GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 81


__ADS_3

Aurora dan Bima kini berada di kursi tunggu di depan IGD tengah menunggu ibu Rosma atau ibu dari Bima diperiksa oleh Dokter. Setelah istirahat tadi, Aurora langsung pergi ke alamat rumah Bima, sesampainya disana Aurora sangat terkejut dan prihatin dengan kondisi rumah Bima yang jauh dari kata nyaman untuk ditinggali, bahkan kata Bima jika hujan pasti rumahnya itu akan kebocoran, lantai rumahnya dari semen dan itupun habis retak, tembok rumahnya pun begitu sampai retak dan cat dindingnya telah usang.


Aurora berniat untuk membelikan rumah untuk Bima dan ibunya walaupun minimalis yang terpenting nyaman untuk ditinggali untuk mereka berdua dan Aurora akan meminta bantuan pada Irsyan karena suaminya itulah yang mengerti tentang properti.


"Sayang," panggil Irsyan menghampiri Aurora dengan langkah tergesa-gesa. Aurora mengajak ibu Rosma berobat di rumah sakit tempat suaminya bekerja.


"Mas Irsyan!"


"Gimana keadaan ibu dari Bima?" tanya Irsyan sambil duduk di samping Aurora. Sebelumnya Aurora sudah menelpon Irsyan dan menjelaskan perihal tentang Bima dan Ibunya, makanya setelah jam istirahat, Irsyan langsung menghampiri istrinya ke depan ruang IGD.


"Dokter belum keluar Mas," jawab Aurora.


"Oh ya Bima, kenalkan ini suami kakak, namanya kak Irsyan," ucap Aurora memperkenalkan suaminya pada Bima.


"Halo Bima, kenalkan nama kakak, Irsyan," timpal Irsyan yang memperkenalkan dirinya.


"Aku Bima, bang Irsyan," balas Bima tersenyum. Irsyan pun tak mempermasalahkan jika Bima menyebut dirinya Abang, toh Abang sama kakak memiliki arti yang sama.


"Kamu yang sabar ya Bima, Abang yakin ibumu bisa sehat seperti dulu lagi," ucap Irsyan menyemangati Bima.


"Iya Bang."


Beberapa saat kemudian Dokter pun keluar dari ruang IGD. Membuat Irsyan, Aurora dan Bima langsung berdiri.


"Dengan keluarga bu Rosma?" tanya Dokter itu.


"Ya saya Dok," jawab Irsyan tegas.


"Loh Irsyan? Kamu keluarga dari pasien?" tanya Dokter itu sedikit kaget jika Irsyan adalah keluarga dari pasien yang ia periksa tadi.


"Iya Dokter Faris, beliau keluarga saya. Bagaimana dengan keadaan bu Rosma, Dok?"


"Untung saja ibu Rosma cepat dibawa kesini, kalau tidak bisa berakibat fatal pada nyawa beliau," ucap Dokter Faris.


"Memangnya penyakit ibu Rosma apa Dok?" tanya Aurora.


"Pasien terkena jantung koroner disebabkan karena adanya penumpukan lemak di dinding arteri dan untuk mengatasi hal tersebut harus mengambil tindakan operasi pemasangan ring atau dalam dunia medis disebut angioplasti koroner pada jantung bu Rosma, tindakan ini diharapkan bisa melancarkan peredaran darah dan mencegah penyempitan arteri kembali pada jantung pasien," jelas Dokter yang bernama Faris itu.


Irsyan dan Aurora sedih mendengar penyakit yang diderita bu Rosma, sedangkan Bima hanya diam menyimak, bocah berusia 11 tahun itu tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Dokter Faris.


"Baik Dok, lakukan yang terbaik untuk kesembuhan bu Rosma," ucap Irsyan.

__ADS_1


"Baik, kami akan melakukan semaksimal mungkin. Kalian harus mengurusi di bagian administrasinya terlebih dahulu." ucap Dokter Faris.


"Baik Dok," jawab Irsyan.


"Dokter, apa aku bisa bertemu dengan Ibu?" tanya Bima. Dokter Faris menatap ke arah Bima.


"Nanti ya Dek, setelah ibu kamu dipindahkan ke ruang perawatan," jelas Dokter Faris.


"Baik Dokter," balas Bima mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter Faris.


"Ya Dok, terima kasih."


"Sama-sama." Dokter Faris pun pergi dari depan ruang IGD.


"Mas ada yang ingin aku bicarakan," sahut Aurora tiba-tiba.


"Apaan sayang?" Irsyan yang mengerti dengan tatapan Aurora yang tak ingin membicarakan disini pun langsung mengangguk.


"Bima, mau ikut Abang sama kak Aurora ke kantin nggak?" tanya Irsyan.


"Nggak Bang, Bima mau tungguin Ibu saja disini," ucap Bima.


"Iya Kak."


Irsyan dan Aurora pergi dari depan ruang IGD, lalu berjalan menuju ke kantin.


"Mas nggak sibuk apa?" tanya Aurora.


