata gue!" kesal Lala. Orang yang menutup matanya tadi, melepaskan tangannya dari mata Lala. Lalu ia membalikkan badan Lala untuk menghadapinya.
Pupil mata Lala seketika membesar saat melihat pria yang menutup matanya. Pria itu sangat tampan, walau wajahnya begitu dingin dan kaku membuat dirinya terpesona. Menurut Lala, pria itu sangat cocok menjadi karakter animasinya.
Setelah Caca dan Aril menghilang dari pandangan mata, Elang pun melepaskan tangannya dari bahu Lala. "Maaf. Saya telah membuat kesalahan."
"Eh tunggu!" suruh Lala. Elang menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menghadap Lala.
"Siapa namamu? Apakah kamu bekerja disini juga?" tanya Lala.
"Oh ya. Saya bekerja disini sebagai karyawan magang di divisi desain. Saya Lala--" Belum selesai Lala berbicara, Elang malah pergi meninggalkannya.
"Heh mau kemana? Padahal gue belum tau nama tu cowok," keluh Lala menghentak-hentakan kakinya. Sedetik kemudian, ia senyum-senyum tak jelas.
"Kenapa cowok tadi sangat keren. Ya... walaupun nggak berperasaan dan gue suka dengan cowok kayak itu. Sama dengan karakter cowok dari sebuah komik," ucapnya.
Caca berdiri di depan meja kerjanya dan menatap Aril. "Aku tadi tidak salah bicara kan?" tanyanya.
"Anda melakukannya dengan baik, Nona," jawab Aril.
"Jika Anda ingin sepenuhnya mengendalikan YH GROUP, Anda harus membuat para pemegang saham diam. Jadi, meyelesaikan semua krisis hipotek YH GROUP di luar negeri adalah hal utama yang perlu anda lakukan disini," ujar Aril. Caca lesu mendengar ucapan Aril.
"Apa aku bisa mengatasi itu, Ril?" tanya Caca lirih.
"Saya percaya anda mengatasi masalah itu. Sekarang minta sekretaris untuk mengirim semua file tentang hipotek luar negeri ke ruangan Anda." Aril memegang kedua bahu Caca dan memapahnya menuju ke kursi.
Aril mengambil telepon kantor dan memencet 3 digit nomor, lalu memberikannya kepada Caca. Dengan ragu Caca mengambil telepon tersebut, menempelkan telepon tersebut ke telinganya.
"Salma. Antarkan saya semua informasi tentang pelanggan kontrak YH GROUP mengenai hipotek luar negeri ke ruangan saya, sekarang!" perintah Caca dengan tegas.
"Baik, Nona. Segera akan saya antarkan."
Dengan wajah memerah menahan emosi Arsal memasuki ruang kerjanya diikuti oleh Anton serta Romi, sekretarisnya.
"Aku nggak tau kalau wanita itu begitu berani!" ucap Arsal kesal sambil memukul meja kerjanya.
"Tuan Arsal, anda jangan khawatir. Tidak mudah baginya merebut YH GROUP darimu," sahut Anton membuat Arsal menatap ke arah pria paruh baya berperut buncit itu.
"Apakah anda punya ide untuk menyingkirkannya?" tanya Arsal.
"Tentu saja. Kami mempunyai banyak ide untuk menyingkirkan wanita itu," jawab Anton begitu percaya diri. Arsal menatap Romi dan Romi menganggukkan kepalanya, yang berarti Arsal harus percayakan itu semua kepada Anton.
Arsal kembali menatap Anton, "Baiklah saya percayakan kepada anda, tuan Anton. Dimana manajer keuangan yang bertanggung-jawab atas hipotek luar negeri?" tanyanya. Anton memajukan wajahnya lalu membisikkan sesuatu ke telinga Arsal. Arsal yang mendengar itu langsung tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Aril dan Caca sibuk memeriksa berkas yang tadi dibawakan oleh Salma, sekretaris Caca. Mereka tidak hanya berdua, ada Naufal juga yang membantu mereka memeriksa agar lebih cepat.
"Pernyataan aset luar negeri hilang!" ucap Aril tiba-tiba. Caca dan Naufal yang sibuk membolak-balik dan membaca berkas dihadapannya langsung menatap ke arah Aril.
"Pernyataan? Saya sudah mengambil semua daftar dari departemen keuangan," jelas Naufal. Aril dan Naufal sepakat jika berada di kantor mereka harus bersikap formal.
"Ini berbeda antara daftar keuangan dan pernyataan. Pernyataan itu mencatat transaksi setiap aset YH GROUP di luar negeri secara rinci. Informasi yang kami miliki disini di ubah oleh seseorang," jelas Aril. Caca dan Naufal sedikit terkejut mendengar penjelasan Aril.
"Kami hanya melihat hal-hal di permukaan saja dan tidak secara detail. Begitu mereka disita oleh bank luar negeri, kami tidak akan pernah menemukan ..." Aril melihat ke belakang menatap ke arah Naufal. "Semua aset kami," lanjutnya.
"Aku akan meminta seseorang dari departemen keuangan," ucap Caca ingin memegang telepon tapi segera di tahan oleh suara Aril.
"Tidak perlu, Nona! Naufal!" Aril menyuruh Naufal untuk menyelidiki ini.
Naufal mengangguk. Lalu mengotak-atik laptop yang ada di depannya berisikan huruf dan angka-angka aneh, hanya orang-orang tertentu yang bisa mengerti. Tak lama, ia menemukan sesuatu yang membuat mata Naufal terbelalak.
"Ril. Manajer keuangan yang bertanggung-jawab atas hipotek luar negeri telah mengajukan cuti selama satu bulan. Hari ini dia akan mengambil penerbangan pada jam 1 siang ke luar negeri," jelas Naufal.
"Sial!" Setelah mendengar penjelasan Naufal, Aril bergegas berdiri dan berjalan cepat keluar dari ruang kerja Caca.
"Aril, aku ikut denganmu!" ucap Caca mengejar Aril.
Ditempat lain seorang pria yang disinyalir merupakan manajer keuangan YH GROUP sedang berjalan terburu-buru, ia secepatnya harus pergi dari Indonesia sebelum tertangkap. Sebelum berangkat, dering handphonenya menghentikan dirinya saat akan membuka pintu taksi yang ia berhentikan tadi.
"Ya Tuan?"
"Kau sudah di Bandara?"
"Kau secepatnya harus pergi dari sini!"
"Baik, Tuan."
TUT!
Pria itu segera masuk ke dalam taksi online.
"Pak, antarkan saya ke bandara secepat mungkin. Nanti saya akan membayar anda dua kali lipat!"
"Baik, pak," ucap sopir taksi itu dan segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke Bandara.
Aril masuk ke dalam mobil diikuti Caca. Aril kaget melihat Caca yang duduk di sampingnya.
"Kenapa anda ikut, Nona? Anda tidak harus ikut," tanya Aril.
"Aku akan pergi denganmu. Ayo pergi!" perintah Caca sambil menatap ke depan.
Aril tersenyum tipis lalu mulai melajukan mobil mengejar keberadaan manajer keuangan.
"Pak, tolong lebih cepat sedikit!" ucap manajer keuangan itu.
"Pak ini saya sudah mengemudikan mobil secepat yang saya bisa," jawab sopir taksi sedikit kesal.
__ADS_1
Mobil yang dikemudikan Aril berhenti pada saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Mereka tidak menyadari bahwa di samping mobil mereka ada taksi yang berisikan manajer keuangan yang mereka cari.
Manajer keuangan yang bernama Frans itu terkejut saat dirinya melirik ke samping, ia melihat mobil yang di dalamnya terdapat Caca dan Aril. Dengan cepat Frans menyuruh sopir taksi untuk berbelok arah.
"Pak, putar arah. Cepat!" titah Frans pada sopir taksi. Sopir taksi hanya menuruti dan membelokkan mobil ke arah kiri.
