
Seminggu kemudian, malam ini adalah malam yang paling mendebarkan, bagaimana tidak? Irsyan dan keluarganya akan datang ke rumah Aurora untuk melamar gadis itu.
Dari kemarin Nuri sangat sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk menyambut kedatangan Irsyan dan keluarganya tentu saja ia dibantu oleh saudara dan iparnya. Sedangkan Aurora tidak diperbolehkan membantu sang ibu untuk mempersiapkan keperluan tersebut.
Kini Irsyan dan keluarga intinya sudah berada di halaman rumah orang tua dari Aurora. Mereka datang dengan membawa banyak seserahan berupa, satu set perhiasan, makeup, baju tidur, tas dan lain sebagainya.
Laki-laki itu terlihat sangat tampan dan berwibawa mengenakan kemeja batik berwarna abu muda dipadukan dengan celana kain hitam dan sepatu pantofel hitam.
"Assalamualaikum," ucap Irsyan dan keluarganya.
"Waalaikumsalam."
"Wah tamunya sudah datang, mari masuk," ucap Nuri mempersilahkan Irsyan dan keluarganya untuk masuk. Mereka semua pun masuk ke dalam dan saling menyalami satu sama lainnya.
"Bagaimana kabar Ayah dan Ibu?" tanya Irsyan sambil menyalami Alfian dan Nuri.
"Alhamdulillah baik nak," jawab Alfian dan Nuri bersamaan. Keadaan Alfian kini sudah jauh lebih baik, karena doa dan support dari orang-orang terdekatnya. Dan tentu saja juga karena keinginan beliau yang sangat besar untuk sehat kembali seperti sedia kala.
"Alhamdulillah."
"Nak Aurora mana ya jeng?" tanya Jihan pada Nuri.
"Oh ya aurora masih di kamarnya, biar di panggilkan dulu. Ril, panggilkan kakakmu untuk kesini," titah Nuri pada Aril untuk memanggil Aurora.
"Iya Bu." Aril berdiri, lalu pergi menuju ke kamar sang kakak.
Di kamarnya Aurora telah siap dengan dress brokat panjang berwarna abu muda selaras dengan warna batik yang dikenakan oleh Irsyan. Dress yang di kenakan Aurora tersebut terdapat hiasan payet mutiara yang indah di bagian pinggangnya. Ia juga di bantu oleh MUA untuk merias wajahnya dengan makeup yang natural.
TOK!
TOK!
TOK!
"Ini Aril kak."
"Masuk aja Dek," teriak Aurora dari dalam kamarnya.
Aril membuka pintu kamar sang kakak, lalu masuk ke dalamnya.
"Masya Allah, kakak cantik banget malam ini," puji Aril sambil menelisik penampilan Aurora.
Aurora memicingkan mata, "Tumben banget kamu puji kakak."
Aril memutar matanya, "Di puji salah, di ejek pun lebih salah lagi." Aurora nyengir menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Uh gemes deh sama adik aku ini," ucapnya sambil mencubit kedua pipi Aril.
"Aduh sakit kakak!" kesal Aril.
__ADS_1
"Maaf dek," ucap Aurora cengengesan. Aril mendengus kesal.
"Kak," panggil Aril.
"Kenapa Ril?"
"Kalau kakak nanti sudah nikah jangan lupakan Aril ya kak?" lirih Aril. Mata Aurora langsung berkaca-kaca mendengarnya.
Begitulah mereka berdua, jika berjauhan mereka pasti akan saling mencari dan mengkhawatirkan. Jika sudah berdekatan pasti akan ricuh seperti kucing dan tikus. Namun mereka seperti itu karena sebenarnya mereka itu saling menyayangi satu sama lain.
"Nggak mungkin lah kakak lupain kamu dek, kakak janji bakal sering-sering main ke rumah ayah," ucap Aurora sambil memeluk Aril sebentar lalu melepaskannya.
"Iya kak, ayo kita ke depan calon suami kakak udah nungguin," ucap Aril.
"Iya dek." Mereka berdua pun keluar dari kamar menuju ke ruang tamu.
Sampailah mereka berdua diruang tamu yang sudah ramai, ada kedua orang tuanya, keluarga intinya serta keluarga inti Irsyan. Dan tak lupa juga sahabat dari Irsyan dan Aurora.
