
Ternyata prediksi tidak selalu tepat. Pada tengah malam Aurora merasakan sakit pada perutnya. Rasanya kencang sekali dari bagian perutnya hingga bagian bawah.
Aurora menggoyang-goyangkan tubuh Irsyan yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Irsyan yang sebenarnya tidurnya penuh rasa tidak tenang langsung terbangun. Ia melihat wajah istrinya yang dipenuhi peluh di sekitar keningnya.
"Kenapa sayang? Sakit? Ada yang sakit?" tanya Irsyan khawatir.
“P-perut aku Mas ..." Irsyan melihat ke bawah dimana ada cairan yang membasahi bagian bawah Aurora. Dengan sigap Irsyan langsung menggendong tubuh Aurora pelan-pelan. Selama masa tegang Aurora mendekati persalinan.
Aurora langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Dengan cepat dimasukkan ke dalam ruang persalinan. Irsyan ikut masuk ke dalam. Suasana cukup menegangkan saat ini.
Pembukaan Aurora yang sudah dibilang sempurna sudah bisa untuk dilakukan persalinan secara normal. Dokter kandungan serta perawat yang ikut serta langsung bersiap.
Walaupun Irsyan dulu seorang perawat. Tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi tetap saja merasa tidak tega dengan istrinya saat ini. Berjuang untuk melahirkan darah dagingnya ke dunia.
“Tarik napas buang, sayang... Tarik napas buang..." Irsyan membantu para dokter dan perawat yang turut turun tangan dalam persalinan Aurora untuk menenangkan istrinya.
“Sakit Mas ...” Rintihan Aurora dengan peluh yang semakin bercucuran.
“Iya... Kamu pasti kuat sayang..." Irsyan mengusap punggung tangan Aurora.
Irsyan menggenggam tangan istrinya memberikan kekuatan. Diusapnya kening istrinya yang dipenuhi oleh peluh.
“Aaaa....uhh...aaa...uhh..."
Irsyan mengecup pucuk kepala Aurora beberapa kali. Merasakan genggaman tangan Aurora yang sangat kencang membuatnya sedikit merasakan sakit. Meskipun tidak sesakit apa yang sedang Aurora lewati saat ini.
"Arrgghh... huh... huh..." Aurora mengatur napasnya yang tersengal.
Irsyan mengusap pucuk kepala istrinya. "Terima kasih, sayang,"ucapnya lembut. Tanpa ia sadari bahwa ia menitikkan air mata harunya.
Di luar ruangan sudah disusul oleh keluarga. Aris yang siap tanggap selalu dengan keadaan darurat sebelumnya turut senang dan bahagia, akhirnya penantian atasannya itu tersampaikan juga.
Setelah mereka semua yang di luar mendengar suara tangisan bayi dari dalam.Yang dimana menandakan proses persalinan telah selesai. Jihan yang sedari tadi khawatir menjadi menangis dalam pelukan Harun. Nuri bersama Alfian menunggu pintu ruangan dibuka untuk melihat cucu pertamanya.
"Syukurlah, anak kita kuat, Bu. Sudah jangan menangis lagi." Alfian mengusap punggung istrinya untuk menenangkan ibu dari wanita yang telah berjuang untuk melahirkan cucu mereka.
"Akhirnya, Yah. Kita punya cucu juga." Nuri yang langsung memeluk suaminya.
Aril pun merasa tenang dan bahagia sekarang, karena proses melahirkan sang kakak telah selesai, kini ia sudah menjadi seorang paman muda.
Irsyan menunggu perawat yang sedang membersihkan anaknya kembali. Ia tidak sabar untuk melihat wajah sang anak.
“Selamat tuan, anak anda berjenis kelamin laki-laki telah lahir dengan selamat dan sehat." Ucapan selamat dari dokter yang menanganinya. Aurora yang melihatnya merasa bahagia. Seperti anugerah untuknya bisa memiliki anak.
Aurora menatap wajah sang anak dengan kulitnya yang masih memerah, tengah digendong oleh sang ayah.
