
Irsyan dan Aurora berjalan sambil bergandengan tangan mengelilingi perkebunan buah milik Harun, benar saja beberapa buah-buahan seperti jeruk, anggur, mangga, manggis, kelengkeng, rambutan dan lain sebagainya di tanam di kebun tersebut.
Setiap kali melangkah di kebun buah tersebut, Irsyan dan Aurora selalu di sapa oleh pekerja kebun disana sebab mereka tau jika Irsyan merupakan anak pemilik dari kebun tersebut.
Terkadang Aurora mencomot lalu memakan buah yang mereka lewati, Irsyan hanya bisa geleng-geleng kepala dan membiarkannya, daripada nanti istrinya mengamuk dan dirinya tidak mendapatkan jatah kan bisa berabe urusannya, yang ada adik kecilnya akan puasa seminggu.
"Mau ke air terjun nggak sayang?" tawar Irsyan.
"Mau sih Mas, tapi capek kalau jalan," keluh Aurora.
"Tenang aja sayang, nanti kita pakai motor kok kesana," ucap Irsyan menenangkan Aurora.
"Oke aku mau Mas, tapi perginya siangan dikit ya Mas."
"Memangnya kenapa nggak sekarang aja?" tanya Irsyan heran.
"Kan kita belum ke kebun sayurannya," jawab Aurora dengan nada polos.
"Memangnya kamu nggak lelah sayang? Ini saja baru seperempat kebun yang kita liat," ujar Irsyan lembut, tangan kirinya memegang bahu Aurora dan tangan satunya lagi mengelus rambut sang istri.
"Dikit sih Mas," jawab Aurora.
"Nah kan, lebih baik kita pulang dulu, baru kita lanjutin lagi ke air terjun dan kebun sayurannya kita kunjungi besok pagi, gimana?" usul Irsyan.
Aurora mengangguk-anggukkan kepalanya, "Boleh deh Mas, aku setuju."
Irsyan merangkul pinggang Aurora dan mengajaknya untuk pulang ke Villa untung saja jarak Villa ke kebun tidak terlalu jauh jadi mereka berdua tidak perlu menggunakan kendaraan untuk pergi kesana.
Dan pada akhirnya si bumil cantik itu memutuskan untuk tidak jadi pergi ke tempat air terjun hari ini dengan alasan lelah, Irsyan hanya bisa memaklumi sebab semenjak hamil, fisik istrinya memang cepat lelah.
Kini mereka berdua tengah berbaring dengan tangan Irsyan sebagai bantalannya.
"Mas," panggil Aurora.
"Kenapa sayang?" tanya Irsyan sambil merapikan rambut Aurora yang sedikit berantakan.
"Siapa dulu cinta pertamanya Mas?" tanya Aurora.
Irsyan mengerutkan keningnya, ada hal apa istrinya ini menanyakan hal seperti itu tiba-tiba? Jangan sampai ini nanti akan menjadi pertanyaan menjebak dirinya.
"Memangnya kenapa sayang? Kok tanya kayak gitu tiba-tiba," tanya Irsyan heran.
"Ish jawab dulu, Mas!" kesal Aurora.
__ADS_1
"Dulu ada cewek yang Mas suka waktu SMA kelas satu, entah itu dibilang cinta pertama atau bukan Mas juga bingung," jelas Irsyan.
"Pasti cewek itu cantik banget ya Mas, makanya Mas suka sama dia?" tanya Aurora lagi. Oke, Irsyan harus hati-hati menjawab pertanyaan dari istrinya ini.
"Ya semua cewek cantik sayang, tapi jauh lebih cantikan kamu sih," ucap Irsyan mencium bibir Aurora sekilas.
"Mas bisa aja, terus Mas nggak pacaran sama dia?"
"Nggak sayang," jawab Irsyan.
"Kenapa?"
"Karena Mas sama dia berbeda keyakinan dan yah... Kami tidak mungkin bisa bersatu," jelas Irsyan dan Aurora hanya manggut-manggut.
"Kalau istrinya Mas ini, siapa cinta pertamanya?" tanya balik Irsyan.
Aurora berpura-pura berpikir, "Hem... Cinta pertama aku tentu saja Ayah," jawab Aurora.
Irsyan terkekeh dan mengigit ujung hidung Aurora. "Gemes deh sama kamu."
Aurora ikut terkekeh, ia semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Irsyan. "Aku sayang, Mas."
"Mas lebih sayang padamu," balas Irsyan seraya mencium puncak kepala Aurora.
Sementara itu anak kelas XI IPS 2 baru saja selesai kelas olahraga, namun Caca menahan Aril agar mengajarinya bermain basket mengingat Aril merupakan ketua tim basket di sekolahnya, walau Aril tadi sempat menolak tapi karena tak tahan melihat wajah memelas Caca seperti kucing minta dipungut, mau tak mau Aril pun mengajarinya.
