
Disaat sedang fokus-fokusnya Caca dan Lucas membahas tentang desain perhiasan, Salma tiba-tiba masuk dengan terburu-buru. Suara sepatunya membuat fokus Caca dan Lucas beralih kepadanya.
"Nona Caira, saya ingin memberitahukan sesuatu kepada anda. Mas Naufal sudah mengirimkan printer laser 3D ke divisi produksi. Tetapi, banyak sekali wartawan tiba-tiba datang diluar gedung YH GROUP," jelas Salma nada panik.
"Mereka sepertinya tahu bahwa perhiasan perusahaan kita memiliki sengketa hak cipta dengan desain milik Smith Company. Mereka semua ingin bertemu dengan pak Lucas dan ingin mewawancarai anda, Nona," sambung Salma.
"Bagaimana para wartawan itu tahu? Padahal pamerannya belum dimulai," tanya Caca heran.
Salma menggelengkan kepalanya, "Saya tidak tahu, Nona."
"Seseorang pasti yang telah menyebarkan berita itu. Tiga hari lagi merupakan hari dimana akan ada pembukaan pasar saham," sahut Lucas sambil menatap ke arah Caca.
"Pasti ini ulah Smith Company!" kesal Caca sambil menaruh lembaran-lembaran kertas desain dengan kasar ke atas meja. "Padahal kami sudah sepakat untuk membuat keputusan setelah selesai pameran nanti. Mengapa mereka tidak bisa menunggu?" sambungnya geram.
"Mereka dapat melakukan apa saja untuk persaingan komersial," sahut Lucas. Ia berdiri dari duduknya. "Saya akan turun untuk melihat-lihat. Saya akan menangani mereka dulu."
"Tapi desain ini ..."
Langkah Lucas terhenti dan berbalik menatap Caca, "Jangan khawatir, Nona. Saya sudah mengirimkannya ke bagian produksi. Asisten saya akan menyelesaikannya."
Caca mengangguk, "Baiklah."
Lucas segera keluar dari ruang kerja Caca bersama Salma. Lucas pergi ke depan gedung perusahaan, ternyata wartawan-wartawan itu ingin menerobos masuk ke dalam tapi di tahan oleh para penjaga keamanan.
"Sebagai perusahaan terbuka, kami ingin YH GROUP mengungkapkan mengenai krisis keuangan internalnya kepada semua pemegang saham. Perkenankan kami untuk bertemu dengan CEO anda atau dengan direktur desain anda," ucap salah satu wartawan.
"Pasar saham akan dibuka tiga hari lagi. Kami harus melaporkan kebenaran perusahaan," timpal wartawan lainnya.
"Biarkan kami masuk untuk bertemu dengan CEO anda atau tolong beritahu direktur desain untuk menemui kami disini."
Lucas mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, sebelum ia berjalan ke arah kerumunan para wartawan itu. "Saya direktur desain di YH GROUP. Jika anda memiliki pertanyaan, tanyakan saja kepada saya."
"Pak Lucas. Apakah YH GROUP menjiplak desain dari Smith Company di pameran perhiasan?"
"Pak Lucas. Apakah YH GROUP terlibat dalam gugatan hak cipta?"
"Apakah YH GROUP telah masuk dalam daftar hitam oleh Asosiasi Pengawas Industri? Maukah anda memberitahu kami yang sebenarnya?"
"Maafkan saya. Semua yang baru saja anda katakan adalah semua rumor," jawab Lucas dengan tegas dan lugas.
Tanpa disadari oleh siapapun seorang berbaju serba hitam, menggunakan topi dan masker hitam berjalan ke arah ruangan Caca. Tepat di depan pintu, orang tersebut menutup pintu ruangan Caca yang masih terbuka dengan perlahan. Lalu dengan sebuah remote control dan secara otomatis ia telah mengunci pintu ruangan tersebut. Pintu ruangan Caca itu memang dilengkapi dengan smart lock yang hanya bisa dibuka menggunakan password.
Lucas kelimpungan saat menjawab pertanyaan dari para wartawan, bahkan sekarang ia sampai diikuti ke dalam lobby.
"Pak Lucas!"
"Pak Lucas. Katakan sesuatu. Apakah YH GROUP dalam krisis keuangan?"
"Perusahaan kami tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Citra kami selalu positif!" jawab Lucas dengan nada sedikit kesal.
"Anda tidak perlu menjelaskannya dengan banyak. Atau izinkan kami mewawancarai CEO baru, Nona Caira."
