GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 12


__ADS_3

"Rora, Kiran" panggil Mila.


"Kenapa Mil?" tanya Aurora dan Kiran.


"Kalian liat deh polisi-polisi disana."


Mila menunjuk dengan dagunya ke arah 4 polisi muda yang sedang makan di dalam cafe itu, Aurora dan Kiran pun melihat ke arah yang Mila tunjukkan, Andre dan Wawan pun sampai ikut melihatnya.


"Ya ampun mereka cogan semua!" heboh Kiran, dia salah satu penyuka cowok-cowok tampan, berotot dan berseragam tentunya. Padahal dirinya sudah memiliki kekasih, tapi tetap saja matanya tidak bisa melihat hal seperti itu.


"Ah, pasti perut mereka kayak roti sobek semua. Kira-kira 6 atau 8 ya sobekan nya?" Mila membayangkan ABS ke empat polisi itu seraya menopang kedua pipinya.


Andre mendengus, "Biasa aja tuh muka mereka" celetuknya


"Ye bilang aja lo iri, dasar buaya burik," ucap Kiran sinis.


"Ngapain gue iri sama titisan buaya berseragam kayak mereka. Gantengan juga gue kemana-mana," balas Andre dengan percaya dirinya. Kiran rasanya ingin muntah mendengar ucapan Andre.


"Kok lo nggak ikutan heboh kayak mereka berdua sih, Ra?" tanya Wawan pada Aurora.


Munafik jika Aurora tidak terpesona dengan tampang rupawan ke-empat polisi itu, tapi menurutnya hanya Rivan lah yang paling tampan di matanya. Dasar bucin!


"Di mata dia sih, si Rivan yang paling tampan" celetuk Mila dengan tampang mengejek.


"Nah itu lo tau" jawab Aurora santai.


Mila mendengus kesal, "Cowok kek pantat panci di bucinin," gumamnya.


Kedua indra penglihatan salah satu polisi disana tak sengaja bertubrukan dengan indra penglihatan milik Aurora, Polisi itu tersenyum ke arahnya. Aurora pun membalasnya juga dengan senyuman, namun dengan cepat ia memutuskan tatapannya dengan polisi itu.


"Arrgghh dia senyum ke arah gue!" teriak Mila. Andre dan Wawan hanya bisa beristighfar seraya mengelus dadanya.


"Eh enak aja, dia tadi itu senyum ke gue tau!" ucap Kiran tak mau kalah.


"Dasar gila," gumam Wawan seraya geleng-geleng kepala melihat tingkat kepercayaan diri kedua sahabatnya itu, karena dia melihat jika polisi itu menatap dan tersenyum tertuju hanya pada Aurora.


Polisi yang berpangkat Brigadir itu terus memandangi wajah cantik Aurora, 'Cantik banget tu cewek, semoga aja gue bisa ketemu sama dia lagi.'


Walaupun wajahnya sedikit lebam, hal itu tidak membuat pesona seorang Aurora Putri Ramadhina menjadi luntur.


"Rora cantik" panggil Kiran begitu lembut.


"Pasti ada maunya nih manggil kayak gini," cibir Aurora. Kiran langsung nyengir menunjukkan deretan giginya yang dipakaikan behel berwarna abu.


"Anterin gue ke Mall dong, nanti gue traktir deh" bujuk Kiran dengan wajah memelas.


"Kenapa lo nggak ajak Mila aja?" tanya Aurora.


"Tadi gue udah ajak Mila, tapi katanya dia mau anter mamanya ke pengajian."


Aurora menatap Mila minta penjelasan dan Mila hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Ayolah Ra, gue mau beliin kado buat pacar gue, besok ini dia ulang tahun," rengek Kiran.

__ADS_1


Ucapan Kiran telah membuat hati seseorang terasa sangat sesak, orang itu tak lain adalah Andre. Ia sampai mengepalkan tangannya dibawah meja, untuk menahan rasa cemburunya.


Kekasih dari Kiran berprofesi sebagai seorang pilot, hal itu membuat mereka jarang bertemu karena sang kekasih mempunyai jadwal penerbangan yang sangat padat.


Aurora menghela napas, "Oke gue mau."


"Ye makasih Rora," ucap Kiran senang sambil memeluk Aurora.


"Inget hubungi Ibu lo dulu biar nggak khawatir nantinya!" titah Wawan.


Aurora mengangguk, "Iya Wan, tenang aja!" ucapnya.


...****************...


Aurora dan Kiran kini sudah berada di basemen parkiran salah satu Mall terbesar di kota M, mereka berjalan beriringan masuk ke dalam gedung Mall tersebut dengan saling bergandengan tangan.


Mereka tak luput dari perhatian para pengunjung disana, memang kecantikan kedua gadis itu selalu jadi perhatian orang, apalagi jika Mila tadi ikut. Bisa-bisa orang bakal mimisan melihat kecantikan paripurna milik mereka bertiga.


"Lo mau beli apaan nih?" tanya Aurora.


"Menurut lo hadiah apa yang cocok buat doi gue?" tanya Kiran balik, Aurora pun memikirkan hadiah apa yang cocok untuk kekasih sahabatnya itu.


