GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 157


__ADS_3

Irsyan menendang dengan keras pintu yang ada di hadapannya, sehingga membuat pintu tersebut terbuka dengan lebar. Terlihat 3 orang penjaga keamanan disana terkejut dengan kedatangan Irsyan.


"Pak Irsyan!" sapa mereka.


Irsyan segera melayang pukulan keras kepada semua orang yang berada di dalam sana. Tidak puas dengan itu, Irsyan menendang perut orang-orang itu membabi buta.


Alfian terkejut dengan sikap Irsyan, mencoba untuk menahannya. Namun menantunya itu tidak menghentikan aksinya sama sekali, ia malah semakin murka.


"Irsyan, stop!" teriak Alfian.


"Kalian semua memang sampah! Siapa yang tidak mengizinkan mereka untuk melihat rekaman Cctv hah? Siapa?!" bentak Irsyan membuat orang-orang itu menunduk takut.


"Kalian tau, mereka sedang kehilangan anaknya! Dan wanita itu adalah istri saya, sialan!" geram Irsyan yang mencoba untuk menahan amarahnya.


Orang-orang tersebut pun segera mengalihkan tatapannya untuk menatap Irsyan. "M-maaf tapi kami--" ucapan salah satu orang penjaga keamanan itu terpotong karena Irsyan segera menamparnya. Sehingga pria yang masih terlihat muda itu harus tersungkur ke lantai.


"Saya bersumpah, akan saya habisi kalian semua jika terjadi apa-apa dengan istri saya!" ancam Irsyan berteriak.


Orang-orang itu ketakutan sambil menatap satu sama lain, mereka sadar jika sedang berada masalah besar saat ini.


"Kalian semua, jangan pernah memunculkan wajah kalian di Cafe ini lagi!" teriak Irsyan.


"Ka-kami minta maaf Pak! Kami mohon, maafkan kami!" Mereka bersimpuh di hadapan Irsyan, namun Irsyan sama sekali tidak memperdulikan mereka.

__ADS_1


"Faris, urusi mereka semua sekaligus kamu pecat mereka! Mereka tidak becus dalam bekerja!" perintah Irsyan yang diangguki oleh Faris, manager cafe tersebut sebelum ia membawa orang-orang itu keluar dari ruangan.


Alfian menatap Irsyan yang sedang mengecek semua rekaman Cctv.


1 menit kemudian Irsyan sudah bisa menemukan Cctv saat Aurora sedang berada di depan gerbang. Ia menatap layar monitor dengan tajam, tangannya mengepal saat terdapat mobil hitam berhenti di hadapan Aurora. Irsyan dan lainnya merasa sesak ketika melihat ada 3 orang berbadan besar memakai pakaian serba hitam dan masker yang tiba-tiba membekap mulut Aurora hingga wanita yang tengah hamil itu tak sadarkan diri.


"Sial!" Irsyan menggebrak meja dengan keras. Begitu pun juga dengan Alfian, pria paruh baya itu benar-benar sudah kehabisan kesabarannya. Ia sangat khawatir dengan kondisi putrinya saat ini.


"Akan ku habisi mereka semua jika terjadi sesuatu dengan putriku!" geram Alfian dengan tangan yang mengepal kuat dan mata yang masih setia menatap layar monitor.


"Yah, bagaimana ini? Kita harus segera menemukan Aurora, Ibu takut terjadi sesuatu padanya dan kandungannya," isak Nuri.


Irsyan beranjak dari duduknya, ia mengelus punggung Nuri penuh dengan kelembutan.


"Aku berjanji padamu, Bu. Aku akan segera menemukan Aurora dalam kondisi selamat. Ibu jangan khawatir, percayalah padaku!" janji Irsyan dan dibalas anggukan kepala oleh Nuri.


Irsyan bisa saja bersikap tegar di depan Nuri, Alfian dan kedua orangtuanya, bahkan dia selalu menguatkan kedua mertuanya itu. Namun, dibalik itu semuanya dirinyalah yang paling hancur, cemas dan tidak tenang.


Rasa khawatirnya yang sangat berlebihan, membuatnya harus berprasangka buruk terhadap orang lain. Beberapa saat yang lalu, ia menemui Rivan, mantan kekasih Aurora di rumah lelaki itu, bahkan Irsyan hampir saja membuat Rivan babak belur kalau tidak di halangi oleh orang tua Rivan, tapi memang benar jika Rivan bukanlah dalang dari penculikan istrinya.


