GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 130


__ADS_3

Mila meminta izin ke sang Mama untuk pergi ke rumah Satria atas suruhan Bunda Lena yang mengatakan jika wanita paruh baya itu ingin bertemu dengannya.


Mila memencet bel rumah yang tersedia di gerbang rumah itu. Tak lama satpam pun membukakan gerbang lalu menyuruh Mila masuk ke rumah langsung.


"Assalamualaikum," ucap Mila.


Lena yang sedang berada di ruang tengah mendengar ucapan salam dari Mila pun segera melihat siapa orang yang bertamu ke rumahnya.


"Waalaikumsalam, eh nak Mila, silahkan masuk," ujar Lena mempersilahkan Mila untuk masuk.


"Iya Bunda." Mila masuk lalu duduk di sofa dan di ikuti Lena, sebelum itu ia menyalami tangan Lena terlebih dulu.


"Kamu apa kabar nak?" tanya Lena pada Mila.


"Alhamdulillah aku baik Bunda, Bunda gimana?" tanya balik Mila.


"Alhamdulillah Bunda juga baik. Udah lumayan lama kita tidak bertemu, terakhir bertemu waktu kita di Mekkah. Kamu sih nggak pernah main-main ke rumah Ayah," papar Lena.


"Maaf Bunda, soalnya belakangan ini Mila sibuk," ucap Mila.


"Iya Bunda ngerti. Masya Allah sekarang kamu tambah cantik saja setelah berhijab," puji Lena saat melihat penampilan Mila yang kini mantap menggunakan hijab.


"Alhamdulillah terima kasih Bunda." Mila mengedarkan pandangannya ke sekeliling seperti sedang mencari seseorang.


"Cari siapa nak? Satria ya?" tanya Lena menggoda Mila. Mila langsung gelagapan saat di tanya seperti itu, wanita paruh baya itu tau saja jika dirinya tengah mencari anak sulungnya itu.


"Ah iya Bunda. Mas Satria, Ayah sama Rifqi mana ya?" tanya Mila.


"Satria tadi katanya lagi mandi, kalau Ayah ada piket besok pagi pulangnya dan Rifqi lagi main-main ke rumah temannya," jelas Lena dan di balas manggut-manggut oleh Mila.


"Assalamualaikum," ucap seseorang tiba-tiba.


Lena dan Mila langsung menolehkan pandangan mereka dan menatap orang yang mengucapkan salam tadi.


"Waalaikumsalam," jawab mereka berdua.


"Bunda Lena," panggil seorang gadis berhijab syar'i itu lalu mendekati Lena dan memeluknya.


"Aisha!" Lena terkejut dengan kedatangan gadis yang ia panggil Aisha itu dan Lena pun membalas pelukan dari Aisha.


Mila memerhatikan gadis yang bernama Aisha itu, sangat cantik, natural, suaranya terdengar lembut di telinga, putih, pakaiannya tertutup walau tidak menggunakan cadar.


Baru kali ini Mila merasa minder, secara ia baru-baru mengenakan hijab dan masih belum terbiasa menggunakan gamis panjang.


Aisha melepaskan pelukannya dan menyalami tangan Lena, "Bunda apa kabar?" tanyanya.


"Alhamdulillah kabar Bunda baik, kamu juga baik kan, nak?" tanya balik Lena.


"Alhamdulillah baik."

__ADS_1


"Setelah 3 tahun kita tidak pernah bertemu kamu makin cantik aja ya Aisha. Mana tidak mengabari Bunda dulu kalau mau kesini," ucap Lena.


"Maaf Bunda, Aisha kesini tanpa mengabari karena kebetulan perkuliahan lagi libur. Terus Abi dan Umi menyuruh berkunjung kesini," jelas Aisha dengan suara lemah lembutnya.


"Oh seperti itu, jadi kamu masih kuliah di Yaman?" tanya Lena.


"Iya masih Bunda."


'Kuliah di Yaman? Tambah insecure deh gue, pasti ilmu agamanya bagus banget tuh,' batin Mila sambil terus menatap ke arah Aisha.


"Terus bagaimana kabar kedua orang tua kamu disana, baik-baik saja kan?"


"Alhamdulillah mereka juga baik. Oh ya, ini ada sedikit oleh-oleh dari kota Y untuk Bunda dan yang lain." Aisha menyerahkan sebuah paper bag besar yang berisi oleh-oleh dari kota asalnya.


"Syukron katsiiran, Aisha."


"Afwan, Bunda."


Aisha yang merasa diperhatikan sedari tadi pun menatap ke arah Mila, "Ah maaf, aku tidak sadar kalau ada tamu disini." Aisha menghampiri Mila dan menjabat tangannya.


"Hai aku Aisha, nama kamu siapa?" tanya Aisha.


"Aku Mila, salam kenal Aisha." Mila menjabat balik tangan Aisha lalu tersenyum ramah.


"A-Aisha?!" Satria yang datang ke ruang tamu itu sangat terkejut saat melihat kedatangan Aisha yang tiba-tiba.


