GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 79


__ADS_3

Setelah 5 hari di Korea Selatan, Aurora dan Irsyan pun pulang ke Indonesia walaupun mereka berdua sangat ingin ke pulau Jeju tapi pekerjaan mereka sudah memanggil.


Pulang-pulang dari Korea, membuat badan Aurora menjadi lemas dan rasanya mual ingin muntah, mungkin karena Aurora terkena jet lag yang parah atau sebab yang lain, entahlah.


"Mas badan aku lemes banget dan perut aku mual," ucap Aurora dengan suara lemahnya sambil menyenderkan kepalanya di bahu Irsyan. Kini mereka berdua sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke rumah. Sedangkan Fani, Adit dan Alvaro pulang ke rumahnya langsung tanpa mampir terlebih dulu ke rumah Harun.


Irsyan yang kasihan pun segera mengambil minyak kayu putih di dalam tas dan mengoleskannya pada perut sampai ke dada sang istri dengan cara memasukkan tangannya ke dalam baju Aurora, tak mungkin ia membuka baju sang istri karena di depannya ada pak Maman, sopir pribadi keluarga Harun.


"Mau periksa ke rumah sakit dulu sayang?" tawar Irsyan yang khawatir dengan wajah pucat istrinya.


Aurora menggeleng lemas, "Nggak usah Mas, langsung pulang aja," pintanya. Aurora hanya ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Ya sudah, sekarang kamu tidur aja," ucap Irsyan pasrah.


"Iya Mas."


Cukup lama perjalan dari Bandara, akhirnya sampailah di rumah. Aurora yang sudah tertidur itu langsung di bopong oleh Irsyan karena ia kasihan dan tidak tega untuk membangunkan istrinya.


"Pak saya minta tolong untuk koper dan barang-barang lainnya di bawa ke dalam ya? Bapak bisa minta bantuan pak Deden dan pak Ujang," ucap Irsyan menyuruh sopirnya untuk membawa semua barang bawaannya ke dalam rumah.


"Baik Tuan muda," balas pak Maman sopan.


"Akhirnya kalian sampai juga," ucap Jihan menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Loh Aurora kenapa nak?" tanya Jihan melihat Aurora yang di gendong oleh Irsyan.


"Aurora ketiduran waktu di perjalanan pulang Ma, dia juga tadi ngeluh pusing dan mual," jelas Irsyan.


"Mual?" tanya Jihan ulang. Irsyan mengangguk.


"Jangan-jangan istri kamu--" Jihan menggantung ucapannya.


"Kenapa Ma?"


"Ah bukan apa-apa nak," ucap Jihan menggeleng. Tapi semoga yang ada dipikiran Jihan saat ini beneran terjadi pada menantunya.


"Ya sudah aku bawa Aurora ke kamar dulu ya Ma?"


"Iya nak."


Sesampainya di kamar, Irsyan langsung merebahkan Aurora di atas ranjang secara perlahan. Aurora tidak terusik sama sekali, mungkin dia saking terlalu lelah dan mengantuk.


"Hoek, hoek ..." Aurora terbangun karena perutnya terasa diaduk-aduk. Ia langsung berlari menuju ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi di dalam perutnya di wastafel.


CEKLEK!

__ADS_1


Irsyan masuk ke kamar, tapi ia tidak melihat istrinya disana.


"Sayang, kamu dimana?"


Sayup-sayup Irsyan mendengar suara Aurora sedang muntah-muntah di kamar mandi, ia pun segera menuju ke kamar mandi takut jika terjadi sesuatu pada istrinya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Irsyan sambil memijit tengkuk Aurora.


"Aku mual banget Mas," ucap Aurora dengan suara lemahnya, ia berbalik menghadap ke Irsyan dan menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


"Mau tidur lagi?" tanya Irsyan. Aurora hanya mengangguk. Irsyan pun memapah tubuh istrinya kembali menuju ke ranjang.


"Mau Mas buatkan teh hangat? Mungkin itu bisa mengurangi rasa mual kamu," tawar Irsyan.


"Boleh Mas, tapi jangan terlalu manis ya?" pinta Aurora.


"Iya sayang, tunggu sebentar ya Mas buatkan dulu," ucap Irsyan. Aurora mengangguk, Irsyan pun keluar dari kamar dan menuju ke dapur membuatkan teh untuk Aurora.


...****************...


Malamnya, Aurora berencana untuk pergi ke cafe sunshine, yakni cafe langganan dia bersama sahabat-sahabatnya. Aurora menyuruh sahabat-sahabatnya itu untuk berkumpul disana sengaja karena dia akan membagi-bagikan oleh-oleh yang dia beli di Korea kemarin.


"Sudah siap sayang?" tanya Irsyan yang tentu saja ikut menemani istrinya. Walaupun tadi dia sempat melarang karena kondisi dari Aurora yang kurang baik, tapi istrinya itu sangat kekeh untuk pergi, jadi dengan berat hati Irsyan pun mengizinkannya dengan syarat dirinya harus ikut.