Irsyan yang melihat kedatangan Aurora tidak bisa berkedip melihat kecantikan dari calon istrinya itu.
"Nah, akhirnya datang juga," ucap Nuri tersenyum.
"Mandang nya nanti aja nak pas kalian udah sah ya," goda Harun pada putranya.
"Ish apaan sih Pa!" ucap Irsyan kesal dan semua terkekeh mendengarnya.
"Assalamualaikum," ucap Aurora sambil menyalami Jihan dan Harun.
"Waalaikumsalam."
"Makasih Tante," ucap Aurora tersipu malu mendengar pujian dari calon mertuanya.
"Jangan panggil Tante lagi dong, panggil Mama. Kan sekarang kamu bakal jadi menantunya Mama," ucap Jihan meralat ucapan Aurora.
"Iya Ma," balas Aurora tersenyum.
"Tante Aurora cantik banget malam ini," celetuk si kecil Alvaro.
"Makasih Alvaro," ucap Aurora sambil mencubit gemas pipi Alvaro yang berada di pangkuan Harun.
"Baiklah acara ini di mulai ya?" ucap Harun. Mereka semua setuju dengan ucapan Harun.
"Ayo Irsyan!" titah Jihan pada Irsyan. Irsyan mengangguk lalu mengucapkan basmalah terlebih dahulu.
"Bismillahirrahmanirrahim saya Irsyan Haris Candra datang bersama keluarga saya untuk meminta izin menikahi perempuan bernama Aurora Putri Ramadhina. Menjadikannya istri dan ibu dari anak-anak saya kelak dan menjadikannya penopang hidup saya hingga maut yang memisahkan kami berdua."
"Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Pernikahan yang sempurna adalah ketika dua orang yang tidak sempurna saling melengkapi satu sama lain. Aurora Putri Ramadhina, maukah kamu melengkapi sebuah nama di buku nikahku yang masih kosong itu?" Ucapan Irsyan membuat semua orang yang mendengarkan tersenyum, terlebih lagi Aurora yang menunduk untuk menutupi rasa malunya.
"Sweet banget kata-katanya, bikin meleleh aja. Ya Allah, aku minta suami kayak mas Irsyan satu," ucap Mila pelan yang hanya di dengar oleh Kiran dan Andre.
__ADS_1
"Doa yang banyak Mil, siapa tau lo bisa dapetin cowok kayak mas Irsyan atau malah lebih dari dia," ucap Kiran sambil menepuk-nepuk pundak Mila.
"Aamiin semoga aja."
"Ayo nak di jawab," ucap Nuri menyadarkan putrinya. Aurora mengambil napas lalu menghembuskan perlahan.
"Bismillahirrahmanirrahim dengan izin Allah dan restu dari Ibu dan Ayah, Insya Allah aku menerima mas Irsyan sebagai calon suamiku," ucap Aurora sambil tersenyum.
"Alhamdulillah," ucap semuanya.
"Jadi kapan nikahnya nih?" tanya Fani, kakak dari Irsyan.
"Kalau menurut saya lebih cepat lebih baik," sahut Alfian.
"Gimana kalau pernikahan mereka akan dilaksanakan 1 bulan lagi, apakah kalian setuju?" tanya Harun.
"Setuju, biar para orang tua yang menyiapkan segalanya. Kalian berdua fokus saja sama pekerjaan kalian," ucap Jihan.
"Ya saya setuju biar para orang tua saja yang mengurusnya, jadi kalian berdua langsung terima jadinya," timpal Nuri.
"Baiklah," ucap Irsyan dan Aurora pasrah mengikuti kemauan orang tuanya.
"Oh ya itu ada sedikit seserahan dari kami," ucap Jihan menunjuk seserahan yang di bawa tadi.
'What segitu banyaknya seserahan yang dibawa malah di bilang sedikit?' batin Aurora yang heran dengan calon ibu mertuanya, padahal dia melihat sangat banyak seserahan yang di bawa oleh Irsyan dan keluarganya.
"Terima kasih Ma," ucap Aurora.
"Sama-sama nak."
"Maaf sebelumnya. Aku mau nanya sama Aurora, kamu mau mahar atau mas kawin apa dari Mas?" tanya Irsyan pada Aurora.
Aurora tersenyum malu lalu menjawabnya, "Semampu mas Irsyan tapi juga tidak merendahkan ku."
"Baiklah," balas Irsyan tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued.