
Sudah dua hari semenjak kejadian itu Irsyan tidak pernah lagi masuk ke ruangan Nina, hampir satu minggu wanita itu tak ingin pulang dari rumah sakit padahal kondisinya sudah membaik, wanita itu memang sudah gila masih juga mengharapkan Irsyan yang notabennya telah menikah, sepertinya dia ingin menjadi duri di dalam rumah tangga Irsyan dan Aurora.
"Nak kita pulang ya? Kondisi kamu sudah membaik loh, Mama sama Papa juga bosan tinggal di rumah sakit terus," bujuk Zara.
"Nggak Ma, aku itu belum sembuh total!" kekeh Nina yang tak ingin pulang.
"Tapi nak-"
"Sudahlah Mah, diemin saja. Ini demi kebaikan mental anak kita." Potong Doddy. Zara hanya bisa menghela napas panjang.
Tiba-tiba dari arah pintu segerombolan polisi berpakaian preman datang ke dalam ruangan Nina.
"Benar dengan bapak Doddy Handoko?" tanya salah polisi itu.
"Iya dengan saya sendiri," jawab Doddy.
"Anda kami tangkap atas kasus dugaan tindak pidana korupsi proyek pembangunan jalan tol Xxx," ungkap polisi itu sambil membuka surat perintah penangkapan.
"Apa?!" Semua orang yang ada di ruangan tersebut terkejut bukan main, tak terkecuali Budi yang baru saja selesai memeriksa Nina ikut terkejut.
"Ini fitnah Pak, saya tidak mungkin melakukan itu!" Doddy mencoba membela diri, walaupun dihatinya tengah ketar-ketir, kedok yang selama ia simpan akan terbongkar.
"Iya Pak, suami saya tidak mungkin melakukan itu!" Zara ikut membela sang suami.
"Bapak bisa menjelaskan itu di depan Yang mulia hakim!" ucap polisi itu tegas.
"Tangkap dia!"
"Siap Komandan!" Dua polisi lainnya segera menangkap Doddy.
"Lepaskan saya! Saya tidak bersalah!" Doddy terus memberontak. Polisi-polisi itu membawa Doddy keluar, di luar sudah banyak orang yang menyaksikan hal itu.
Nina melepas selang infus di tangannya dan berlari mengejar sang Papah. Dia tidak peduli dengan darah yang menetes dari tangannya akibat infus. Budi yang melihat Nina berlari, lantas langsung mengejarnya.
"Mbak, mau kemana?" Nina menghiraukan panggilan Budi.
"Pak polisi, tolong lepaskan Papah saya. Papah saya nggak bersalah." Nina terus memohon kepada polisi-polisi yang membawa Doddy, namun polisi-polisi tersebut menghiraukannya, sampai dia pun terjatuh.
"Nina!" Zara segera membantu Nina untuk berdiri.
"Mah, Papah Mah." Nina menangis sambil menunjuk ke arah Doddy.
Dibelakang sana, Irsyan dan Aji pun tak luput menyaksikan itu.
"Jangan-jangan yang ngelaporin bokap nya si Nina itu ..." ucap Aji setengah-setengah membuat Irsyan penasaran.
"Siapa? Jangan setengah-setengah lo ngomongnya!"
"Nyokap lo, Syan," bisik Aji di telinga Irsyan. Mata Irsyan langsung membulat saat mendengar bisikan Aji.
"Enak aja lo, main fitnah nyokap gue!" balas Irsyan tak terima.
"Lo masih ingat kan sama cerita lo kemarin yang bilang nyokap lo nggak bakal diem kalau ada yang mengusik keluarganya," ucap Aji.
Irsyan mengangguk, "Terus?"
"Gue yakin itu ada sangkut pautnya dengan kejadian ini," jelas Aji. Irsyan mencoba mencerna ucapan Aji, setelah dipikir-pikir itu memang ada benarnya juga.
__ADS_1
"Kalau itu memang kerjaan nyokap gue ya bagus lah, berarti dia sudah melaporkan tikus besar yang merugikan negara," ucap Irsyan tersenyum tipis.
"Gue juga setuju dengan nyokap lo, Syan," balas Aji.
Di kantor, Aurora baru saja selesai rapat dengan agenda kegiatan apa saja yang akan dilakukan ketika ulang tahun kota M bertepatan tanggal 31 Agustus yang jatuh pada hari Senin pekan depan. Agenda kegiatannya antara lain, upacara bendera, jalan sehat, lomba dan lain sebagainya.
"Ngantuk banget sih hari ini," ucap Aurora pelan.
"Biasalah pengantin baru, pasti bawaannya kelelahan dan ngantuk," sahut Dona tiba-tiba.
"Ibu Ona!"
"Santai aja nak, dulu ibu juga pernah ngerasain kok," ucap Dona membuat Aurora tersipu malu. Irsyan semalam benar-benar membuat Aurora kelelahan dengan kegiatan ranjangnya, banyak gaya baru yang dilakukan oleh Irsyan, Aurora pun sampai kewalahan dibuatnya.
"Ayo kita ke ruangan," ajak Dona.
"Mari Bu."
Hari ini Mila tidak berangkat kerja, dia sekarang sedang menemani sang Mama yang terbaring lemah di ranjang rawat rumah sakit. Semalam Rahma, mengeluh sakit kepala membuatnya kehilangan keseimbangan lalu jatuh pingsan, sehingga Erwin alias bapak dari Mila dengan cepat membawa sang istri ke rumah sakit. Diagnosa Dokter tadi menjelaskan bahwa Rahma terkena penyakit vertigo dan untungnya sekarang kondisi Rahma jauh lebih baik.
