
Di luar ruangan Irsyan, Ghea datang sambil misuh-misuh ingin bertemu dengan Irsyan tapi di tahan Radit dan Sara. Kedatangan Ghea ke HC PROPERTIE'S itu untuk protes, karena dengan kejamnya Irsyan memutuskan kerja sama dengan perusahaan ayahnya tiba-tiba seperti itu dan tanpa alasan yang jelas.
"Saya ingin bertemu dengan pak Irsyan! Kenapa kalian menghalangi jalan saya!" sentak Ghea marah.
"Maaf, Nona. Pak Irsyan saat ini tidak ingin di ganggu!" ucap Radit.
"Saya tidak peduli, saya ingin bertemu dengannya!" Ghea terus bersikukuh bertemu dengan Irsyan. Radit dan Sara saling pandang, lalu mengangguk. Radit pun berjalan ke arah ruangan Irsyan, lalu mengetuk pintu atasannya itu.
"Masuk!"
Radit masuk ke dalam ruangan Irsyan, "Permisi, maaf menganggu, Pak."
Irsyan menatap Radit, "Kenapa, Radit?"
"Di depan ada nona Ghea yang sedang marah-marah ingin bertemu dengan anda," jelas Radit.
Irsyan menghela napas pendek, "Suruh dia masuk!"
Radit mengangguk, "Baik, Pak."
Radit keluar memanggil Ghea. Ghea masuk ke ruangan Irsyan dengan wajah memerah dan tanpa permisi.
"Apa alasan anda membatalkan kerja sama perusahaan anda dengan perusahaan Papa saya secara tiba-tiba seperti itu dan tanpa alasan yang jelas?!"
Irsyan melepaskan bolpoin di tangannya lalu menatap Ghea, "Sudah sangat jelas saya katakan, perusahaan pak Gibran tidak cocok dengan perusahaan saya!"
"Ya tapi kenapa?" sentak Ghea.
"Setelah saya mencari seluk beluk perusahaan ayah anda dan faktanya begitu mencengangkan. Ternyata selama ini pak Gibran suka menggelapkan dana dari investornya."
Itu salah satu Irsyan membatalkan kerja sama dengan perusahaan Gibran. Alasan lainnya, Irsyan tidak ingin Ghea mengganggu ketenangan keluarganya lagi.
Mata Ghea membulat mendengar ucapan Irsyan, "Bohong! Mana mungkin Papa saya melakukan itu!" ucapnya tak terima.
Irsyan tersenyum sinis, "Ya itu karena anda anak dari pak Gibran. Maka dari itu tentu saja anda membela ayah anda sendiri. Lebih baik sekarang anda pergi dari perusahaan saya, sebelum saya menyuruh keamanan untuk mengusir anda!"
Ghea menggertak giginya dan mengepalkan tangannya. "Saya tidak terima dengan ini dan saya akan membalas perbuatan anda!"
Ghea keluar dari ruangan Irsyan dengan wajah penuh emosi.
"Huft... Rasanya aku ingin menghancurkan orang-orang seperti itu," gumam Irsyan.
...***************...
Caca yang bosan di rumah berencana untuk keluar, tapi sang kakek tak mungkin membiarkannya keluar sendirian. Caca tidak ingin dijaga oleh bodyguard sang kakek, karena hampir semua bodyguard tuan Ibrahim berwajah datar dan kaku, Caca tidak suka dengan orang-orang seperti itu. Tapi beda lagi dengan Aril, walaupun masih suka datar dan dingin kepadanya, Caca tetap menyukai pria itu.
Jadi sekarang Caca bingung harus mengajak siapa, ia telah lost contact dengan Lala sejak 3 tahun yang lalu dan sampai sekarang Caca tidak mengetahui keberadaan sahabatnya itu. Karena ia pernah sempat mencari Lala di rumahnya yang dulu, tapi nihil. Para tetangga Lala disana mengatakan jika Lala serta keluarganya sudah pindah rumah dan tidak tau pindah kemana.
Aril, mau tak mau Caca mengajak pria itu. Ia mencoba menghubungi Aril, Caca yakin jika keluar bersama pria itu kakeknya pasti mengizinkannya.
