
Sore harinya, Aurora dan keempat sahabatnya memutuskan untuk kumpul di cafe langganan mereka, yakni Cafe Sunshine. Walaupun harus dengan cara memaksa Irsyan terlebih dahulu agar laki-laki itu mengizinkan Aurora untuk keluar, dengan berat hati Irsyan pun mengizinkannya.
"Sugar babi muka cantik lo kenapa jadi bonyok begini? Kan wajah lo jadi nggak estetik lagi!" Pekik Mila saat melihat wajah Aurora yang babak belur.
"Gue habis di culik," jawab Aurora dengan santai. Sontak keempat sahabatnya langsung terkejut. Memang mereka berempat tidak tau menahu pasal Aurora yang diculik kemarin.
"Brengsek! Siapa yang culik lo hah?" tanya Wawan emosi, rahang laki-laki itu mengeras diikuti tangannya yang mengepal hingga buku-buku telapak tangannya pun memutih saking erat kepalan tersebut.
"Iya Ra, siapa yang culik lo? Bilang ke gue, biar gue pisah kepala orang itu dari tubuhnya," timpal Andre yang ikut emosi. Hei, siapa yang tidak emosi ketika mendengar sahabat baiknya diculik?
Aurora menghela napas, lalu menceritakan tentang penculikan kemarin yang terjadi padanya. Keempat sahabatnya mengeluarkan raut wajah yang berbeda-beda ada yang emosi, kasihan, sedih dan kesal bercampur jadi satu saat menyimak cerita darinya. Bahkan mereka mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Sukma.
"Kok Irsyan nggak kasi tau ke kita sih, kita kan bisa bantu dia cari keberadaan lo." Andre cukup kecewa dengan calon suami dari sahabatnya itu.
"Mungkin pikiran dia juga lagi kalut banget cari gue sampai-sampai kalian lupa dihubungi," balas Aurora agar sahabat-sahabatnya mengerti. Mereka mengangguk membenarkan ucapan Aurora tadi.
"Terus kenapa lo nggak kasi tau ke kita sih Ra? Kan kita bisa pergi jenguk lo," ucap Kiran. Andre, Wawan dan Mila mengangguk menyetujui ucapan Kiran.
"Sorry guys kemarin gue pulang ke rumah aja jam 11 malam lebih dan tadi pagi gue bener-bener butuh istirahat, maaf banget." Aurora mengeluarkan raut wajahnya yang menyesal.
Mereka menghela napas panjang, seharusnya mereka juga mengerti keadaan Aurora yang memang harus mengistirahatkan fisik dan mentalnya agar pulih kembali atas kejadian itu.
"Tapi sekarang lo gapapa kan Ra?" tanya Mila khawatir.
"Gue gapapa kok Mil, mungkin masih sedikit perih di bagian-bagian luka gue, apalagi di bagian pipi gue," jawab Aurora dengan jujur.
Mereka berempat menatap iba Aurora, padahal gadis itu akan melangsungkan pernikahan tinggal beberapa minggu lagi, namun ada saja ujian yang Aurora dapatkan.
"Ada yang bakal gue kasi tau ke kalian," ucap Aurora.
"Apaan?"
"Gue bakal nikah seminggu lagi," jelas Aurora. Lagi-lagi mereka berempat terkejut dengan ucapan Aurora, memang gadis itu sangat suka mengejutkan sahabat-sahabatnya. Untung saja mereka tidak memiliki riwayat penyakit jantung.
"Lah kok di majukan? Nggak apa pernikahan lo tinggal dua mingguan lagi," ucap Kiran bingung.
"Iya soalnya mas Irsyan nggak mau gue kenapa-napa lagi Ki, biar ada yang jaga gue gitu," jelas Aurora.
__ADS_1
"Oh gitu," balas semuanya mengangguk mengerti.
"Semoga lancar ya sampai hari H," ucap Mila.
"Aamiin," balas semuanya.
...****************...
Malam harinya Aurora berada di rumah calon suaminya, atas suruhan Jihan yang sangat ingin bertemu dengannya, wanita paruh baya itu juga sangat khawatir setelah mendengar tentang calon mantunya yang habis diculik.
"Ya Allah, wajah kamu sampai begini nak, pasti sakit banget ya?" ucap Jihan khawatir sambil memegang kedua pipi Aurora.