"Jam tangan?"


Kiran menggeleng, "Gue udah pernah kasi dia jam tangan pas ulang tahun dia yang tahun kemarin"


"Pacar lo punya hobi apa?" tanya Aurora.


"Em, pacar gue punya hobi main futsal sama main golf" jawab Kiran. Aurora manggut-manggut.


"Nah ide yang bagus tuh, yuk kita ke toko sepatu futsal" ajak Kiran semangat. Aurora hanya mengangguk dan mengikuti kemana pun Kiran membawanya.


Setelah selesai memilih sepatu futsal, mereka berdua pun melanjutkan berbelanja ke toko skincare. Namun sebelum masuk ke toko skincare, Aurora dipanggil oleh seseorang.


"Aurora" Aurora yang merasa dirinya terpanggil pun menoleh ke arah sumber suara.


"Eh Tante Jihan" ucap Aurora tersenyum seraya menyalami Jihan.


"Akhirnya kita ketemu lagi, nak"


"Hehe iya Tan. Oh iya, kenalin ini temen aku namanya Kiran" Aurora memperkenalkan Kiran kepada Jihan. Kiran pun memperkenalkan diri sambil menyalami Jihan.


"Tante sendirian kesini?" tanya Aurora karena melihat Jihan sendirian tanpa ditemani siapapun.


"Nggak, Tante kesini sama anak Tante. Tapi dia udah jalan duluan ke parkiran, karena dia memang paling nggak suka diajak shopping sama mamanya" jelas Jihan sambil terkekeh. Aurora pun ikut terkekeh dibuatnya.


"Oh ya, Tante boleh minta nomor telepon kamu?"


"Boleh dong Tan" Jihan pun menyodorkan handphonenya pada Aurora.


"Ini sudah Tan" Aurora mengembalikan handphone Jihan setelah selesai mengetik nomor teleponnya.


"Besok kapan-kapan kamu datang ya ke rumah Tante, nanti Tante buatin makanan yang enak-enak deh khusus untuk kamu" ucap Jihan semangat.

__ADS_1


"Wah beneran Tan?" tanya Aurora antusias.


Kiran berdecak, "Kalau masalah makanan gratis paling cepet lo!" Aurora mendengus kesal, mulut sahabatnya itu memang terkadang tidak bisa terkontrol.


"Beneran nak, nanti ya Tante hubungi kamu. Sekalian anak Tante juga katanya mau kenalan sama kamu" ucap Jihan.


"Oh iya Tan" ucap Aurora tersenyum.


"Kalau gitu Tante mau pulang dulu ya?" pamit Jihan.


Aurora mengangguk, "Tante hati-hati dijalan"


"Iya nak" Jihan pun pergi dari hadapan dua gadis perawan itu.


"Siapa sih dia Ra?" tanya Kira penasaran.


"Oh Tante Jihan itu istri dari orang yang gue tolong waktu dibegal" jelas Aurora, Kiran hanya manggut-manggut. Lalu kedua gadis itu pun melanjutkan acara berbelanja mereka.


Setelah puas berbelanja, mereka berdua memutuskan untuk makan karena cacing-cacing diperut mereka sudah berdemo minta makan. Lalu mereka berdua masuk ke salah satu restoran yang berada di Mall itu.


"Permisi kakak-kakak cantik, mau pesan apa?" tanya seorang waiters laki-laki itu sambil menaruh buku menu di atas meja.


"Saya pesan tenderloin steak sama jus jeruk" pesan Kiran.


"Kalau kakak bidadari mau pesan apa? Pesan hati saya juga gapapa saya ikhlas lahir batin kok kak" ucap waiters itu ketika akan mencatat pesanan Aurora, sepertinya dia juga salah satu spesies buaya rawa. Aurora dan Kiran sampai melongo mendengarnya.


"Saya pesan spaghetti bolognese sama jus buah naga* pesan Aurora tersenyum.


"Ya ampun kak, senyumnya bikin Aa' jadi meleleh aja" ucap waiters itu mendramatisir.


"Kalau gitu mohon ditunggu ya pesanannya ya?" sambung waiters itu, lalu pergi dari meja mereka berdua.


Aurora dan Kiran saling pandang, setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak dengan kelakuan waiters tadi.


"Fans lo tuh Ra" ledek Kiran.


Aurora mendengus kesal, "Serah lo deh" ucapnya malas.


"Eh sekarang udah jam berapa sih?" tanya Kiran. Aurora melirik jam tangannya.


"Udah jam 8 lebih 35 menit"


"Astaga nggak nyangka udah 2 jam-an lebih kita disini, semoga aja mami nggak marahin gue karena pulang malam"


"Ya lo sih belanjanya kayak orang kesetanan!"


"Hehe sorry, mumpung gue lagi banyak uang makanya bawaannya pengen belanja mulu," ucap Kiran dengan tampang tanpa dosanya.


Aurora memutar matanya malas, 'Gue punya temen nggak ada yang bener semua, heran.' batinnya.


Setelah selesai makan, mereka berdua pun memutuskan untuk balik ke rumah masing-masing.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2