
Sore harinya Irsyan pulang, namun ia merasa sangat kesepian karena tidak melihat keberadaan istrinya. Irsyan menuju ke kamar mencari Aurora.
"Sayang," panggil Irsyan, tapi tak ada sahutan sama sekali. Irsyan mencari ke kamar mandi dan ruang wardrobe, tetap saja tidak ada Aurora disana.
Irsyan berlari menaiki tangga ke lantai tiga, disana ada mini garden, tempat bilyard, tempat nge-gym dan mini teather. Irsyan mencari istrinya disana namun tetap sama Aurora tidak ada disana. Irsyan turun ke lantai satu dan berteriak memanggil Aurora.
"Sayang kamu dimana?"
"Ada apa, Tuan muda?" tanya bi Aci yang mendengar anak majikannya itu berteriak.
"Bibi liat istri aku nggak?" tanya Irsyan.
"Maaf Tuan, Bibi nggak liat Nyonya Aurora setelah pergi mengantarkan makanan untuk Tuan muda," jelas bi Aci jujur memang terakhir kali ia melihat Aurora saat akan mengantarkan makanan untuk Irsyan ke rumah sakit.
Irsyan menghela napas berat, ini pasti karena kejadian tadi yang membuat Aurora tidak berada di rumah sekarang. Ia berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Irsyan berupaya menelpon sang istri dan berharap semoga saja Aurora menjawab telponnya. Keinginan Irsyan tak terkabul, Aurora sama sekali tidak menjawab telponnya.
"Kamu dimana sih sayang?" Monolog Irsyan dengan suara lirihnya. Kemudian Irsyan memilih ke mandi terlebih dulu, sebelum ia pergi mencari keberadaan Aurora.
Aurora baru saja pulang, setelah dari taman tadi ia pergi ke rumah orang tuanya. Alfian dan Nuri pun sama sekali tidak curiga jika anaknya tengah ada masalah, karena Aurora memang sangat pandai menyembunyikan masalahnya.
"Nyonya Aurora," sapa bi Aci saat melihat Aurora.
"Iya ada apa Bi?"
"Tadi Nyonya di cari sama Tuan Irsyan," ucap bi Aci. Raut wajah Aurora langsung berubah saat Irsyan disebut, ia sangat kecewa dengan Irsyan karena suaminya itu tak pernah menceritakan tentang siapa wanita yang telah menciumnya di rumah sakit tadi. Apakah dia wanita di masa lalu suaminya?
"Oh iya Bi, kalau gitu saya ke kamar dulu."
"Silahkan, Nyonya."
Aurora membuka pintu kamar, tidak ada suaminya disana. Suara gemericik air terdengar, yang berarti Irsyan tengah berada di kamar mandi. Aurora memilih membaringkan tubuhnya di ranjang sambil memainkan handphone.
Suara pintu kamar mandi terbuka, Irsyan keluar dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil.
"Sayang!" Irsyan bernapas lega saat melihat Aurora sudah pulang, ia pun segera menghampiri istrinya yang berada di ranjang itu.
__ADS_1
"Kamu kemana aja sih? Mas khawatir sama kamu," tanya Irsyan dengan lembut. Aurora hanya diam, tidak menanggapi pertanyaan suaminya.
"Kamu punya mulut kan sayang?"
Aurora menghela napas, lalu menaruh handphonenya.
"Aku lagi malas ngomong," ucap Aurora dingin. Irsyan menahan tangan Aurora saat istrinya itu akan beranjak.
"Jawab pertanyaan Mas dulu!" tekan Irsyan.
"Kan tadi udah aku bilang sama kamu, terserah aku mau kemana aja bukan urusan kamu!" sembur Aurora. Seketika raut wajah Irsyan berubah menjadi marah.
"Hah... Kamu bilang apa tadi? Bukan urusan aku? Tadi juga kamu panggil aku dengan sebutan kamu? Aku ini suami kamu dan tolong kamu lebih sopan sedikit sama aku!" bentak Irsyan. Aurora malah memilih berjalan ke arah kamar mandi daripada menanggapi ucapan suaminya.
"Astaghfirullah." Irsyan meraup kasar wajahnya.
Makan malam dengan suasana hening, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar di ruang makan. Walaupun Aurora masih marah dengan suaminya, ia tetap melayani Irsyan.