"Sudah Mas," jawab Aurora dengan mantap. Irsyan pun mulai melajukan mobilnya menuju ke cafe sunshine.


"Aurora, Irsyan!" panggil Andre sambil melambaikan tangan. Andre memanggil Irsyan tidak menggunakan embel-embel 'Mas' karena memang Irsyan yang menyuruhnya.


Irsyan dan Aurora pun langsung menghampiri meja tempat sahabat-sahabatnya itu berada.


"Hai guys, kalian apa kabar?" tanya Aurora sambil duduk dan diikuti Irsyan yang duduk di samping istrinya.


"Alhamdulillah baik," jawab semuanya dengan serempak.


"Gimana nih, udah ada isinya belum pulang-pulang dari bulan madu?" tanya Kiran. Aurora yang mengerti pun langsung tersenyum.


"Doakan saja," ucap Aurora sambil mengelus perutnya.


"Oh ya, ini ada oleh-oleh untuk kalian," ucap Aurora mengalihkan pembicaraan seraya membagikan satu-persatu oleh-oleh untuk keempat sahabatnya. Mereka berempat pun langsung mengucapkan terima kasih.


"Repot-repot banget sih Ra, belikan kita ini," ucap Wawan sungkan.


"It's okey, gue sama mas Irsyan memang sengaja membelikan ini untuk kalian," balas Aurora. Setelah itu mereka pun berbincang-bincang sampai Andre membahas tentang janji Aurora akan membangun cafe dulu.


"Ra, lo jadi kan mau membuat cafe itu?" tanya Andre.

__ADS_1


Aurora menepuk jidatnya, "Ya ampun gue sampai lupa hal itu."


Irsyan menaikan satu alisnya, "Kamu mau buat cafe sayang?"


"Iya Mas, sebelum kita menikah dulu aku dan yang lain berencana untuk membuat cafe, tapi sampai sekarang belum kesampaian," jelas Aurora.


"Kok nggak kasi tau Mas sih, kan Mas bisa bantu nanti," ucap Irsyan.


"Memangnya Mas nggak keberatan bantuin kita?" tanya balik Aurora.


"Ya nggak lah sayang, mau Mas bantuin apa? Masalah finansial atau materialnya?" tanya Irsyan menawarkan bantuan.


Aurora menatap keempat sahabatnya untuk meminta pendapat mereka.


"Kamu ajalah yang jawab Ra," ucap Kiran. Aurora pun mengangguk.


"Kebetulan Mas yang mengerti masalah properti, kita boleh minta tolong nggak untuk dicarikan tanah atau ruko untuk kita buat cafenya? Untuk masalah harga sewa atau jualnya nanti langsung kasi tau ke aku atau ke yang lainnya," ucap Aurora meminta bantuan pada Irsyan.


"Iya Mas bisa bantu, untuk tempatnya biar Mas saja yang beli," balas Irsyan membuat mereka berlima terkejut mendengarnya.


"Eh nggak usah Mas, aku dan teman-teman ada uang kok untuk membeli tempatnya," tolak Aurora.


"Iya bener nggak usah, Syan. Kami ada uang kok untuk membeli tempatnya," timpal Andre yang tak ingin merepotkan Irsyan.


"Gapapa, biar gue aja yang beli tempatnya dan kalian tinggal beli sarana seperti alat-alat dapur, kursi, meja dan lain sebagainya," ucap Irsyan. Saat Wawan ingin berbicara tapi Irsyan langsung memotongnya.


"Tapi-"


"Pokoknya nggak ada penolakan!" ucap Irsyan tak boleh diganggu gugat. Semuanya pun menghela napas lalu mengangguk dan mengucapkan terima kasih atas bantuan Irsyan.


"Sama-sama, kalau minta bantuan apapun langsung kasi tau ke gue aja, siapa tau nanti gue bisa bantu kalian," ucap Irsyan.


"Iya Syan, thanks sekali lagi," balas Wawan.


"Ra, cari cowok kayak mas Irsyan dimana sih? Gue juga mau dong satu," celetuk Mila yang menginginkan lelaki seperti suami sahabatnya itu.


"Cowok kayak suami gue mah cuma ada satu-satunya di dunia ini dan nggak ada yang bisa menyamakannya," ucap Aurora membanggakan suaminya. Irsyan pun tersenyum mendengar ucapan dari istrinya itu.


"Iya deh," balas Mila.


"Oh ya, ini undangan untuk kalian berdua," ucap Kiran mengeluarkan undangan pernikahannya dengan Andre yang akan dilaksanakan hari Sabtu depan.


"Thanks Ki, semoga lancar hingga hari H ya?"


"Aamiin," ucap Kiran dan Andre dengan serempak.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2