GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 148


__ADS_3

TOK! TOK! TOK!


"Mila, kamu udah bangun belum, nak?" ujar Rahma sambil mengetuk pintu kamar sang putri. Namun tak ada jawaban dari Mila.


"Nak, kok nggak jawab Mama. Hari ini kamu kerja kan?"


Tapi masih sama, Mila tak menjawab ucapannya. Oke, Rahma pun mulai khawatir dengan anaknya itu. Rahma membuka pintu kamar Mila yang ternyata tidak terkunci.


Rahma melihat putrinya itu masih tertidur pulas di atas ranjangnya, tapi saat dirinya semakin mendekat, Rahma melihat wajah Mila penuh dengan keringat bahkan putrinya itu seperti menggigil.


Rahma memegang kening Mila, sedetik kemudian ia sangat terkejut ternyata putrinya itu terkena demam.


"Ya Allah nak, badan kamu kenapa bisa panas gini sih," ucap Rahma cemas. Ia berjalan cepat keluar dari kamar Mila menuju ke dapur untuk mengambil air untuk mengompres Mila.


"Eeuugghh." Mila mulai terbangun dari tidurnya dan kepalanya sedikit terasa pusing. Merasa ada sesuatu di keningnya, ia pun mengambilnya.


"Kok ada handuk?" gumam Mila heran.


Suara pintu terbuka membuat Mila mengalihkan pandangannya terlihat Rahma masuk ke dalam kamarnya sambil membawa sepiring nasi beserta segelas air.


"Mama," ucap Mila sambil merubah posisinya menjadi duduk.


"Kamu udah bangun nak?"


Mila mengangguk, "Aku kenapa Ma? Kok tadi ada handuk kecil di kening aku dan kenapa Mama nggak bangunin aku sih, aku kan mau kerja Ma."


Rahma menaruh piring dan gelas yang dibawa di atas nakas, "Mama udah bangunin kamu tadi, tapi nggak ada sahutan dari kamu. Jadinya Mama masuk deh ke dalam kamarmu, terus Mama liat wajah kamu kok berkeringat dan menggigil gitu dan waktu Mama cek badan kamu, ternyata kamu demam nak," jelasnya panjang lebar.


Mila cukup tersentak mendengar penjelasan dari sang Mama, apa iya dirinya tadi demam? Mila merutuki dirinya, ia demam pasti gara-gara dirinya mandi sekitar jam setengah tiga pagi tadi sampai badannya menggigil.


Saat dirinya mandi pagi tadi, Mila kembali menangis, entah kenapa ia sangat cengeng ketika mengingat Satria, padahal laki-laki itu tidak menganggap dirinya siapa-siapa.


Rahma memegang kening Mila dan masih terasa hangat.


"Ayo kamu sarapan dulu terus minum obat," suruh Rahma.


Mila mengangguk, "Iya Ma."


Mila memakan makanan yang dibawa oleh mamanya itu, setelah makan ia minum obat lalu kembali tertidur karena dirinya sangat lemas dan kepalanya terasa sangat pusing.


Satria berkunjung ke perusahaan sang sahabat tak lain adalah Irsyan, ia kesana atas suruhan dari sahabatnya itu yang mengatakan jika Irsyan merindukan dirinya dan ingin bertemu. Satria cukup geli saat Irsyan mengatakan hal itu, tapi segera ia tepis pikiran negatifnya tersebut.


Masuk ke dalam gedung HC PROPERTIE'S, Satria menjadi sorotan karyawan-karyawan yang lewat, ketampanan serta seragam polisinya sangat mencolok sehingga karyawan-karyawan itu terkesima dengannya. Satria tidak memperdulikan bisik-bisikan mereka tentang dirinya, ia memilih pergi ke tempat resepsionis.


"Selamat pagi."

__ADS_1


Yola syok melihat seorang polisi datang ke HC PROPERTIE'S, dengan cepat ia merubah ekspresi wajah terkejutnya, "Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanyanya sambil menyunggingkan senyumannya, walau jantungnya memompa cepat. Apa ada masalah di perusahaan ini sehingga datang seorang polisi? tanya Yola dalam hati dan dirinya pun mulai berpikiran yang tidak-tidak.


"Saya ingin bertemu dengan pak Irsyan," jawab Satria.


"Apa anda sebelumnya sudah membuat janji?"


"Sudah, pak Irsyan yang menyuruh saya untuk datang kesini. Saya sahabat dari beliau," jelas Satria.