Pada dering kedua, telpon dari Caca diangkat oleh Aril.
"Halo, Ril. Malam ini kamu sibuk nggak?"
"Kebetulan tidak, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Aril.
"Kamu bisa nggak temenin aku makan di luar? Aku bosan di rumah," keluh Caca.
"Bisa, Nona. Tunggu dua puluh menit saya akan kesana."
"Oke, Ril!" ucap Caca girang dan mematikan sambungan telepon tersebut. Caca segera bersiap-siap, ia harus berdandan secantik mungkin di depan Aril. Hah... Karena pria itu Caca menjadi seperti ini.
TOK! TOK! TOK!
__ADS_1
Pintu kamar Caca di ketuk oleh salah satu pelayan di rumah kakeknya.
"Nona, ada tuan Aril yang menunggu anda di ruang tamu!"
"Iya Bi. Aku akan keluar!" teriak Caca dari dalam kamar.
"Baik, Nona."
Caca memperhatikan lagi penampilannya. "Oke sempurna!"
Caca mengambil tas selempang nya dan keluar dari kamar, berjalan cepat ke ruang tamu. Ia takut jika Aril menunggunya lama. Caca melihat Aril sedang mengobrol dengan kakeknya berdua.
"Kakek, Aril!" sapa Caca membuat kedua pria berbeda generasi itu melihat ke arahnya. Tuan Ibrahim tersenyum, sedangkan Aril hanya menatap Caca tanpa ekspresi tapi tatapan pria itu membuat Caca menjadi salah tingkah.
"Kalian sudah ingin pergi?" tanya tuan Ibrahim.
"Iya Tuan. Jika Tuan mengizinkan," jawab Aril sopan.
Tuan Ibrahim tersenyum, "Tentu aku mengizinkan kalian. Aril, tolong jaga cucuku!"
"Baik, Tuan."
Caca dan Aril pun keluar dari rumah mewah itu. Caca tertegun saat Aril datang kesini dengan membawa motor. Ia jadi mengingat masa-masa dimana ia dan Aril berboncengan sambil bercerita.
"Kenapa, Nona? Anda tidak ingin naik motor? Biar saya meminta pada bodyguard untuk membawa mobil kesini," tanya Aril melihat kediaman Caca.
Caca menggeleng, "Pakai motor aja, Ril."
"Anda yakin?" tanya Aril memastikannya.
Caca mengangguk mantap, "Ayo kita pergi! Aku sudah lapar sekali."
Aril mengangguk, tak lupa memberikan Caca helm dan dipakai oleh wanita itu. Motor sport itu langsung melesat ke ke restoran yang dikatakan oleh Caca tadi.
"Auuhh!" ringis Caca saat kepalanya membentur kepala Aril yang menggunakan helm dan untung saja ia juga mengenakannya.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Aril membalikkan sedikit badannya untuk melihat Caca.
"Aku gapapa, Ril. Cuma kaget aja," jelas Caca.
Aril sedikit lega. Pria itu mengambil tangan Caca dan melingkarkan tangan Caca ke perutnya.
"Eh?"
"Biar anda lebih aman," ucap Aril.
Caca tersenyum namun tidak terlihat oleh Aril, saat ini jantungnya seperti sedang menari-nari di dalam. Ia sangat senang, jadi Caca bisa lebih dekat dengan Aril. Caca menyenderkan kepalanya di punggung lebar milik pria yang sedang memboncengnya itu. Begitu hangat dan nyaman. Diam-diam di balik helmnya, Aril tersenyum.
Sesampainya di restoran, mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam. Lalu memilih tempat duduk dan memesan makanan.
"Nona, saya izin ke toilet sebentar," ucap Aril.
Caca mengangguk, "Silahkan, Ril."
Aril mengangguk, berjalan ke toilet yang ada di restoran tersebut. Sementara itu, seorang pria menghampiri Caca.
"Caca!"
Caca melihat ke arah pria yang memanggilnya tadi, "Kak Bintang," gumamnya.
Bintang mendekati Caca dan duduk di kursi samping Caca tanpa izin, "Lo Caira Masya Dilaver, kan?" tanyanya memastikan.
Caca mengangguk dan tersenyum, "Iya benar, kak. Kakak apa kabar?" tanyanya pada mantan ketua OSIS itu.
