
Irsyan, Aji, Beni serta Rilen menaikkan satu alisnya, mereka bingung dengan sikap Satria yang sedari tadi hanya melamun dan diam. Mereka berlima sekarang sedang berkumpul di salah satu cafe milik Jihan atau bisa dikatakan cafe ini merupakan tempat favorit mereka, bahkan Beni pun membawa putranya yang baru berumur 3 tahun ke tempat itu atas suruhan istrinya, jadi mau tak mau Beni harus membawa Daffa bersamanya, daripada nanti dirinya tidak diberikan jatah oleh istrinya kan bisa bahaya.
"Sat, lo kenapa sih? dari tadi lo diem aja, lo lagi sariawan?" tanya Rilen.
"Iya mentang-mentang yang mau nikah bawaannya mikirin calon istri mulu," goda Aji menimpali.
Satria mendengus sebal, "Sialan kalian!"
"Lo kenapa sih sebenernya, Sat?" sahut Irsyan.
"Gue masih bimbang sama pilihan gue ini," lirih Satria.
"Kalau bimbang nggak usah nikahin anak orang, kasihan!" celetuk Beni.
Satria membuang napas kasar, "Iya gue tau Ben, tapi gue nggak mau buat orang tua gue malu di depan banyak orang, apalagi undangan hampir semua sudah tersebar," balas Satria. Sudah 2 minggu yang Satria dan Aisha melangsungkan lamaran di rumah orang tua gadis itu.
"Ya terus lo mau kayak gimana, Sat? Kasihan lo nikahi anak orang, tapi lo nggak mencintai dia," ucap Aji dan di benarkan ketiga sahabatnya.
Satria terdiam, ia juga membenarkan perkataan dari Aji tadi. Apa dirinya harus membatalkan pernikahannya dengan Aisha? Kalau ia membatalkan pernikahan itu, keluarganya nanti pasti akan menanggung rasa malu, tapi apabila pernikahan itu Satria lanjutkan, ia tak ingin berumah tangga dengan wanita yang tidak ia cintai. Rasanya Satria ingin berteriak sekencang-kencangnya dengan kerumitan kisah cintanya ini.
Sedari tadi Daffa tidak bisa diam, dia berlarian kesana-kemari. Memang masa itu merupakan masa-masa emas seorang anak.
"Hati-hati nak," tegur Beni ketika kepala sang anak hampir terantuk meja.
"Iya Yah," jawab Daffa.
"Jadi pengen punya anak," celetuk Aji saat melihat Daffa.
"Banyak, lo tinggal pilih aja," balas Rilen.
Aji mengangkat sebelah alisnya, "Dimana?" tanyanya bingung.
"Anak kucing, anak tikus, anak kambing, anak sapi. Banyak deh pokoknya, lo tinggal pilih aja," jawab Rilen dengan wajah tanpa dosanya.
"Sialan lo!" umpat Aji sambil menoyor kepala Rilen membuat semua sahabat-sahabatnya tertawa terbahak-bahak.
"Ya tinggal minta aja sama Vania, gitu kok repot banget!" sahut Irsyan.
"Ya elah Syan, gue juga mau kali. Tapi lo tau kan adik sepupu lo itu sekarang lagi di Australia, jadi mana mungkin gue bisa buat bayi setiap hari," ucap Satria lesu.
__ADS_1
"Pasti punya lo berkarat tuh karena udah lama nggak disentuh sama bini lo," ejek Satria. Aji hanya mendengus kesal malas menanggapi ejekan dari sahabat-sahabat laknatnya itu.
Irsyan menepuk-nepuk punggung Aji, "Sabar Ji, adek gue bentar lagi pulang. Lo nanti bisa buka puasa sepuasnya," ucapnya dan di balas berdehem oleh Aji. Jika tidak berdosa mungkin saja Aji sudah mengubur hidup-hidup para sahabat laknatnya ini.
...****************...
Di tempat lain, tepatnya di kamar Mila. Gadis itu tengah menatap nanar ke arah undangan pernikahan Satria dan Aisha itu. Air matanya terus mengalir dengan derasnya, hatinya belum sepenuhnya rela, hatinya terasa seperti dihimpit batu raksasa yang membuatnya susah untuk bernapas.
