GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 142


__ADS_3

Hari pun berlalu begitu cepat, hari ini sepasang suami-istri yang tengah menunggu lahirnya sang buah hati akan pergi berlibur ke salah satu Villa milik sang Papa. Aurora sangat excited, hari yang di tunggu pun akhirnya tiba.


Irsyan menggeret satu koper besar yang berisi pakaiannya dan Aurora, lalu memasukkan koper serta beberapa barang lainnya ke dalam bagasi mobil dengan di bantu oleh pak Nudi, sopir pribadinya. Mereka pergi menggunakan sopir, demi keselamatan mereka, terutama Aurora yang tengah hamil besar.


" Udah siap Tuan, Nyonya?" tanya pak Nudi.


"Sudah pak," jawab Irsyan.


Selama di perjalanan Aurora tertidur di bahu suaminya, Irsyan tersenyum melihat istrinya tertidur karena terlihat begitu polos, apalagi Aurora tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka membuatnya tak segan-segan mengecup bibir mungil itu, tak peduli jika ia diliat oleh sopirnya.


Sekitar 3 jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di Villa yang dimaksud, mereka sampai disana menjelang magrib. Aurora dan Irsyan turun dari mobil, di depan Villa mereka telah di sambut penjaga Villa suruhan dari Harun.


"Selamat sore Tuan dan Nyonya," sapa paman Dadang, bibi Pina dan Gilang serempak.


"Sore," balas Irsyan dan Aurora tersenyum.


"Ayo silahkan masuk," suruh bibi Pina dengan sopan.


"Iya Bi. Oh ya paman Dadang dan Gilang, saya minta tolong koper dan barang-barang di belakang mobil tolong dimasukkan ke dalam kamar kami ya?" titah Irsyan.


"Baik Tuan." Aurora dan Irsyan masuk ke dalam Villa.


"Kamar untuk kami sudah di siapkan, Bi?" tanya Irsyan.


"Sudah Tuan, Bibi telah membersihkan dan merapikan kamar untuk Tuan dan Nyonya. Tuan dan Nyonya mau dibuatkan minuman apa, biar Bibi buatkan?" tawar bibi Pina.


"Nggak usah Bi, makasih. Kami istirahat saja, soalnya badan kami sudah lelah sekali. Lebih baik Bibi istirahat saja, pasti Bibi juga lelah kan?" balas Aurora dengan ramah.


"Baik Nyonya, Bibi ke rumah belakang dulu, kalau Nyonya dan Tuan butuh apa-apa tinggal telpon Bibi saja," ujar bibi Pina tersenyum. Ia bersama suami dan anaknya memang tinggal di rumah yang berada di belakang Villa.


"Baik, Bi." Bibi Pina pun pergi dari hadapan Irsyan dan Aurora.


"Ayo kita ke kamar sayang," ajak Irsyan. Aurora hanya mengangguk, lalu mereka pergi ke kamar yang sudah disiapkan oleh bibi Pina dan paman Dadang.


Sesampainya di kamar, Aurora langsung mendudukkan dirinya di atas ranjang.


"Sayang kamu mandi dulu gih, nggak baik ibu hamil mandi malam. Aku mau keluar sebentar ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan paman Dadang," suruh Irsyan pada Aurora.


"Iya Mas."


Aurora melangkahkan kakinya menuju ke koper, ia membuka dan mengambil dress tidurnya. Setelah itu Aurora pergi ke kamar mandi. Sedangkan Irsyan keluar dari kamar menemui paman Dadang, entah apa yang akan di bicarakan oleh calon Papa itu.


Setelah selesai mandi, Aurora keluar dari kamar mandi dengan mengenakan dress tidur pendek di atas lutut yang ia ambil tadi. Terlihat Irsyan belum juga masuk ke kamar, jadi Aurora memutuskan pergi ke balkon kamar. Angin malam langsung menusuk sampai ke tulang Aurora.

__ADS_1


"Subhanallah dingin banget disini." Aurora menatap pemandangan desa yang masih asri dari atas balkon tersebut sangat damai dan sunyi tidak seperti di ibu kota.


Sebuah lengan kokoh tiba-tiba mendekap Aurora dari belakang, tak lain dia adalah Irsyan.


"Hei, kok disini sayang? Dingin loh," ujar Irsyan sambil mengecup leher Aurora yang beraroma parfum mawar.


"Aku disini cari angin sebentar, Mas." Aurora menyenderkan di dada bidang Irsyan.


"Nanti kamu bisa masuk angin loh sayang, apalagi kamu pakai dress tidur tipis seperti ini," ujar Irsyan sambil mengelus perut besar istrinya.


"Iya aku tau Mas, Mas mandi gih sana," titah Aurora membalikkan badannya menatap Irsyan.


