
"Sayang," panggil Irsyan mendekati Aurora yang terlihat seperti sedang melamun sambil menatap langit-langit kamar lalu ia duduk di tepi ranjang.
"Eh iya kenapa Mas?" Aurora merubah posisinya menjadi duduk.
"Kamu sedang melamun kan apa hem?" tanya Irsyan dengan lembut seraya mengelus rambut panjang Aurora.
"Aku kangen sama Bara dan Naya, Mas," jawab Aurora. Kalau kalian ingat Bara dan Naya, mereka berdua itu adalah anak panti asuhan yang dulu pernah ingin di adopsi oleh Aurora.
"Kamu mau mengunjungi mereka?"
Aurora mengangguk antusias," Mau banget Mas."
"Oke, besok kita kesana," ajak Irsyan membuat mata Aurora berbinar, suaminya ini memang selalu menuruti keinginannya, terlebih lagi saat dirinya hamil. Aurora langsung memeluk suaminya.
"Makasih Mas, makin sayang deh sama Mas," ucap Aurora.
Irsyan terkekeh kecil mendengar ucapan istrinya, "Sekarang kita tidur ya?"
"Iya Mas." Aurora kembali membaringkan tubuhnya dan diikuti oleh Irsyan. Irsyan mengelus dan mengajak bicara calon bayinya, itulah rutinitas Irsyan sebelum tidur. Setelah puas mengajak bicara calon bayinya, Irsyan pun tertidur dan diikuti Aurora, seperti biasa ia akan tertidur nyenyak jika sudah menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
Sebelum berangkat ke panti asuhan, Aurora dan Irsyan pergi ke supermarket terlebih dahulu, disana mereka membelikan beberapa cemilan, mainan dan kebutuhan pokok lainnya untuk dibawa ke panti.
"Beli apa lagi ya Mas?" tanya Aurora pada Irsyan.
"Beli beras, telur dan teman-temannya," jawab Irsyan.
"Oh ya itu kelupaan," ujar Aurora menepuk pelan jidatnya dan Irsyan hanya geleng-geleng kepala.
Mereka berlanjut mencari kebutuhan lainnya. Bahkan sekarang belanjaan mereka sudah 2 keranjang troli penuh. Setelah keliling-keliling mencari yang akan dibeli, selanjutnya mereka menuju ke kasir untuk membayarnya.
"Totalnya tujuh juta delapan ratus tiga puluh lima ribu rupiah," ucap kasir. Jangan terkejut dengan total belanjaan mereka, karena memang belanjaan mereka sangatlah banyak, sampai orang-orang yang mengantri di belakang mereka tercengang mendengarnya.
Irsyan memberikan black card-nya kepada kasir.
"Ini kartu kreditnya, Mas. Terima kasih sudah berbelanja disini," ucap kasir itu memberikan kembali black card milik Irsyan.
"Sama-sama."
Saking banyaknya belanjaan mereka, Irsyan pun sampai menyewa mobil box untuk membawakan belanjaan mereka tersebut ke panti.
Akhirnya Aurora dan Irsyan sampai di panti asuhan kasih bunda, sudah hampir satu tahun mereka tidak pernah kesini. Namun Irsyan tetap mengirimkan sejumlah uang untuk panti asuhan tersebut karena memang dirinya juga menjadi donatur tetap disana.
Aurora berjalan dengan semangat menuju ke depan pintu panti, Irsyan yang melihat itu hanya tersenyum, ia berharap selalu bisa membahagiakan istrinya itu.
__ADS_1
Aurora mengetuk pintu rumah panti, tak lama seorang wanita paruh baya membukanya.
"Nak Aurora, nak Irsyan!" Ega sangat senang melihat kedatangan Aurora dan Irsyan.
"Assalamualaikum Bu Ega," ucap Aurora dan Irsyan bersamaan.
"Waalaikumsalam, ayo masuk dulu nak," suruh Ega.
"Iya Bu." Irsyan dan Aurora duduk di sofa.
"Kandungan kamu sudah besar ya nak? Udah berapa bulan?" tanya Ega saat melihat perut buncit Aurora. Ega dan beberapa anak panti ikut di undang ke acara resepsi pernikahan Irsyan dan Aurora dulu.
"Alhamdulillah baru masuk 7 bulan Bu," jawab Aurora sambil mengelus perutnya.
"Alhamdulillah, semoga sehat-sehat sampai lahiran ya nak."
"Aamiin."
Aurora celingak-celinguk mencari keberadaan dua anak kecil yang selama ini ia rindukan, "Bara dan Naya mana ya Bu?" tanyanya.