__ADS_1
"Gue baik. Lo gimana?" tanya balik Bintang.
"Aku juga baik."
Di lubuk hati terdalam, Bintang masih menyukai Caca. Walaupun pria itu kini sudah menikah, tapi Bintang tidak mencintai wanita yang menjadi istrinya, karena memang mereka di jodohkan. Apakah dia harus mengejar cinta Caca lagi?
"Syukurlah. Kapan lo balik dari Turki?" tanya Bintang basa-basi.
"Baru sekitar 2 mingguan," jawab Caca.
Bintang manggut-manggut, kemudian menatap Caca penuh arti, "Kamu bertambah cantik aja, Ca," pujinya.
Wajah Caca sedikit memerah, ia tersipu. "Kakak bisa aja. Wajah aku dari dulu begini aja, nggak ada yang berubah."
"Gue serius Caca, lo semakin cantik dan dewasa. Apa gue boleh--"
"Sayang!" panggil seseorang menghampiri Caca dan merangkul pundak Caca yang sedang duduk itu. Sang empu yang di rangkul langsung terkejut melihat siapa yang merangkulnya.
"Aril," gumam Caca. Apa masuk dari pria itu memanggilnya dengan sebutan sayang dan merangkulnya? Dan sialnya, jantung Caca makin berdegup kencang dibuatnya.
"Aril! Lo mau ngapain kesini?" tanya Bintang tak suka.
Aril menaikan satu alisnya, "Ya gue kesini sama pacar gue untuk makan malam. Seharusnya gue yang nanya, mau ngapain lo kesini?" tanyanya balik. Aril tidak suka melihat Bintang mendekati Caca, ia juga mengetahui jika Bintang telah menikah dan itu yang semakin membuat Aril tidak suka lagi.
Bintang mengerutkan keningnya, "Pacar?" beonya.
"Iya, gue pacarnya Caca. Lebih tepatnya di calon istri gue."
Setelah Aril mengatakan jika Caca adalah calon istrinya, Caca merasa berada di atas awan. Wanita itu merasa terbang dan seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di dalam hatinya. Tapi Caca tidak boleh terlalu berharap, ia yakin ada maksud tersembunyi kenapa Aril mengatakan seperti itu.
Bintang menatap ke Caca untuk meminta penjelasan, "Apa benar kalau Aril itu calon suami lo, Ca?"
"I-iya benar kak," jawab Caca gugup.
Hati Bintang langsung sakit mendengarnya. Ia langsung pamit, meninggal Caca dan Aril. Aril melepaskan rangkulannya setelah kepergian Bintang, lalu duduk di depan Caca.
"Apa maksud kamu mengatakan itu?" tanya Caca.
"Maaf jika ucapan saya tadi membuat anda tidak suka. Saya mengatakan itu agar Bintang tidak mendekati anda lagi," jawab Aril.
"Ya tapi kenapa?"
"Karena Bintang sudah menikah dan saya tidak ingin Nona mendapatkan masalah jika berdekatan dengan dia," jelas Aril.
Caca tersenyum kecut dan manggut-manggut. Untung saja ia tidak terlalu terbawa perasaan. Ya walaupun juga begitu sesak Caca rasakan.
Tak lama makanan pesanan mereka pun sampai."
"Ril," panggil Caca di sela-sela makan.
Aril melepaskan alat-alat makan di tangannya dan menatap Caca, "Kenapa, Nona?"
"Aku sangat berharap kamu tidak menggunakan bahasa terlalu formal, rasanya begitu aneh," ujar Caca.
"Maaf saya tidak bisa, Nona. Anda merupakan atasan saya, sangat tidak etis jika menggunakan bahasa tidak formal," tolak Aril.
"Aku mohon Ril, pakai bahasa santai aja jika kita berduaan seperti ini. Dan kamu boleh menggunakan bahasa formal, jika kita berada di kantor," pinta Caca dengan wajah memelas.
Aril menghela napas dan mengangguk, "Iya akan aku coba."
Caca tersenyum sumringah, "Nah gitu dong. Aku kan jadi nggak canggung lagi."
...----------------...
__ADS_1
To be continued.