Naufal melihat keheranan wartawan-wartawan yang mengerubungi Lucas sambil melemaskan otot-ototnya lengannya karena membawa printer yang cukup berat sehingga membuat lengannya menjadi pegal-pegal.
__ADS_1
"Ck, para wartawan itu sudah kemakan omongan orang-orang dari Smith Company. Hah sudahlah... itu bukan urusan gue. Dan mereka ingin mewawancarai Nona Caira? Lewati dulu bos Aril. Senggol dong!" ucap Naufal berbicara sendiri.
Mata Naufal tak sengaja melihat ke arah Lala yang sedang melihat ke arahnya juga, eh ralat wanita itu sebenarnya melihat ke arah Elang yang berada di belakang Naufal sambil membawa dua cup es krim.
Dengan ekspresi tersenyum Lala menghampiri Naufal, eh Elang maksudnya. Jantung Naufal sampai berdetak kencang saat melihat Lala berjalan menghampirinya. Tapi ia salah besar, Lala bukan menghampirinya melainkan Elang.
"Ini es krim untukmu." Lala menyodorkan satu cup es krim miliknya ke Elang.
"Dia tidak suka es krim!" celetuk Naufal.
Itu hanya sebuah bualan dari Naufal. Tapi nyatanya Elang malah mengambil es krim tersebut lalu memakannya membuat Lala sangat senang dan menatap mengejek ke arah Naufal.
"Bilang aja iri!" ejek Lala. Naufal tidak menanggapi ucapan Lala tadi dan hanya mendengus kesal. Wanita itu memang sangat menyebalkan dari dulu.
Orang yang menggunakan baju serba hitam tadi masih berada di lantai atas tepatnya pada ruangan divisi produksi dan ruang kerja Caca yang memang berdekatan. Ia menengok kanan-kiri, melihat tidak ada orang, ia segera menyalakan api dan membakar selembar kertas lalu memasukkan ke dalam ventilasi udara membuat asapnya menyebar seluruh lantai dan ruangan disana.
Terutama ruang kerja Caca. Caca yang sedang memeriksa desain perhiasan, tiba-tiba muncul asap yang ke keluar dari ventilasi udara membuat dirinya langsung terbatuk-batuk.
Caca panik melihat kepulan asap yang masuk ke dalam ruangannya, ia mengira bahwa ada kebakaran. Caca langsung berdiri dan berlari ke arah pintu. Tapi sayangnya, pintu itu malah terkunci dari luar.
"Tolong buka pintunya!" teriak Caca sekuat tenaga sambil menggedor-gedor pintu ruangan yang terbuat dari kaca itu.
Kepulan asap itu juga menyebabkan alarm tanda bahaya di kantor berbunyi sangat nyaring membuat orang-orang di bawah sana, terutama para wartawan terkejut dan panik.
"Apa yang terjadi? Mengapa alarmnya berbunyi?"
"Aku tidak tahu."
"Jangan-jangan ada kebakaran?"
Di dalam ruangannya, napas Caca semakin sesak dan terus batuk-batuk. Ia mengambil handphonenya di sofa mencoba menghubungi Aril. Belum sempat ia menghubungi Aril, badan Caca sudah limbung terjatuh ke lantai saking sudah tidak tahan lagi.
Para karyawan disana langsung berhamburan keluar dari ruangan masing-masing dan membuat para wartawan kembali bertanya-tanya.
"Permisi. Apa yang terjadi di dalam sana?"
"Halo. Bolehkah saya bertanya apa yang terjadi di dalam?"
Para karyawan itu tidak menjawab pertanyaan wartawan dan lebih memilih keluar dari gedung kantor untuk menyelamatkan diri.
"Salma. Apa yang terjadi?" tanya Lucas menahan Salma yang berlari.
"Koridor dan ruangan kantor penuh dengan asap. Sepertinya ada sesuatu yang terbakar. Saya tadi berada di divisi keuangan, lalu setelah saya mendengar alarm kebakaran, saya dan karyawan lain langsung bergegas turun," jelas Salma dengan terengah-engah.
"Kebakaran itu di lantai berapa?" tanya Lucas.
"Sepertinya berada di lantai divisi produksi," jawab Salma.
"Sial! Ruangan CEO berada di lantai atas berdekatan dengan divisi produksi!" ujar Lucas panik memikirkan Caca. "Sekarang dimana Nona Caira?" tanyanya.
"Saya akan menelponnya sekarang," ucap Salma yang semakin panik. Sadar ia telah melupakan atasannya itu.
Lucas ingin pergi menyelamatkan Caca, tapi sialnya para wartawan itu kembali menahannya.
