GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 47


__ADS_3

Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏


...Happy reading☘️...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semenjak malam itu Aurora seperti menghindar dari Irsyan. Irsyan pun sangat bingung dengan sikap gadis itu padanya satu minggu belakangan ini. Jika ia menelpon atau mengirimkan pesan pada Aurora, pasti akan di balas dan jawab singkat oleh gadis itu.


Setiap kali Irsyan mengajak Aurora untuk bertemu, pasti gadis itu beralasan jika dirinya sedang sibuk atau ada acara keluarga lah. Sikap Aurora membuat Irsyan menjadi galau dan uring-uringan tidak jelas, hal itu juga berakibat ia menjadi tidak fokus dengan pekerjaannya.


"Haish!" Irsyan mengacak rambutnya frustrasi.


"Woy! Kenapa lo? Frustrasi banget kayaknya," tanya Aji yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan Irsyan.


"Gue lagi mikirin Aurora," jawab Irsyan dengan suara lirih.


"Kenapa sama bidadari gue? Perasaan baik-baik aja hubungan lo sama dia."


"Mau gue gampar ya muka lo? Jangan panggil Aurora pakai sebutan bidadari lagi!" sentak Irsyan kesal.


"Ya elah sorry bro, gue janji deh nggak bakal manggil kayak gitu lagi," ucap Aji cengengesan sambil mengangkat dua jarinya.


"Oh ya, pertanyaan gue yang tadi belum di jawab. Kenapa sama Aurora?"


"Entahlah dia seperti menghindar dari gue dan gue nggak tau apa penyebabnya," ucap Irsyan lesu.


"Apa pernah lo mengucapkan sesuatu yang menyinggung perasaannya?" tanya Aji. Terlintas di benak Irsyan ketika mengingat tentang pembahasannya bersama Aurora saat mereka berdua berada di gazebo belakang rumahnya pekan lalu.


'Apa karena itu?' batin Irsyan. Lalu ia tersenyum, jika memang itu yang membuat Aurora menghindarinya, maka gadis itu telah salah paham kepadanya.


"Lah malah senyum-senyum lagi, kesambet mbak kunti kayaknya ni bocah," gumam Aji menatap Irsyan aneh.


"Ji," panggil Irsyan.


"Kenapa?"


"Gimana menurut lo, kalau gue melamar Aurora secepatnya?" Irsyan meminta pendapat dari Aji.


UHUK!


Aji tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Irsyan.


"Serius lo?"


"Iya gue serius, gue nyaman sama dia dan entah kenapa gue kayak nggak bisa jauh dari dia," jelas Irsyan. Aji manggut-manggut mengerti.


"Kayaknya lo udah jatuh cinta sama Aurora deh, Syan."


"Sepertinya begitu Ji," ucap Irsyan tersenyum.

__ADS_1


"Tapi masalah ini harus lo omongin dulu ke nyokap sama bokap lo," ucap Aji. Irsyan mengangguk membenarkan ucapan Aji.


"Gue yakin nyokap sama bokap gue bakalan langsung setuju, karena mereka sangat suka dengan Aurora," ucap Irsyan sangat percaya diri kalau kedua orang tuanya akan setuju jika dirinya melamar Aurora sebagai calon istrinya.


"Bagus lah kalau gitu, sekarang lo omongin baik-baik ke Aurora kalau lo mau melamar dia," saran Aji.


"Oke Ji, thanks atas saran lo," ucap Irsyan.


"No problem, itu gunanya teman Syan," balas Aji tersenyum.


Irsyan berniat untuk mengajak Aurora untuk bertemu malam ini bagaimana pun caranya.


...****************...


Disisi lain, Aurora sama seperti Irsyan yang tengah galau dan berakibat tidak fokus pada pekerjaannya.


"Sekian dari presentasi dari saya, selamat siang," ucap Kepala dari divisi sarana dan prasarana.


"Siang." balas semuanya.


Aurora dan staf lainnya tengah rapat bulanan yang dilakukan hanya sebulan sekali. Namun, Aurora sedari tadi tidak fokus dengan pembahasan di dalam rapat tadi.


Kegiatan rapat pun telah selesai, semua pegawai pada berbondong-bondong keluar dari ruang rapat.


"Aurora," sapa Ahyar sambil duduk di samping Aurora.


"Eh iya pak?" jawab Aurora tersentak.


Aurora menggeleng, "Nggak kok Pak."


"Beneran? Kalau ada masalah cerita sama Bapak, siapa tau Bapak bisa bantu kamu."