"Sayang, dia Hansel Ali Chandra," ucap Irsyan memberikan nama pada anak laki-lakinya.
__ADS_1
"Hansel, anak Papa, harus kuat dan sehat ya. Supaya bisa jaga Mama dan adik-adik mu nanti," ucap Irsyan.
"Kamu sebagai pangeran di rumah yang nantinya menjadi pemimpin menggantikan Papa, saat Papa sudah tidak ada di dunia ini lagi menjaga kalian semua," sambungnya.
Segala ucapan Irsyan terdengar oleh Aurora. Namun, Aurora tidak menyukai kalimat Irsyan yang terakhir. Sedih dan sesak hati rasanya ketika mendengar kalimat menyakitkan itu. Tapi, saat ini bukanlah waktu untuk bersedih.
Karena sudah pasti kita semua akan menghilang dari dunia ini. Hanya saja tidak tahu waktu kepastiannya. Hal penting saat ini adalah bukan mengenai kematian seseorang. Tetapi, kelahiran anak mereka yang akhirnya datang ke dunia ini dengan selamat dan sehat.
Setelah di pindahkan ruangan, banyak keluarga dari kedua belah pihak yang menjenguk Aurora dan bayinya. Semuanya merasa gemas dengan wajah tampan Hansel. Hampir semua lekuk wajah Hansel begitu mirip dengan sang Papa.
"Masya Allah, kamu ganteng banget sih nak," ucap Jihan yang sedang menggendong baby Hansel.
"Iya bener banget mbak, benar-benar plek-ketiplek mirip sama papanya," timpal Nuri. Aurora dan Irsyan yang mendengar itu hanya tersenyum.
...****************...
8 tahun kemudian, seorang pria berusia 26 tahun membuang napas kasar, perusahaan tempatnya bekerja kini sedang mengalami krisis hipotek dan hampir bangkrut akibat saham yang menurun serta memiliki hutang di bank di luar negeri sana. Dan parahnya lagi, kini sang pemilik perusahaan dalam keadaan koma karena serangan jantung mendadak saat beliau sedang berada di dalam ruangan kantornya.
"Apa yang harus gue lakukan agar perusahaan itu nggak bangkrut, gue harus membalas jasa-jasa yang telah Tuan Ibrahim berikan ke gue. Ayo mikir keras Aril!" Monolog Aril sambil memandang ke langit-langit kamarnya. Laki-laki tampan namun dingin itu kini bekerja sebagai salah satu orang kepercayaan di perusahaan perhiasan bernama YH Group yang dimana merupakan perusahaan terbesar di Indonesia bahkan terkenal hingga ke mancanegara.
Aril bekerja disana sudah hampir 3 tahun lamanya, ia dulu pernah menolong seorang kakek tua bernama Ibrahim yang pingsan dan ternyata beliau merupakan pendiri sekaligus pemilik YH Group. Karena telah menolongnya, Ibrahim sangat berhutang budi kepada Aril. Ibrahim pun membiayakan kuliah Aril hingga lulus bahkan Aril di pekerjakan sebagai sekretaris di perusahaannya.
Aril yang tengah melamun dikejutkan dengan suara dering handphone nya.
"Pak Bimo? Ada apa ya nelpon?" gumam Aril. Bimo merupakan orang kepercayaan atau tangan kanan Ibrahim sekaligus asisten pribadinya. Tanpa berlama-lama lagi, Aril mengangkat telpon tersebut.
"Siang Aril, maaf saya menganggu waktu istirahatmu. Ada yang ingin saya sampaikan ke kamu," ucap Bimo dengan suara serius.
"Maaf, Pak. Memangnya ada apa ya?"
Bimo pun menjelaskan jika besok pagi Aril harus menjemput cucu perempuan pertama dari Tuan Ibrahim di bandara, bahkan menyuruh Aril untuk menjadi asisten pribadi dari cucu atasannya tersebut. Tapi yang membuat Aril terkejut ialah saat mengetahui siapa nama dari cucu perempuan Tuan Ibrahim tersebut.