"Oh ada, mereka sedang berada di belakang, nak Aurora mau kesana?"
"Mau Bu!" jawab Aurora dengan semangat.
"Oh ya Bu, itu ada kebutuhan pokok, cemilan dan mainan untuk Ibu serta anak-anak," ucap Irsyan.
"Ya ampun, kalian ini ngerepotin saja. Padahal kan setiap bulan nak Irsyan dan pak Harun selalu mengirimkan kami uang, Ibu jadi merasa nggak enak" balas Ega sungkan. Anak dan bapak sama saja, sama-sama berhati malaikat.
"Tidak apa-apa Bu, mohon diterima ya?" timpal Aurora.
"Baik nak, terima kasih banyak atas semuanya," ujar Ega tersenyum.
"Sama-sama Bu."
Mereka bertiga pun pergi menuju ke belakang panti, hampir semua anak-anak panti bermain disana. Aurora dan Irsyan tersenyum melihat Bara dan Naya sedang bermain ayunan.
"Anak-anak, liat nih siapa yang datang?" ujar Ega dengan suara yang sedikit kencang membuat atensi semua yang disana tertuju pada ketiga orang yang baru saja datang itu.
"Kak Irsyan, kak Aurora!" teriak anak-anak itu, termasuk Bara dan Naya. Mereka semua langsung berlarian menghampiri pasangan suami-istri muda itu. Kini giliran Bara dan Naya yang terakhir mendekati Aurora dan Irsyan.
"Kakak cantik dan kak ganteng apa kabar?" tanya Naya masih dengan suara cadelnya.
"Kabar kakak Aurora dan kak Irsyan sangat baik sayang," jawab Aurora mengelus rambut Naya.
__ADS_1
"Kami sangat rindu dengan kalian berdua," timpal Bara. Irsyan tersenyum dan menggendong Bara yang kini sudah berusia 6 tahun sedangkan Naya sekarang berusia 5 tahun.
"Kakak Irsyan dan kak Aurora juga sangat rindu dengan kalian," balas Irsyan.
Naya melihat ke arah perut buncit Aurora, "Di perut kakak ada dedek bayi ya isinya?" tanyanya polos.
"Iya sayang, isinya ada adik bayi," jawab Aurora.
"Adik bayinya laki-laki atau perempuan?" sahut Bara penasaran.
"Bara dan Naya maunya adik bayi laki-laki atau perempuan?" tanya Irsyan.
"Laki-laki!"
"Perempuan!" Jawaban Bara dan Naya berbeda-beda.
Irsyan dan Aurora tersenyum mendengarnya.
"Nanti kalau adik bayinya sudah lahir, baru ya kakak kasi tau ke kalian kalau adik bayinya itu laki-laki atau perempuan," ucap Aurora. Dua bocah kecil itu hanya manggut-manggut walau sepenuhnya tidak terlalu mengerti dengan perkataan Aurora.
...****************...
"Gimana dengan jawaban lo, Mil?" tanya Raka menagih jawaban Mila, ia sudah menunggunya semingguan lebih tapi gadis itu belum juga menjawabnya dan jika ditagih pasti Mila akan memberikan suatu alasan, entah itu dirinya sibuk, sakit dan lain sebagainya.
Terpaksa Raka mencari Mila ke rumah orang tua gadis itu. Kini mereka berdua tengah duduk di kursi depan teras.
"Maafin gue, Ka. Gue belum bisa menjawabnya," jawab Mila dengan suara lirihnya.
"Kenapa?"
"Ya gue belum bisa, Raka. Jangan paksa gue," ujar Mila. Jujur, sebenarnya ia belum bisa menjawabnya karena hatinya masih untuk Satria, Mila belum move on sepenuhnya dari lelaki abdi negara itu.
"Sebenernya ada cowok lain kan yang lo inginkan selama ini, Mil?" terka Raka. Mila langsung terdiam dan menatap ke arah lain.
Raka tersenyum kecut, "Benar kata gue tadi itu, Mil?"
"Lo nggak perlu tau, Ka. Gue masuk dulu," ucap Mila meninggalkan Raka sendirian disana. Raka menatap sendu punggung Mila yang meninggalkan itu, ia memegang dadanya yang terasa sangat sesak.
"Apa nggak ada kesempatan bagi gue, Mil?" lirihnya. Dengan langkah yang lesu, Raka masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah Mila.
Mila yang sebenarnya mengintip Raka dari balik gorden hanya bisa menatap kepergian Raka dengan tatapan sedih, "Maafin gue, Ka. Hati gue nggak bisa memilih lo, karena di hati gue hanya ada nama dia," lirihnya.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.