Aurora menghela napas, "Rora ada masalah sama--"


"Kamu punya masalah sama siapa nak?" pekik Ahyar memotong ucapan Aurora. Untung saja ruang rapat itu sudah sepi, jika tidak mereka berdua pasti akan menjadi bahan ghibah pegawai-pegawai disana.


"Ish Rora belum selesai bicara, Bapak udah main potong aja!" ucap Aurora kesal.


"Maaf nak, soalnya Bapak terkejut pas denger kamu punya masalah. Ayo lanjut cerita kamu," ucap Ahyar cengengesan.


"Aurora ada masalah dengan hatinya Rora sendiri, Pak."


"Apa ini masalah ada sangkut pautnya dengan laki-laki?" tebak Ahyar.


Aurora mengangguk, "Iya Pak, Rora suka sama seorang laki-laki, tapi dia udah punya perempuan yang ingin dilamarnya. Padahal Rora udah nyaman dan berharap banget sama dia. Soalnya dia baik dan perhatian banget sama Rora," ucapnya sedih. Ahyar mengelus rambut Aurora.


"Mungkin dia memang bukan jodoh kamu, nak." Ucapan Ahyar membuat Aurora bertambah sedih.


"Tapi kamu udah coba sholat istikharah? Minta petunjuk sama Allah, siapa sebenarnya jodoh kamu," lanjut Ahyar, ia juga sedih dan iba melihat keponakannya seperti itu.

__ADS_1


Aurora mengangguk, "Udah Pak."


"Terus gimana?"


"Di mimpi itu Rora bertemu dengan laki-laki itu, Pak. Tapi Rora takutnya itu bukan mimpi dari Allah melainkan mimpi dari setan," jelas Aurora.


Ahyar menghela napas berat, "Yang terpenting adalah kamu terus berdoa dan memohon agar Allah memberikan kamu jodoh yang tepat dan terbaik. Jodoh itu nggak akan kemana nak, kalau laki-laki itu memang sudah ditakdirkan untukmu walaupun dia dekat dengan perempuan mana pun, dia pasti akan kembali denganmu," nasehatnya panjang lebar. Aurora tersenyum mendengarnya, tak salah memang dia curhat dengan pamannya ini pasti selalu bisa menyejukkan hatinya.


"Makasih Pak, udah mau dengerin dan kasi nasehat buat Rora," ucap Aurora.


"Sama-sama nak. Kalau ada yang ingin kamu curhat kan, jangan segan-segan untuk curhat ke Bapak, pasti Bapak akan mendengarkannya," ucap Ahyar sambil mengelus rambut Aurora.


"Iya siap Pak."


"Ya udah Bapak mau ke ruangan dulu," pamit Ahyar.


"Iya Pak silahkan." Ahyar keluar dari ruang rapat, lalu melangkah kan kakinya menuju ke ruangan miliknya yang tak jauh dari ruang rapat.


Kini Aurora sendirian di dalam ruang rapat, namun tiba-tiba handphonenya berdering. Ia melihat nama penelepon, nama laki-laki yang baru saja ia bicarakan dengan pamannya yang tertera disana.


"Gue angkat nggak ya?" ucap Aurora bimbang. Dengan ragu ia pun mengangkat telpon dari Irsyan, laki-laki yang telah membuatnya galau selama seminggu belakangan ini.


"Halo assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Dek, Mas ganggu ya?" tanya Irsyan.


"Nggak kok Mas, ada apa nelpon aku?" tanya Aurora balik.


"Em kamu ada acara nggak nanti malam? Mas mau ajak kamu keluar bentar."


"Nggak ada sih, memangnya mau kemana Mas?"


"Mungkin ajak kamu dinner dan ada sesuatu yang Mas mau sampaikan ke kamu, apa bisa?"


Jantung Aurora seketika berdegup kencang ketika Irsyan mengatakan itu, apa akan terjadi sesuatu nanti? pikirnya.


"Bisa kok Mas."


"Oke, nanti malam jam 8 Mas jemput ya?" ucap Irsyan dengan antusiasnya.


"Iya Mas, kalau gitu aku matikan ya telponnya? Soalnya ada pekerjaan yang harus aku kerjakan."


"Iya Dek, yang semangat ya kerjanya? Assalamualaikum."


"Iya Mas, waalaikumsalam."


"Ya Allah, kok deg-degan ya pas mas Irsyan ngajak gue dinner. Terus dia bilang mau mengatakan sesuatu ke gue, tapi apa ya? Semoga aja ucapan dia nanti nggak bikin hati gue nyesek," ucap Aurora. Ia beranjak dari kursi, lalu keluar dari ruang rapat setelah itu Aurora melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2