"Bagaimana Aril? Kamu mau kan?" tanya Bimo. Aril terdiam, sungguh ia sangat bingung dan bimbang dengan tawaran tersebut.
"Aril," panggil Bimo karena Aril tidak menjawab pertanyaannya tadi membuat Aril sedikit tersentak.
"Ah iya Pak, saya mau!" ucap Aril.
"Bagus, kalau begitu besok jam 8 pagi kamu harus sudah berada di bandara."
"Baik Pak."
Tut!
Panggilan pun terputus.
Aril menghela napas panjang, "Semoga gadis itu nggak nyusahin gue," gumam Aril bersandar di sandaran kursi sambil kembali mendongak menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
Dor! Dor! Dor!
"Om buka!" teriak seorang gadis kecil berusia 3 tahun menggedor kamar Aril dengan keras, ia ingin masuk kamar sang paman. Aril berdiri dari kursinya dan membuka
"Kenapa Alina?" tanya Aril lembut, ia berjongkok di depan gadis kecil yang bernama Alina. Alina Kalila Chandra, gadis kecil cantik bermata indah dan berambut panjang sepunggung, dia merupakan anak kedua dari pasangan Irsyan dan Aurora.
"Adek mau main-main sama Om," pinta Alina.
"Kan adek bisa main-main sama Abang Hansel," ucap Aril.
Alina menggeleng, "Abang Hans ndak mau main boneka, katanya itu mainan anak perempuan," adu Alina cemberut sambil melipat kedua tangannya di atas dada. Aril mengelus rambut Alina karena gemas melihat raut wajah keponakannya.
"Ya udah, ayo adek main sama Om," ajak Aril.
"Yey! Let's go, Om!" ucap Alina antusias seraya menggandeng tangan Aril.
Terlihat di ruang tengah, ada Hansel yang sedang bermain lego di temani sang kakek, Alfian. Kedua bocah itu sedang dititipkan pada Nuri dan Alfian, sedangkan kedua orang tuanya tengah pergi ke acara salah satu kolega dari Irsyan.
"Abang," panggil Alina.
"Apa?" Hansel menatap sang adik.
"Tuh liat Om mau kok main sama adek," ucap Alina sambil menjulurkan lidahnya. Hansel hanya mendengus dan kembali memainkan mainannya, sementara Aril yang melihat interaksi kedua bocah itu hanya bisa terkekeh kecil dan geleng-geleng kepala.
Tak lama Nuri memanggil mereka untuk makan siang bersama. Dengan semangatnya Alina dan Hansel ke ruang makan. Alina yang sedikit manja, menyuruh Aril untuk menyuapinya.
"Om suapi adek dong!" pinta Alina. Dengan senang hati Aril menyuapi keponakannya yang cantik itu.
"Kamu sudah cocok jadi orang tua. Ya kan, Yah?" Nuri menatap Alfian dan Alfian mengangguk menyetujui ucapan istrinya tadi. Putranya itu memang sudah matang untuk membina rumah tangga.
Aril tersenyum, "Doakan saja, Bu. Semoga Aril segera bertemu dengan jodoh Aril," ucapnya. Ia tidak pernah marah atau tersinggung dengan ucapan orang tuanya tadi yang memang benar. Aril sudah lama berkeinginan untuk menikah.
"Aamiin nak," balas Nuri dan Alfian.
"Apa kamu masih menunggu gadis itu?" tanya Nuri.
Aril terdiam sejenak dan mengangguk kecil lalu berkata, "Kalau memang dia jodohku, aku akan sangat bahagia dan bersyukur. Tapi jika tidak, aku juga akan bersyukur karena Tuhan tidak mengizinkanku berjodoh dengan wanita yang salah."
Nuri dan Alfian tersenyum mendengar kebijaksanaan putranya.
"Ibu dan ayah akan selalu mendoakan mu, semoga kamu mendapatkan jodoh yang baik hati dan agamanya," kata Nuri lembut.
"Aamiin, terima kasih Bu, Yah."
...----------------...
To be continued.
__ADS_1