
Sore harinya Aurora, Kiran, Mila dan Wawan tengah menunggu kedatangan Andre di rumah baru milik Wawan yang beberapa minggu ini ia beli untuk nanti di tinggali bersama Nina, sang calon istri.
Ekspresi mereka menampilkan raut wajah emosi, marah dan kecewa, kecuali Kiran yang sedari tadi menunduk sedih. Mila dan Wawan tak kalah naik darah terhadap Andre, bisa-bisanya tidak mempercayai istrinya sendiri dan malah mempercayai perkataan orang lain.
Tak lama kemudian suara deru motor berhenti di depan rumah Wawan, mereka yakin itu adalah Andre.
Andre masuk tanpa raut bersalahnya sambil menyapa sahabat-sahabatnya.
"Hay guys, tumben nih ngajak kumpul." Mata Andre menatap ke arah sahabat-sahabatnya dan tak sengaja matanya juga menatap Kiran, sang empu yang di tatap langsung kembali menunduk.
Wawan menghampiri Andre dan memukul wajahnya membuat Andre meringis serta heran mengapa dirinya di pukul tiba-tiba seperti ini.
"Ngapain lo tiba-tiba mukulin gue kayak gini, apa salah gue sama lo hah?!" kesal Andre.
"Lo memang nggak ada salah sama gue, tapi lo salah sama istri lo sendiri, bang.sat! Bisa-bisanya lo lebih percaya dengan ucapan orang lain daripada istri lo sendiri? Sehat lo? Ingat lo kenal sama Kiran itu bukan setahun dua tahun, tapi udah sebelas tahun lebih, sialan!" hardik Wawan menggebu-gebu. Aurora pun sebenarnya ingin sekali memaki, memukul dan menendang Andre tapi ia tidak ingin terjadi sesuatu pada kandungannya jika ia terbawa emosi nantinya.
Andre terdiam mendengar ucapan Wawan, tapi Andre bersikukuh masih tidak mempercayai istrinya.
"Tapi gue liat dengan mata kepala gue sendiri, mereka bercumbu di ruangan dia!" Andre bahkan menyebut nama istrinya dengan sebutan 'dia'. Hati Kiran kembali sesak seperti diremas-remas rasanya.
"Itu karena Kiran di paksa sama Kevin, brengs*k! Kalau lo nggak percaya periksa cctv yang ada di ruangan Kiran!" bentak Aurora, habislah kesabaran yang ibu hamil itu tahan sedari tadi melihat kebodohan sahabatnya.
"Asal lo tau ya, Kiran itu lagi hamil anak lo dan lo malah nyakitin bahkan berbuat kasar sama dia! Gila ya lo!" sambung Aurora dengan menggebu-gebu. Andre terperangah mendengar ucapan Aurora bahkan matanya seketika membulat sempurna, napasnya ikut tercekat. Ia melirik ke arah Kiran dan yang di tatap hanya menundukkan kepalanya, rasa bersalah pun bercabang di hati Andre.
Tak tahan lagi dengan suasana tersebut, Kiran berlari keluar dari rumah Wawan dan tidak memperdulikan panggilan dari sahabat-sahabatnya. Andre segera pergi mengejar istrinya, ia takut terjadi apa-apa apalagi Kiran tengah mengandung buah hati yang selalu ia harapkan selama ini.
"Kamu mau kemana?" tanya Andre berhasil menahan tangan Kiran yang hendak masuk ke mobil.
"Bukan urusan lo! Lepas!" sentak Kiran mencoba melepaskan genggaman Andre sambil menahan air matanya.
"Bukan urusanku? Aku ini suamimu, Kiran, jadi aku berhak mengetahui kemanapun kamu pergi!" ucap Andre sambil terus mengeratkan genggamannya.
"Heh suami? Suami yang lebih mempercayai orang lain daripada istrinya sendiri? Bahkan dia melakukan kekerasan pada istrinya sendiri? Bullshit tau nggak!" balas Kiran emosi.
__ADS_1
"Maafkan aku, sayang. Maaf karena tidak percaya sama kamu dan maaf telah melakukan kekerasan padamu tadi malam," sesal Andre terus mengatakan kata maaf sambil menatap Kiran dengan tatapan mata sendu. Hati Kiran masih sakit dan belum bisa menerima permohonan maaf dari Andre begitu saja.
Kiran tertawa pedih, "Lo minta maaf karena lo tau gue sedang hamil, iya kan?!"
Andre menggelengkan kepalanya, "Nggak sayang, aku minta maaf karena aku merasa bersalah sama kamu karena tidak memercayai mu." Andre memegang kedua bahu Kiran.
Kiran segera melepaskan tangan Andre dari bahunya, ia tidak menjawab ucapan suaminya dan memilih masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Andre yang sedari tadi memanggilnya. Andre pun langsung menuju ke motornya dan menancap gas mengejar mobil Kiran.
