GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 87


__ADS_3

“Mas bangun ...” Aurora membangunkan Irsyan yang tengah tertidur pulas.


“Eugghhh.” Irsyan pun mulai terusik.


“Mas bangun hiks… hiks…” isak Aurora sambil memukul pelan dada Irsyan.


Irsyan langsung terduduk saat mendengar isakan Aurora dengan mata yang masih terpejam. Ia meraba-raba nakas sampingnya mencari keberadaan ponselnya untuk memeriksa jam.


“Ya Allah sayang, ini masih jam 1 pagi loh, belum waktunya Mas berangkat kerja,” ucap Irsyan seraya menunjukkan layar ponselnya pada Aurora yang baru menampilkan pukul 1 pagi.


“Hiks.” Bukannya menjawab, Aurora malah semakin terisak.


Irsyan yang pada dasarnya masih mengantuk itu langsung membuka matanya lebar-lebar dengan terpaksa karena suara isakan istrinya yang cukup mengganggu pendengarannya.


“Kenapa sayangku, cintaku? Kamu mau apa hem?” tanya Irsyan dengan lembut.


“Aku lapar, mau makan hiks-“


“Mau makan hiks? Makanan jenis apa itu sayang? Mas baru pertama kali mendengarnya,” potong Irsyan tak mendengar lanjutan kemauan dari istrinya.


“Ih aku belum selesai ngomong!” kesal Aurora sambil memukul keras tangan Irsyan.


“Aduhh, oh belum selesai ngomongnya. Ya udah kamu mau makan apa?” tanya Irsyan lagi sambil mengelus surai panjang Aurora.


“Aku pengen makan nasi goreng gila,” pinta Aurora yang sepertinya sedang mengidamkan makanan itu.


“Hah nasi goreng gila?” Pasalnya Irsyan baru pertama kali mendengar tentang nasi goreng gila yang disebutkan oleh Aurora tadi.


Aurora mengangguk, ia mengotak-atik ponselnya, kemudian menunjukkan gambar nasi goreng gila seperti permintaannya itu pada Irsyan.


“Nasi goreng kayak gini Mas.”


“Oh kayak gitu, tapi itu nggak buat kamu jadi gila kan?” tanya Irsyan polos. Aurora menghela napas panjang, pertanyaan bodoh dari suaminya ini benar-benar memancing emosinya.


“Aku lagi malas berdebat ya Mas, sekarang belikan aku nasi goreng gila, sekarang! Anak kamu loh yang pengen, jangan sampai nanti anak Mas ileran karena Papanya nggak ngikutin kemauan dia,” perintah Aurora dengan sedikit ancaman disana sambil mengelus perutnya. Dengan cara ini Aurora yakin suaminya itu akan menuruti keinginannya.


“Astaghfirullah, amit-amit jabang bayi, jangan sampai kejadian deh, sayang. Ya kali Papa sama Mama tampan dan cantik, lah anaknya malah ileran,” balas irsyan bergidik ngeri, ia tak bisa membayangkan jika nanti anaknya akan seperti itu.


“Terus nasi goreng gila itu beli dimana sayang? Memangnya masih ada yang buka di jam segini?” tanya Irsyan.


“Belinya di simpang empat, dekat kok dengan komplek perumahan Papa, abang-abangnya itu buka dari habis isya sampai menjelang subuh,” terang Aurora. Irsyan menatap curiga ke arah istrinya.


“Kok kamu tau mereka buka dan nutupnya di jam segitu?”

__ADS_1


“Ya dulu aku sering beli nasi goreng disana, udah sana Mas beliin aku sekarang, aku udah laper banget!” ujar Aurora sambil mendorong tubuh Irsyan untuk segera pergi membelikannya


“Iya ini Mas mau pergi sayang.”


“Cepetan ya Mas.”


“Iya sayangku,” balas Irsyan sambil mengecup kening Aurora sebelum ia bergegas ke dalam kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci wajahnya sebelum keluar, tak lupa ia mengenakan jaket pada tubuhnya, mengambil dompet, ponsel dan juga kunci motor.


Irsyan menyusuri jalanan menggunakan motor agar lebih cepat.


Menjadi suami siaga dan protective pada istrinya yang sedang hamil itu membuat Irsyan kerepotan dan menahan kesabaran jika sudah meladeni ngidam nya Aurora.


Irsyan melajukan motornya disepanjang jalan masih terlihat ramai meskipun jam sudah menunjukkan pukul setengah 2 pagi. Matanya mengedar mencari abang-abang penjual nasi goreng gila yang disebutkan oleh Aurora tadi.


Akhirnya irsyan pun menemukan penjual nasi goreng gila tersebut, ternyata benar, jika penjual nasi goreng itu tidak jauh dari komplek perumahan Papanya. Ia menghentikan Rambo, alias motor ninja kesayangannya di depan tenda penjual nasi goreng tersebut. Disana pembelinya cukup ramai meski sudah tengah malam seperti ini, Irsyan berpikir jika nasi goreng gilanya pasti enak sampai ramai seperti itu.


“Bang nasi goreng gilanya satu,” pesan Irsyan pada abang penjual nasi goreng gila itu.


“Siap Mas.”


Setelah mengantri cukup lama, akhirnya pesanan Irsyan selesai dibungkus. Setelah selesai membayar, Irsyan pun kembali melajukan motornya menuju rumah, sekitar 10 menit kemudian Irsyan pun memasuki area komplek perumahan elit rumah Papanya, ia memarkirkan motornya di garasi dan dengan langkah lebar memasuki rumah.