"Baik Pak. Silahkan nanti Bapak ke naik ke lantai 15 dan ruangan pak Irsyan berada di paling ujung," ujar Yola menjelaskan letak ruangan atasannya.


Satria mengangguk mengerti, "Baik Mbak, terima kasih."


"Sama-sama Pak."


Satria masuk ke dalam lift dan memencet tombol lift di angka 15.


Ting!


Pintu lift terbuka, Satria berjalan menuju ke ruangan Irsyan yang berada di ujung, sebelum itu Satria meminta izin lagi kepada Aris.


"Baik pak Satria, mohon menunggu sebentar," ucap Aris.


"Iya Pak."


TOK! TOK! TOK!


"Ya masuk!" sahut Irsyan dari dalam ruangannya.


Aris membuka pintu ruangan atasannya dan mengatakan bahwa Satria sudah datang.


"Ada pak Satria diluar Pak," ucap Aris.


"Suruh saja dia masuk Pak," titah Irsyan.


Aris mengangguk dan keluar dari ruangan Irsyan untuk menyuruh Satria masuk ke dalam ruangan atasannya itu.


"Assalamualaikum pak Bos," ucap Satria ketika masuk ke dalam ruangan sahabatnya.


"Waalaikumsalam. Eh akhirnya pak komandan datang juga," balas Irsyan tersenyum.


"Ayo duduk," suruh Irsyan pada Satria untuk duduk di kursi yang berada di depannya. Satria mengangguk dan duduk di kursi yang dimaksud.


"Oh ya, ada apa nih suruh gue datang kesini? Tumben banget," tanya Satria.


"Ya gue mau kangen-kangenan dulu sama lo sebelum nantinya lo nikah," seloroh Irsyan.

__ADS_1


Satria mendengus, "Gue kira ada apa tadi."


"Lo serius mau nikahnya sama Aisha?" tanya Irsyan serius.


Satria mengerutkan keningnya, ia heran dengan pertanyaan dari sahabatnya itu, "Iyalah gue serius, memangnya kenapa sih lo tanya kayak gitu?"


"Nggak ada sih, gue cuma penasaran aja. Siapa tau kan ada cewek yang lo suka selain Aisha," papar Irsyan membuat Satria terdiam. Memang beberapa bulan ini ada perempuan yang mengusik pikirannya dan sering keluar di dalam mimpinya.


"Lah malah diem!" ucap Irsyan.


"Ya nggak ada lah, Syan. Kalau ada, ya nggak mungkin gue bakal ngelamar Aisha," balas Satria, beda di mulut dan beda di hati.


"Lo cinta sama Aisha?"


Lagi-lagi Satria terdiam, sebenarnya ia melamar Aisha juga karena terus didesak oleh keluarganya untuk menikah.


"Gue bingung, Syan," lirih Satria.


Irsyan menaikkan satu alisnya, "Bingung kenapa?"


"Gue nggak cinta sama Aisha, tapi yang gue rasa ke dia itu seperti rasa sayang dan ingin menjaga layaknya perasaan antara kakak ke adik," jelas Satria.


"Lah kalau gitu kenapa lo mau nikahin dia? Come on Satria, jangan paksa dan sakiti hati lo sendiri," kata Irsyan. Satria berpikir sejenak dan membenarkan ucapan Irsyan tadi.


"Terus gue harus bagaimana, Syan? Sedangkan gue udah melamar dia di depan keluarga besarnya."


"Ya lo rundingkan hal itu ke orang tua lo. Pikirkan baik-baik Sat, sebelum lo menyesal nantinya. Gue cuma pengen lo hidup bahagia dengan perempuan yang lo cintai," ujar Irsyan.


Satria mengangguk dan tersenyum tipis, "Thanks atas saran lo, Syan."


"Itu lah guna seorang sahabat, Sat. Oh ya masa iya lo nggak ada cewek yang lo sukai sih?" tanya Irsyan.


"Ada sih, tapi gue nggak tau dia itu suka nggak sama gue juga," jelas Satria sambil memikirkan gadis yang mengganggu pikirannya itu.


"Ya lo tinggal ungkapin lah perasaan lo ke dia! Siapa tau cewek itu juga punya rasa yang sama sama lo," suruh Irsyan.


"Oke secepatnya, tapi nggak sekarang, Syan. Lo ngerti lah gimana yang gue rasa sekarang," tutur Satria.


"Iya gue ngerti, Sat. Gue hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk lo."


"Thanks, Syan."


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2