
Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏
...Happy reading☘️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mah," panggil Nina dengan suara lirihnya.
"Kenapa nak?" tanya Zara sambil mengelus rambut putrinya.
"Apa kesalahan Nina pada mas Irsyan dulu nggak bisa di maafkan ya?"
"Sabar Nak, mungkin nak Irsyan masih butuh waktu untuk memaafkan kamu," ucap Zara. Ucapan mamanya membuat Nina semakin sedih.
Dengan raut wajah yang kesal jalan menuju ke ruangan khusus perawat.
BRAKKK!
Irsyan membuka dan membanting pintu ruangan tersebut dengan keras, membuat beberapa rekannya di dalam ruangan itu terkejut akibat perbuatannya sampai-sampai mereka mengelus dada. Untung jantung mereka semua pada sehat dan kuat, jadi mendengar suara bantingan keras dari pintu tadi tidak membuat mereka serangan jantung mendadak.
"Allahuakbar, main gebrak aja tu pintu. Untung aja gue nggak punya penyakit jantung!" ucap Aji kesal.
"Ya nih bikin kaget aja," sahut Budi.
"Lo ada problem sama sih? Sampai-sampai pintu jadi pelampiasannya, kalau pintu bisa bicara pasti dia bakal marahin lo!" timpal Gilang yang ikut kesal.
Irsyan tidak menanggapi ucapan dari teman-temannya, ia memilih duduk disamping Aji dengan wajah kusut seperti baju yang belum disetrika.
"Kenapa muka lo kusut kayak benang layangan gitu?" tanya Aji.
"Lo tau siapa pasien di VIP 1 cempaka?" tanya balik Irsyan.
"Mana tau gue, dari kemarin gue ada di bangsal anggrek. Memangnya siapa suh pasien disana sampai buat lo jadi kesel begini?"
"Nina yang dirawat disana."
"Woanjim, serius lo, Syan?" tanya Aji terkejut.
"Iya, sana lo liat kalau nggak percaya!" ujar Irsyan.
"Eewwhh lebih baik gue liat mba kunti daripada muka dia," balas Aji acuh.
Malam harinya Andre berkunjung ke rumah rumah Kiran, saat ini ia duduk bersama Kiran dan kedua orang tua dari kekasihnya.
"Kapan nih kalian akan menikah? Mami sama Papi udah nggak sabar nimang cucu," ujar Raina, ibu Kiran.
"Iya benar nak, nggak baik lama berpacaran," timpal Wilantara, ayah Kiran.
"Ih Papi, Kiran sama Andre kan baru pacaran 3 bulanan, masa mau nikah aja," sahut Kiran.
"Ya gapapa lah nak, toh kalian juga udah saling kenal lama, bukan?" tanya Wilantara. Kiran pun membenarkan ucapan papinya.
__ADS_1
"Insya Allah, bulan depan aku dan keluarga datang kesini untuk melamar Kiran," ucap Andre tiba-tiba dengan nada serius.
"Kamu serius sayang?" tanya Kiran terkejut dan tak percaya.
"Aku serius sayang, aku akan melamar kamu bulan depan," jelas Andre. Dia sudah bisa menahan diri untuk segera mempersunting Kiran sebagai istrinya, takut nanti dirinya akan khilaf jika berduaan dengan Kiran.
"Nggak kecepatan itu sayang?" tanya Kiran yang masih ragu.
"Kenapa? Kamu nggak mau atau masih ragu sama aku?" tanya Andre dengan suara lirihnya.
"Bu-bukan begitu," ucap Kiran gelagapan, lalu menghela napas panjang.
"Oke aku mau." Pada akhirnya Kiran menerima ajakan Andre yang akan datang bersama keluarga untuk melamar dirinya. Kedua orang tua dan Andre langsung tersenyum bahagia mendengarnya.
Irsyan berjalan ke arah kantin rumah sakit mencari makan, karena waktu telah menunjukkan saat untuk makan malam. Irsyan memesan nasi goreng seafood untuk mengganjal perut keroncong nya.
Suara dering handphone membuat Irsyan mengurungkan niatnya untuk makan, di layar handphone itu tertera 'My Wife' yang menelponnya. Senyum Irsyan seketika mengembang dan segera mengangkat telpon dari Aurora.
"Assalamualaikum Mas." Hati Irsyan menghangat mendengar suara lembut dari istrinya.
"Waalaikumsalam istri cantiknya Mas," balas Irsyan.
"Mas udah makan malam belum?" tanya Aurora.
"Ini Mas lagi di kantin mau makan. Kalau kamu udah makan, sayang?" tanya balik Irsyan.
"Oh gitu syukurlah, aku kira Mas belum makan. Aku udah makan kok tadi sama Mama dan Papa. Ya sudah Mas lanjut aja makannya."
"Iya siap sayang. Assalamualaikum Mas." Panggilan sayang dari Aurora selalu membuat jantung Irsyan berdetak lebih cepat.
"Waalaikumsalam sayang."
