
Hari berganti menjadi malam, kini Aurora tengah melamun sendirian di kursi tunggu yang berada di depan ruang ICU. Nuri berada di dalam ruangan ICU tengah menemani Alfian, sedangkan Aril sudah pulang bersama dengan Mila sekalian untuk mengambil pakaian milik Aurora, ibu dan ayahnya dirumah.
Jika kalian bertanya mana Rivan? Kenapa tidak ada berada di samping Aurora, disaat gadisnya itu sedang membutuhkannya? Jawabannya adalah karena Rivan sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Aurora tadi sempat menghubungi Rivan dan memberitahukan tentang keadaan ayahnya, tentu saja dia sangat terkejut dan sedih mendengarnya.
Tapi untuk saat ini Rivan tidak bisa untuk datang ke rumah sakit dikarenakan pekerjaannya sangat banyak dan membuat dirinya menjadi super sibuk, Aurora pun hanya bisa memakluminya.
Kalian pasti tau siapa dalang yang membuat Rivan menjadi sibuk?
Dari arah depan terlihat ketiga sahabatnya datang, dengan langkah cepat menghampirinya.
"Rora," panggil Kiran.
"Kiran." Aurora tersenyum tipis melihat kedatangan ketiga sahabatnya.
Kiran memeluk tubuh Aurora, sekaligus menenangkan sahabatnya itu, karena ia tau jika Aurora sekarang sedang membutuhkan orang untuk mensuport nya.
"Lo yang sabar ya Ra, gue yakin ayah Alfian pasti kuat dan bisa melewati ini semua."
Andre dan Wawan pun bergantian untuk memeluk dan menenangkan Aurora. Aurora sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka, yang selalu ada ketika dia bahagia dan bersedih seperti sekarang.
"Gue tau ayah lo itu orangnya kuat Ra, gue yakin ayah lo bisa melewati ini semua. Kita akan selalu mendoakan untuk kesembuhan ayah lo," ucap Wawan yang tengah memeluk Aurora sambil mengelus punggung Aurora.
Aurora mengangguk, "Makasih Wan."
Aurora melepas pelukannya, "Dan makasih untuk kalian juga," ucapnya menatap Kiran dan Andre. Kedua orang itu tersenyum dan mengangguk.
"Itulah gunanya seorang sahabatnya, Ra," ucap Andre tulus. Aurora terharu mendengarnya.
"Oh iya, ini ada makanan untuk lo, ibu dan Aril," ucap Kiran seraya menenteng plastik yang berisi makanan.
"Makasih Kiran." Kiran mengangguk dan tersenyum.
"Dan ini ada buah juga dari kami," ucap Andre yang membawa sekeranjang buah-buahan.
"Makasih, kalian ini repot-repot banget sih."
"Nggak ngerepotin kok Ra, kalau lo butuh apa-apa tinggal kasi tau aja ke kita," ucap Wawan. Aurora hanya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
...****************...
Siang harinya, Aurora meminta izin kepada Dona untuk bekerja setengah hari, karena ia tidak tenang memikirkan ayahnya dan ibunya yang sedang berjaga sendirian di rumah sakit. Dan Dona pun langsung mengizinkannya.
Semalam, ayahnya dijaga oleh adik kandung dari ibunya, bernama Agus yang tak lain adalah paman dari Aurora.
Dan tentu saja juga Alfian terus di jaga dan di pantau terus oleh tim medis. Tim medis yang bertugas semalam itu ternyata adalah Aji. Semalam memang dia yang mendapatkan giliran jadwal shift malam untuk mencatat sekaligus memantau perkembangan keadaan Alfian di ruang ICU.
Sebelum pergi ke rumah sakit Aurora menyempatkan diri untuk membeli makanan untuk ibu dan adiknya. Setelah membeli makanan, ia pun segera melajukan kembali motornya menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit ternyata sudah banyak dari keluarga dan para tetangganya yang datang menjenguk ayahnya.
"Aurora," panggil neneknya yang bernama Hani, dia adalah ibu dari ayahnya.
"Nenek." Aurora menghampiri neneknya dan langsung memeluknya.
"Kamu yang sabar ya nak, ayah kamu pasti kuat. Nenek yakin itu," ucap Nenek Hani seraya mengelus punggung Aurora.
Aurora mengangguk pelan, "Iya Nek."
Pukul 12 malam, setelah 1 jam yang lalu orang-orang yang menjenguk ayahnya pergi, kini Aurora berada di dalam ruangan ICU ditemani oleh Wawan. Malam ini mereka berdua yang akan begadang menjaga Alfian, mumpung besok mereka berdua libur bekerja.