Sesampainya di kamar, Irsyan mendapati Aurora sedang ngemil sambil menonton kartun Tom and Jerry seraya sesekali tertawa. Irsyan tersenyum dan geleng-geleng kepala melihatnya, padahal istrinya itu sudah berumur 25 tahun tapi masih saja suka menonton kartun yang biasa ditonton oleh anak kecil.


“Yey akhirnya datang juga,” sorak Aurora meloncat dari sofa. Gerakan grasak-grusuk Aurora membuat jantung Irsyan seperti akan lompat dari tempatnya.


Irsyan berlari cepat ke arah Aurora, ia sangat takut Aurora terjatuh dan membahayakan janin yang di kandungannya. Istrinya itu memang sangat aktif, tak jarang Aurora juga ceroboh, seperti lupa jika dirinya itu tengah hamil.


“Ya Allah sayang! Jangan lompat-lompat gitu, bikin Mas jantungan aja!” ucap Irsyan panik langsung memeluk tubuh Aurora yang berlari ke arahnya.


“Maaf Mas, abisnya seneng kamu bawa nasi goreng pesanan aku,” balas Aurora cengengesan sambil menggoyang-goyangkan tubuh irsyan ke kanan-kiri saking senangnya. Irsyan melepas pelukannya, namun raut wajahnya masih panik.


“Lain kali jangan lompat-lompat kayak gitu lagi, ingat kamu itu-“


“Ish iya-iya aku tau Mas! Sini nasi gorengnya, aku udah laper banget,” potong Aurora sambil mengambil bungkusan nasi goreng dari tangan suaminya. Irsyan hanya bisa mengelus dada, harus bersabar menghadapi ibu hamil satu ini.


Dengan tak sabaran Aurora memindahkan nasi goreng yang berada di bungkusan tadi ke dalam piring yang memang sudah ia siapkan sejak Irsyan pergi keluar mencarikannya nasi goreng gila tersebut. Aurora pun mulai menyantap nasi goreng tersebut.


“Mas mau?” tawar Aurora setelah beberapa sendok nasi goreng melesat ke dalam mulutnya.


“Boleh,” jawab Irsyan mengangguk. Aurora pun menyuapi suaminya.


“Gimana Mas, enakkan?”

__ADS_1


Irsyan manggut-manggut, “Enak sayang, ini pertama kalinya Mas makan nasi goreng gila, ya walaupun rasanya hampir sama dengan nasi goreng biasa, tapi mungkin yang jadi kelebihan dari goreng gila ini adalah toppingnya yang melimpah.”


“Iya bener banget Mas, makanya aku seneng banget belinya karena toppingnya itu banyak banget,” timpal Aurora.


Setelah selesai makan, Irsyan dan Aurora kembali tidur saat jam sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi.


...****************...


Karena hari ini adalah hari minggu, Irsyan diberikan cuti sehari oleh kepala rumah sakit untuk mempersiapkan keperluan sebelum pergi ke desa U. Dengan itu, Irsyan meluangkan waktunya untuk berkumpul bersama sahabat-sahabatnya yang tak lain adalah Aji, Rilen, Beni dan satu lagi yakni Satria yang kebetulan juga tengah mendapatkan libur. Mereka kumpul di salah satu café milik Jihan.


“Lo beneran mau pergi disaat istri lo sedang hamil?” tanya Satria memastikan Irsyan.


“Ya mau gimana lagi, panggilan negara.”


"Ya juga sih, tapi kasihan juga istri lo ditinggal," sahut Rilen yang juga pernah merasakan gimana rasanya ninggalin sang istri yang tengah hamil muda ke luar kota untuk beberapa bulan karena ditugaskan disana, ingat dia adalah seorang tentara yang harus siap dikirim dan ditugaskan kemana saja setiap ada perintah dari sang atasan.


"Jangan bikin gue jadi semakin ragu dong untuk pergi," balas Irsyan lesu.


"Iya nih, seharusnya kasih support ke kita dong!" timpal Aji.


"Iya-iya," ucap Rilen dengan nada malas.


"Siapa tau nanti gue dapat jodoh kembang desa disana," ucap Aji berharap.


"Kembang desa? Mba Kunti ya maksud lo?" celetuk Beni. Sekalinya bicara, perkataan Beni langsung menusuk ke uluh hati. Membuat Irsyan, Satria dan Rilen langsung tertawa terbahak-bahak sedangkan Aji mendengus kesal.


"Ya bukan gitu juga Beni sapinya Dora. Maksud gue cewek-cewek perawan disana, gue yakin pasti cantik-cantik. Gue harus bisa menggaet salah satu dari mereka," ucap Aji menggebu-gebu.


"Serah lo deh! Yang terpenting kalian berdua jangan berbuat yang aneh-aneh disana, biasanya setiap desa atau tempat itu punya peraturan dan adat istiadat masih-masing yang harus ditaati," pesan Beni.


"Iya gue ngerti kok," balas Irsyan dan Aji hanya mengangguk mengiyakan ucapan Beni tadi yang memang benar adanya.


"Len," panggil Aji.


"Kenapa?"


"Kemarin kan Imlek nih, angpao buat gue mana? Kan gue belum nikah, jadi gue dapat dong," pinta Aji. Diantara mereka berlima, hanya Rilen lah yang berbeda keyakinannya.


"Kagak ada habis, telat sih lo mintanya!" Lagi-lagi Aji mendengus kesal sedangkan yang lainnya hanya bisa terkekeh dan geleng-geleng kepala dengan tingkah Aji.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2