Selesai menelpon Irsyan menaruh handphonenya di atas meja. Disaat Irsyan tengah makan, tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.
"Nak Irsyan," panggil wanita paruh baya itu. Irsyan menghentikan makan dan mendongak menatapnya.
"Tante Zara, ayo duduk dulu Tan," ucap Irsyan mempersilahkan Zara untuk duduk.
"Terima kasih Nak." Zara duduk berhadapan dengan Irsyan.
"Nak Irsyan, ada yang ingin Tante bicarakan dengan kamu," ucap Zara menatap serius Irsyan.
Irsyan mengerutkan kening. "Mau bicarakan apaan ya Tan?"
"Ini masalah Nina." Irsyan diam, agar Zara melanjutkan ucapannya.
"Apa kamu nggak belum memaafkan Nina ya? Padahal Nina sangat ingin kembali sama kamu nak. Tante juga pengen kamu bareng sama Nina lagi, karena menurut Tante kamu laki-laki yang tepat untuk Nina," lanjut Zara dengan raut wajah memohon.
Dalam hati Irsyan sangat geram dengan ucapan Zara tadi, dengan tak tau malunya berbicara seperti itu. Tangannya di bawah sudah mengepal kuat, rasanya ingin mengumpat dan memaki tapi Irsyan harus menjaga sopan santun di depan orang yang lebih tua.
"Saya sudah memaafkan Nina, Tan. Tapi untuk bersama Nina lagi saya tidak bisa," balas Irsyan dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Kenapa, nak?" tanya Zara sedih.
"Ya tidak mungkin saya kembali dengan Nina, sedangkan saya sendiri sudah menikah!" Zara syok mendengar ucapan Irsyan.
"Ka-kamu sudah menikah?"
"Iya saya sudah menikah, ini buktinya." Irsyan memperlihatkan cincin di jari manisnya.
"Saya menikah dengan wanita yang jauh lebih baik dari putri, Tante. Saya harap Tante tidak memaksa saya lagi untuk bersama dengan Nina, karena saya mencintai istri saya!" Irsyan beranjak dari kursi lalu meninggalkan Zara yang masih terbengong atas ucapan Irsyan.
Pukul setengah 11 malam Irsyan sampai di rumah. Keadaan rumah benar-benar gelap dan sepi, sepertinya semua penghuninya sudah tertidur. Irsyan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Dengan pelan ia membuka pintu, takutnya nanti bisa membangunkan istrinya yang tengah tertidur. Namun dugaannya salah, ternyata Aurora sedang duduk santai sambil menonton TV.
"Mas, udah pulang?" Aurora segera menghampiri Irsyan dan memeluknya.
"Kok belum tidur sayang? Kan tadi Mas suruh tidur duluan," tanya Irsyan membalas pelukan Aurora sambil mengelus rambut panjang istrinya.
"Aku mau nungguin Mas pulang." Aurora menguraikan pelukannya dan menatap suaminya yang terlihat sangat kelelahan itu.
"Kamu ini." Irsyan mencium gemas hidung Aurora.
"Mas mau mandi dulu atau langsung istirahat?" tanya Aurora sambil membuka jaket yang dikenakan Irsyan.
"Mandi aja, soalnya badan Mas udah lengket banget."
"Ya sudah, mau aku siapkan air hangat?" Sekarang Aurora membuka satu persatu kancing seragam Irsyan, hanya menyisakan kaos putih yang melekat di tubuh atas suaminya.
"Nggak usah sayang, Mas mandi pakai air biasa aja," tolak Irsyan yang tak ingin merepotkan istrinya.
Aurora hanya mengangguk. Irsyan pun berlalu menuju ke kamar mandi sedangkan Aurora menuju ke ruang wardrobe untuk menyiapkan pakaian Irsyan.
Beberapa saat Irsyan keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya.
"Sini Mas." Aurora menyuruh Irsyan duduk di kursi depan meja riasnya. Lalu Aurora mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut suaminya.
Irsyan melingkarkan tangannya di pinggang Aurora dan menyembunyikan wajahnya di perut istrinya.
"Kenapa Mas? Capek banget ya?" tanya Aurora. Irsyan hanya berdehem, pekerjaan di rumah sakit hari ini benar-benar menguras tenaga dan emosinya.
"Nah rambutnya udah lumayan kering, sekarang kita tidur yuk," ajak Aurora setelah selesai mengeringkan rambut Irsyan.
Irsyan mengangguk dan melepaskan pelukannya, lalu mereka berdua berjalan menuju ke ranjang. Baru saja membaringkan tubuhnya, Irsyan sudah langsung tertidur dengan pulas nya.
"Capek banget ya Mas, sampai-sampai baru kena tempat tidur aja langsung tertidur," ucap Aurora pelan sambil mengelus rambut Irsyan.
"Tidur nyenyak sayang, good night." Aurora mencium kening Irsyan dan ikut berbaring, mulai memejamkan mata menuju ke alam mimpi.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1