"Assalamualaikum mas Satria," ucap Aisha dan langsung menundukkan pandangannya.


"Waalaikumsalam Aisha," jawab Satria dengan nada lembut, itu yang membuat Mila kaget mendengarnya.


"Kenapa baru sekarang Ais?" tanya Satria pada Aisha.


Lena pun pergi meninggalkan mereka bertiga menuju ke dapur sekaligus membuatkan minuman dan cemilan untuk mereka.


"Apa maksudmu, Mas?" tanya Aisha bingung.


"Kenapa kamu baru muncul sekarang, kamu tau? Aku kangen banget sama kamu!"


DEG!


Mila lagi-lagi terkejut dengan penuturan dari Satria, mengapa dirinya merasa tidak ikhlas? Hatinya pun terasa sesak. Apa iya Mila benar-benar jatuh cinta pada Satria dan apa tadi itu adalah tanda jika dirinya tengah cemburu?


"Maafkan aku," sesal Aisha.


"Mas kan tau kalau aku masih mengenyam pendidikan di Yaman," sambungnya, ia masih menundukkan kepalanya tidak ingin bertatapan dengan Satria.


"Ya aku mengerti dirimu sedang sibuk mengejar cita-cita disana," balas Satria dan Aisha hanya membalasnya dengan senyuman.


Mila yang tak tahan menjadi kambing congek diantara mereka langsung berdehem keras menyadarkan kedua orang berbeda gender itu.

__ADS_1


Satria pun yang lupa jika disana ada Mila seketika sedikit menjauh dari Aisha.


Mila memandang sendu ke arah bawah, "Maaf aku ganggu kalian, kalau gitu aku pamit pulang aja."


"Lah kenapa cepet banget Mil? Lo kan juga baru sampai," tanya Satria menatap Mila heran.


"Mila itu siapanya, mas Satria?" sahut Aisha penasaran.


"Oh dia teman aku, Ais," jelas Satria.


Teman? Hahaha, rasanya Mila ingin tertawa kencang sambil menangis mendengar ucapan Satria. Ia harus cepat-cepat sadarkan diri, jika Satria itu menganggap dirinya hanya sebatas teman, ingat hanya teman!


"Gapapa Mas, soalnya gue juga ada urusan," elak Mila, tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, jika hatinya terasa panas alias cemburu.


"Kalau gitu gue pamit. Salam sama Bunda, bilang gue nggak bisa lama-lama soalnya ada urusan penting," sambungnya. Satria mengangguk walau di hatinya seperti ada yang mengganjal.


"Lo hati-hati di jalan."


"Iya Mas, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," balas Satria dan Aisha.


Mila berjalan keluar menuju ke halaman rumah Satria, lalu menaiki motornya dan segera pergi meninggalkan rumah tersebut dengan perasaan hati yang kacau.


...****************...


Sebelum mendaratkan kakinya keluar dari mobil, Kiran terlebih dulu memakai kaca mata karena tak ingin orang berpikiran aneh-aneh tentang matanya yang membengkak akibat menangis tadi.


Kiran masuk ke dalam lift apartemen yang kemarin ia sewa, wanita yang tengah berbadan dua itu akan tinggal disitu untuk sementara waktu. Sebelum surat perceraiannya di antarkan oleh pengacaranya ke rumah Andre, Kiran yakin Andre tidak akan langsung menandatanganinya.


Oleh sebab itu Kiran akan menggunakan waktu sebaik mungkin sampai ia siap memberitahukan alasan yang tepat mengenai nasib rumah tangganya bersama Andre kepada keluarganya.


Dengan tangan yang melipat di depan dada dan pandangan fokus ke depan, Kiran bersandar pada dinding kaca lift sambil menunggu pintu lift tertutup.


Dari arah depan bisa di lihat dengan jelas seseorang berlari cepat menahan pintu lift agar tidak tertutup, Kiran yang melihat itu dengan cekatan memencet tombol berbentuk arah panah ke kanan agar pintu lift itu kembali terbuka.


"Thanks," ucap orang itu dengan menundukkan punggungnya serta kedua tangan ia tumpukan pada lututnya sambil mengatur nafas yang sudah berada di ujung hidung saking dirinya terlalu menggerakkan seluruh tenaganya untuk mencapai pintu lift.


Kiran hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia sedang malas menanggapi. Pikirannya masih berkelana ke sosok pria yang sangat ia cintai dan benci dalam waktu bersamaan.


Di dalam lift tampak hening, baik Kiran maupun laki-laki yang baru masuk ke dalam lift tadi.


'Kayak gue kenal deh sama cewek ini,' batin laki-laki itu mulai menelaah Kiran dari atas sampai bawah.


"Kiran?" ucap laki-laki itu dengan suara pelan namun masih terdengar jelas oleh Kiran.


Kiran menolehkan kepalanya ke laki-laki itu dengan dahi yang mengkerut, "Siapa ya?"


"Masa lo lupa gue itu--"

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2