
Naufal dan Elang mengikuti Aril, mereka akan pergi ke tempat dan dengan mobil yang berbeda. Aril berangkat duluan, sedangkan Naufal dan Elang baru saja mereka akan masuk ke mobil, tapi seseorang menghentikannya.
"Hei kamu!"
"Lala?" gumam Naufal.
Lala tidak mempedulikan keberadaan Naufal, ia malah pergi menghampiri Elang dan berdiri di depannya. "Kamu ingat kan sama aku? Kita bertemu terakhir kali, perkenalkan namaku Lala."
Elang tidak menanggapi Lala, namun langkahnya kembali di hadang oleh Lala.
"Eh tunggu!"
Elang hanya menatap datar Lala tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku ingin meminta bantuan mu. Aku benar-benar ingin meminta bantuan mu," ucap Lala.
Entah kenapa Naufal tidak suka melihat Lala yang mendekati Elang. Lalu Naufal mendekati mereka berdua.
"Kita nggak bisa lama-lama. Kita akan pergi!" ujar Naufal.
Lala menatap sinis pria yang menjadi mantan kekasihnya itu, "Lo nggak usah ikut campur deh!" ketusnya.
Naufal berdecak sebal, "Elang, ayo kita pergi! Jangan sampai ibu bos kelamaan menunggu kita!"
Elang hanya mengangguk, kemudian kedua pria itu masuk ke dalam mobil dan tidak memperdulikan teriakan Lala yang memanggil Elang.
"Ish! Naufal ganggu aja deh!" kesal Lala menghentak-hentakan kakinya.
"Lo kenal Lala dari mana?" tanya Naufal.
"Gue nggak kenal dia. Bahkan gue baru tau namanya tadi," jawab Elang tanpa menatap Naufal. Naufal berdecak, sepertinya ia salah bertanya.
"Maksud gue, lo pertama kali ketemu sama Lala dimana?" tanya Naufal lagi.
"Gue ketemu di kantor tepatnya di depan ruang rapat, pada saat Nona Caira dilantik menjadi pemimpin baru YH GROUP," jelas Elang.
Naufal manggut-manggut, "Lo suka sama dia?"
"Ya nggak lah! Gila gue suka sama cewek yang baru gue kenal!"
Naufal bernapas lega dengan jawaban Elang.
Salma datang dengan Lucas berjalan menghampiri meja kerja Caca.
"Nona, saya mengantarkan pak Lucas dari divisi desain seperti yang anda minta tadi," ucap Salma.
"Terima kasih, Salma. Kamu boleh kembali."
Salma mengangguk dan keluar dari ruangan atasannya yang kini hanya meninggalkan Caca dan Lucas di dalam.
__ADS_1
"Nona Caira, apakah ada yang bisa saya lakukan untuk anda?" tanya Lucas. Ia harus tetap bersikap profesional di kantor.
"Smith Company terus mengeluh tentang keberatan hak cipta atas pameran yang perusahaan kita kirim ke pameran perhiasan. Sekarang kita telah memutuskan untuk mendesain ulang perhiasan kita lalu mengirimnya kembali. Tapi waktunya sangat mendesak. Pak Lucas, apakah kamu bisa membantuku?" jelas Caca sambil meminta bantuan kepada Lucas untuk mendesain ulang perhiasan yang YH GROUP kirim ke pihak pameran.
Lukas mengangguk, "Tentu saja saya akan membantu anda."
Caca mengajak Lucas duduk di sofa agar lebih leluasa. Lucas menyodorkan beberapa hasil desain perhiasan dari divisinya. Caca melihat satu-persatu desain perhiasan tersebut.
"Perusahaan sedang dalam kekacauan akhir-akhir ini. Meskipun divisi desain belum meluncurkan seri terbaru, tapi kami telah mengumpulkan beberapa desain lain yang dapat digunakan sebagai referensi untuk saat ini," ucap Lucas mencoba mengeluarkan pendapatnya.
"Bukankah itu terlalu sederhana? Ini adalah pameran perhiasan internasional, akan ada banyak pembeli yang datang dari luar negeri. Jika seri utama tidak dapat mencapai tingkat YH GROUP yang biasa, hal itu dapat mempengaruhi pembelian sepanjang tahun," balas Caca.
Cara bicara Caca saat ini membuat Lucas merasa Dejavu mengingatkannya ketika mereka masih kecil. Merasa tidak di tanggapi, Caca pun menatap Lucas yang ternyata sedang menatap dirinya.
"Ada yang salah?" tanya Caca.
"Anda terlihat seperti Caca ketika masih kecil," jawab Lucas tanpa memutuskan pandangannya ke Caca.
Caca menghela napas, saat ini ia tidak ingin membahas hal pribadi atau lainnya kecuali tentang pekerjaan.
"Pak Lucas. Saya meminta anda kesini untuk membantu saya mengatasi masalah pameran. Saya tidak ingin anda membawa masalah lain kesini," ujar Caca dengan serius.
