
Keesokan malamnya, 3 orang wanita, 2 sudah menikah dan 1 lagi masih betah menjomblo, siapa lagi mereka kalah bukan 3 serangkai, Aurora, Kiran dan Mila. Mereka bertiga tengah hang out di salah satu cafe tanpa di temani suami mereka, ya terkecuali Mila pastinya.
"Gimana hubungan lo sekarang sama Andre, Ki. Baik-baik aja kan?" tanya Mila pada Kiran.
"Alhamdulillah baik, ya mungkin masih canggung sedikit karena kejadian kemarin," jawab Kiran jujur. Walaupun begitu, tetap saja Aurora dan Mila tersenyum lega mendengarnya.
"Oh ya Mil," panggil Aurora.
"Ya Ra?" Mila menatap Aurora.
"Hem, lo tau kalau bang Satria dan keluarganya pergi ke kota Y?" tanya Aurora.
"Lo tau dari mana kalau mas Satria sama keluarganya pergi ke kota Y?" tanya balik Mila.
"Ya dari suami gue, siapa lagi," jawab Aurora. Tentu saja Irsyan yang memberitahukan hal itu kepada Aurora dan Aurora memberitahukan itu lagi kepada sahabatnya yang notabenenya naksir dengan Satria.
Mila terdiam. Bentar-bentar, kota Y itu kan kota asal Aisha? Satria dan keluarganya sedang apa pergi kesana? Hati serta pikiran Mila seketika gelisah dan mulai memikirkan yang tidak-tidak.
"Mila, kok lo malah diem," sahut Kiran yang membuyarkan lamunan Mila.
"Ah nggak kok," elak Mila. Oke, Mila yakin nanti ia tidak akan bisa tidur karena memikirkan Satria dan keluarganya yang pergi ke kota asal Aisha.
Astaga rasanya ingin sekali Mila bertanya pada Satria, ada hal apa yang membuat Satria dan keluarganya pergi ke kota Y? Tapi apalah daya dia bukan siapa-siapa bagi lelaki itu.
"Buna!" teriak seseorang gadis kecil.
Ketiga wanita yang tengah mengobrol itu langsung melihat ke sumber suara, ternyata Aqila dan Raka yang baru saja datang ke cafe yang sama dengan mereka.
"Aqila," ujar Mila tersenyum. Aqila berlari dan langsung memeluk Mila.
"Aqila rindu Buna," lirih Aqila. Semenjak Raka mengatakan jika dirinya sebagai calon suami Mila di depan Satria, Rifqi dan Aisha. Mila jadi menghindari Raka, rasa kesal dan jengkel kepada duda beranak satu itu masih ada.
"Buna juga rindu, Aqila," balas Mila.
Aqila melepaskan pelukannya, "Kenapa Buna tidak bisa di telpon? Aqila kan rindu tau," ucapnya merengut lucu, Mila yang liat itu merasa gemas.
"Maafkan Buna ya? Buna janji deh bakal angkat telpon Aqila," ujar Mila agar gadis kecil itu tidak ngambek lagi padanya.
"Janji ya Buna?" Aqila mengacungkan jari kelingkingnya pada Mila, Mila terkekeh geli lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Aqila. Semua yang liat itu langsung tersenyum.
__ADS_1
"Maaf ya ganggu kalian," sahut Raka yang tak enak hati.
"Nggak apa-apa kok, Ka. Ayo duduk," suruh Aurora. Raka tersenyum dan mengangguk kemudian ia duduk di samping Mila. Sedangkan sang putri duduk di pangkuan Mila sambil disuapi es krim oleh Mila.
Lagi-lagi Raka berharap lebih pada Mila, agar kelak gadis itu bisa menjadi istri dan ibu sambung dari putrinya.
Disisi lain Andre sedari tadi terus mengecek jam tangannya, hari sudah larut dan waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, tapi istrinya itu belum juga menampakkan batang hidungnya di rumah. Beberapa kali Andre menelpon Kiran, namun tak satupun panggilan diangkatnya.
Rasa khawatir tiba-tiba datang, Andre menyesal telah mengizinkan Mila pergi sendirian ke cafe tanpa dirinya, sebab Andre tadi pulang kerja sekitar pukul 8 malam dan Mila pergi ke cafe menggunakan taksi online karena mobilnya berada di bengkel.
Tak bisa, ini tidak boleh dibiarkan, Andre menarik jaket dan mengambil kunci motornya tak lupa dengan dompet yang ia sisipkan di dalam saku celananya.
"Ndre, mau kemana?" tanya Kiran sambil melepaskan sepatunya, bumil satu itu menatap bingung ke arah suaminya yang sepertinya buru-buru akan pergi.
"Issh!" desis Andre langsung memeluk Kiran.