Mila meremas kartu undangan tersebut, dibilang jahat ia tak akan peduli. Toh tidak ada orang yang mengetahuinya, Mila melempar kartu undangan yang sudah koyak tersebut ke dalam keranjang sampah yang ada di kamarnya.
Ternyata cinta dalam diam itu sangat menyakitkan, mungkin jika mengungkapkannya juga akan lebih menyakitkan apalagi jika nanti perasaannya ditolak mentah-mentah oleh Satria.
Tangis Mila semakin pecah, tangannya berada di dada sebelah kirinya yang terasa sesak, "Sangat sakit Ya Allah, bantulah hamba untuk mengikhlaskan dia."
Tangisan Mila pun mulai mereda, ia berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu karena waktu sudah menunjukkan waktu sholat isya. Setelah selesai sholat, Mila membaca Alqur'an karena ia yakin dengan kedua cara itu hati Mila menjadi sedikit tenang.
"Shadaqallahul Adzim." Mila menaruh Al-Qur'an pada tempatnya, lalu melipat mukena dan sajadah yang tadi ia gunakan.
TOK! TOK! TOK!
"Nak, kamu sedang apa?" tanya Rahma setelah mengetuk pintu kamar sang putri.
Rahma membuka pintu kamar Mila dan berjalan mendekati Mila yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Ada apa, Ma?" tanya Mila.
"Mama bisa minta tolong nggak sama kamu?" tanya Rahma duduk di sebelah Mila.
"Minta tolong apa, Ma?"
"Sebenarnya kan malam ini Mama mau pergi belanja bulanan, tapi kepala Mama sedikit pusing, jadi Mama mau minta tolong sama kamu untuk belanja bulanan," jelas Rahma.
"Iya Ma, biar Mila saja yang belanja. Mama udah buat list belanjaannya kan?"
"Sudah." Rahma mengambil lembaran kertas yang berisi list belanjaannya dari dalam kantong dasternya dan diberikan pada Mila.
"Ini udah semua kan belanjaannya Mama?"
"Sudah nak."
__ADS_1
"Kalau gitu Mama istirahat saja, biar nggak pusing lagi," suruh Mila.
Rahma mengangguk menyetujui, ia pun keluar dari kamar Mila. Mila mengenakan hijabnya terlebih dulu sebelum keluar dari rumah. Ia akan pergi ke supermarket dengan berjalan kaki karena tempatnya tak jauh dari rumah.
Sesampainya di supermarket, Mila mengambil troli dan mulai mencari barang-barang serta bahan-bahan makanan yang tertulis di dalam list belanja sang Mama.
Mila keluar dari dalam supermarket setelah membayar belanjaannya di kasir. Ia berjalan sambil melihat handphonenya tanpa ia sadari Mila menabrak seseorang.
"Aduhhh!" Belanjaan Mila pun terjatuh dan orang yang ia tabrak tadi langsung membantunya memunguti belanjaannya itu.
"Maaf tadi saya tidak sengaja," ucapnya.
Mila mendongak, "Iya gapapa Mas, ini juga salah sa--"
DEG!
Matanya seketika terbelalak sempurna dan jantungnya berdegup kencang ketika melihat orang yang ia tabrak tadi adalah orang yang sebulan lebih ini ia pikirkan dan tangisi, siapa lagi kalau bukan Satria.
"Loh Mila!" seru Satria.
"Eh mas Satria," ucap Mila gugup.
"Maaf tadi gue nggak sengaja nabrak lo," imbuh Satria padahal yang menabrak itu Mila bukan dirinya.
"Gue yang salah Mas, nggak liat jalan. Maaf ya," balas Mila.
Satria mengangguk dan tersenyum kecil. Hati Mila kembali sesak melihat senyuman Satria tadi, Aisha sangat beruntung bisa setiap hari melihat senyuman itu dan Mila iri akan hal itu.
"Lain kali lo harus hati-hati," tegur Satria.
Mila mengangguk, "Kalau gitu gue duluan Mas," ucapnya terburu-buru, ia tak ingin lama-lama dengan calon suami orang.
"Iya, Mil."
Mila jalan tergesa-gesa meninggalkan supermarket itu, sementara Satria menatap kepergian Mila dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1