"Iya lumayan Ma," jawab Aurora tersenyum tipis.
"Irsyan pokoknya nanti setelah kalian menikah, Mama nggak mau kejadian penculikan itu terjadi lagi sama calon menantu Mama," ucap Jihan tegas pada putranya. Aurora sangat terharu dan bahagia akan memiliki mertua yang baik dan sayang kepadanya.
"Iya Ma, aku janji bakalan jaga dan awasi Aurora 24 jam." Irsyan mengatakan itu dengan wajah yang serius dan bersungguh-sungguh.
"Good, Papa bangga dengan kamu nak," ucap Harun menepuk-nepuk pundak Irsyan.
"Ih nggak mau Ma, masih aja ikut tradisi itu." Irsyan tak terima dengan ucapan mamanya, mana bisa ia tidak berjumpa sehari saja dengan Aurora.
"Nggak ada bantahan Irsyan! Tradisi itu sudah turun temurun dari keluarga kita."
"Mana bisa aku tidak bertemu dengan Aurora sehari aja. Nahan rindu itu berat Ma," ucap Irsyan mendramatisir.
"Cih dasar bucin!" cibir Harun. Irsyan mendelik tak suka ke arah papanya.
"Kayak Papa nggak aja." Ucapan Jihan membuat Harun terdiam, karena dia juga memang sangat bucin terhadap istrinya. Yah jadinya Irsyan dan Harun itu hampir sebelas dua belas lah kalau masalah percintaan.
Irsyan menatap papanya dengan tatapan mengejek. Harun mendengus kesal melihat tatapan putranya.
"Mama nggak mau tau, pokoknya kalian tidak boleh bertemu setelah hari pernikahan kalian," lanjut Jihan tak mau dibantah lagi.
"Ma," rengek Irsyan.
"No Irsyan!" Bibir Irsyan langsung mencebik kesal, Aurora hanya terkekeh geli melihat raut wajah calon suaminya itu.
__ADS_1
"Tapi telpon boleh kan Ma?"
"Nggak boleh! Kalau cuma saling tukar pesan baru boleh, eh nggak usah deh nanti yang ada kalian malah saling telpon dan bertemu diam-diam diluar. Mungkin saja handphone Aurora juga akan disita oleh ibunya," sela Jihan. Irsyan menghela napas berat, ia akan menahan rindu untuk tidak bertemu dengan Aurora selama seminggu.
Irsyan dan Aurora kini tengah duduk di gazebo belakang rumah orang tua Irsyan.
"Sayang," panggil Irsyan.
"Kenapa Mas?"
"Mas nggak tahan kalau nggak bertemu sehari aja sama kamu," ucap Irsyan sendu.
"Sabar Mas, jugaan cuma seminggu," balas Aurora.
"Sayang... Seminggu itu udah seperti sebulan bagi Mas," rengek Irsyan seperti anak kecil.
Aurora menghela napas panjang, ia bingung harus menjawab apa.
"Terus kita harus bagaimana? Toh permintaan Mama harus kita turuti kan?"
"Iya sih, mana nggak boleh telpon dan video call lagi," lirih Irsyan lemas.
"Sayang boleh peluk nggak?" tanya Irsyan. Aurora mengangguk memperbolehkannya, Irsyan menarik tangan Aurora dan segera membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
"Mas bakalan kangen sama kamu." Aurora membalas pelukan Irsyan.
"Aku juga, Mas." Irsyan melepas pelukannya, ia menatap bibir Aurora yang menggoda iman walaupun bibir itu sedang terluka. Irsyan memiringkan kepala dan memajukan wajahnya ke wajah Aurora, bibirnya kini menyentuh bibir calon istrinya namun ia hanya menempelkan saja beberapa menit tidak ada *****@n atau gigitan sama sekali.
"Ih Mas main nyosor aja," kesal Aurora dengan wajah dan telinga yang sudah memerah, ia langsung menyembunyikan wajah malunya di dada Irsyan.
"Itu baru DP saja, lanjutannya nanti pas malam pertama kita sayang," ucap Irsyan menggoda Aurora sambil mengelus punggung gadis itu.
"Ih jangan ngomong kayak gitu, aku malu Mas!" Irsyan langsung terkekeh geli mendengarnya. Haish, Irsyan jadi tidak bersabar menunggu hari itu tiba.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1