"Iya sayang, ya sudah aku mau mandi dulu," ujar Irsyan sambil mencuri ciuman di bibir Aurora, lalu berlari menuju ke kamar mandi. Aurora hanya terkekeh dan geleng-geleng dibuatnya.


Ayam berkokok dengan lantangnya, matahari bersinar cerah menerangi bumi membuat Irsyan terbangun dari tidurnya karena terkena cahaya matahari dari celah gorden.


"Eugghh udah pagi ya?" gumam Irsyan serak. Ia memandangi bidadari penyemangat hidupnya masih tertidur pulas dengan wajah Aurora yang masih bersembunyi di dadanya serta tangan istrinya berada di pinggangnya.


Dengan perlahan Irsyan memindahkan tangan Aurora, kemudian merubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di headboard ranjang.


"Sayang bangun yuk, udah pagi nih," ujar Irsyan mengelus rambut Aurora. Aurora pun mulai terusik.


"Eeughh iya Mas." Aurora membuka matanya secara perlahan.


"Morning too Mas," balas Aurora tersenyum.


Irsyan beralih menatap perut istrinya, "Pagi anak Papa," sapanya.


"Pagi juga Papa," balas Aurora dengan suara anak kecil membuat Irsyan terkekeh lalu mencium gemas perut istrinya.


"Mau pergi jalan-jalan ke kebun buah dan sayuran nggak?" ajak Irsyan.


"Memangnya ada kebun buah dan sayuran disini?" tanya Irsyan.


"Ada, Papa disini punya kebun buah-buahan dan sayur-sayuran bahkan peternakan disini," jelas Irsyan.


Di belakang Villa terdapat perkebunan buah dan sayuran serta terdapat peternakan. Dengan luas tanah sekitar 15 hektar, 10 hektar untuk perkebunan buah dan sayuran serta 5 hektar untuk peternakan.


Pemilik dari perkebunan dan peternakan tersebut tak lain adalah Harun, namun beliau memerintahkan dan mempercayakan Dadang, istri serta anaknya untuk mengelola perkebunan dan peternakan tersebut dengan bantuan para pekerja lainnya.


Hasil perkebunan dan peternakan tersebut lalu diekspor ke luar daerah bahkan sampai keluar negeri.


Aurora menganga mendengar jika sang Papa mertua memiliki aset seperti itu, entah apalagi aset yang di punya Harun selain beberapa rumah, villa, perkebunan dan peternakan yang Aurora ketahui.

__ADS_1


"Mau pergi nggak?" ajak Irsyan lagi.


"Mau Mas!" jawab Aurora dengan antusias.


"Ya sudah kalau gitu kita mandi dulu," ucap Irsyan.


"Mas aja yang duluan," suruh Aurora yang tengah bersandar di headboard ranjang.


"Nggak! Kita mandi berdua," ujar Irsyan. Aurora mengangguk pasrah, Irsyan tersenyum kesenangan lalu menarik tangan Aurora membawanya ke dalam kamar mandi.


Selesai mandi dan berpakaian, mereka berdua keluar dari kamar lalu menuju ke ruang makan. Di atas meja makan sudah tersedia nasi goreng buatan bibi Pina.


"Pagi Tuan, Nyonya," sapa bibi Pina.


"Pagi Bi," balas Aurora dan Irsyan serempak.


"Ayo silahkan sarapan dulu. Bibi sudah buatkan sarapan untuk Tuan dan Nyonya," ucap bibi Pina.


"Iya Bi, terima kasih." Aurora dan Irsyan duduk berdampingan.


"Oh ya Bi, paman Dadang, Gilang dan pak Nudi kemana ya?" tanya Irsyan.


"Mereka ada di rumah belakang Tuan, Bapak sama pak Nudi sedang ngopi, Tuan" jawab bibi Pina.


"Saya minta tolong Bi, panggilkan pak Nudi, paman Dadang dan Gilang kesini, kita akan sarapan bersama," ujar Irsyan.


"Eh tidak usah Tuan, biar kami sarapan di rumah belakang saja," tolak bibi Pina sungkan.


"Gapapa Bi, kita sarapan bersama saja disini," timpal Aurora. Bibi Pina tersenyum dan mengangguk.


"Baik Tuan, Nyonya. Kalau begitu saya akan panggilkan mereka dulu," balas bibi Pina, ia pergi keluar dari pintu belakang menuju ke rumahnya untuk memanggil suami, anak serta pak Nudi


Beberapa saat kemudian bibi Pina kembali bersama paman Dadang, Gilang dan pak Nudi.


"Pagi Tuan dan Nyonya," sapa paman Dadang, Gilang dan pak Nudi.


"Pagi, ayo kita sarapan bersama," balas Aurora.


"Baik Nyonya." Mereka berenam pun mulai sarapan. Walau dengan perasaan sedikit sungkan kepada Aurora dan Irsyan, karena ini pertama kalinya mereka makan bersama dengan majikannya.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2