__ADS_1
Aril yang baru saja sampai di kantor setelah bertemu seseorang di luar, ia cukup terkejut mendengar jika kantor kebakaran dan lebih terkejutnya lagi, kebakaran tersebut berada di lantai ruang kerja Caca.
"Naufal, matikan sistemnya dan buka pintu ruangan Nona Caira. Elang ikuti aku!" ucap Aril dengan terburu-buru. Sementara Naufal, mulai mengotak-atik laptopnya.
Lala sangat syok saat melihat Aril keberadaan di kantor ini. Kenapa ia tidak tau jika pria itu juga bekerja disini dan nama yang tadi disebut Aril tadi apa itu Caca? Caira Masya Dilaver, sahabatnya? pikir Lala.
Aril berlari cepat dan diikuti Elang, mereka menuju ke tangga darurat karena lift mati secara otomatis setelah dinyalakannya alarm kebakaran tadi.
Sambil menutup hidung dengan lengannya, Aril mencoba terus menerus menelpon Caca. Sedangkan Elang, berusaha mendobrak pintu yang menghubungkan lantai tempat ruangan Caca berada.
Di dalam ruangannya, dengan sisa-sisa tenaganya, Caca mencoba meraih handphonenya yang berbunyi.
"Caca ..."
"Ril, tolong aku. Aku nggak ku-at ..." Setelah mengatakan itu, Caca pun pingsan.
"Ca! Caca!" teriak Aril panik.
Untungnya Elang bisa mendobrak pintu tersebut. Dengan cepat mereka berdua berlari ke arah ruangan Caca. Elang mencoba membuka pintu ruangan Caca, tapi tidak bisa.
Elang mencoba memencet password pintu di smartlock yang tertempel di tembok dekat pintu. Namun password pintu tersebut sudah tidak berfungsi lagi.
"Pak Aril, password pintunya udah nggak berfungsi lagi," ucap Elang. Ia memanggil Aril dengan sebutan 'Pak' karena ia begitu menghormati Aril. Beda lagi jika bersama Naufal, mereka berdua sudah akrab dan Naufal juga tidak suka di panggil dengan sebutan Bapak.
Aril memejamkan matanya sejenak meredam rasa paniknya agar dia juga bisa berpikir jernih. Setelah membuka matanya, ia mendekati smartlock dan menghantam benda tersebut dengan sikunya. Alhasil smartlock tersebut terlepas dari tembok dan pintu ruangan Caca pun terbuka. Elang mendesah pelan, kenapa dia tidak berpikiran kesana tadi?
Aril dan Elang langsung berlari ke dalam ruang kerja Caca. Bertapa terkejutnya mereka berdua saat melihat Caca sudah tergeletak di lantai. Mereka merasa bersalah karena tidak becus menjaga Caca.
"Caca!" Aril menghampiri dan berjongkok di samping Caca sambil memangku kepala Caca di pahanya.
"Ca, kamu bisa denger aku kan?"
"Ca, please bangun!" Aril menepuk-nepuk pelan pipi Caca.
Aril menatap Elang, "Elang. Kamu segera ke bawah untuk meminta bantuan!" perintahnya.
"Baik, Pak." Elang segera keluar untuk mencari bantuan, meninggalkan Aril dan Caca berdua di sana.
Aril membopong tubuh Caca ala bridal keluar dari ruangan tersebut menuju ke tempat yang lebih aman dan membaringkan Caca di lantai. Aril memeriksa denyut nadi Caca dan terasa sangat lemah. Aril pun melakukan CPR kepada Caca. Tapi nihil, Caca tidak terbangun juga.
Karena tidak ada perubahan, langkah selanjutnya Aril akan memberikan napas buatan kepada Caca, walaupun sedikit ragu. Tapi karena dalam keadaan gawat darurat, mau tak mau Aril harus melakukannya. Tindakannya tadi, membuat Caca tersadar tanpa membuka matanya dan Aril pun bisa sedikit bernapas lega.
Aril membawa kepala Caca ke atas pangkuannya, "Ca. Kamu bisa dengerin suara aku kan?"
"Ril ..." ucap Caca lemah. Tangannya mencoba menggapai tangan Aril.
"Aku disini, Ca. Kamu harus bertahan, sebentar lagi kita akan keluar dari sini," balas Aril.
"Pak. Tim penyelamat ada disini," ucap Elang tiba-tiba. Aril mengangguk, kemudian mengangkat tubuh Caca kembali. Turun dari beberapa tangga darurat menuju tempat tim penyelamat berada.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1