"Akhhh!" Kiran sedikit meringis merasakan nyeri di perutnya saat Andre menubruknya dengan kuat.
Andre melepaskan pelukannya dengan panik mengecek perut istrinya, "Maaf, mana yang sakit?"
"Ini sedikit kram." Kiran menunjuk perutnya.
"Nggak usah, Ndre. Mungkin tadi cuma kaget aja kamu tiba-tiba peluk, terus peluknya kenceng banget," jelas Kiran dan menenangkan rasa khawatir suaminya itu.
"Kamu yakin gapapa?"
"Iya gapapa, Ndre. Bentar lagi berhenti kok kram nya."
"Hem, aku boleh elus nggak?" Andre meminta izin untuk mengelus perut Kiran dengan nada hati-hati.
"Iya boleh."
Kiran tersenyum ketika melihat wajah antusias Andre saat dirinya mengizinkan suaminya untuk mengelus perutnya. Tangan Kiran mengarahkan tangan Andre ke perutnya yang masih terlihat datar itu.
Mata Andre berkaca-kaca, ia mulai teringat malam dimana dirinya hampir membunuh anaknya sendiri akibat kecemburuan dan ketidak percayaan dirinya pada Kiran, istrinya sendiri.
Andre berjongkok menyamakan wajahnya dengan perut Kiran, tangannya mengelus lembut perut Kiran, "Sehat-sehat ya kamu di dalam sana, jangan bikin susah Bunda." Kiran tersenyum dan hatinya terenyuh jika Andre sudah berkata seperti itu.
"Pasti kalau perut kamu sudah besar, bakal berat ya bawanya?" tanya Andre tanpa mengalihkan pandangannya dari perut Kiran.
__ADS_1
Kiran mengangguk, "Berat, tapi mau gimana lagi, aku juga bersyukur Allah telah mempercayaiku untuk mengandung. Aku nggak sabar liat muka lucu anak kita, pasti gemes banget." Khayalan Kiran menerawang bagaimana wajah lucu bayinya nanti.
Andre tersenyum haru, "Boleh nggak aku cium?"
"Hah?" Kiran membeo sambil menunduk menatap Andre.
"Cium bayinya. Kalau kamu mau dicium juga aku malah seneng," goda Andre membuat wajah Kiran merona.
Beberapa hari ketegangan di rumah tangga pasangan suami-istri itu membuat Kiran sedikit canggung, apalagi saat bayangan Andre dengan kasar menidurinya belum hilang begitu saja. Malah sudah menjadi ketakutan bagi Kiran untuk disentuh oleh Andre.
"Nggak boleh ya?" tanya Andre lesu. Dari raut wajah Kiran saja ia sudah bisa tebak kalau istrinya itu masih risih dengannya.
Dengan senyuman yang sedikit dipaksakan, Andre berdiri, "Yuk kita tidur, kamu pasti capek," ajaknya.
Andre menarik tangan Kiran dengan lembut, membawa istrinya menuju ke kamarnya, kini mereka berdua tinggal di rumah orang tua Andre. Sesampainya di kamar, hawa kecanggungan bertambah parah.
Andre mendudukkan Kiran di ranjang, "Tidur yang nyenyak ya sayang? Maaf aku pernah buat kamu kecewa," ucapnya.
CUP!
Andre mengecup lembut pucuk kepala Kiran, lalu ia berjalan menuju ke sofa dekat jendela yang posisinya cukup jauh dari ranjang.
"Andre," panggil Kiran ketika Andre telah merebahkan tubuhnya di sofa dengan nyaman. Sudah 5 hari Andre atau selama mereka tinggal di rumah Santi, Andre selalu tidur di sofa.
"Ya sayang? Kenapa? Kamu mau apa?" Andre buru-buru merubah posisinya menjadi duduk.
"Disini aja tidurnya, aku mau di peluk," rengek Kiran, mungkin pembawaannya yang sedang hamil, anggap saja ia mengidam di peluk oleh suaminya. Untung saja Kiran tidak mengidam untuk dipeluk oleh laki-laki lain.
"Kamu gapapa kita tidur seranjang?" tanya Andre.
Kiran mengangguk lalu menepuk tempat disampingnya, "Sini."
Andre bersorak kegirangan dalam hati, ia menyingkap selimut lalu naik ke ranjang, merapatkan tubuhnya ke tubuh Kiran. Ibu hamil itu langsung memeluk erat suaminya, ia rindu belaian tangan kekar Andre di rambutnya.
"Elusin," pinta Kiran lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Andre.
Kiran ingin bermanja-manja sekarang setelah hari panjang yang ia lalui. Dengan senang hati Andre mengelus rambut istrinya dengan sayang, dia pun sangat merindukan suasana seperti ini dengan istrinya.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.