"Ayo ambil bola ini," suruh Aril pada Caca sambil mendribble bola basket. Bibir Caca merengut lucu, sedari tadi ia tidak bisa merebut bola basket itu dari tangan Aril.
"Lo mah curang, nggak kasi gue kesempatan untuk main. Ini sih bukan ngajarin namanya," ucap Caca cemberut. Bibir Aril berkedut ingin tersenyum melihat wajah Caca yang terlihat lucu dimatanya, tapi sekuat tenaga ia tahan, Aril tak mau imagenya sebagai cowok dingin hilang begitu saja.
Aril menghentikan mendribble bola basket tersebut dan mendekati Caca sambil melempar bola basket tersebut pada Caca.
"Sini deh Ca," suruh Aril.
"Ngapain?" tanya Caca. Aril tidak menjawab, ia beralih tempat ke belakang tubuh Caca membuat jantung gadis itu berdegup kencang apalagi kini tubuh mereka saling berdempetan.
"Eh lo mau ngapain Ril?" tanya Caca gugup.
"Liat ke depan aja Ca, lebih tepatnya fokus ke arah ring," titah Aril sambil memegang kedua bahu Caca. Setelah itu tangan Aril berada di kedua sisi punggung tangan Caca. Ouh sial, rasanya Caca ingin jingkrak-jingkrak kegirangan gara-gara pose dirinya dan Aril seperti ini.
"Jangan gugup, Ca! Ini main basket bukan ujian!" ujar Aril yang merasakan tubuh Caca sedikit bergetar.
"Eh iya-iya," balas Caca. Aril mengarahkan bola basket yang berada di tangan Caca ke arah ring basket.
__ADS_1
"Yey masuk!" seru Caca saat bola basketnya masuk ke ring dan tanpa sengaja ia memeluk Aril saking senangnya. Sedetik kemudian Caca tersadar dan langsung melepaskan pelukannya.
"Eh maaf Ril, gue refleks," sesal Caca dengan pipi yang sudah memerah menahan malu. Seketika mereka berdua merasa canggung. Untung saja masih sepi kalau tidak mungkin saja mereka akan menjadi trending topik di sekolah.
"Ekhem gapapa, kalau gitu gue mau ganti baju dulu," ucap Aril sambil menggaruk tengkuknya. Caca hanya mengangguk, ia masih malu saat ini. Aril pun meninggalkan Caca sendirian di tengah lapangan.
"Ya Allah kenapa tadi gue meluk Aril sih! Ish dasar Caca!" kesal Caca sambil memukul-mukul pelan kepalanya. Tiba-tiba seseorang menahan tangan Caca yang sedang memukuli kepalanya sendiri itu.
"Lo kenapa, Ca? Pusing?" tanyanya.
"Eh kak Bintang!" pekik Caca melihat keberadaan Bintang disebelahnya, ia langsung melepaskan tangannya dari genggaman Bintang.
Bintang yang tadinya sedang berpatroli mencari siswa-siswi yang ketahuan bolos, seketika menghentikan langkahnya saat melihat Caca di lapangan sendirian sambil memukuli kepalanya, Bintang yang khawatir langsung menghampiri gadis pujaannya itu.
"Lo gapapa kan, Ca?" tanya Bintang lagi.
"Oh gue gapapa kok kak," jawab Caca.
"Lo yakin?"
"Iya kak, gue duluan ya kak? Gue mau ganti baju, soalnya nanti takut telat di jam pelajaran selanjutnya," kata Caca, lebih tepatnya ia ingin menghindar dari Bintang. Caca tak ingin berurusan lagi dengan Bianca dan gengnya.
"Oh iya Ca."
Caca pun berlari menuju kelasnya, Bintang hanya bisa menghela napas berat dan memandang punggung Caca dengan tatapan penuh arti.
"Ca," panggil Lala. Ia dan Caca akan pergi ke toilet untuk mengganti pakaian olahraganya.
"Kenapa La?" tanya Caca.
"Wajah lo kok merah gitu? Lo demam?" tanya Lala. Tubuh Caca menegang, apa iya wajahnya memerah? Caca yakin ini pasti gara-gara kejadian tadi, dumel Caca dalam hati.
"Oh ini mungkin karena gue kepanasan kali," elak Caca.
"Lo sih sok-sokan minta di ajarin main basket sama Aril, tau cuaca lagi panas banget!" omel Lala.
"Ya elah La, lo kayak nggak tau aja. Gue kan lagi pdkt sama Aril, makanya gue suruh aja dia ajarin gue main main," jelas Caca.
Lala mendengus, "Ya-ya terserah lo aja!"
...----------------...
To be continued.
__ADS_1