Pihak rumah sakit hanya memperbolehkan minimal 1 dan maksimal 2 orang saja yang boleh memasuki ruang ICU. Dan itu hanya orang-orang terdekat saja yang boleh menjenguk Alfian.
Di dalam ruangan ICU itu terdapat 4 brankar. Namun pada saat ini hanya Alfian saja lah yang dirawat di dalam ruangan tersebut.
Sedari tadi mata Irsyan terus melirik ke arah Aurora, sesekali memantau keadaan Alfian. Wawan pun mengetahui jika perawat laki-laki itu sedang mencuri-curi pandang ke arah sahabatnya. Sebuah ide jahil pun terlintas di otaknya.
"Rora," panggil Wawan begitu lembut.
"Ya Wan?" tanya Aurora menatap Wawan.
"Lo tidur aja, biar gue yang jaga ayah lo."
Aurora menggeleng, "Gapapa Wan, gue juga mau jaga ayah," ucapnya dengan tatapan mata yang sayu menahan kantuk.
"Gue tau lo ngantuk, tidur aja biar gue yang ayah lo," ucap Wawan sambil tangannya mengelus rambut panjang Aurora.
"Gue nggak mau liat lo nanti sakit karena begadang, Ra."
__ADS_1
BRAKKK!
Irsyan membanting handphonenya di atas meja dan menimbulkan suara yang cukup keras. Setelah itu Irsyan keluar dari ruang ICU entah pergi kemana dengan wajah yang tertekuk.
Wawan pun tersenyum miring melihatnya, 'Heh, ternyata dia memang suka sama sahabat gue,' batinnya menyeringai.
Irsyan keluar dari ruangan ICU dengan rahang yang mengeras dan tangannya yang mengepal kuat, ia tak tahan melihat kucing manisnya diperlakukan seperti itu oleh laki-laki lain. Hah apakah ini yang dinamakan cemburu buta?
"Sialan!" umpat Irsyan mencak-mencak tak jelas. Jika saja ada yang melihatnya seperti itu, pasti orang bakal mengira dirinya sedang kesurupan mba Kunti.
Sepertinya Irsyan membutuh sesuatu yang segar-segar untuk mendinginkan otak dan hatinya yang sedang panas. Dia pun pergi ke kantin untuk membeli minuman, untung saja masih ada bibi kantin yang jualan.
Setelah membeli dan membayar minumannya, ia pun duduk di salah satu kursi yang sudah tersedia di kantin rumah sakit tersebut.
GLEK, GLEK, GLEK.
"Hah lumayan lega, tapi hati gue yang masih panas," gumam Irsyan sambil meremas kaleng bekas minuman soda hingga penyok.
"Berapa banyak sih cowok yang suka sama dia? Heran gue, bakalan banyak banget nih yang jadi saingan gue," gerutunya.
Seorang gadis berpakaian perawat berjalan berlenggak lenggok dan bermake-up tebal datang menghampiri Irsyan.
"Hai Mas," sapa gadis itu, lalu duduk di samping Irsyan.
"Sukma!" Irsyan sedikit terkejut dengan kedatangan Sukma yang tiba-tiba.
Dia bahkan mengira Sukma itu tadi mba-mba kunti yang suka merayu dan menggoda laki-laki jomblo seperti dia. Nothing akhlak memang si perawat tampan satu ini!
"Kok mas Irsyan sendirian disini? Udah tengah malam loh ini."
"Oh ini saya cuma lagi cari angin sebentar," ucap Irsyan malas.
"Mau saya temani Mas? Saya juga sedikit sumpek di dalam sana, makanya saya kesini aja. Eh malah ketemu sama mas Irsyan disini," ucap Sukma dengan nada centilnya.
Emosi Irsyan yang tadinya sedikit reda, kini kembali lagi karena kehadiran gadis di depannya ini, ditambah ia merasa merinding jika sudah berdekatan dengan Sukma, entah kenapa bisa seperti itu.
'Lebih baik gue masuk aja deh, daripada harus duduk sama titisan setan disini,' batin Irsyan.
"Saya duluan ya Sukma? Soalnya sudah lumayan lama saya tinggalin pasien saya di ruang ICU, kalau gitu saya permisi." Irsyan beranjak dari kursi, lalu meninggalkan Sukma yang tengah misuh-misuh tak jelas karena ditinggal sendirian.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.