
Tengah malam Aurora terbangun dari tidurnya, ia merasa sangat haus. Jadi Aurora memutuskan untuk ke dapur pergi mengambil air minum.
Baru saja Aurora menutup pintu kulkas, tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang, sontak Aurora pun terkejut dan berteriak.
"Aaaa setan! Allaahu Laailaaha illa--" Belum selesai Aurora melafalkan ayat kursi mulutnya langsung dibungkam oleh orang yang memeluknya tadi.
"Usstt ini Mas sayang," bisik Irsyan ditelinga Aurora.
Aurora segera menghadap ke belakang, benar saja orang yang memeluknya tadi adalah calon suaminya sendiri. Sang empu langsung menampilkan senyum tanpa dosa saat melihat Aurora menatapnya dengan tajam. Untung calon suami, kalau bukan mungkin saja Aurora akan menghajarnya habis-habisan.
"Ish Mas ini ngagetin aja, untung aja aku nggak punya riwayat sakit jantung," kesal Aurora sambil mencubit perut sixpack milik Irsyan.
"Awww sakit sayang."
"Siapa suruh nyebelin." Untung saja tidak membuat seluruh penghuni rumah terbangun karena teriakan dari Aurora tadi.
"Iya maaf sayangku," ucap Irsyan mengelus pipi Aurora.
"Mas kok keluar?" tanya Aurora.
"Oh tadi Mas haus, makanya ke dapur mau ambil air minum. Eh ternyata ada kamu disini. Maaf ya tadi udah buat kamu kaget," ucap Irsyan sedikit menyesal.
"Iya gapapa kok Mas. Oh ya tadi katanya Mas haus ya? Mau minum apa biar aku ambilkan." Aurora menawarkan diri mengambilkan minuman untuk calon suaminya.
"Air putih saja sayang," pinta Irsyan.
"Oke Mas." Aurora segera mengambilkan air putih untuk Irsyan.
"Ini Mas," ucap Aurora sambil menyodorkan segelas air putih pada Irsyan.
"Makasih sayang," balas Irsyan menerima dan meminum air putih tersebut.
"Ayo kamu tidur lagi sana, udah jam 2 pagi lebih loh ini," titah Irsyan melirik jam tangannya.
"Iya, Mas juga tidur. Besok pagi kan harus ke rumah sakit."
"Mas nggak kerja besok," ucap Irsyan.
"Lah kenapa?" tanya Aurora bingung.
"Apa kamu lupa, kan besok siang kita ke toko perhiasan sayang."
"Oh iya." Aurora nyengir menampilkan deretan gigi putihnya. Irsyan yang gemas pun tak kuasa untuk mengacak rambut calon istrinya.
"Tapi mungkin paginya Mas mau ke kantor sebentar, baliknya langsung Mas jemput kesini. Kamu libur kan besok pagi?"
"Iya libur Mas, besok kan hari sabtu." Jangan lupa Aurora adalah seorang PNS hari kerjanya hanya 5 hari saja.
"Bagus lah, ayo sekarang kamu tidur lagi sana," titah Irsyan lagi.
"Iya Mas, sekalian aku mau sholat tahajud dulu."
Irsyan tersenyum mendengarnya, ia memang tak salah pilih Aurora menjadi calon istrinya. Sudah baik, mandiri, pemberani dan sholehah lagi. Dan dirinya juga sangat beruntung dipilih Aurora sebagai calon suami dari gadis itu.
"Kok senyum-senyum sendiri sih Mas? Jangan bilang Mas kesurupan mba kunti," tanya Aurora heran melihat Irsyan senyum-senyum sendiri, ia juga sedikit merinding takutnya Irsyan kesurupan makhluk tak kasat mata.
__ADS_1
"Eh ngawur aja, ya nggak lah sayang. Mana mungkin orang setampan Mas dirasuki makhluk kayak gitu," ucap Irsyan dengan nada percaya dirinya.
Aurora memutar matanya jengah, "Terserah Mas aja. Aku mau ke kamar dulu."
"Mas antar ya?"
"Eh apaan sih Mas, jugaan kamar aku dekat banget."
"Nggak ada bantahan sayang." Irsyan menarik tangan Aurora, gadis itu hanya pasrah mengikuti calon suaminya.
"Aku masuk dulu ya Mas?" Kini mereka berdua sudah di depan pintu kamar Aurora.
"Iya sayang, walaupun Mas pengen sekamar dengan kamu," ucap Irsyan cemberut.
"Sabar ya Mas, tinggal seminggu lagi." Aurora mengelus lengan Irsyan.
Entah kenapa pada saat Aurora mengelus tangannya, tubuh Irsyan seperti tersengat listrik. Ia sangat frustrasi saat ini, jika saja Aurora sudah menjadi istrinya mungkin Irsyan akan langsung membopong tubuh gadis itu ke atas ranjang.
'Ya Allah, rasanya seminggu itu lama banget,' batin Irsyan frustrasi.
"Mas kenapa, kok bengong?" tanya Aurora memegang pipi Irsyan dengan sedikit berjinjit.
"Ah nggak ada apa-apa kok sayang," jawab Irsyan gelagapan.
"Apa boleh Mas cium kamu?" pinta Irsyan, wajah laki-laki itu sedikit memerah seperti menahan sesuatu.
"Nggak boleh, takut di lihat sama ibu dan ayah nanti, Mas tau kan pipi sama bibir aku lagi sakit," tolak Aurora. Tubuh Irsyan melemas karena tolakan dari Aurora, gairahnya yang tadinya meninggi pun langsung menurun drastis. Ia lupa jika pipi dan bibir calon istrinya sedang terluka.