"Ma, gapapa kan aku tinggal sebentar?" tanya Mila.
"Mau kemana nak?" tanya Rahma dengan suara lemahnya.
"Aku mau ke kantin sebentar Ma."
"Ya sudah, cepetan ya nak?"
"Iya Ma."
Mila keluar dari ruang rawat sang mama, dia melirik jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Mila berniat untuk menelpon salah satu sahabatnya untuk memberitahukan tentang sang Mama yang dirawat.
"Halo Ra, lo sibuk nggak?" tanya Mila pada Aurora.
"Nggak kok, kenapa? Oh ya, kok gue liat lo waktu rapat tadi?" tanya balik Aurora.
"Hari ini gue memang nggak masuk, Ra."
"Kok gitu?"
"Semalam Mama gue pingsan dan sekarang di rawat di rumah sakit tempat suami lo bekerja," jelas Mila.
"Apa?! Kok lo baru kasi tau ke gue sekarang sih kalau Tante Rahma masuk rumah sakit!"
"Sorry Ra, soalnya gue nggak mau waktu lo sama suami lo jadi keganggu," ucap Mila.
"Astaga ya nggak lah Mil, Tante Rahma dirawat di ruang apa? Insya Allah nanti pulang kerja gue kesana buat jenguk nyokap lo." Ada sedikit rasa trauma Aurora untuk ke rumah sakit karena mengingat saat kejadian Aurora memergoki sang suami dan mantan kekasihnya berciuman, tapi dirinya harus segera mengenyahkan kejadian itu dalam pikiran walaupun akan sangat susah.
"Mama gue ada diruang melati nomor 2, Ra."
"Oke nanti gue kesana, sekarang gue mau selesaikan pekerjaan dulu."
"Iya Ra." Setelah sambungan telepon terputus, Mila melanjutkan langkahnya menuju ke kantin rumah sakit.
Baru saja Aurora masuk ke dalam gedung rumah sakit Atma Jaya, dia berpapasan dengan Irsyan yang akan pulang bekerja.
"Sayang, kok ada disini?" tanya Irsyan yang terkejut melihat keberadaan istrinya di rumah sakit tempatnya bekerja.
__ADS_1
"Iya Mas, aku mau menjenguk Mamanya Mila yang dirawat disini," jelas Aurora.
"Mamanya Mila sakit apa?" Irsyan tidak mengetahui jika Rahma dirawat disana dikarenakan dia berjaga di bangsal cempaka sedangkan Rahma di bangsal melati yang berbeda gedung dengan tempatnya bertugas.
"Kata Mila tadi sih vertigo, semalam beliau pingsan dan langsung dibawa kesini," jawab Aurora
"Astaghfirullah, ya udah ayo kita jenguk beliau sama-sama," ajak Irsyan.
"Iya Mas."
Aurora mengetuk pintu ruang rawat Rahma sebelum memasukinya, setelah suara bariton Erwin terdengar menyuruhnya untuk masuk barulah Aurora membuka pintu.
"Assalamualaikum," ucap Irsyan dan Aurora dengan serempak.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Disana pun ada ketiga sahabat Aurora lainnya yang juga menjenguk Rahma.
"Hai pengantin baru," goda Andre. Aurora dan Irsyan menanggapinya dengan senyuman. Tak lupa Aurora dan Irsyan menyalami kedua orang tua Mila.
"Gimana keadaan Tante?" tanya Aurora.
"Alhamdulillah baik, nak," jawab Rahma.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau Tante udah baikan."
"Lo keliatan agak gemukan deh Ra," ucap Kiran tiba-tiba.
"Ya bener, apa jangan-jangan lo hamil?" timpal Andre.
"Aamiin semoga aja benar, tapi badan gue begini karena banyak makan," jelas Aurora terkekeh.
"Kalau kalian berdua kapan nikahnya nih?" sahut Irsyan yang bertanya pada Andre dan Kiran.
"Insya Allah secepatnya, minggu depan gue datang ke rumah dia untuk melamar, kalian semua datang ya," ucap Andre dan mendapatkan jempol dari semua sahabatnya.
"Gue pasti datang kok, Ndre," ucap Wawan. Andre mengangguk dan tersenyum.
"Kalau Mila dan Wawan kapan nih?" tanya Kiran.
"Gue masih nungguin doi peka dulu," ucap Mila.
"Memangnya siapa?" tanya Andre penasaran.
"Dih kepo banget, besok kalau gue sama dia udah jadian baru deh gue kasi tau," jawab Mila.
Andre mendengus kesal, lalu menatap Wawan. "Kalau lo, Wan?"
"Gue masih nyari jodoh yang tepat," jawab Wawan dengan santai.
"Kenapa nggak sama Mila aja Wan?" celetuk Erwin membuat atensi yang ada di ruangan itu mengarah padanya.
"Nggak deh Om, makasih. Bisa-bisa kena darah tinggi kalau saya nikah sama Mila," ucap Wawan. Tak bisa dia bayangkan jika dirinya menikah dengan Mila, yang ada nanti dia bisa mati muda dibuatnya.
"Ye gue juga nggak mau kali sama lo, lo itu bukan tipe gue," balas Mila.
"Ya deh yang punya tipe cowok berseragam," sindir Wawan. Mila hanya mendegus dan yang lainnya hanya geleng-geleng kepala.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.