...****************...
Seperti ucapannya kemarin, Irsyan akan lembur dan sekarang ia pulang pukul 7 malam. Membuka pintu kamar, Irsyan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Aurora, keadaan kamarnya sepi dan entah dimana istrinya itu berada.
Irsyan melirik ke arah pintu balkon yang terbuka, ia yakin Aurora berada disana. Irsyan menaruh tas kerja dan membuka jasnya, lalu ia berjalan menuju ke arah balkon. Benar saja, istrinya tengah berada disana, Aurora mengenakan dress tidur yang lumayan tipis dan pendek karena terangkat oleh perut besarnya, apa dia tidak merasa kedinginan? pikir Irsyan.
"Sayang." Tangan Irsyan melingkar di perut Aurora membuat sang empu terjengkit dengan pelukan tiba-tiba seperti itu.
"Mas kapan pulangnya? Kok nggak ada suara Mas masuk ke kamar sih," tanya Aurora berbalik menatap Irsyan.
"Baru aja. Kamu sih lagi melamun makanya nggak denger Mas datang," ucap Irsyan dan Aurora hanya mengangguk membenarkan ucapan suaminya jika dirinya sedari tadi melamun. Irsyan menelisik mata istrinya yang terlihat sembab dan memerah.
"Iya Mas, tadi aku nonton drama Korea sedih banget alur dramanya," elak Aurora tapi Irsyan tidak mempercayai perkataan istrinya itu.
"Jangan bohong, Mas nggak suka dibohongi!"
Aurora memajukan bibir bawahnya dan kembali menangis, "Hiks."
Irsyan membawa Aurora ke dalam pelukannya, walau terhalang oleh perut besar istrinya itu. "Kamu kenapa sayang? Beritahu Mas, apa ini karena Mas sering lembur dan jarang memperhatikanmu?"
Aurora menggeleng.
"Terus apa, hem? Kamu menginginkan sesuatu biar Mas belikan sekarang juga."
Lagi-lagi Aurora menggelengkan kepalanya. Irsyan selalu bersabar menghadapi mood swing istrinya yang kadang suka berubah-ubah.
__ADS_1
"Terus apa sayang? Ayo ceritakan sama Mas." Aurora melepaskan pelukan Irsyan, ia mendongak menatap suaminya.
"Mas."
"Kenapa sayang?" tanya Irsyan dengan lembut, kedua tangannya menghapus air mata yang menghiasi wajah Aurora.
Aurora pun menceritakan masalah Kiran dan Andre pada Irsyan. Sang suami hanya bisa menghela napas ternyata karena itu Aurora menangis, meskipun ia juga marah dengan Andre karena perlakuan pria itu terhadap Kiran.
"Aku takut mereka bercerai, Mas," ucap Aurora setelah mengakhiri ceritanya.
"Mas mengerti dengan perasaanmu sayang, tapi kita tidak boleh terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Doakan saja yang terbaik untuk hubungan mereka," balas Irsyan menasehati Aurora.
Aurora mengangguk, ucapan Irsyan memang benar adanya.
"Lebih baik sekarang kita masuk, dingin loh di luar. Apalagi kamu pakai dress tipis kayak gini. Atau jangan-jangan kamu pakai dress kayak gini untuk menggoda Mas ya?" ucap Irsyan sambil menaik turunkan alisnya dengan tatapan nakal membuat pipi Aurora mengeluarkan semburat merah.
"Nggak ya! Aku pakai dress ini karena kepanasan tau!" balasnya cemberut. Irsyan terkekeh geli kemudian mengecup gemas seluruh wajah Aurora.
"Ayo masuk," ajak Irsyan lagi dan Aurora hanya menuruti perintah suaminya, mereka masuk ke dalam kamar.
"Mas mau mandi?" tanya Aurora.
"Iya sayang."
"Sini aku bantu buka kemejanya." Aurora membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Irsyan, saat sudah terbuka otot perut Irsyan yang terdiri dari 6 kotak itu membuat Aurora menelan ludahnya dengan susah, pipinya kembali terasa panas padahal sudah hampir 8 bulan menjadi suami-istri, tapi dirinya masih malu melihat Irsyan dalam keadaan toples.
"Makasih sayang, kalau gitu Mas mandi dulu ya?" Irsyan hanya membiarkan Aurora membuka kemejanya saja, tidak untuk celananya karena bisa bahaya jika sudah membuka tempat juniornya itu.
"Iya, Mas."
Irsyan berjalan menuju ke kamar mandi setelah seharian melakukan pekerjaan yang membuat tenaganya cukup terkuras bahkan mandi pun tidak sempat karena pekerjaannya yang menumpuk itu.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.