"Ya sudah sekarang kamu masuk ke kamar," ucap Irsyan mengelus rambut Aurora.
"Mas sini deh." Aurora meminta Irsyan memajukan wajahnya. Irsyan pun menurutinya.
Tak ada angin, tak ada hujan. Tiba-tiba saja Aurora mengecup pipi Irsyan. Setelah itu ia buru-buru masuk ke dalam kamarnya dengan wajah memerah menahan malu.
"Gemes banget sih calon istri gue," gumam Irsyan.
Ayam berkokok dengan lantangnya, matahari bersinar terang menerangi bumi. Sosok laki-laki berpenampilan rapi dengan mengenakan setelan pakaian kerja tampak keluar dari kamar Aril.
"Nak Irsyan ayo sarapan dulu," ajak Alfian. Laki-laki yang keluar dari kamar Aril itu adalah Irsyan.
"Iya Yah." Irsyan duduk di kursi samping Aurora.
"Mau minum kopi atau teh dulu Mas?" tawar Aurora.
"Nggak usah sayang, Mas langsung sarapan aja."
Aurora mengangguk mengerti, tanpa disuruh ia segera mengisi piring kosong Irsyan dengan nasi goreng dengan tambahan ayam dan telur.
"Ini Mas." Aurora kembali menaruh piring tersebut di depan Irsyan.
"Makasih sayang."
"Sama-sama Mas."
Lalu mereka berlima pun mulai menyantap sarapan mereka masing-masing dengan khidmat tanpa suara.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Irsyan pun berpamitan pada Nuri dan Alfian untuk berangkat bekerja sekaligus mengantar Aril ke sekolahnya. Kemudian Aurora mengantarkan Irsyan ke depan halaman.
"Mas hati-hati di jalan," pesan Aurora.
"Iya sayang," balas Irsyan. Ia dan Aril pun masuk ke dalam mobil, tak lama kemudian mobil tersebut sudah pergi meninggalkan pekarangan rumah.
...****************...
"Maaf lama," ucap Aurora masuk ke dalam mobil Irsyan. Mereka berdua akan pergi menuju ke salah satu toko perhiasan ternama di kota M. Pemilik dari toko tersebut adalah sahabat dari Jihan.
"Gapapa sayang."
"Aku pakai masker aja ya Mas?" tanya Aurora.
"Loh kenapa?" tanya Irsyan heran.
"Malu sama wajahku yang penuh luka ini, aku nggak mau orang-orang berpikiran buruk tentang aku, Mas," lirih Aurora. Irsyan menghela napas dan menyetujui permintaan Aurora.
"Ya sudah terserah kamu aja sayang, kalau itu yang buat kamu nyaman." Aurora tersenyum, lalu mengambil masker dari dalam sling bag dan segera memakainya.
"Sudah siap?"
"Sudah." Irsyan pun mulai melajukan mobilnya menuju ke toko perhiasan.
Tak lama kemudian mereka berdua pun sampai di toko perhiasan yang dituju.
"Selamat siang Tuan, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan toko dengan ramah, namun pandangannya hanya tertuju pada Irsyan. Aurora hanya bisa berdecak kesal di dalam hatinya.
'Nasib punya calon suami ganteng,' batinnya.
"Saya mau membeli cincin pernikahan mbak," jawab Irsyan.
"Baik, mari ikut saya." Irsyan dan Aurora mengikut pelayan toko tersebut menuju ke etalase kaca yang berisi cincin-cincin yang sangat cantik, mewah dan elegan.
"Silahkan dipilih Tuan, Nona."
"Kamu mau yang mana sayang?" tanya Irsyan. Aurora melihat-lihat cincin yang bagus dan cocok untuk dirinya dan Irsyan kenakan.
"Aku mau cincin yang itu Mas," ucap Aurora menunjuk ke arah cincin pasangan yang terkesan sederhana namun elegan. Tapi jangan tanya soal harga, pasti mahal.
"Itu nggak terlalu sederhana sayang?" tanya Irsyan. Takutnya nanti Jihan akan memarahinya jika membeli cincin pernikahan yang sederhana seperti itu.
"Nggak kok Mas, aku mau itu aja." Dengan berat hati Irsyan pun menyetujuinya.
"Mbak saya ambil yang ditunjuk sama calon istri saya," ucap Irsyan.
"Baik Tuan." Pelayan toko tersebut mengambil dan mengeluarkan cincin yang ditunjuk oleh Aurora tadi. Sebelum itu Irsyan dan Aurora mencobanya terlebih dahulu, setelah merasa cocok baru pelayan toko tersebut menyematkan cincin pasangan itu ke dalam kotak beludru bewarna putih, kemudian menaruh di dalam paper bag.
"Totalnya seratus sepuluh juta rupiah." Aurora tercengang mendengar harga dari dua cincin itu, tak heran sih karena di atas cincin untuk wanitanya terdapat beberapa butiran berlian kecil yang menghiasi cincin tersebut.
"Ini Mbak." Irsyan menyodorkan black card miliknya. Pelayan toko cukup terperangah melihat black card tersebut, tak lama kemudian ia segera melakukan proses pembayaran.
"Ini cincin pesanan dan kartu anda Tuan. Terima kasih atas kunjungan anda Tuan dan Nona." Pelayan toko tersebut menyodorkan paper bag berisi cincin dan black card kepada Irsyan
"Sama-sama Mbak," balas Aurora. Irsyan dan Aurora pun keluar dari toko perhiasan tersebut.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.