
"Ahhh--" des*h Aurora.
Irsyan mengalihkan perhatiannya pada gadis yang berada di sampingnya. Terlihat Aurora bergerak gelisah, dengan matanya yang tertutup.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Irsyan mengerutkan keningnya.
"Badanku, badanku terasa sangat panas, Mas!" desis Aurora.
Irsyan semakin tidak mengerti, padahal dia menyalakan AC mobilnya. Tapi kenapa Aurora masih saja merasa kepanasan.
"Aku nggak kuat Mas, panas!" lirih Aurora.
Irsyan semakin merasa ada yang janggal dari Aurora. Ia mencoba untuk mengelus pipi Aurora, dan ternyata dugaannya benar. Aurora langsung mendes*h.
"Sial! Apa pria brengsek itu memberikanmu obat perangsang?" tanya Irsyan.
"Ak-aku nggak tau. Mas, aku mohon tolong aku. Aku tidak kuat, Mas! Tolong, lakukan sesuatu!" isak Aurora memohon.
Irsyan begitu frustrasi. Dia memang menginginkan Aurora, apalagi hampir satu minggu ini ia tak menyentuh istrinya. Namun tidak mungkin jika Irsyan melakukan hal tersebut disaat Aurora sedang dalam pengaruh obat.
"Bersabarlah sayang, kamu pasti bisa menahannya," ucap Irsyan yang berusaha fokus terhadap jalannya.
Namun pria itu semakin frustrasi ketika ia melihat ke arah Aurora, wanita itu ternyata sudah membuka kancing bajunya.
"Sayang, aku mohon sadarlah! Kamu sedang dalam pengaruh obat!"
"Sumpah Mas, aku sudah nggak tahan lagi. Lakukan sesuatu terhadapku, aku mohon!" Aurora menarik-narik kemeja Irsyan. Hal itu membuat Irsyan tidak fokus dalam mengendarai mobilnya.
"Astaga! Kamu sangat menggangguku, sayang!" Irsyan segera meminggirkan mobilnya. Ia segera melepas seatbelt pada tubuhnya.
"Kesini, sayang!" Irsyan segera menarik tubuh Aurora untuk duduk di pangkuannya. Ia segera menarik tengkuk Aurora, dan mencium bibir mungil istrinya itu dengan sangat lembut dan dalam.
Mereka hanyut dalam percumbuannya. Aurora mengeratkan pelukannya pada leher Irsyan. Tangan pun mulai Irsyan bergerilya pada seluruh tubuh Aurora. Namun beberapa menit kemudian Irsyan memberhentikan cumbuannya pada tubuh Aurora.
"Kenapa malah berhenti, Mas?" erang Aurora tidak terima.
"Nggak, sayang. Kamu sedang dalam pengaruh obat. Aku tidak bisa melakukan hal itu."
"Aku mohon, Mas. Lakukan sesuatu, ini rasanya sangat aneh. Aku tidak tahan, tubuhku menginginkan sesuatu yang lebih!" rengek Aurora.
Irsyan segera mendudukkan Aurora pada tempat asalnya. Aurora merasa kesal oleh tingkah Irsyan. Dia butuh pelepasan saat ini, namun Irsyan tidak membantunya.
"Kita tunggu sampai di rumah ya sayang?" ucap Irsyan yang tidak tega melihat istrinya. Aurora yang tadinya kesal langsung mengangguk antusias.
Irsyan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata menuju ke rumah, ia sudah tidak tahan lagi untuk menyentuh Aurora apalagi saat melihat istrinya itu sedang menggigit bibirnya, membuat miliknya semakin berdiri.
__ADS_1
Sial!
*Flashback Off*
"Aurora!" teriak Nuri yang baru saja masuk kedalam kamar.
Irsyan menoleh kearahnya, dan beranjak dari duduknya.
Nuri bergegas mendekat ke arah tempat tidur, ia segera memeluk tubuh putrinya yang selama ini dia rindukan.
"Ibu," sapa Aurora.
Nuri menjauhkan tubuhnya dari Aurora. "Sayang, kamu baik-baik saja kan? Maafkan Ibu, nak!" Nuri mengelus pipi Aurora dengan penuh kelembutan.
"Rora baik-baik saja, Bu. Ibu tidak perlu meminta maaf, Ibu nggak melakukan kesalahan apapun!" ucap Aurora. Nuri pun segera memeluk kembali tubuh Aurora dengan sangat erat. Begitupun Aurora yang tidak kalah erat memeluk tubuh Ibunya. Orang yang sangat dia cintai.
"Mama sangat senang kamu kembali dengan selamat, sayang. Mama sangat khawatir saat mendengar mu hilang!" ucap Jihan yang berdiri di belakang Nuri.
Aurora tersenyum melihat wanita paruh baya itu. Nuri segera melepaskan pelukannya dan memberi ruang untuk Jihan. Jihan pun segera duduk di tepi ranjang dan memeluk erat gadis itu.
"Mama," sapa Aurora lirih.
"Sekarang kamu akan baik-baik saja, nak. Irsyan akan lebih ketat untuk menjagamu!" ucap Jihan. Yang dijawab oleh anggukan Aurora.
...****************...