"Maafkan saya, Nona Caira," sesal Lucas.
"Tugas ini mendesak dan rahasia. Pak Lucas tolong tetap disini untuk saat ini. Tapi saya yakin anda bisa menyelamatkan YH GROUP dengan bakat anda," ucap Caca mengalihkan topik pembicaraan. Tangannya menyodorkan kembali desain-desain perhiasan tersebut kepada Lucas.
Disisi lain Aril masih berada di perjalanan, ia akan berjumpa dengan seseorang yang telah ia suruh untuk mendesain ulang perhiasan yang akan di pamerkan di pameran perhiasan internasional. Aril bertindak secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun.
Bibir Aril menyunggingkan senyumannya saat mengingat ucapan Caca yang mengandalkannya, ia jadi merasa tersanjung.
Sesampainya di salah satu restoran tempat tujuan, Aril segera masuk dan celingak-celinguk mencari keberadaan orang suruhannya. Setelah ketemu ia langsung menghampiri orang tersebut.
"Ini pesanan yang seperti anda minta," ucap orang itu sambil menyodorkan kotak bludru cukup besar di hadapan Aril.
Aril menerimanya. Ia melihat ke kanan-kiri, setelah merasa cukup aman, Aril segera membuka kotak beludru tersebut. Aril tersenyum puas saat melihat desain ulang perhiasan yang ia pesan seperti yang diharapkannya.
"Terima kasih. Seperti perjanjian kita, saya sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening anda," ucap Aril.
"Sama-sama, senang berbisnis dengan anda."
Setelah tidak ada sesuatu yang dibahas lagi, Aril pun pamit undur diri.
...****************...
Setelah diizinkan pulang dari rumah sakit, Irsyan, Aurora dan Alina akan pergi menjemput Hansel ke sekolah. Sementara bi Uyun dan pak Nudi sudah pulang terlebih dahulu.
"Alina mau punya adek nggak?" tanya Irsyan sambil melihat putrinya dari kaca spion tengah.
"Alina mau, Pa!" jawab Alina girang. "Memangnya Alina mau punya adik, Pa?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya sayang. Tapi sekarang adek kamu masih di dalam perut Mama. Nanti kalau sudah waktunya, adiknya akan lahir dan bisa bertemu dengan kita semua," jelas Irsyan.
"Wah berarti Alina sudah tidak di panggil dengan sebutan adik lagi dong?" tanya Alina polos.
"Iya, sayang. Kalau adiknya sudah lahir, Alina akan di panggil kakak. Kalau Abang Hansel tetap dipanggil Abang," sahut Aurora.
"Yey! Alina sebentar lagi akan dipanggil kakak!" seru Alina membuat Irsyan dan Aurora tersenyum.
"Tapi kalau udah punya adik, Alina harus sayang dan jaga adiknya ya?"
"Oke, Papa."
Kurang 30 menit mereka bertiga sampai di tempat parkir yang ada di sekolahan Hansel. Mereka turun dari mobil, dari kejauhan mereka melihat Hansel sedang berjalan ke arah mereka.
"Mama, Papa!" Hansel berlari kecil menghampiri kedua orang tua dan adiknya.
"Hai sayang. Are you okay?" tanya Aurora. Ia melihat wajah kusut dari putranya.
Hansel mengangguk, "Abang hanya kelelahan karena habis olahraga tadi, Ma."
"Memangnya tadi abang olahraga apa?" sahut Irsyan.
"Sepak bola, Pa."
"Permisi selamat siang. Bapak, Ibu." Seorang wanita berpakaian guru datang menghampiri mereka.
"Siang."
"Kalian berdua ini orang tua dari Hansel ya?" tanya guru tersebut .
"Iya benar, Bu."
"Salam kenal, saya Bu Vivin. Wali kelasnya Hansel," kata Vivin.
"Salam kenal juga, Bu Vivin. Saya Aurora, Mamanya Hansel dan ini suami saya Irsyan, Papanya Hansel," balas Aurora.
Vivin mengangguk dan tersenyum, "Pantas saja Hansel sangat tampan, ternyata orang tuanya begitu cantik dan tampan."
Aurora dan Irsyan tersenyum mendengar pujian tersebut. "Terima kasih, Bu. Kalau begitu kami permisi."
"Baik, silahkan."
Irsyan, Aurora dan kedua anaknya pun masuk ke dalam mobil. Irsyan menjalankan mobilnya ke salah satu cafe&resto milik Jihan, karena sudah waktunya untuk makan siang.
Tak lupa juga Irsyan dan Aurora memberitahukan kepada Hansel jika Aurora sedang mengandung. Gimana tanggapan dari bocah tampan itu? Tentu saja ia juga sangat senang dan berharap jika calon adiknya itu berjenis kelamin laki-laki agar ia memiliki teman bermain.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1