Aril menelpon Naufal, menanyakan keberadaan Frans.
"Fal. Kamu sudah tau dimana keberadaan mobil pak manajer? Atau kamu tau plat mobil yang dia gunakan untuk pergi?" tanya Aril. Naufal yang pandai meretas itu tentu saja mengetahui dengan cepat dimana keberadaan Frans.
"Saya tahu. Pak Frans menggunakan mobil taksi yang bernomor polisi M 6734 BP." Naufal kembali melihat titik keberadaan Frans.
"Dia naik pada jarak 70 meter dari gedung YH GROUP. Dia pergi sekitar 21 menit 19 detik yang lalu. Dia sekarang sampai di jalan Cut Nyak Dhien. Mereka akan memasuki jalan tol menuju ke bandara melalui jalan Pattimura," jelas Naufal.
Aril mengingat jika tadi dirinya melihat plat nomor kendaraan yang disebutkan oleh Naufal tadi berbelok ke arah kiri. Aril mematikan sambungan telepon dan membelokkan mobil ke arah kiri mencoba mengejar mobil taksi yang ditumpangi Frans. Jalanan cukup lengang membuat Aril bisa mempercepat laju kendaraannya.
"Eh itu disana, Ril!" Caca menunjuk taksi yang ditumpangi Frans berikut dengan plat nomor kendaraan yang sesuai dengan yang diucapkan Naufal tadi.
"Nona, duduklah dengan tenang," ucap Aril dengan wajah serius memandang ke depan.
Frans melihat ke arah belakang, betapa terkejutnya ia melihat mobil Caca yang mengikutinya dari belakang.
"Lebih cepat, pak!" titah Frans dengan nada ketakutan. Sopir taksi hanya mengangguk dan terus mempercepat laju kendaraannya.
Aril memutar otaknya agar bisa cepat mengejar mobil taksi tersebut. Ia berbelok melewati jalan tikus, alhasil Aril pun dapat menyalip dan memberhentikan mobilnya tepat di taksi yang ditumpangi Frans.
Frans yang sudah terkepung itu, cepat-cepat membuka pintu mobil lalu berlari kabur menghindari Caca dan Aril.
"Berhenti!" teriak Caca.
"Pak sopir, tolong hentikan dia untukku!" perintah Frans pada sopir taksi itu. Sopir taksi yang sudah di bayar lebih pun mengikuti perintah Frans dan mencegat Aril. Kini hanya Caca yang terus berlari mengajar Frans.
"Jangan lari!" teriak Caca lagi.
Di gedung YH GROUP, sedari tadi Arsal sangat cemas memikirkan apa rencananya itu berhasil atau tidak. Ia sampai mondar-mandir tidak jelas di dalam ruangannya. Romi yang sedari tadi menemani atasannya itu merasa pusing dengan tingkah Arsal.
"Tuan Arsal. Anda harus tenang dan duduklah. Jika pak Frans tiba di bandara dengan selamat, semuanya akan selesai dengan mudah," ucap Romi menenangkan Arsal.
"Bagaimana jika dia tidak bisa tiba di bandara dengan selamat? Bagaimana pernyataan itu jatuh ke tangan mereka?" ujar Arsal menggebu-gebu. Rasa marah, cemas dan takut bercampur jadi satu.
"Itu tidak mungkin. Pak Frans meyakinkan saya bahwa dia menyimpan pernyataan itu dengan aman."
"Jangan menyepelekan hal itu. Caca memang lawan yang mudah. Tapi ada Aril, pria itu begitu cerdas dan jenius. Karena itu kakek begitu mempercayakan dia sebagai asisten untuk Caca," jelas Arsal sambil mengepalkan tangannya di atas meja.
"Terus kita harus bagaimana, Tuan?"
"Kita harus membuat rencana agar Caca lengser dari jabatannya!"
Romi mengangguk, "Baik, Tuan."
...----------------...
__ADS_1
To be continued.