Aurora melangkahkan kakinya ke arah lemari pendingin, mengambil beberapa bahan untuk masakannya. Keningnya tiba-tiba berkerut. Ia mendapati sebuah cheese cake yang masih utuh, kue siapa kah itu? Untuk menghilangkan rasa penasarannya, ia segera menanyakan hal tersebut kepada Bi Uyun, yang berada tidak jauh dengannya.
"Bi, aku ingin bertanya. Kue ini milik siapa?" tanya Aurora menatap Bi Uyun.
Bi Uyun pun segera menghampiri wanita hamil itu.
"Itu milik Tuan Irsyan dan Nyonya Jihan yang membawa kue tersebut, untuk memperingati hari ulang tahun Tuan," ungkap Bi Uyun.
"Namun Tuan Irsyan tidak memakannya sama sekali, Nyonya," sambungnya.
Aurora melebarkan kedua matanya. Dia membodohi dirinya sendiri, karena memang selama beberapa hari Aurora tinggal di rumah ini, wanita itu tidak pernah masuk ke dapur. Karena Irsyan, melarangnya sampai untuk mengambil air pun, Aurora selalu diambilkan oleh para pelayan dan itu adalah perintah dari Irsyan.
Oleh karena itu, Bi Uyun beserta beberapa pelayan lainnya tadi, tidak mengizinkan Aurora untuk menyiapkan sarapan, mereka takut Irsyan akan memarahinya. Namun Aurora bersikeras untuk membuatkan sarapan dengan tangannya sendiri. Ini sudah menjadi tugasnya.
Aurora merutuki dirinya karena sampai melupakan hari ulang tahun suaminya sendiri, bahkan ia tidak menyangka tepat di hari lahir Irsyan, pria itu harus mendapatkan kado terburuk dan seingat Aurora, ia akan pergi ke Bali sekaligus merayakan ulang tahun Irsyan.
"Sayang, kamu sedang apa di sini?"
Aurora sadar dari lamunannya ketika seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. Dan ia pun baru sadar jika Bi Uyun sudah menghilang. Pasti itu karena Irsyan.
__ADS_1
"A-ahh, aku mau membuat sarapan untukmu!" ucap Aurora tersenyum.
"Kamu nggak perlu melakukan hal lagi, nanti kamu bisa kelelahan. Di sini, aku sudah menyiapkan banyak pelayan. Jadi kamu nggak perlu repot-repot seperti itu!" kata Irsyan mengecup puncak kepala Aurora.
Aurora pun melepaskan tangan Irsyan dari pinggangnya dan bersiap untuk memulai aksinya.
"Berhentilah berbicara. Aku ingin fokus untuk membuat sarapan, aku janji nggak akan kelelahan!"
Irsyan pun terdiam. Namun ia masih saja memeluk tubuh Aurora dari belakang. Sebenarnya Aurora sangat terganggu, namun Irsyan dengan sangat keras kepala tidak ingin melepaskan pelukannya.
Waktu sudah menjelang sore. Aurora merasa sedikit kesal kepada Irsyan, karena pria itu tidak mengizinkannya untuk keluar dari rumah. Padahal dirinya hanya ingin membeli sebuah kue ulang tahun untuk suaminya itu.
Oleh sebab itu, terpaksa Aurora menyuruh pak Nudi untuk membelikan sebuah kue ulang tahun untuknya. Dan saat ini, Aurora sedang berada di depan pintu kamarnya.
Secara perlahan ia membuka pintunya. Dan menyanyikan sebuah lagu happy birthday untuk Irsyan yang sedang duduk di atas tempat tidurnya. Irsyan yang awalnya sedang fokus terhadap laptop yang berada di pangkuannya pun segera teralihkan oleh kedatangan Aurora.
Irsyan tersenyum lebar melihat istri tercintanya yang sedang membawa kue untuknya. Pria itu segera menutup laptopnya, dan menyimpan benda itu ke nakas yang berada di samping tempat tidur.
Saat ini Aurora berada di samping ranjang, menatap pria itu dengan penuh cinta.
"Happy birthday, my husband."
Irsyan pun segera menarik tubuh Aurora agar duduk di pangkuannya.
"Thank you so much, my wife, my love, my everything!" balas Irsyan, dengan suara beratnya lalu mencium pipi kiri Aurora dengan begitu dalam.
"Tiup lilinnya dan make a wish!" pinta Aurora.
"Semua yang terbaik untuk istriku, Aurora Putri Ramadhina Chandra." Doa Irsyan sebelum meniup lilinnya.
Aurora menaikkan kedua alisnya. "Untukku? Lalu untuk Mas?"
Irsyan mengambil kue itu dari tangan Aurora, dan menyimpannya di atas nakas.
"Untuk Mas itu ya kamu. Jika kamu dikelilingi oleh kebaikan, maka sudah dipastikan Mas akan bahagia. Karena, bahagia Mas itu adalah kamu. Kamu adalah harapan Mas! Dan kamu satu-satunya yang Mas inginkan. Mas tidak menginginkan apa-apa lagi."
Aurora terenyuh. Lagi-lagi Irsyan berhasil membuat Aurora seperti ini.
"Maafkan aku, karena telat memberikan Surprise." Aurora menundukkan kepalanya.
"No problem. I love you. I love you so much!" ungkap Irsyan.
Aurora tersenyum manis. "I love you too." wanita itu segera memeluk tubuh suaminya.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.