Irsyan menatap langit malam yang penuh bintang. Sangat indah. Namun itu semua tidak bisa mengobati hatinya yang hancur dan terluka.


Saat ini ia berada di salah satu taman yang dulu sering Irsyan kunjungi bersama Aurora. Irsyan terduduk di jalan, dengan tubuh yang bersandar pada body mobil miliknya. Ia benar-benar tersiksa. Irsyan menjambak rambutnya dengan sangat kencang, mencurahkan rasa kesal yang ada pada dirinya. Bagaimana bisa ia teledor dalam menjaga istrinya sendiri?

__ADS_1


Seharusnya Irsyan mengabaikan keinginan Aurora yang memintanya untuk tidak di awasi oleh anak buah Harun. Memang benar, Irsyan menyuruh 2 orang bodyguard untuk menjaga istrinya. Namun, Aurora menolak. Bahkan wanita itu mengancam, jika Irsyan melakukan itu, Aurora tidak akan memberikan jatah selama satu bulan padanya membuat Irsyan terpaksa harus menurutinya. Dan pada akhirnya dirinyalah yang menyesal.


"Kamu dimana sebenarnya sayang? Ya Allah berilah hamba petunjuk dimana tempat keberadaan istri hamba saat ini," lirih Irsyan. Tanpa sadar setetes air mata keluar dari mata pria itu.


Hembusan angin menyapu wajah tampan yang terlihat sangat lelah itu. Tepat pada hari ini, 3 hari setelah menghilang, dimana seharusnya Irsyan mengajak Aurora untuk pergi baby moon ke Bali, hari dimana mereka akan bersenang-senang. Namun kenyataannya hari ini menjadi hari yang buruk yang tidak pernah dibayangkan oleh pasangan suami-istri itu.


Sampai saat ini Irsyan belum bisa mendapatkan kabar tentang Aurora. Ia tidak pernah berputus asa untuk mencari wanita itu, bahkan ia rela mengorbankan tenaga dan waktu istirahatnya. Sudah beberapa hari ini, Irsyan jarang tidur, bahkan tidurnya selalu tidak bisa nyenyak. Terlihat jelas dari kantung matanya yang menghitam, wajahnya yang terlihat lelah dan rapuh.


"Happy birthday to you, happy birthday to you ..." Terdengar suara dua orang wanita datang ke kamar Irsyan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun, membuat Irsyan sadar dari lamunannya yang sedari tadi berdiri di balkon kamar. Ia segera membalikkan badannya menatap dua wanita yang ada di belakang tubuhnya.


"Happy birthday to you, my son!" ucap Jihan tersenyum manis yang sedang membawa cheese cake, salah satu kue kesukaan Irsyan. Tidak hanya Jihan, disana juga ada Fani, sang kakak yang juga sedang tersenyum manis padanya.


Irsyan sampai melupakan hari lahirnya. Ia lupa jika dirinya akan pergi baby moon sekaligus untuk merayakan hari ulang tahunnya bersama Aurora di Bali.


Tapi sayang, semua itu hancur, harapannya musnah. Sehingga ia melupakan hari lahirnya ke dunia. Dunia yang penuh dengan ujian ini.


Jihan merasa iba melihat Irsyan yang hanya menatap kosong pada kue yang sedang ia bawa. Jihan memberikan kue tersebut kepada Fani, sebelum ia melangkahkan kakinya menghampiri Irsyan dan segera memeluk putranya itu. Jihan tidak tega melihat Irsyan seperti ini, ia terus mengelus punggung putranya yang kaku.


"Mama yakin Aurora disana baik-baik saja nak," ucap Jihan menenangkan Irsyan.


"Irsyan berharap seperti itu Ma," lirih Irsyan membalas pelukan Jihan tidak kalah erat. Ia memang sangat membutuhkan support dan pelukan seperti ini, untuk menguatkan dirinya.


Fani yang melihat itu ikut bersedih, ia paling tidak bisa melihat adiknya terlihat rapuh seperti itu. 'Ya Allah, hamba mohon bantulah kami untuk mencari keberadaan Aurora. Hamba tidak kuat melihat adik hamba seperti itu," batin Fani sambil menyeka air matanya yang terjatuh ke pipinya.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2