"Nggak sayang, ini udah jam istirahat Mas kok," jelas Irsyan. Mereka berdua mengambil tempat duduk di dekat jendela. Sebelum itu Irsyan telah memesan beberapa makanan untuknya dan Aurora.


"Oh gitu, syukurlah kalau aku nggak mengganggu waktu kerja Mas," ucap Aurora lega.


"Tadi kamu mau bicarakan apa sayang?" tanya Irsyan.


"Em aku boleh minta tolong nggak sama Mas?" tanya Aurora dengan hati-hati.


"Mau minta tolong apa sayang? Ngomong saja, jangan sungkan begitu sama Mas," ucap Irsyan yang melihat istrinya yang seperti malu untuk meminta bantuan padanya.


"Aku mau minta tolong sama Mas, mencarikan rumah untuk Bima dan Ibunya. Rumah yang mereka tinggali sekarang ini sangat jauh dari kata nyaman, Mas. Atap rumah bocor, lantai dan dinding rumah mereka habis retak. Bahkan kamar mandi pun mereka ada di belakang, itupun kotor sekali," ucap Aurora menjelaskan perihal rumah Bima dan Ibunya.

__ADS_1


"Untuk masalah biaya rumah biar aku yang bayar," lanjut Aurora. Irsyan menghela napas panjang, ia tak mungkin membiarkan istrinya yang membayar biaya rumah itu sendirian, Irsyan harus turun tangan.


"Iya nanti Mas carikan dan biar Mas yang bayar biaya rumah untuk Bima dan Ibunya nanti," ucap Irsyan.


"Eh jangan Mas, biar aku aja yang bayar kan aku yang minta dicarikan rumah," tolak Aurora. Ia tak ingin membebankan suaminya lagi dan Aurora juga masih punya uang dari hasil balapannya dulu, itu sudah sangat cukup untuk membeli rumah.


"Jangan nolak sayang, Mas nggak suka!" ucap Irsyan dengan tatapan dinginnya. Aurora yang tidak bisa melihat tatapan Irsyan seperti itu hanya bisa menghela napas dan menyetujuinya.


"Ya sudah, terima kasih dan maaf sudah ngerepotin Mas lagi."


"Mas ini suami kamu sayang, jadi tidak ada kata merepotkan bagi Mas untuk menuruti keinginan kamu." Tatapan Irsyan yang tadinya dingin, kini melembut. Ia kembali bangga dan sangat bersyukur memiliki istri seperti Aurora yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sifatnya benar-benar hampir sama dengan Aurora, benar kata orang jika jodoh itu adalah cerminan dari diri kita sendiri.


Aurora tersenyum haru, bolehkah dia mengatakan jika dirinya adalah wanita yang beruntung di dunia karena memiliki suami seperti Irsyan yang selalu memberikan dan memanjakan apa yang ia inginkan.


Pepatah pernah mengatakan, akan ada pelangi setelah hujan. Itulah yang Aurora rasakan sekarang, setelah Rivan dulu menyakitinya, ada Irsyan datang dan memberikannya kasih sayang sangat luar biasa yang Aurora tidak dapat dari Rivan dulu.


"Ini pesanan Mas ganteng dan Mbak cantik," ucap bibi kantin membawakan makanan yang dipesan oleh Irsyan dan Aurora tadi.


"Terima kasih Bi," ucap Irsyan dan Aurora.


"Sama-sama. Pantas saja mas Irsyan nolak cintanya para perawat dan Dokter disini, wong istrinya cantik banget gini," ucap Bibi kantin yang biasa disapa dengan bi Sumi. Bi Sumi terpana melihat kecantikan Aurora, walaupun dia juga seorang wanita.


"Dia bukan hanya cantik di wajah saja Bi, hatinya juga sangat cantik makanya saya memilihnya menjadi istri saya," timpal Irsyan menatap Aurora dengan tatapan cintanya. Aurora yang ditatap seperti itu langsung tersipu malu.


"Oalah pantas saja orang-orang yang menyatakan cintanya pada mas Irsyan kalah. Wong mas Irsyan dapat istri spek bidadari kayak gini," puji bi Sumi.


"Ah Bibi bisa aja." Aurora tidak suka jika ada seseorang yang berlebihan memuji dirinya.


"Bibi serius loh Mbak," timpal bi Sumi. Aurora hanya tersenyum.


"Oh ya, saya pesan 1 nasi ayam lagi tapi di bungkus ya?" pesan Aurora sengaja untuk mengalihkan pembicaraan. Nasi itu Aurora pesankan untuk Bima.


"Oke Mbak, kalau gitu Bibi buatkan pesanannya dulu," ucap bi Sumi.


"Iya Bi."


"Makanan itu untuk Bima?" tanya Irsyan setelah bi Sumi pergi dari meja mereka.


"Iya Mas, Bima juga pasti belum makan siang," ucap Aurora.


"Iya bener juga sih. Ya sudah sekarang kita makan dulu, sebelum kita ke Bima lagi," ujar Irsyan dan diangguki Aurora.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2