"Ma, Pa. Aku ke kamar duluan." Bahkan Aurora tidak berpamitan dengan suaminya.
"Istri kamu kenapa nak?" tanya Jihan selidik pada putranya.
"Nanti Irsyan cerita di ruang keluarga ya Ma," jawab Irsyan. Jihan hanya mengangguk.
Irsyan dan kedua orangtuanya tengah duduk di ruang keluarga sambil mendengarkan Irsyan bercerita tentang apa yang terjadi tadi siang saat di rumah sakit.
"Mulai berulah lagi wanita ular itu," ucap Jihan geram. Ia sudah mewanti-wanti akan kedatangan wanita yang telah menyakiti putranya dulu.
"Irsyan, Papa berharap kamu berhenti menjadi perawat. Lebih baik kamu bekerja di perusahaan properti Papa! Papa tidak ingin kejadian itu terjadi lagi dan membuat menantu Papa sakit hati." saran Harun pada putranya. Irsyan pun memang sudah berencana untuk berhenti sebagai perawat.
"Iya Pa, secepatnya Irsyan akan mengundurkan diri dari rumah sakit."
"Bagus nak, kamu harus bisa jaga hati." Harun bangga dengan putranya itu, Irsyan memang anak yang selalu berbakti kepada kedua orang tuanya.
"Iya Pa."
__ADS_1
"Mama harus apakan wanita itu?" tanya Jihan dengan raut wajah dingin.
"Siapa yang Mama kira?" tanya Irsyan balik.
"Siapa lagi si Nina, wanita ular tak tau diri itu!" sarkas Jihan.
"Nggak usah Ma, Irsyan nggak suka balas dendam," ucap Irsyan melarang mamanya untuk melakukan hal yang tidak-tidak pada Nina. Bukannya membela Nina, tapi Irsyan hanya tak ingin mamanya menjadi seorang pendendam.
Jihan menghela napas berat, "Terserah kamu saja." Tapi di hati Jihan berkata lain, ia harus tetap memberikan pelajaran untuk Nina karena telah mengganggu rumah tangga anak dan mantunya.
Pagi harinya, Irsyan keluar dari kamar mandi. Ia tak melihat keberadaan istrinya di kamar, Irsyan yakin Aurora sekarang berada di dapur, karena itu memang kebiasaan istrinya setiap pagi.
Irsyan tersenyum tipis saat melihat baju kerjanya telah di siapkan Aurora di atas ranjang. Setelah selesai, Irsyan keluar dari kamar dan berjalan menuju ke arah dapur dan benar saja, istrinya berada disana.
Irsyan melangkahkan kakinya menghampiri Aurora dan memeluknya dari belakang, membuat Aurora yang tengah menggoreng terjengkit kaget.
"Ya ampun, bikin aku kaget aja," kesal Aurora. Hubungan dari suami-istri itu sebenarnya belum membaik, karena semalam saat Irsyan akan meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi, namun sayangnya Aurora sudah tertidur.
"Maaf sayang," ujar Irsyan sambil mengecup pipi Aurora.
"Jangan cium-cium! Nanti dilihat sama Bibi dan pelayan yang lain!"
"Gapapa sayang, mereka bakalan ngerti kok." Ciuman Irsyan semakin menjadi dari yang mengecup pipi, kini mengecup leher dan tengkuk Aurora membuat sang empu membeku dan tak lama merasa kegelian. Aurora mematikan kompor, lalu menghadap ke belakang dan menatap kesal suaminya.
"Mas jangan macam-macam! Aku masih marah ya sama kamu!"
"Iya aku minta maaf sayang, aku akan menjelaskan semuanya ke kamu," ucap Irsyan dengan wajah memelas memegang kedua tangan Aurora.
"Jelasinnya nanti aja waktu Mas pulang kerja, sekarang lebih baik Mas tunggu di ruang makan. Jangan ganggu aku lagi masak!" balas Aurora memasang wajah galaknya.
"Iya-iya," ujar Irsyan pasrah. Sebelum pergi, Irsyan mencuri ciuman di bibir Aurora, setelah itu ia berlari kencang menuju ke ruang makan sebelum mendapat amukan dari istrinya. Aurora hanya bisa menghela napas dan geleng-geleng kepala dengan tingkah suaminya.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1